Rekan-rekan yang Terkasih dalam Tuhan Yesus,
Saya postingkan artikel Gali Kata Alkitab berikut ini, harap menjadi berkat
bagi Anda sekalian. Saran, kritik, dan masukan terus saya harapkan guna
mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kata-kata Alkitab yang dibahas.
Saya berusaha untuk merilis artikel seperti ini seminggu sekali setiap hari
Kamis. Namun karena berbagai keterbatasan, seringkali saya tidak dapat
memenuhinya. Saya mohon maaf atas keadaan ini.
Jika Anda bermaksud mendaftarkan rekan untuk bisa menerima email Gali Kata
Alkitab ini, silakan tulis dan kirim alamat email tersebut kepada saya. Saya
senang artikel ini bisa dibaca banyak orang dan menjadi berkat bagi mereka.
Jika Anda keberatan menerima email ini dan bermaksud tidak bersedia
menerimanya lagi, silakan kirim email balik dan nyatakan Anda berhenti.
Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati kita.
Salam,
herysa
------------------------
Gali Kata Alkitab
Rubrik ini menyediakan artikel yang berisi makna suatu kata dalam Alkitab
yang diteliti dengan menggali akar kata dalam bahasa Ibrani Kuno. Artikel yang
dimuat di rubrik ini merupakan pengembangan dari artikel pendek dalam
"Pelayanan via SMS" yang disebarkan setiap hari Rabu dengan rubrik "Gali Kata
Alkitab" dari nomor selular 085294397157 atas nama Hery Setyo Adi. Sedangkan
rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang disebarkan melalui e-mail ini -- mempostingkan
satu artikel seminggu sekali setiap hari Kamis. Artikel yang sama disebarkan
juga melalui http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata. Harap
artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.
Pelayanan via E-mail
Edisi 5: Kamis, 3 April 2008
Ibu
Kata “ibu” berasal dari bahasa Ibrani ‘em (alef-sere-mayim). Kata ini
dijumpai pertama kali dalam Kejadian 2:24 ‘immo, yang berarti “ibunya”. Kata
‘em, sebelum tanda huruf hidup diciptakan untuk menyempurnakan tulisan Ibrani,
ditulis dengan dua huruf mati “alef” dan “mayim”. Dalam piktograf (tulisan
gambar) Ibrani kuno, “alef” adalah gambar kepala sapi jantan yang melambangkan
“kekuatan”, sedangkan “mayim” adalah gambar air yang membawa ide “air” atau
“cairan”. Dengan demikian gabungan piktograf “alef-mayim” (yang diterjemahkan
“ibu”) membawa ide “cairan yang kuat”.
Apa yang dimaksud “cairan yang kuat” itu? Ide tersebut dapat dipahami dengan
mengaitkan pengenalan orang Ibrani terhadap lem (perekat). Mereka memiliki
teknologi pembuatan lem, begini: kulit binatang atau bagian-bagian tubuh lain
dari binatang dicampur dengan air dan direbus sampai mendidih. Setelah itu di
bagian permukaan akan muncul suatu unsur yang lengket tebal seperti pasta.
Bagian itu lalu diambil dan dipindahkan ke tempat lain dan orang Ibrani
menggunakannya sebagai perekat. Itulah arti “ibu” yang membawa ide “cairan yang
kuat” (perekat).
Ibu memiliki peran yang unik di tengah keluarga. Perannya berbeda dengan
bapak. Bapak memiliki peran sebagai “kekuatan keluarga” (lihat artikel "Bapak"
dalam Gali Kata Alkitab Edisi 4, Rabu 26 April 2008). Sedangkan ibu, berperan
sebagai perekat bagi para anggota keluarga. Peran itu dijalankan melalui
pekerjaan dan kasihnya. Jika sang ibu tidak menjalankan peran sebagai perekat,
maka tidak mustahil keluarga itu akan tercerai berai.
Dalam Perjanjian Lama, Ribka adalah contoh seorang ibu yang tidak menjalankan
perannya sebagai perekat dalam keluarga (lihat Kejadian 25:28). Sebagai seorang
ibu, Ribka hanya mengasihi salah satu dari dua anaknya, yakni Yakub. Kesalahan
yang sama dilakukan Ishak. Ia mengasihi Esau saja. Dari sinilah awal prahara
keluarga itu. Ishak, Ribka, Esau, dan Yakub sebagai anggota keluarga mestinya
solid. Namun kenyataannya keluarga itu terpecah menjadi dua blog: blog
Ishak-Esau dan Ribka-Yakub. Di sinilah kegagalan Ribka yang tidak berperan
sebagai “perekat” bagi keluarga, dan juga Ishak yang tidak menjadi “kekuatan
keluarga”.
Menarik kita simak, kata “ibu” tidak hanya bermakna jasmaniah, tapi juga
metaforis. Dalam Perjanjian Baru, makna kedua ini muncul. Tuhan Yesus menyebut
orang yang melakukan kehendak Allah adalah ibuNya (Markus 3:35). Siapa yang
disebut melakukan kehendak Allah? Tidak lain adalah orang-orang yang menerima
Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi (bdk. Yohanes 6:29).
Jika jemaat Tuhan disebut “ibu”, maka seyogianya umat Tuhan itu menjadi
“perekat” antara satu dengan yang lain.
Implikasi
Dalam kehidupan berkeluarga, ibu berperan sebagai perekat bagi semua anggota
keluarga. Oleh karena itu mari kita renungkan: apakah kesibukan, karir,
pelayanan, dan lain-lain aktifitas sang ibu justru merenggangkan atau bahkan
memecahbelah hubungan antaranggota keluarga? Jika jawabnya “ya”, maka cepat
atau lambat, runtuhlah keluarga yang kita bangun itu. Dalam kehidupan
berjemaat, apakah jemaat Tuhan atau gereja sudah berperan sebagai “ibu” bagi
anggotanya? Apakah persekutuan orang-orang percaya itu telah berperan sebagai
“perekat” bagi anak-anak Tuhan yang ada di dalamnya? Jika jawabnya “ya”, maka
anak-anak Tuhan akan semakin “betah” berada di antara anggota-anggota jemaat
yang lain.
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang dikembangkan dari artikel
dengan judul "Ibu" yang dimuat dalam Pelayanan via SMS "Gali Kata Alkitab"
edisi ke-5, Rabu 2 April 2008 dari nomor 085294397157. Berbagai sumber dipakai
sebagai acuan untuk tulisan ini)
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!