Asal Muasal Kalender Imlek 

Tahun Baru Imlek muncul dari tradisi masyarakat agraris Tiongkok. Penanggalan 
ini sangat cocok bagi petani karena penanggalan tersebut perhitungan musim, 
peredaran matahari, serta uraian penjelasan mengenai iklim, maka penanggalan 
tersebut jadi populer dan disebut juga Long Lek (penanggalan petani). Hal 
inilah yang disyukuri petani, karena selain panen, masa itu baik untuk menanam 
kembali untuk musim berikutnya. Dengan demikian, selain suasana syukur, Imlek 
juga munculnya harapan baru untuk masa depan (musim) yang lebih baik. 

Kaisar Han Bu Tee (140-86 SM) dari Dinasti Han (206 SM-220) menetapkan ajaran 
Kongfuzius (Kong Hu Chu) sebagai agama resmi, dan penanggalan yang dianjurkan 
oleh Kong Hu Chu, yaitu He Lek resmi dipakai semua orang, baik masyarakat 
maupun pemerintahan dan tahun pertamanya dihitung dari tahun kelahiran Kong Hu 
Chu, yaitu tahun 551 SM, dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan 
masehi berselisih 551 tahun. Oleh karenanya jika tahun masehi saat ini 2005, 
maka tahun Imleknya menjadi 2005 + 551 = 2556. Karena dihitung sejak Kong Hu 
Chu lahir maka tahun Imlek lazim disebut sebagai Khongculek. 

Sistem penanggalan Imlek ini digunakan juga dalam kehidupan keagamaan di antara 
umatnya di Jepang, Korea, Vietnm, Taiwan, Burma, dan negara lainnya meskipun 
dengan nama yang diucapkan berbeda-beda tetapi merayakan hari tahun barunya 
sama. Bahkan di lingkungan agama Budha Sekte Mahayana yang berkembang di 
kawasan Asia Timur juga menggunakan penanggalan Imlek guna menentukan hari-hari 
suci keagamaannya. 

Perhitungan penanggalan Imlek semula didasarkan atas peredaran bulan 
mengelilingi bumi (lunar calender), dan telah dikenal sejak ribuan tahun 
sebelum masehi. Uniknya perhitungan penanggalan ini juga didasarkan atas 
peredaran bumi mengelilingi matahari (solar calender), seperti penanggalan 
masehi. Maka terjadi penyesuaian yaitu melalui mekanisme yang dikenal sebagai 
'Lun Gwee' (bulan ulang) atau penyisipan 2 (dua) bulan tambahan setiap 5 (lima) 
tahun. Dengan adanya penyesuaian ini maka lebih tepat disebut penanggalan 
Imyanglek (sistem lunisolar). 

Dalam sejarah tercatat, penanggalan Imlek dimulai sejak tahun 2637 SM, sewaktu 
Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun 
ke-61 masa pemerintahannya. Penanggalan Imlek sebutan asalnya adalah He Lek, 
yakni Penanggalan Dinasti Ke / Hsia (2205-1766 SM), di mana pertama kali 
mengenalkan penanggalan berdasarkan solar, dan penetapan tahun barunya 
bertepatan dengan tibanya musim semi. Dinasti Sing/Ien (1766-1122 SM) 
menetapkan tahun barunya mengikuti Dinasti He, yakni akhir musin dingin. 

Kong Hu Chu yang hidup pada zaman Dinasti Cou / Chin (1122-255 SM) merasakan 
bahwa sistem penanggalan yang dipakai Dinasti Ciu kurang mempunyai nilai 
praktis, yaitu karena tahun baru jatuh pada hari Tangcik (Tung Ze). Saat itu 
hari tengah musim dingin maka pendapat Khong Hu Chu, penanggalan Dinasti He 
yang paling tepat, hal itu dapat diketahui dari Sabda Kong Hu Chu : "Pakailah 
penanggalan Dinasti He ..." Kitab Sabda Suci (Lun Gi / Lun Yu) jilid XV : 11. 

Tahun Baru Khon Hu Chu (Imlek) selalu jatuh pada bulan baru (Chee It / Chu Yi) 
setelah memasuki Tai Han (T Kan) 21 Januari (Great Cold - saat terdingin), 
sampai dengan tibanya Hi Swi (Yi Suei) 19 Februari (spring showers - hujan 
musim semi). 

Tahun Baru Imlek Tiongkok atau Festival Musim Semi sama seperti Hari Natal di 
Barat adalah hari raya tradisional yang paling besar di Tiongkok. Meskipun 
seiring dengan perubahan zaman, isi yang terkandung dalam Tahun Baru Imlek dan 
cara merayakannya sudah berubah, tapi Tahun Baru Imlek dalam kehidupan rakyat 
Tiongkok tetap berposisi penting tak tergantikan. 

Tahun Baru Imlek Tiongkok konon sudah bersejarah 4,000 tahun lebih. Tapi pada 
permulaan, hari raya itu tidak disebut sebagai Tahun Baru Imlek, dan juga tidak 
dirayakan pada hari yang tetap. Kira-kira pada tahun 2100 Sebelum Masehi, 
rakyat Tiongkok pada waktu itu menyebut rotasi Bintang Jupiter sebagai "Sui", 
yakni satu tahun, maka Tahun Baru Imlek pada waktu itu disebut sebagai "Sui". 
Pada tahun 1000 Sebelum Masehi, rakyat pada waktu itu menamakan Tahun Baru 
Imlek sebagai "Nian", dengan artinya panen. 

Menurut adat istiadat masyarakat Tiongkok, Tahun Baru Imlek dalam arti makro 
dimulai dari tanggal 23 bulan 12 Imlek, dan berlangsung sampai hari Cap Goh Meh 
yang jatuh pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, dengan masa perayaan 
berlangsung selama tiga minggu. Di antaranya, malam tanggal 30 bulan 12 atau 
"chuxi" dalam bahasa Tionghoa dan tanggal pertama bulan pertama Imlek paling 
meriah, dan merupakan puncak perayaan Tahun Baru Imlek. 

Lain tempat, lain adat istiadatnya. Memang rakyat di berbagai daerah di 
Tiongkok mempunyai kebiasaan perayaan Tahun Baru Imlek yang tidak sama, tapi 
tradisi seisi keluarga berkumpul untuk menyambut kedatangan Tahun Baru Imlek 
pada malam tanggal 30 bulan 12 Imlek, yaitu malam menjelang Tahun Baru Imlek 
adalah kebiasaan yang sama baik bagi penduduk di bagian utara maupun di 
selatan. 

Pada malam menjelang Tahun Baru Imlek, rakyat Tiongkok mempunyai tradisi 
menyambut kedatangan tahun yang baru tanpa tidur. Kegiatan perayaan Tahun Baru 
Imlek beraneka ragam, antara lain, pertunjukan opera, tari naga atau barongsai, 
jakungan, pekan kelenteng dan sebagainya, dan di mana-mana penuh suasana riang 
gembira. Selama Festival Tahun Baru Imlek, banyak pula orang yang menonton TV 
di rumah, karena selama liburan Festival Tahun Baru Imlek, acara televisi 
memang lebih menarik daripada hari-hari biasaya. 

Memasang kuplet dan gambar tahun baru serta lampion berwarna-warni adalah 
kegiatan yang sangat digemari rakyat untuk merayakan Tahun Baru Imlek. 

Seiring dengan meningkatnya taraf hidup rakyat, cara perayaan Tahun Baru Imlek 
pun lebih bervariasi. Di antaranya, bertamasya ke luar negeri kian hari kian 
menjadi mode bagi rakyat Tiongkok untuk merayakan Tahun Baru Imlek. 


Tahun Baru Imlek Dengan Mitos dan Ritual di Dalamnya 

Tahun Baru Imlek 2561 tahun ini jatuh pada pada hari Minggu tanggal 14 Febuari 
2010 Masehi. Hari raya ini merupakan hari pertama dalam bulan pertama dari 
sistem kalender yang dipakai oleh orang Tionghoa. Imlek merupakan sistem 
kalender lunisolar yaitu gabungan dari sistem kalender bulan dan kalender 
matahari. Tahun Baru Imlek dikenal juga sebagai Tahun Baru China dan Festival 
Musim Semi (Chun jie). Perayaan tahun baru ini tentunya tidak bisa lepas dari 
segala mitos dan ritual yang melekat kuat di dalamnya. 

Asal Muasal peringatan Tahun Baru Imlek ini pun mempunyai kisah tersendiri. 
Konon pada dahulu kala pada tepat setiap musim semi tiba di akhir musim dingin 
masyarakat sering diganggu binatang buas yang bernama Nian. 

Binatang buas ini datang dari dasar lautan untuk memakan manusia. Masyarakat 
mengetahui bahwa Nian ini takut akan bunyi yang keras. Karena itu untuk 
mencegahnya datang, mereka memukul beduk, gong dan membakar bambu yang akan 
menimbulkan suara ledakan (terakhir ini telah diganti dengan petasan, setelah 
diketemukannya mesiu pada dinasti Sung). 

Mulai saat itu setiap akhir musim dingin, masyarakat merayakan tahun baru imlek 
dengan membakar petasan dan memainkan barongsai untuk mengusir segala yang 
jahat dan menyambut datangnya musim semi. 

Imlek secara tradisi telah diperingati oleh masyarakat Tionghoa seluruh dunia 
sejak ribuan tahun lalu. Dari buku kuno diketahui Imlek dirayakan di Tiongkok 
4699 tahun yang lalu oleh raja pertama Huang Ti. Secara tradisi penyambutan 
Imlek diisi dengan aktivitas menjadi baru mulai dari mendandani rumah dan 
dirinya sendiri dengan pakaian dan semangat baru. 

Yik Nien Fuk Se, Wan Siang Keng Sin artinya datangnya tahun baru mengubah 
segalanya menjadi baru. 

Warga Tionghoa kini menghabiskan hari-harinya mempersiapkan Imlek dengan 
membuat aneka macam kue keranjang atau kue tar, membersihkan rumah dan tempat 
ibadah serta menyiapkan angpao. Sementara yang laki-laki akan membersihkan 
pekarangan atau mencat rumah. 
Segala rangkaian prosesi perayaan Tahun Baru Imlek ini dimulai dengan suatu 
ritual yang dinamakan Cap Ji Gwee Jie Shie (tanggal 24 bulan ke-12 Imlek), yang 
jatuh pada hari Minggu, 14 Febuari 2010. 

Pada permulaan hari itu, sesuai tradisi, orang Tionghoa menyalakan puluhan hio 
(dupa bergagang) berketinggian tiga meter di klenteng-klenteng. Bagi yang tidak 
mampu membeli itu, pelaksanaan sembahyang cukup dengan hio biasa, lilin kecil, 
minyak nabati, serta sesaji buah-buahan, kue serba manis, dan pembakaran hu 
(kertas merang bergambar kuda terbang). 

Ritual ini juga sering disebut dengan Shang Sheng. Shang Sheng merupakan salah 
satu dari rangkaian ritual keagamaan pemeluk agama Khong Hu Cu, meski 
kemeriahannya tak semencolok pada Malam Tahun Baru Imlek, dan Cap Go Mee atau 
hari ke-15 Tahun Baru Imlek. 
Rangkaian kegiatan menyambut tahun baru Imlek dimulai dengan sembahyang 
syukuran tutup tahun imlek 2558 atau Sam Sip Pu mulai 6 Februari mulai pagi 
hingga malam. Acara persembahyangan Tahun Baru sendiri, dimulai menjelang 
tengah malam hingga besok paginya. 

Biasanya pada malam sebelum tahun baru atau Chu Si Ye, seluruh anggota keluarga 
harus kumpul bersama dan makan Thuan Yen Fan (makan malam sekeluarga). Jika ada 
keluarga yang tidak sempat atau berhalangan untuk pulang ke rumah, di meja akan 
disiapkan mangkok dan sepasang sumpit yang mewakili yang tidak sempat datang 
tadi. 

Sayur yang disajikan cukup banyak dan mengandung arti tersendiri, seperti Kiau 
Choi yang melambangkan panjang umur, ayam rebus yang disajikan utuh 
melambangkan kemakmuran untuk keluarga. Sedangkan bakso ikan, bakso udang dan 
bakso daging melambangkan San Yuan atau tiga jabatan yaitu Cuang Yuen, Hue Yuen 
dan Cie Yuen. Tiga jabatan tersebut adalah jabatan yang sangat dihormati 
masyarakat Tionghoa pada jaman kekaisaran dahulu. 

Juga ada Kiau Se atau pangsit yang bentuknya dibuat mirip dengan uang perak 
zaman dulu. Menurut kepercayaan, makan Kiau Se akan mendatangkan rejeki. 
Malahan sesuai tradisi di antara pangsit tersebut salah satunya akan diisi 
dengan koin. Bagi yang mendapatkan koin tersebut konon akan mendapatkan rejeki 
besar. 

Di meja juga disiapkan ikan yang dihias dan akan dimakan. Maknanya yaitu Nien 
nien yeu yi atau setiap tahun ada lebihnya. Ikan dingkis bertelur yang dikukus 
merupakan hidangan istimewa sebab diyakini dapat membawa keberuntungan di tahun 
baru. 

Selain sajian-sajian itu yang menjadi tradisi di warga Tionghoa dalam menyambut 
Imlek adalah dengan menggunakan pakaian tidur berikut pakaian dalam yang masih 
baru. Maksudnya adalah untuk membuang kesialan tahun lalu. Pada malam tahun 
baru setelah berdoa dan makan malam, tidur dengan menggunakan pakaian tidur 
yang baru umumnya berwarna merah. 

Pada hari pertama Sin Nien atau tahun baru, pertama yang akan dilakukan adalah 
sembahyang pada leluhur bagi yang ada altar di rumah. Bagi yang tidak punya 
altar, akan ke klenteng terdekat untuk sembahyang mengucapkan terima kasih atas 
lindungan Thien (Tuhan) sepanjang tahun. Setelah itu memberikan hormat kepada 
kedua orang tuanya, saling mengunjungi sanak keluarga dan kerabat dekat. 

Selain itu bagi anak-anak muda mereka akan menyambut tahun baru dengan memasang 
petasan dan main barongsai yang mengandung arti mengusir segala yang jahat dan 
menyambut segala yang baik. Banyak pantangan yang tidak dilakukan pada hari 
tersebut. Seperti tidak menyapu dan tidak membuang sampah yang katanya akan 
mengusir rejeki keluar rumah. 

Pantangan lainnya yaitu tidak boleh bertengkar atau mengeluarkan kata-kata 
fitnah dan tidak boleh memecahkan piring. Namun jika kebetulan secara tidak 
sengaja ada piring atau mangkok yang pecah, untuk penangkalnya harus 
cepat-cepat mengucapkan Sue sue Phing an yang artinya setiap tahun tetap 
selamat. 

Pada hari kedua tahun baru adalah saatnya hue niang cia atau pulang ke rumah 
ibu. Hari ini bagi wanita yang sudah menikah akan pulang ke rumah ibunya dengan 
membawa Teng Lu yang merupakan bingkisan atau angpao (kantong merah kecil yang 
berisi uang) untuk ibu dan adik-adiknya. Secara tradisi Angpao atau Hung pau 
juga diberikan kepada anak-anak dan orang tua. Pada hari ketiga, mereka lebih 
banyak tinggal di rumah, tidak banyak melakukan perjalanan dan aktivitas. 

Pada hari keempat adalah hari menyambut para dewa untuk kembali ke bumi. Konon 
menurut kepercayaan Dewa Dapur (Co Kun Kong) dan para dewa dari langit akan 
kembali ke Bumi. Pada hari kedatangan kembali para dewa-dewi itu, khususnya 
Dewa Dapur, akan disambut bunyi-bunyian antara lain dengan kentongan. Warga 
Tionghoa biasanya ke klenteng untuk Hi Fuk atau memohon kepada dewa untuk 
mendapatkan perlindungan dan rejeki. Sesaji yang dibawa biasanya berupa 
buah-buahan juga ciu cha (arak) dan teh. 

Dihitung dari Shang Sheng, rangkaian persembahyangan menjelang dan sesudah 
Tahun Baru Imlek meliputi 21 hari. Bagi orang yang masih kental merayakannya 
secara lengkap, tiga pekan itu adalah saat-saat penuh makna bagi perawatan 
batin. Mereka berdoa, mawas diri, bersedekah, mohon pengampunan, berterima 
kasih kepada Thien (Tuhan), leluhur, orang tua dan orang-orang yang dituakan, 
dan mohon pertolongan kepada Tuhan dan para dewa agar sehat, selamat dan 
sejahtera di tahun yang baru. 

Kebiasaan merayakan Imlek memang tidak harus dilakukan dalam pesta atau 
perayaan yang berlebihan. Yang paling penting adalah pergi ke Vihara, berdoa 
menghaturkan kasih dan persembahan ke Tuhan dan leluhur. Juga tidak lupa 
bersedekah. Prinsip di sini yaitu adat dijalankan, soal pesta nomor dua. 

Imlek 2561 dilambangkan dengan shio Macan (Harimau) Demikianlah IMLEK 2561 ini 
sangat Istimewa karena bersimbul MACAN dimana majapahit juga bersimbul MACAN 
PUTIH, Perayaan IMLEK kali ini sudah dipersiapkan dengan Matang, Para Suhu / 
Sianshe / Biksu Sudah membuat membuat persiapan untuk mengatur Acara IMLEK 
MACAN RATU EMAS KEMBAR yang untuk mengulangi bisa makan waktu 300 tahun lebih. 
Karena unsur Kayu, Logam, Air, Tanah, Api / HO SWE MUK CING THO 5 unsur x 12 
Shio tiap 60 tahun baru ada muncul Shio macan 1 Unsur untuk kembali ke unsur 
Emas x 5 jadi yiap 300 tahun baru ada Macan Ratu Emas Kembar lagi. 

Pada dasarnya shio apa pun pasti mengalami kendala, hanya ramalan itu ada untuk 
mengingatkan kita agar berhati-hati dan sabar. Karena itu, warga Tionghoa lebih 
mengutamakan sembahyang bersama keluarga. Terutama kalau masih ada orang tua, 
berkumpul di rumah orang tua minta maaf dan kemudian bersyukur dengan makan 
bersama. 

Happy Chinese New Year! 
Gong Xi Fa Cai (Mandarin) and Gong Hey Fat Choy (Cantonese). 

Gong Xi is congratulations or respectfully wishing one joy. 
Fa Cai is to become rich or to make money. 

-- 
Quote: 
** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will 
become scientific. Disagreements between science and religion will come to an 
end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are 
derived from the same source, and are only modifications of the One Universal 
Energy **
****
Sharing File Audio-Video-Software-Manual Meditasi di : 
http://tiny.cc/huarchive
****
List events inisiasi di group HU & registrasi di :
http://tiny.cc/huevents
****

Kirim email ke