SBY bakal diterjang 'tsunami politik'?
 
 
Di masa lalu, beberapa penguasa jatuh bukan karena diracun, dibantai
atau dipancung oleh lawan politiknya. Tercatat, beberapa raja tamat riwayatnya
dan kerajaan hancur lebur bukan karena dibumi hanguskan pasukan musuh, tetapi karena diterjang bencana alam.
Letusan Gunung Tambora bertarikh 15 April 1815, mampu meluluh lantakkan
Kerajaan Tambora dan Pekat di Pulau Flores. Seorang ahli sejarah mengungkapkan bahwa runtuhnya Majapahit juga bukan karena kalah perang, tapi karena dilibas bencana alam nan hebat. Nasib serupa dialami Raja  Firaun yang berseteru dengan Nabi Nuh jauh di masa sebelumnya. Jatuhnya raja Mesir itu juga karena diterjang gelombang dahsyat dan negerinya
morat-marit. Nabi Nuh dan beberapa pengikutnya selamat konon karena
punya otak reptil, alias punya kemampuan mendeteksi tanda-tanda akan terjadinya
bencana alam, seperti halnya naluri yang dimiliki binatang.
 
'Marahnya' Gunung Tambora tak cuma meluluh lantakkan sebagian wilayah
Nusantara, tapi mampu mengubah iklim bumi, dan percaturan politik di
benua Eropa. Hingga 1816, dunia mencatat sebagai 'tahun tanpa musim panas'. Di Eropa
Barat, Amerika dan Kanada berembus udara beku (frost) yang mematikan.
Debu pasir vulkanis yang disemburkan Gunung Tambora menyelimuti
permukaan laut, dan abu pekat yang gentayangan sepanjang tahun menutup
sinar matahari. Pola cuaca yang jungkir balik terjadi di hampir seantero
belahan utara Bumi. Salju turun di New England, AS, pada bulan Juni, dan frost
pada Juli-Agustus, membuat paceklik yang bukan oleh musim panas. Udara
beku juga mematikan tanaman pangan di Eropa dan Kanada, menyebabkan
kekurangan pangan. Kerusuhan yang disebabkan oleh rebutan jatah makanan
meledak di Perancis dan Swiss. Di Irlandia, curah hujan dingin terjadi
hampir sepanjang musim panas itu, dan disana 65.000 orang mati oleh
kelaparan dan tipus. Wabah kolera dan tipus yang menyebar ke wilayah-wilayah
Eropa, membunuh 200.000 orang. Tak tercatat apa yang terjadi di beberapa
pulau di Indonesia, mungkin lebih parah dibandingkan kondisi di Eropa
dan daratan Amerika. Para ahli menyebutkan letusan Tambora sebagai yang
terbesar sepanjang 100.000 tahun.
 
Tambora menguak pula takdir Napoleon Bonaparte. Fenomena teramat asing
yang diciptakan ledakan gunung itu membuat perhitungan
strategi dan taktik perang di Eropa meleset. Tiada musim semi dan panas.
Di Waterloo, Napoleon memutuskan untuk mengundurkan jam serangan,
mengharapkan cuaca akan lebih menguntungkan selepas tengah hari. Namun
cuaca tetap murung, dan di ambang petang 18 Juni 1815 itu ia terjepit
oleh pasukan Sekutu (Inggirs-Prusia), dan kalah.
 
Cuaca buruk menjadi penyebab utama kekalahannya. Napoleon tidak berhasil
menghimpun semua kekuatan pada waktunya. Jumlah pasukannya kalah besar
ketimbang pasukan lawan yang sudah lebih dulu siap. Tanah yang belum
kering oleh salju, menjadi becek oleh guyuran hujan di luar musim. Roda-
roda kereta penghela meriam terjebak lumpur. Komunikasi tak bisa dijalin
cepat, konsolidasi pasukan lambat. Infantri dan kavalerinya bergerak
terseok-seok. 'Perang 100 hari' yang disiapkannya begitu lolos dari
Elbe berakhir di desa di tanah rendah Belgia itu. Era Napoleon pun tamat.
Inggris yang kala itu menduduki Indonesia mengembalikan kekuasaannya ke
Belanda, sekutunya dalam Perang Eropa.
 
Akankah SBY bernasib seperti Napoleon dan Firaun pasca bencana maha
hebat yang meluluhlantakkan Aceh dan Nias? Walahualam, namun bisa
saja terjadi. Napoleon punya program 'Perang 100 Hari', sedangkan
SBY punya beban berat berjuluk "Program 100 Hari". Belum tuntas program
yang dituntut masyarakat luas itu, serangkaian bencana alam menghadang,
dan beberapa kecelakaan pun selalu terkait dengan sosoknya. Skenario
yang ia susun bersama tim Kabinet Indonesia Bersatu pun ikut 'guncang'
dan 'hanyut' terendam serangkaian bencana dan kecelakan.
 
Selepas 100 hari ia memimpin negeri ini, mungkin rakyat dengan terpaksa
akan memaafkan kegagalannya. Kalau ternyata kondisinya bertambah parah,
rakyat tentunya akan turun ke jalan. Semudah itukah? Tentu tidak, karena anginnya
ternyata belum kesana. Namun ingat, ia punya 'musuh dalam selimut'
yang siap menikam dari belakang. Dia adalah Jusuf Kalla yang punya
seribu rencana dan mimpi-mimpi. Kalau SBY 'lengser' di tengah jalan
karena desakan kuat dari DPR, Kalla pun akan menggantikannya sebagai
RI 1. Jalan Kalla akan mulus karena wakilnya di Partai Golkar adalah
Agung Laksono yang juga Ketua DPR. Tak puas hanya sebagai Wakil Presiden
dan lalu Ketua Umum Partai Golkar, ia bakal jadi Presiden.
 
Dibandingkan SBY, Kalla sebenarnya punya banyak kesalahan di masa lalu,
dan saat menjabat sebagai Wapres pun kerap bikin ulah. Banyak yang
menilai bahwa Kalla memiliki segudang agenda terselubung, yang tentu
saja tak diketahui oleh SBY. Dengan posisinya sebagai pengusaha, Wakil
Presiden, Ketua Umum Golkar, Kalla lebih memiliki peluang melakukan
'abuse of power' dibandingkan dengan SBY. Kalla sudah lama bercokol di
Golkar yang para elitenya sejak dulu sudah mahir 'tilep sana tilep sini'.
Kita tak boleh menutup mata tentang itu. Kantong Kalla juga jelas lebih
tebal dibandingkan SBY untuk 'membeli' DPR. Partai Golkar yang dipimpin
Kalla lebih kuat daripada Partai Demokrat yang dulu mencalonkan SBY.
Andai Tuhan Maha Adil, mustinya Kalla yang harus dilengserkan, bukan
SBY. SBY relatif lebih bersih, lebih lugu, lebih flamboyan dibandingkan
Kalla. Biarkan SBY cari wakil lain yang lebih bersih dan kompeten. Tetapi
harapan lain dengan kenyataan, kan? Apalagi di dunia politik yang susah
ditebak kemana arah angin tertuju.
 
Di bumi ini tak ada kekuasaan yang langgeng. Seorang raja yang konon
berdarah biru pun bisa saja mati mengenaskan karena dicincang,
digantung, diracun, atau dilibas bencana alam. Namun yang lebih
menyakitkan adalah kalau ditusuk dari belakang oleh kawan seiring
sejalan. Akankah itu terjadi? Tunggu saja tanggal mainnya.
Sumber: http://mediacare.blogspot.com
 
 


Do you Yahoo!?
The all-new My Yahoo! � Get yours free!

--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke