Rekan-rekan sekalian,
Berikut ini saya postingkan artikel Gali Kata Alkitab dengan judul: "Kemegahan
atau Kecongkakan".
Harap artikel ini menjadi berkat bagi kita sekalian.
Artikel ini dan artikel sejenis dapat Anda akses di alamat berikut ini:
http://herysa.blog.friendster.com/
Tuhan Yesus memberkati.
Salam,
herysa
Gali Kata Alkitab
Rubrik ini menyediakan artikel yang berisi makna suatu kata dalam Alkitab yang
diteliti dengan menggali akar kata dalam bahasa Ibrani Kuno. Artikel yang
dimuat di rubrik ini merupakan pengembangan dari artikel pendek dalam
"Pelayanan via SMS" yang disebarkan setiap hari Rabu dengan rubrik "Gali Kata
Alkitab" dari telepon selular nomor 085294397157 atas nama Hery Setyo Adi.
Sedangkan rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang disebarkan melalui e-mail ini --
mempostingkan satu artikel seminggu sekali setiap hari Kamis. Artikel yang sama
disebarkan juga melalui http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata. Harap
artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.
Pelayanan via E-mail
Edisi 37: Kamis, 20 Nopember 2008
Kemegahan atau Kecongkakan
Kata Ibrani gaon (gimel dagesh lene-qames-alef-holem waw-nun) dipadankan dengan
kata-kata dalam Alkitab berbahasa Indonesia (ITB/LAI), baik bernada positif
maupun negatif, antara lain: kemegahan, kejayaan, keluhuran, kemuliaan,
kecongkakan, keangkuhan, dan kesombongan. Kata-kata yang bernada positif
(kemegahan, kejayaan, keluhuran, kemuliaan) selalu berhubungan dengan Tuhan dan
umat Tuhan yang taat (Lihat misalnya: Ulangan 33:26, 29; Mazmur 47:4; (47:5);
68:34 (68:35); 93:1; Keluaran 15:7; Ayub 37:4; 40:10 (40:5); Yesaya 2:10,19;
4:2; 14:11; 12:5; 26:10; 24:14; 60:15; Amsal 8:7; Mika 5:4 (5:3); Nahum 2:2).
Sedangkan kata-kata yang bernada negatif selalu berhubungan dengan
bangsa-bangsa lain, orang fasik atau umat Tuhan yang dalam keadaan tidak taat.
Kalau toh kata “kemegahan” dipakai untuk bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan,
kata itupun berada dalam konteks kalimat yang negatif (Lihat ayat-ayat berikut
ini: Mazmur 10:2; 31:18 (31:19), 23 (31:24); 59:12 (59:13); 123:4; Amsal
16:18; 29:23; 8:13; Yes aya 9:9 (9:8); 13:11; 16:6; 23:9; 25:11; 28:3;
Yeremia 13:9; 48:29; Ayub 38:11; Yehezkiel 7:20, 24; 16:49, 56; 30;6, 18;
32:12; 33:28; Hosea 5:5; 7:10; Zefanya 2:10; Zakaria 9:6; 10:11; 11:3)
Apa arti kata gaon ditinjau dari tulisan-gambar (piktograf) Ibrani kuno? Kata
tersebut diturunkan dari akar kata induk g’ (gimel-alef). Huruf gimel pada
awalnya adalah gambar kaki yang mengandung ide “membawa” atau “mengangkat”,
sedangkan huruf alef adalah gambar kepala sapi jantan yang mengandung makna
kekuatan. Gabungan dua gambar tersebut berarti “mengangkat kekuatan”. Seseorang
diangkat ke posisi yang lebih tinggi. Juga, suatu ide tentang keagungan atau
kemegahan.
LAI dalam menerjemahkan kata gaon (mengangkat kekuatan) langsung memilah antara
yang dikenakan kepada Tuhan dan umatNya yang taat dengan yang dikenakan kepada
orang fasik dan umatNya yang tidak taat. Hal ini cukup menolong pembaca
mengambil kesimpulan, bahwa kemegahan, kejayaan, keluhuran, dan kemuliaan
adalah: (1) milik Tuhan, dan (2) milik umatNya yang taat, tapi semata-mata
karena dibuat megah, jaya, luhur, dan mulia oleh Tuhan.
Sebaliknya, orang fasik dan umat yang tidak taat kepada Tuhan yang “mengangkat
kekuatannya” adalah orang-orang sombong, angkuh, dan congkak. Mereka akan
dipatahkan dan diberi ganjaran oleh Tuhan sendiri.
Implikasi
Apakah arti kekuatan manusia di hadapan Tuhan sehingga ia harus “mengangkat
kekuatannya”? Kita ini berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu
tanah pada saat Tuhan mengambil nafas hidupNya dari kita.
Dengan demikian setidaknya, ada dua implikasi mengenai hal ini. Pertama,
implikasi dalam hubungan dengan sesama. Manusia tidak sepantasnya menggunakan
kekuatannya secara sewenang-wenang terhadap orang lain, baik kekuatan politik,
ekonomi, budaya, atau pun yang lain. Bukankah kekuatan itu dapat diambil Tuhan
sewaktu-waktu?
Kedua, implikasi dalam hubungannya dengan Tuhan. Bukankah kita ini juga akan
binasa kalau tetap mau bermegah atas kekuatan kita dan tidak mau menerima kasih
karunia pembenaran dari Dia? Rasul Paulus telah menyatakan 2000 tahun lalu,
bahwa tidak ada dasar untuk bermegah berdasarkan perbuatan manusia. Hanya oleh
kasih karunia manusia memperoleh pembenaran melalui penebusan dalam Kristus
Yesus (Roma 3:27).
Mari kita bermegah (mengangkat kekuatan) bukan berdasar perbuatan kita, tapi
berdasar iman kepada Tuhan Yesus Kristus!
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber
sebagai bahan rujukan)
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis.
Download Yahoo! Toolbar sekarang.
http://id.toolbar.yahoo.com