Rekan-rekan sekalian,
Berikut ini saya postingkan artikel Gali Kata Alkitab dengan judul: "Amin".
Harap artikel ini menjadi berkat bagi kita sekalian.
Artikel ini dan artikel sejenis dapat Anda akses di alamat berikut ini:
http://herysa.blog.friendster.com/
Tuhan Yesus memberkati.
Salam,
herysa
Gali Kata Alkitab
Rubrik ini menyediakan artikel yang berisi makna suatu kata dalam Alkitab yang
diteliti dengan menggali akar kata dalam bahasa Ibrani Kuno. Artikel yang
dimuat di rubrik ini merupakan pengembangan dari artikel pendek dalam
"Pelayanan via SMS" yang disebarkan setiap hari Rabu dengan rubrik "Gali Kata
Alkitab" dari telepon selular nomor 085294397157 atas nama Hery Setyo Adi.
Sedangkan rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang disebarkan melalui e-mail ini --
mempostingkan satu artikel seminggu sekali setiap hari Kamis. Artikel yang sama
disebarkan juga melalui http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata. Harap
artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.
Pelayanan via E-mail
Edisi 36: Kamis, 13 Nopember 2008
Amin
Kata “amin” mungkin menjadi salah satu kata yang paling sering diucapkan oleh
orang Kristen. Apa arti kata tersebut ditinjau dari tulisan Ibrani kuno?
Dalam bahasa Ibrani, kata itu ditulis dengan huruf-huruf
“alef-qames-mem-sere-nun” (amen), yang biasa dipadankan dengan kata “benar”,
“sungguh”, “percaya” ataupun “pasti”. Namun kata “amen” ini juga seringkali
tanpa diterjemahkan dan hanya sedikit mengalami perubahan dari bahasa Ibrani,
yaitu “amin”.
Dari tinjauan tulisan Ibrani kuno, kata amen tersebut diturunkan dari akar kata
induk mn (mem-nun). Huruf “mem” pada awalnya merupakan gambar air atau cairan
yang lain seperti darah, sedangkan huruf “nun” adalah gambar sebuah benih yang
melambangkan keberlanjutan. Gabungan dua gambar tersebut berarti “darah
berlanjut”. Setiap spesies melanjutkan generasi berikut dengan meninggalkan
darahnya, yang datang dari orang tuanya.
Apa hubungan antara kata “amen” dengan darah? Asal-usul keturunan seseorang
hanya dapat dipastikan atau dipercaya hanya melalui hubungan darah. Si “F”
memiliki nenek-moyang “A” jika memang si “F” memiliki hubungan darah sebagai
anak-ayah dengan si “E”, si “E” dengan si “D”, si “D” dengan si “C”, si “C”
dengan si “B”, dan si “B” dengan si “A”. Jika mereka tidak memiliki pertalian
darah satu dengan yang lain seperti itu, maka sekalipun Si “F” mengaku
keturunan dari Si “A”, pengakuannya itu tidak dapat dipercaya.
Ide kepastian atau hal yang dapat dipercaya melalui pertalian darah ini secara
cermat dipakai Matius dengan menjelaskan garis keturunan Tuhan Yesus di pasal
yang paling awal dalam Injilnya. Tujuannya, agar para pembaca memiliki
kepastian dan percaya bahwa Dia keturunan Raja Daud yang telah lama dinubuatkan
para nabi.
Darah juga dipakai untuk memastikan dan mengesahkan perjanjian, bahwa
perjanjian itu memang layak dipercaya. Musa mengambil darah perjanjian
berkaitan dengan komitmen bangsa Israel untuk melakukan Firman Tuhan (Keluaran
20:8; Ibrani 9:18,20). Tuhan Yesus menyebut cawan yang diminum para murid
adalah darahNya, darah perjanjian, yang ditumpahkan untuk pengampunan dosa
(Matius 26:28, Markus 14:24).
Dengan demikian kata “amin” (Indonesia) atau “amen” (Ibrani) berarti sesuatu
yang pasti atau sesuatu yang dapat dipercaya, yang diteguhkan atau disahkan
melalui darah.
Makna Perkataan Paulus
Menarik di bagian terakhir surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus.
Dia menulis, “Kasihku menyertai kamu sekalian dalam Kristus Yesus” (1 Korintus
16:24). Dalam Alkitab terjemahan LAI/ITB, ayat tersebut memang tidak terdapat
kata “amin”. Namun dalam King James Version dan Alkitab Perjanjian Baru bahasa
Ibrani terjemahan Salkinson-Ginsburg, di bagian terakhir ayat tersebut terdapat
kata “amin”. Selengkapnya ayat tersebut berbunyi: “Kasihku menyertai kamu
sekalian dalam Kristus Yesus. Amin.”
Setelah mengetahui makna kata “amin” di atas, kita dapat melihat kedalaman
makna ungkapan Paulus tersebut. Ia pasti mengasihi jemaat Korintus.
Kesungguhan kasihnya kepada orang-orang, ia buktikan dengan perjalanan
penginjilannya yang tak kenal lelah dengan segala resiko yang ditimbulkannya.
Ia ditekan bangsanya sendiri, orang Yahudi, saat menginjil di Damsyik (Galatia
1:17; Kisah Para Rasul 9:19). Ia lari ke Yerusalem dan di situ pun orang Yahudi
akan membunuhnya. Bersama Barnabas, Paulus menjelajahi pulau Siprus dan Galatia
Selatan (Kisah Para Rasul 13-14). Daerah-daerah seperti Antiokia, Ikonium,
Listra, Derbe, dan mungkin Perga berhasil tumbuh gereja-gereja Kristen. Paulus
juga menginjil di Filipi, Tesalonika, Berea, Atena, Korintus.
Ia menghadapi tuduhan memperkosa kekudusan Bait Suci di Yerusalem. Para penuduh
menghasut orang banyak sehingga menimbulkan huru-hara. Ia ditangkap dan
ditahan. Ia menghadapi ancaman pembunuhan tanpa peradilan. Lalu, ia dilarikan
ke Kaisarea, tetap dalam status orang hukuman. Ia naik banding ke Roma. Dalam
perjalanannya ke Roma, kapalnya kandas. Tentu, nyawanya pun terancam oleh badai
di laut itu. Sampai di Roma, ia tetap menjadi tahanan rumah, tapi ia
memberitakan Injil Tuhan Yesus Kristus.
Dari paparan kisah Paulus itu, kita melihat bahwa Paulus tidak latah
menggunakan kata “amin”. Ia sungguh-sungguh tahu kedalaman makna kata kasih
yang sungguh-sungguh tersebut. Ia membuktikannya dengan menginjil banyak orang
dengan segala resiko. Ia mau melakukan hal itu karena Tuhan Yesus telah
mengasihinya dengan penumpahan darah di kayu salib.
Bagaimana saya dan Anda menggunakan kata “amin”: hanya latah, ikut-ikut orang
lain, atau memang tahu kedalaman maknanya? Ingatlah bahwa kata itu berarti
sesuatu yang pasti atau sesuatu yang dapat dipercaya, yang diteguhkan atau
disahkan melalui darah.
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan berbagai sumber
sebagai bahan rujukan)
Can I loose my weight?