PORNOGRAFI
Oleh: Sato Sakaki
email: [EMAIL PROTECTED]
 
Tanya:
Bung Sato, menurut pengamatan anda bagaimana kriteria
pornografi oleh masyarakat USA, mengingat banyaknya
media cetak, elektronika dan film yang menggelar
gambar-gambar yang seronok dan bebas diperjualbelikan
untuk umum di Amerika Serikat?
 
Jawab:
Baiklah saya jawab, anda keliru kalau mengira bahan
bacaan, video atau film porno beredar dan
diperjualbelikan dengan bebas di Amerika Serikat.

Majalah seperti Playboy dan Penthouse misalnya, tidak
akan anda peroleh di sembarang tempat di Amerika. Ada
saja ketetapan atau peraturan lokal yang melarang atau
membatasi peredarannya. Di wilayah Northern Virginia,
di pinggiran kota Washington misalnya, majalah seperti
itu tidak boleh dipajang di
etalase. Di toko-toko buku atau kios, kedua majalah
itu dan majalah sejenisnya dibungkus rapi dengan
plastik dan dijepit sehingga tidak bisa dibalik-balik
halamannya sebelum dibeli. Majalah yang dikirim ke
langganan juga dibungkus rapat sehingga gambar
sampulnya tidak terlihat. Peraturan yang berlaku umum
adalah larangan menjual produk pornografi kepada anak
di bawah umur. Batas umur ini di hampir semua
negara bagian adalah 18 tahun. Begitupun dalam hal
rekaman video. Rata-rata pengecer yang menjual atau
menyewakan kaset video atau VCD menghindari video
porno. Sejumlah kecil yang menyediakan menempatkannya
di ruang khusus dengan peringatan keras yang berbunyi:
Dilarang bagi yang berumur di bawah 18 tahun. Di
kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, San
Francisco, Seattle dan juga ibukota Washington
terdapat sejumlah bioskop yang khusus memutar film
biru. Tetapi di loket penjualan karcis senantiasa
tercantum peringatan: Undang-undang kota melarang
masuk yang berusia di bawah 18 tahun. Dan kasir yang
menjual karcis akan menanyakan kartu identitas orang
yang diragukan umurnya.
 
Masalah sampai sejauh mana produk pornography dapat
diterima memang menjadi isu yang dipertentangkan dalam
masyarakat Amerika. Ada saja perkara gugatan
menyangkut pornografi diajukan ke pengadilan dan
diteruskan sampai ke Mahkamah Agung (US Supreme
Court).
 
Usaha melarang penjualan majalah yang dianggap porno
misalnya ditentang para penerbitnya dan dicela banyak
kalangan di Amerika. Kata mereka, usaha kaum fanatik
untuk melarang atau membatasi peredaran sesuatu
penerbitan sama dengan usaha penyensoran yang
dipraktekkan di negara-negara komunis dan totaliter
atas apa yang boleh ditulis dan dibaca orang. Golongan
penentang ini bahkan menuntut agar segala peraturan
atau ketetapan yang membatasi peredaran majalah porno
dsb-nya dicabut, karena bertentangan dengan amandemen
pertama undang-undang dasar yang menjamin kebebasan
mengemukakan pendapat dan kebebasan ber-ekspresi.
Patut juga dikemukakan bahwa pada tahun 1970 sebuah
komisi penasehat yang dibentuk US Congress, setelah
melakukan penelitian, mengeluarkan laporan yang
menyimpulkan bahwa tidak ada bukti pornografi
mengakibatkan peningkatan sikap atau perilaku
anti-sosial. Sebab itu komisi tersebut menganjurkan
pencabutan semua undang-undang menyangkut bacaan porno
dsb-nya, kecuali dalam beberapa hal, misalnya yang
berkenaan dengan larangan menjual kepada anak-anak.
Karena tidak ada alasan pemerintah mencampuri
kebebasan penuh orang dewasa untuk membaca, memiliki,
atau melihat apapun yang ingin mereka baca atau lihat.
Rekomendasi komisi itu ditolak oleh presiden Nixon dan
Senat.
 
Tetapi seperti anda tanyakan, yang juga sangat penting
tentu saja adalah kriteria atau definisi pornografi
itu sendiri. Apa patokan dalam menetapkan bahwa sebuah
majalah, buku, gambar atau film, porno atau tidak.
Pada tahun 1966, dalam tinjauan atas perkara
menyangkut sebuah novel berjudul "Fanny Hill",
Mahkamah Agung menyatakan bahwa "sebuah karya baru
dapat dikatakan porno jika karya tersebut sama sekali
tidak mengandung nilai sosial." Ini merupakan
kemenangan bagi penerbit novel tersebut. Namun tahun
1973, dalam meninjau perkara "Miller lawan
negarabagian Kalifornia", the US Supreme Court
membuat definisi baru dengan menyatakan bahwa "sebuah
karya dapat dikatakan porno jika menggambarkan
perilaku seksual dalam cara yang nyata-nyata tidak
sopan, dan yang secara keseluruhan, tidak memiliki
nilai artistik, kesusastraan, politik dan keilmuan
yang serius."
 
Jadi kriteria mengenai porno dan tidak porno itu bisa
berubah sesuai dengan perubahan pandangan masyarakat.
Dan saya menilai masyarakat Amerika sekarang ini
cenderung lebih konservatif dibanding sepuluh tahun
yang lalu. Jadi tidak mengherankan jika para penerbit
majalah Playboy atau Penthouse atau produser vcd porno
sering menyelipkan pesan kepada langganan mereka agar
terus memberikan dukungan bagi kelangsungan kebebasan
berekspressi dengan hati-hati memilih wakil rakyat
yang akan menduduki badan-badan legislatif lokal,
tingkat negara bagian dan nasional.
 
Sato Sakaki,
Los Angeles, California
(artikel ini saya tulis beberapa tahun yang lalu untuk satu media)


Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke