*Gali Kata Alkitab <http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata/>*

Rubrik  ini menyediakan artikel yang berisi makna suatu kata dalam Alkitab
yang diteliti dengan menggali akar kata dalam bahasa Ibrani Kuno. Artikel
yang dimuat di rubrik ini merupakan pengembangan dari artikel pendek dalam
"Pelayanan via SMS" yang disebarkan setiap hari Rabu dengan rubrik "Gali
Kata Alkitab" dari telepon selular nomor  085294397157 atas nama Hery Setyo
Adi. Sedangkan rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang disebarkan melalui e-mail
ini -- mempostingkan satu artikel seminggu sekali setiap hari Kamis. Artikel
yang sama disebarkan juga melalui
http://www.sabdaspace.org/blog/hery_setyo_adi atau
http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata. Harap artikel-artikel ini
menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.**

Pelayanan via E-mail

Edisi 74: Kamis, 6 Agustus 2009

*Utusan*

Kata “utusan” merupakan padanan antara lain dari kata Ibrani
*mal’ak*(disusun dari huruf-huruf dan tanda baca Ibrani:
Mem-Patah-Lamed-Shewa-Alef-Qames-Kaf). Akar-kata induk *mal’ak* adalah
*LK*(Lamed-Kaf), yang dalam tulisan-gambar (piktograf) Ibrani kuno
menggambarkan
benda dan melambangkan ide tertentu. Huruf Lamed adalah gambar tongkat
gembala. Sedangkan huruf Kaf adalah gambar telapak tangan yang terbuka.
Gabungan dua gambar tersebut berarti “tongkat di telapak tangan.” Seorang
pengembara berjalan kaki dengan sebuah tongkat di tangannya untuk
mendukungnya dalam perjalanan. Tongkat dapat dipakai sebagai senjata untuk
mempertahankan diri dari serangan binatang buas atau perampok.

Pada zaman masyarakat lampau, tongkat merupakan senjata yang penting bagi
seseorang pada saat mengadakan perjalanan. Ketika seseorang berjalan di
jalan setapak dan melewati semak-semak yang menutupnya, tongkat dapat
dipakai untuk menyibakkan semak itu. Pada saat ia berjalan dan menjumpai
ular di tengah jalan, tongkat dapat dipakai untuk menyingkirkan atau memukul
ular itu.

Di sampaing sebagai senjata, tongkat juga dapat dipakai sebagai penopang
dalam perjalanan. Ketika seseorang menuruni lembah atau menaiki bukit, ia
bisa menggunakan tongkat yang dibawanya untuk menopang tubuhnya. Tongkat
sangat berarti bagi seseorang ketika melakukan perjalanan.

Seorang “utusan”, adalah seorang yang “di telapak tangannya memegang
tongka.” Maksudnya seorang yang siap untuk mengadakan perjalanan. Ia siap
berjalan ke mana saja, sebab di telapak tangannya ada senjata dan penopang
untuk berjalan. Seorang utusan berarti seorang yang siap pergi. Seorang
utusan dikirim seorang raja kepada raja lain, berarti utusan itu siap pergi
menyampaikan pesan raja kepada raja lain itu.

*Yesaya 42:19*

“Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang
Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba
TUHAN?” (Yesaya 42:19).



Nabi Yesaya dikirim Allah untuk memperingatkan Yehuda dari dosa-dosanya.
Ayat di atas ditujukan kepada bangsa itu yang telah gagal hidup taat dan
setia kepada Tuhan itu. (Dosa Yehuda tersebut dapat dilihat di antaranya
dalam ayat 24). Tuhan sangat kecewa terhadap Yehuda, sebab Yehuda adalah
hambaNya (*‘ebed*), *“utusan”Nya (mal’ak)*, dan suruhanNya (*shalakh*), tapi
mereka buta dan tuli.

Kekecewaan Tuhan ini dapat dipahami, mengingat Tuhan mempunyai agenda besar
melalui umat pilihanNya ini. Pada suatu hari nanti, Tuhan mau menyediakan
keselamatan melalui Israel dan Yehuda bagi bangsa-bangsa. Tapi, bangsa itu
malah memberontak kepada Tuhan.

Yehuda yang mestinya menjadi umat yang siap pergi memberitakan Firman Tuhan,
tapi mereka sendiri buta dan tuli. Bagaimana seorang “utusan” siap pergi
kalau ia buta? Bagaimana seorang “utusan” siap pergi membawa pesan untuk
disampaikan kepada pihak lain kalau ia tuli?

*Implikasi*

Saya tinggal di sebuah desa yang berjarak lebih dari lima kilometer dari
kota. Ketika saya pergi ke kota istri saya kadang meminta tolong untuk
membelikan sesuatu. Sambil menyiapkan sesuatu saya biasanya menjawab “ya”
kepada istri saya. Sepulang dari kota, istri saya bertanya, “Mana
pesananku?” Saya kaget, “Oh…ya, lupa. Tadi pesan apa, ya?” Istri saya tentu
kecewa. Saya meminta maaf kepadanya.

Saya mendengar istri saya memesan sesuatu. Telinga saya tidak tuli. Tapi,
saya kurang memperhatikannya. Karenanya, saya tidak dapat mengetahui,
apalagi mengingat isi pesannya.

Bayangkan, seorang yang memiliki telinga dan dapat mendengar pesan, tapi
kurang memberi perhatian, ia dapat melalaikan tugasnya. Bagaimana jika orang
itu tuli? Apakah yang dapat diharapkan dari seorang yang tidak dapat
mendengar pesan dan berkewajiban menyampaikannya kepada orang lain?

Saya dan Anda sekalian, yang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat
dan Tuhan, adalah “utusan-utusan” Tuhan. Apakah kita sungguh-sungguh tidak
tuli dan buta, sehingga “siap pergi” membawa berita dan menyampaikannya
kepada orang lain? Atau, kita sendiri sebenarnya masih tuli dan buta,
sehingga tidak “siap pergi” sebagai “utusan” Tuhan?

*(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan rujukan
dari berbagai
sumber)*

Kirim email ke