Diskusi: Apalah arti sebuah nama?
 
Berikut tanggapan dari teman-teman untuk postingan bertajuk 'Apalah
arti sebuah nama'? Ada yang serius, misal tentang peran BPS dalam
menyigi nama-nama penduduk di NKRI. Lalu tampilan data BPS harus lucu.
Juga sedikit menyingkap sejarah marga. Dan yang unik, ternyata di Maluku ada marga
'Kalengsusu'. Upss.....benarkah itu?
Selamat membaca........
 
Salam,
 
 
Radityo Djadjoeri
 
=======================================
Dewey Setiawan
Email: [EMAIL PROTECTED]
 
Salam kenal bung Radityo. Bahwa nama keluarga penting untuk keperluan administratif,
saya tidak bisa menyangkalnya. Tapi kalau sampai diharuskan, kok rasanya
nggak asyik gitu, ya? Apa nggak menjurus ke penyeragaman budaya?
Toh masyarakat yang tidak memiliki kebiasaan memakai nama keluarga
selalu punya kemampuan kreatif juga untuk memenuhi kebutuhan
administratif. Mereka biasanya pakai nama belakang mereka sebagai nama
keluarga. Kalau namanya cuma satu kata, biasaya di ulang. Kalau nggak
boleh sama yang bikin visa, ya dijelaskan. Saya kira sudah banyak orang
luar yang tahu tentang itu. Itu sering disebutkan di BBC, iya kan?
 
Saya dukung gerakan memberdayakan pegawai BPS. Masih banyak memang
yang hal-hal yang belum disurvei. Terus cara penyajiannya juga. Harus
menarik dan kalau perlu kocak, supaya orang yang keder ketika mendengar
kata statistik seperti saya ini jadi ikut tertarik. Mungkin bisa
dicoba: http://www.nationmaster.com/
 
-----------
Suryana
Email: [EMAIL PROTECTED]
 
Ada satu hal menarik mengenai marga. Begitu kita baca sejarah dimanapun,
maka para 'ningrat' akan selalu berusaha untuk membuat pernikahan
dengan aturan yang sangat ketat. Orang Cina misalnya, sampai 7 turunan
harus jelas asal usulnya, sehingga sering ada istilah tujuh turunan
(baik kutukan maupun kemakmuran ). Dengan adanya marga tersebut secara
tidak langsung akan memudahkan mencari silsilah dari orang yang akan
dinikahkannya. Hal ini sebenarnya masih berlaku untuk kelompok ningrat
di Jepang dan Inggris.
 
Bagiku, marga adalah salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur
yang minimal sudah membuat aku eksis -- sejak Adam & Hawa aku masih
keturunan kesekian lho. Bukti tertulis sudah aku kasih lihat ke
Zhao Yun di milis apakabar...hehehehehhee...
 
------------
 
Laurens Cantona
Email: [EMAIL PROTECTED]
 
Family name di negara negara Eropa sangat bervariasi. Dulunya 
diambil dari nama kakek, ayah, tempat tinggal, tempat kerja dll.
Saya pernah dengar di Belanda ada fam Kerkov. Di daerah asalku (yang
menghasilkan banyak KNIL), Kerko artinya mati. Ada yang bisa
mengartikan hal ini?
 
Nama keluargaku berarti raja dari tempat/lokasi yang miring. Ada juga
nama keluarga lain di kampungku berarti makan kepala. Sepertinya
sebelum agama Kristen masuk ke Indonesia, nama keluargaku sudah ada.
 
------------
 
Ambon
Email: [EMAIL PROTECTED]
 
Betul. Di Eropa diambil dari nama kakek. Di Belanda misalnya ada yang
namanya "Huizen in 't veld" atau "Van den Broek" [rumah di lapangan,
dari celana]. Saya kira di Belanda ada undang-undang  untuk mengantikan
nama yang dianggap menertawakan. Di Swedia misalnya ada nama bangsawan
"Svinhuvud" [kepala babi]. Orang Ukrania atau Polandia ada yang nama
keluarganya "Baran" [kambing/domba]. Di Indonesia ada yang pakai nama
keluarga agak lucu yaitu "Kalengsusu".
 
"Kerko" itu dialek Ambon, artinya kuburan. Asal kata bahasa Belanda
"Kerkhof" yang artinya kuburan. Memang ada keluarga asal Jerman yang
namanya Kerkhoff, entah  mungkin di Belanda menjadi  Kerkhov.
Kirko bahasa Finlandia artinya "gereja". Bahasa Swedia "Kyrka" = gereja. 
Di dalam gereja-gereja zaman dulu itu ada kuburan raja-raja atau orang
ternama, jadi cocok dengan Kerko.
 
---------------------
 
Johny Indon
email: [EMAIL PROTECTED]
 
Ya Allah ya Tuhan kami, aku bersyukur kepadamu tidak dilahirkan dari
keluarga bermarga "Kalengsusu". Ampun deh. Gue mendingan punya marga
"Terlanjurganteng" ajah daripada "Kalengsusu" atau "Kalengkrupuk".
Asli Mbon, waktu baca kepala babi atau domba gue cuman senyum tipis.
Tapi pas baca bagian "Kalengsusu" itu bener-bener gak tahan pengen
ngakak. Gile juga tu marga, koq bisa-bisanya bawa-bawa kaleng susu.
Mungkin turunan ke 7 mereka udah ganti marga jadi "Botolkecap" kali
ye?
 
Kebayang deh waktu bikin KTP di kelurahan:
+"Nama Anda?"
-"Frederick Kalengsusu"
+"Nama kakek?"
-"Alexander Gentengbocor"
+"Nama istri?"
-"Maria Sendaljepit".
+"Wah ternyata istrimu masih kerabat jauh saya"
-"Memangnya bapak marganya apa pak?"
+"Bakiaksemplak"
 
Eh, ngomong-ngomong soal nama nih, yang paling hebring soal pilih nama
itu nggak ada lagi selain orang Batak (urang lain sentimen ka maneh
Martha, ini mah asli kebeneran). Yang suka nonton TVRI pas acara berita
coba peratiin deh. Ntar reporternya bilang "Elvis Presley dan Juwita
(or someone else) melaporkan dari Aceh...".
 
Gue mah yakin banget kalo yang pake nama Elvis Presley itu orang Batak.
soalnya waktu gue masih tinggal di sekitar Pondok Indah, waktu itu
Kapolres Cilandak namanya "Napoleon Bonaparte", asli Batak, tapi
lumayan ganteng sih. Hebatnya, posturnya juga ngga tinggi, jadi cocok
bener dikasih nama Napoleon Bonaparte.
 
Masih seputaran reporter tv, gue lupa lagi tv mana, tapi ada reporter
Batak bernama "John F. Kennedy", ngga tau tuh F. nya apaan, moga-moga
bukan "fucking" :)).
-----------------------
Laurenscantona
Email: [EMAIL PROTECTED]
 
Kayaknya salah kali si pak Ambon. Setahu saya marga di Maluku itu
Latukolangsusu, bukan Kalengsusu. Aku punya teman bernama Mohamad
Latukolangsusu.
 
---------------------
 
Ambon
Email: [EMAIL PROTECTED] 
 
Sebenarnya dulu semuanya punya nama marga, baik Muslim maupun Kristen.
Masalahnya terletak pemilikian tanah. Kalau tidak punya nama keluarga
susah untuk mengklaim hak milik marga.
 
Tidak ada sistem tuan tanah. Secara tradisional tanah disana dibagi
dalam pemilikan marga, kemudian milik bersama, misalnya desa. Tanah
pribadi hanya untuk mendirikan rumah dan pekarangannya.
 
Kepala desa itu gelarnya "raja", makanya pedagang Arab menamakan jazirah
Moluk [atau Muluk?] yang artinya "jazirah kerajaan-kerajaan kecil".
Saya kira dulu di Jawa yang pakai nama marga, sesuai apa yang saya
diceritakan ialah bahwa nama keluarga hanya pada kaum bangsawan.
Eropa zaman baheula pun demikian, rakyat biasa hanya pakai satu nama.
Dulu  di Maluku itu ada satu keluarga bangsawan dari Jawa,
namanya pakai Tjokro......? (ex pembuangan zaman Diponegoro?).

Beliau duduk dalam dewan Maluku [zaman sebelun RI berdiri].
Selalu pakai blangkon. Saya ada potretnya. Keturunan beliau pindah
ke Holland. Kalau Anda kapan-kapan ketemu orang yang nama keluarganya
Cheribon, Djokja, Mojokerto etc. itu 99% ex orang Jawa dari Maluku.
Keturunan belakangan, sekarang ini mungkin sudah bisa berbahasa Jawa.
 
----------------------------
Uly Bintang Timur
email: [EMAIL PROTECTED]
 
Dulu orang Indonesia sering banget bikin nama anak-anaknya: Agus, Budi,
Teguh, Wati, Ida. Agak pinggir dikit ke desa namanya: Paino, Paijo,
Paijem, Suyitno, dll.
 
Coba sekarang tanya, pada generasi baru yang melahirkan di tahun
2000-an, adakah yang menamai anaknya Agus, Budi, atau Bambang?
Orang Bule nama yang paling populer dulu James, Walt, David, Robert,
Peter, dll. Sekarang mereka (sama juga dengan orang Indonesia) tingkat
kreativitasnya makin tinggi. Nama-nama itu terasa membosankan dan
massal, jadi dipilihlah nama yang lain.
 
Kalau di Indonesia nama-namanya bisa jadi Tinka, Ivanka, Michelle,
Valerie, atau justru nama-nama Indonesia asli seperti Bunga, Cinta,
Kasih. Di Barat nama-nama India jadi populer, juga nama-nama Arab
bahkan Afrika yang mengandung makna. Selain maknanya, mereka juga
menyukai sesuatu yang 'berbeda'. Tentu mereka juga mempelajari asal
nama tersebut, dan sejarah yang ada dibalik nama tersebut.
 
Saya tak akan keberatan memiliki seorang anak laki-laki bernama Iqbal--
yang menulis dengan indah itu, meskipun suami saya nantinya bernama
William.
 
Sungguh menyejukkan semakin banyak orang Barat memilih beragama. Semoga
dengan kapasitas intelektual yang mereka miliki, mereka pun bisa
menempatkan persoalan agama dan kepercayaan tetap dalam ruang pribadi.
Salam damai.
 
==========================================
Apalah arti sebuah nama?
 
Kelihatannya aneh buat sebagian kita, namun artikel di Reuters ini
menarik untuk dicermati. Apakah popularitas nama Mohammed pertanda
populasi muslim di Inggris kian meninggi?
 
 
Bagaimana di negeri kita? BPS mustinya juga mensigi trend penggunaan
nama di Indonesia. Misal pada 2004 lalu, nama apa yang
paling banyak dipakai para orang tua di Indonesia untuk memberi nama
bayinya? Kita juga perlu tahu nama-nama yang 'tersingkir', alias tidak
lagi diminati masyarakat. Masih adakah orang Indonesia yang pakai
nama Soeharto buat anaknya? Berapa orang yang pakai nama Megawati buat
bayi perempuannya?
 
Mustinya juga, pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa nama keluarga,
(family name/surname) atau dikenal sebagai marga/trah itu sifatnya
wajib.  Kenapa masyarakat Batak, Manado, Maluku dan sebagainya punya
'family name', sedangkan Jawa, Sunda, Bali dan lainnya tidak punya?
Padahal nama keluarga itu amat penting, tak cuma untuk pendataan
penduduk, tapi juga untuk pengisian paspor, data di internet, dan
sebagainya.
 
BPS mustinya lebih inovatif. Soalnya pas ke kantor BPS, kerap
saya lihat dengan mata kepala sendiri, begitu banyak karyawan yang
kurang kerjaan. Mereka seolah makan gaji buta, padahal mereka bergelar
sarjana, dari S1 hingga doktor. Bukannya kerja, mereka malah sibuk
ngerumpi, jualan, mengunyah makanan seolah tak ada hentinya, ada yang
menyulam, dan sebagainya. Itukah ciri pegawai negeri?

Kantornya sebenarnya cukup megah, beberapa gedung bertingkat, namun jorok dan
tak terawat. Yah, tipikal kantor pemerintah dan BUMN..bisa bangun
gedung megah tapi akhirnya tak dirawat. Penyakit yang tak sembuh-sembuh
sejak zaman Orba.
 
Diracik oleh Radityo Djadjoeri
 
=======================================
Artikel terkait di Reuters:
 
Mohammed now one of most popular boys' names in England
LONDON -- Mohammed has joined perennial favorites Jack and Joshua as
one of the most popular names given to British boys in 2004, a sign of
the country's growing ethnic diversity and a legacy of Muslim
immigration decades ago.
 
The Office of National Statistics said Mohammed -- meaning variously
"one who is praiseworthy" or "exalted" -- had moved up two places to
enter the top 20 for the first time.
 
"It is all about demographics. There are now more Muslims being born
in Britain than previously," said Dr. Jamil Sherif of the Muslim
Council of Britain, an umbrella group of 400 organizations.
"About 40 percent of Muslims here are under 25," he told Reuters.
"There are a lot of young families."
 
Emigration from Asia and Africa surged during the 1960s and 1970s.
Britain -- population around 61 million -- is now home to about 1.6
million Muslims.
 
But despite its increased popularity, the name has a long way to go
before it takes the laurels from Jack, which has topped the charts for
10 years.
 
Last year, Joshua was at No. 2, Thomas at No. 3, James at No. 4 and
Daniel at No. 5. Since 2000 these names have all been in the top five.
Girls' names saw more change in the top five than boys, but only
marginally so.
 
Emily held the top spot for the second year running as did the No. 2
name, Ellie. Jessica, the third most popular name, moved up one place
as did Sophie at No. 4.
 
Chloe, which was on top for six years until 2003, dipped to No. 5
while Evie was the highest-ranking new entry at 39, up 22 places.
Some celebrity girls' names also jumped in popularity. Keira climbed
100 places to 53rd while alternate spelling Kiera rose 30 places to
94th, presumably inspired by the rising profile of actress Keira
Knightley. Meanwhile, Sienna Miller's name finished just outside the
top 100.
 
One of the fastest movers in the boys' names was Charlie, which gained
nine places to No. 16, while last year's big climber, Alfie, dropped
nine places to No. 27 and Spencer slumped 47 places.
 

 


Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke