Mengalami dan Memahami Kondisi Meditasi

sumber http://adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=235


Saya sering mendapat email dari rekan dan pembaca buku yang mengatakan bahwa 
mereka, setelah mendengar CD audio relaksasi, tidak bisa konsentrasi. Mereka 
menanyakan mengapa mereka sulit konsentrasi dan merasa kecewa karena tidak bisa 
merasakan dan mendapat manfaat meditasi. Saat saya menanyakan, "Sudah berapa 
lama anda berlatih diri?", jawaban yang saya terima cukup menjelaskan kondisi 
mereka, "Saya sudah mencoba dua atau tiga kali, Pak."

Benarkah demikian sulit bagi seseorang untuk melakukan meditasi? Mengapa ada 
yang mudah dan mengapa ada pula yang merasa sulit masuk ke kondisi meditatif 
yang dalam?

Pembaca, di artikel sebelumnya, Meditasi: Timur Bertemu Barat, saya telah 
menjelaskan tujuan meditasi ditinjau dari perspektif timur dan barat. Dalam 
artikel ini saya akan menjelaskan secara spesifik apa saja yang perlu 
diperhatikan, dilakukan, dan dialami saat melakukan meditasi.

Meditasi bertujuan untuk mengendalikan dan menguatkan pikiran. Pikiran sama 
seperti otot. Perlu latihan yang konsisten untuk bisa membuat pikiran menjadi 
kuat. Pikiran dilatih dengan cara difokuskan pada satu objek meditasi. Umumnya 
orang menggunakan napas sebagai objek. 

Pembaca, jika misalnya anda tidak pernah berlatih fitness atau body-building, 
dan tiba-tiba ingin menguatkan otot tubuh anda, apa yang akan anda lakukan? 
Apakah langsung berlatih ataukah anda akan mencari pelatih yang berpengalaman 
yang bisa membimbing anda dengan benar? Sudah tentu kita perlu dibimbing oleh 
seorang pelatih berpengalaman. Peran pelatih sangat penting agar kita tidak 
salah berlatih yang justru akan kontraproduktif . Dengan bimbingan yang benar 
kita dapat mencapai hasil yang maksimal dalam waktu yang singkat.

Pertanyaan selanjutnya, "Berapa ukuran atau berat beban yang anda gunakan 
sebagai beban awal latihan?" Apakah langsung beban yang berat ataukah anda 
menaikkan beban secara bertahap seiring dengan lama dan intensitas latihan 
anda? Apa yang akan terjadi bila anda "bernafsu" ingin membesarkan dan 
menguatkan otot-otot tubuh anda secepatnya dan langsung menggunakan beban yang 
berat (sekali)? Bagaimana hasilnya? Saya jamin, jika ini yang anda lakukan, 
maka tubuh anda akan cidera karena tidak kuat. 

Pembaca, melatih otot tubuh membutuhkan waktu, cara, intensitas, dan 
konsistensi agar dicapai hasil yang maksimal. Tidak bisa dilakukan asal-asalan 
dan kita berharap bisa memiliki tubuh yang sehat, kuat, dan indah. Dalam hal 
ini yang perlu disadari dan diperhatikan adalah bahwa otot akan tumbuh, 
berkembang, dan menjadi kuat bila dilatih dengan cara yang benar dengan 
mengikuti proses alamiah pertumbuhan otot. Kita tidak bisa memaksa otot 
berkembang dengan kecepatan yang kita inginkan. Semua ada waktunya. 

Sama seperti otot, pikiran juga perlu dilatih. Melatih pikiran sebaiknya juga 
dengan bimbingan seorang pelatih berpengalaman dan dengan takaran latihan yang 
sesuai. Meditasi adalah suatu skill yang perlu dilatih dan diasah setiap hari. 
Semakin sering kita berlatih maka semakin kuat "otot-otot" pikiran kita. 
Kuatnya "otot" pikiran tampak dalam bentuk pengendalian yang bisa kita lakukan 
pada pikiran. Saat pikiran diarahkan untuk konsentrasi dan memegang objek maka 
pikiran bisa memegang objek dengan kuat dan lama. Pikiran tidak lari ke 
mana-mana, liar tidak terkendali. 

Untuk pemula, biasanya pikiran akan lari tak terkendali. Kita perlu menundukkan 
dan mengendalikannya. Ini yang dikenal dengan istilah "taming the monkey mind" 
atau menjinakkan pikiran yang liar seperti seekor monyet. Jangan salah baca ya, 
monkey mind bukan donkey mind.

Satu hal yang sering tidak dimengerti dan bahkan tidak diindahkan kebanyakan 
orang yaitu relaksasi pikiran atau meditasi membutuhkan tidak saja upaya, namun 
terlebih lagi adalah kepasrahan dan keikhlasan. Semakin kita bernafsu maka 
pasti semakin tidak bisa. Salah satu hukum pikiran berbunyi, "Bila berhubungan 
dengan pikiran bawah sadar dan fungsi-fungsinya, semakin besar upaya sadar yang 
dilakukan, semakin kecil respon pikiran bawah sadar."

Relaksasi pikiran atau meditasi adalah proses yang didominasi pikiran bawah 
sadar dan nirsadar. Saat seseorang bermeditasi maka gelombang otak yang dominan 
adalah alpha, theta, dan atau tanpa delta. 

Kembali kepada kasus yang saya ceritakan di awal artikel. Pernyataan, "Saya 
sudah mencoba dua atau tiga kali, Pak", dengan pemahaman dari apa yang telah 
saya sampaikan sejauh ini, perlu diubah menjadi, "Saya baru mencoba dua atau 
tiga kali, Pak". 

Banyak juga yang bertanya, "Pak, saya kok nggak merasa deep?" Biasanya saya 
akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengecek kedalaman relaksasi yang ia 
capai. Ternyata banyak yang telah masuk sangat dalam, sangat rileks, baik 
secara fisik maupun pikiran, namun mereka tidak menyadari hal ini karena tidak 
punya acuan. 

Nah pembaca, untuk membantu anda mengerti kedalaman relaksasi pikiran dan fisik 
saat meditasi, berikut adalah Subjective Landmark atau acuan yang disusun oleh 
guru saya, Anna Wise. Biasanya kami menggunakan Mind Mirror untuk melihat dan 
mengukur relaksasi pikiran dan ESR Meter untuk mengukur relaksasi fisik. Namun, 
bila tidak ada Mind Mirror dan ESR Meter, kami cukup menggunakan Subjective 
Landmark. Hasilnya sama valid. 

Subjective Landmark ini hanya sebagai acuan namun bukan harga mati. Artinya, 
pengalaman subjektif setiap orang belum tentu sama. Namun secara umum, saat 
seseorang melakukan relaksasi pikiran atau meditasi, ia akan mengalami hal-hal 
yang disebutkan di Subjective Landmark. 

Cara membaca Subjective Landmark adalah dengan melihat Level, 
Pengalaman/Sensasi Subjektif, ESR, dan EEG. 

Penjelasannya sebagai berikut. Level menunjukkan kedalam relaksasi. Semakin 
besar angkanya berarti semakin dalam. Level dimulai dari angka 0 (nol) sampai 6 
(enam). 

Pengalaman/Sensasi Subjektif adalah apa yang kita alami atau rasakan baik di 
pikiran maupun di fisik. Gunakan pengalaman yang disebutkan di skala ini untuk 
mengetahui anda berada di level mana. 

ESR Meter adalah alat ukur yang mengukur relaksasi fisik dan menggunakan skala 
Lesh. Semakin kecil angka di ESR Meter berarti semakin rilek fisik kita. Dengan 
menggunaakn ESR Meter diketahui bahwa relaksasi fisik saat seseorang tidur 
berkisar antara 13 - 17. Sedangkan bila dengan meditasi bisa mencapai antara 0 
- 5. Hal ini menjawab mengapa walaupun telah cukup tidur orang sering merasa 
lelah dan tidak segar saat bangun. Sebaliknya orang yang sering meditasi 
membutuhkan lebih sedikit tidur dan tubuhnya juga lebih sehat dan segar. 

EEG adalah pengukuran dengan menggunakan Mind Mirror. Nah, karena anda tidak 
punya ESR dan EEG maka yang perlu diperhatikan adalah Pengalaman/Sensasi 
Subjektif. 

Berikut adalah Subjective Landmark:

Level : 0

Pengalaman/Sensasi Subjektif:

·         Mungkin mengalami kesulitan untuk mendiamkan pikiran atau pikiran 
melompat ke sana ke mari tidak terkendali.

·         Perasaan gatal, tidak fokus, tidak perhatian.

·         Perasaan "Mengapa saya melakukan hal ini?".

·         Mulai rileks.

·         Perasaan mulai "tenang"

ESR: 25 - 20

EEG: 

·         Beta berkesinambungan, sering bersamaan dengan lonjakan 
gelombang-gelombang yang lain.

·         Kemungkinkan alfa muncul sesekali.

 

Level : 1

Pengalaman/Sensasi Subjektif:

·         Kondisi "kabur".

·         Perasaan kurang nyaman.

·         Sesasi seperti orang yang dibius/dianestesi.

·         Kadang merasa pusing.

·         Pikiran dipenuhi dengan kegiatan sehari-hari - sebagai penghindaran 
terhadap keheningan dalam diri.

·         Perasaan akan energi yang tercerai-berai.

·         Sensasi hanyut menuju tidur atau tertarik keluar dari tidur.

ESR: 20 - 26

EEG: 

·         Beta yang sudah agak berkurang, tetapi masih ada.

·         Alfa yang muncul sesekali tetapi lebih kuat.

 

Level : 2

Pengalaman/Sensasi Subjektif:

·         Energi yang tercerai berai mulai menyatu.

·         Mulai merasakan ketenangan dan rileksasi.

·         Gambar mental yang sangat jelas muncul secara tiba-tiba.

·         Kilas balik kenangan masa kecil.

·         Gambar dari masa lalu yang "lama" dan "baru".

·         Perhatian tidak terlalu terpusat.

·         Perasaan berada di antara dua kondisi.

·         Kondisi transisi.

ESR: 16 - 14

EEG:  

·         Beta berkurang

·         Alfa semakin kuat - bisa bersifat sinambung

·         Teta (frekwensi rendah)  muncul sesekali

 

Level : 3

Pengalaman/Sensasi Subjektif:

·         Perasaan stabil yang lebih kuat.

·         Kondisi yang pasti.

·         Sensasi tubuh yang menyenangkan: merasa mengapung, ringan, bergerak, 
berguncang.

·         Gerakan ritmik yang muncul sesekali.

·         Gambar yang semakin banyak dan lebih jelas.

·         Meningkatnya kemampuan mengikuti imajinasi terbimbing.

ESR: 14 - 11

EEG:  

·         Beta sangat berkurang.

·         Alfa sinambung

·         Kemungkinan teta yang lebih sinambung dengan peningkatan frekwensi 
dan/atau amplitudo

 

Level : 4

Pengalaman/Sensasi Subjektif:

·         Kesadaran yang sangat kuat terhadap pernapasan.

·         Kesadaran yang sangat kuat terhadap detak jantung, aliran darah, dan 
sensasi tubuh lainnya.

·         Perasaan kehilangan batas-batas tubuh (tidak lagi bisa merasakan 
keberadaan tubuh fisik).

·         Perasaan mati rasa di tungkai (lengan dan kaki)

·         Perasaan diri dipenuhi oleh udara.

·         Perasaan tubuh menjadi sangat besar atau sangat kecil.

·         Perasaan tubuh menjadi sangat berat atau sangat ringan.

Kadang berpindah antara kesadaran internal dan eksternal.

ESR: 11 - 8

EEG:  

·         Beta yang sangat berkurang

·         Alfa sinambung

·         Teta meningkat

 

Level : 5

Pengalaman/Sensasi Subjektif:

·         Kondisi kesadaran yang sangat tinggi.

·         Perasaan puas yang mendalam.

·         Sangat sadar/waspada, tenang, dan tidak melekat/terpisah dari keadaan 
sekeliling.

·         Perasaan "lepas" atau hilang dari lingkungan dan atau tubuh.

·         Bila menginginkan maka gambaran mental yang muncul adalah 
sangat-sangat jelas.

·         Perasaan kondisi kesadaran yang meningkat, yang tidak terdapat pada 
level sebelumnya, 0 - 4.

·         Perasaan pengalaman puncak, luar biasa, pengalaman "ah-ha", pemahaman 
intuitif.

·         Kinerja tinggi

ESR: 8 - 5

EEG:  

·         Penguasaan beta yang sangat baik - mulai dengan tidak adanya pikiran 
hingga pikiran-pikiran kreatif

·         Alfa sinambung

·         Teta sinambung

 

Level : 6

Pengalaman/Sensasi Subjektif:

·         Cara baru (berbeda) dalam merasakan sesuatu

·         Pemahaman intuitif terhadap masalah sebelumnya, seakan melihat dengan 
level kesadaran yang lebih tinggi.

·         Sensasi dikelilingi oleh cahaya.

·         Perasaan kesadaran spiritual yang lebih tinggi.

·         Sensasi semuanya tidaklah penting selain kondisi yang dialami saat 
itu.

·         Mengalami kebahagiaan yang luar biasa.

·         Mengalami ketenangan yang tak terlukiskan.

·         Perasaan akan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai alam semesta.

ESR: 5 - 0

EEG:  

Empat pola yang mungkin terjadi:

1.     Pikiran yang terbangunkan (beta, alfa, teta, delta)

2.     Meditasi optimal (alpha, teta, delta)

3.     Sangat sedikit aktifitas listrik otak 

4.     Pikiran yang berkembang (pola The Awakened Mind, meliputi beta, alfa, 
teta, dan delta) 

Pembaca, karena keterbatasan ruang dan waktu saya tidak bisa menjelaskan secara 
lebih detil setiap aspek dari Subjective Landmark. Sebagai informasi tambahan 
untuk anda, materi ini adalah bagian penting dari pelatihan The Awakened Mind.

-- 
Quote: 
** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will 
become scientific. Disagreements between science and religion will come to an 
end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are 
derived from the same source, and are only modifications of the One Universal 
Energy **
****
Sharing File Audio-Video-Software-Manual Meditasi di : 
http://tiny.cc/huarchive
****
List events inisiasi di group HU & registrasi di :
http://tiny.cc/huevents
****

Kirim email ke