Date: Sat, 19 Feb 2005 22:27:12 -0800 (PST)
From: Migrant CARE <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Nasib TKI di Malaysia (2) "Tak Mungkin Pulang Tanpa Bawa Uang"
Minggu, 20 Februari 2005NASIONALNasib TKI di Malaysia (2)"Tak Mungkin
Pulang Tanpa Bawa Uang"
Sedang Makan: Sambil menunggu nasibnya, para TKI ilegal masih tetap
bertahan di bedeng. Dua orang pekerja tengah menikmati makan di bedengnya.
- SM Triyanto
PAGI itu (Rabu, 16/2) Yeni Zanuba mengunjungi bedeng Lukman dan
kawan-kawan di Damansara Damai, Selangor. Tanpa banyak bicara, putri mantan
presiden Abdurrahman Wahid itu memberikan bantuan berupa mi instan, pasta
gigi, sabun, dan nasi bungkus kepada para pekerja yang nyaris tak
memiliki apa-apa lagi tersebut.
"Kamu minta bantuan apalagi, Lukman?" tanya Yeni ketika hendak
meninggalkan mereka.
Pria yang hidup di Malaysia hanya dengan mengandalkan keterampilan
mengelas itu hanya nyengir kuda.
Dia malu menyebutkan kebutuhan terpenting yang seharusnya ada di bedeng
(kongsi) yang dikepung oleh rerimbun pohon kelapa sawit dan udara yang
panas itu. Meski demikian, Lukman tak tahan juga untuk menyembunyikan
keinginan.
"Kami butuh...obat nyamuk, Mbak Yeni. Jangan-jangan malaria lebih cepat
membunuh kami dibandingkan dengan majikan-majikan sadis itu."
Yeni yang datang ke "kawasan perang" bersama kru sebuah stasiun
televisi itu hanya tersenyum. Dan senyum itu dalam pemahaman Lukman adalah
senyuman perih seorang perempuan yang sangat mengerti penderitaan para
pekerja yang gajinya belum dibayar oleh majikan atau tauke.
"Saya kira setelah sampai di Jakarta, Mbak Yeni akan menggerakkan
orang-orang yang peduli kepada buruh untuk menekan Pemerintah Indonesia dan
Malaysia agar segera melakukan tindakan-tindakan yang lebih manusiawi
kepada kami."
Tindakan manusiawi itu hingga kini agaknya belum bisa terwujud. Plato
Construction malah mengadu domba para pekerja yang kebanyakan dari Jawa
Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah itu dengan para pekerja dari Flores.
"Kami takut bentrok dengan sesama orang Indonesia. Tak ada gunanya kami
atau mereka yang mati. Namun orang-orang Flores sudah diberi duit untuk
mengusir kami.
Satpam-satpamnya juga dipersenjatai dengan parang, dan dikawal
sekawanan anjing," jelas Budi Santosa, pekerja asal Salatiga yang juga bertahan
di tempat itu.
Apakah Sri megah Jaya kira-kira akan membayar?
"Saya heran kok tega-teganya Sri megah Jaya tak membayar kami. Padahal
Plato sudah membayar mereka," kata Lukman.
Kalau tidak dibayar, kenapa tetap bertahan? Akan menunggu sampai kapan?
"Kami menunggu sampai Plato juga menerima sanksi pidana Akta Imigrasi
Malaysia Nomor 1154. Intinya, kalau kami terkena hukum cambuk rotan, bos
yang memperkerjakan pekerja haram pun mesti kena hukuman yang sama."
Lukman benar. Sebab menurut peraturan tersebut, para pekerja ilegal
akan didenda sekurang-kurangnya 10.000 ringgit atau penjara lima
tahun atau sebatan (cambukan) enam kali atau dipenjara dan disebat.
Begitu juga para majikan yang melanggar dikenai denda tak kalah berat:
lebih lima orang 50.000 ringgit, atau penjara lima tahun, atau enam
kali sebatan atau kedua-duanya.
"Tentu saja kami tak ingin mendapatkan hukuman semacam itu. Namun, kami
tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Kerajaan Malaysia kepada kami."
Siap diusir? "Kami tak menunggu diusir atau dicambuk. Kami cuma
menunggu gaji yang belum dibayar. Dulu kami masuk dengan Assalamualaikum,
sekarang balik pun dengan Walaikumsalam. Kami sudah menunggu dua bulan,
masa kami tak sanggup menunggu lebih lama lagi."
Persoalan tak berhenti sampai di situ saja, dan kondisinya pun kian
mengenaskan.
Meski terus didera kekurangan makanan dan bedeng hampir roboh, mereka
tetap tak mau meninggalkan Damansara Damai.
Mereka seakan-seakan percaya dengan menunggu hasil pekerjaan mereka,
Sri megah Jaya dan Plato Construction akan segera melunasi kewajibannya.
Namun bukan membereskan urusan, kedua "raksasa" yang merasa menang ini
terus mencari upaya hukum agar Lukman dan kawan-kawan dipersalahkan.
Oleh Daya, Lukman disebut sebagai subkontraktor yang tak beres
melakukan pekerjaan. Lukman yang harus bertanggung jawab kepada kawan-kawannya.
Dia harus membayar gaji kawan-kawannya.
Padahal, kata Budi Santosa, semua itu hanya akal-akalan mereka. "Kami
sudah dipaksa bekerja 24 jam. Namun setelah segalanya selesai, pekerjaan
kami selalu dianggap tidak beres dan mereka terus-menerus menunda gaji.
Ini mengerikan. Kalau ingin mengusir kami, ya bayar dulu gaji kami.
Kami juga punya kewajiban untuk membayar utang-utang kepada kedai dan
orang-orang di kampung. Kami tak mungkin pulang tanpa duit sepeser pun."
Daya dan Jevander Sing, menurut keterangan para satpam, tak pernah
menengok kondominium yang hampir jadi itu.
"Dan kami tak bisa menerima macam orang mana pun untuk bercakap
mengenai persoalan gedung ini," kata salah seorang dari mereka ketika
rombongan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR RI berkunjung ke kawasan itu.
Untunglah perjuangan mereka membuahkan hasil. Meski harus berhadapan
dengan kekuatan yang konon dibekingi orang gede Malaysia Tan Sri Mustafa
Kamal, pemilik MK Land, kini mereka tak sendiri. Para aktivis dari
Jakarta semacam Migrant Care Indonesia membantu perjuangan mereka.
"Sebenarnya bukan hanya mereka yang kami bantu. Kami sedang berusaha
membantu yang masih tinggal di sini (sekitar 290.548, versi koran Berita
Harian
626.009, dan versi aktivis 800.000 pekerja) untuk menerima sekitar Rp 1
triliun gaji mereka. Saya kira Pemerintah Malaysia dan Indonesia harus
memahami persoalan ini dan segera menolong orang-orang yang teraniaya
ini," jelas Anis Hidayah.
Wahyu Susilo, salah satu aktivis dari Jakarta juga berusaha menggalang
kerja sama dengan para pembela hak-hak buruh migran dari Kuala Lumpur.
Alex, warga Malaysia yang beristri orang Indonesia pun melakukan
berbagai upaya perundingan.
Hasilnya? Masih blunder. Menteri Sumber Manusia (Menaker) Malaysia Dato
dokter Fong Chan Onn, kata Alex, malah bilang ada orang-orang yang
sudah menerima uang 500.000 ringgit.
"Kami tak percaya begitu saja keterangan ini. Karena itu, saya akan
mencari bukti dan melaporkan persoalan ini ke Balai Polis Petaling Jaya.
Hari Jumat, 18/2 saya membawa pengacara. Jalur hukum memang harus
ditempuh untuk persoalan ini."
Karena itu, kata Lukman, persoalan ini mungkin tak akan pernah selesai.
"Namun kami tak mau mundur. Saya dan kawan-kawan telah ke Balai Polis
Sungai Buloh dan segera ke Balai Polis Petaling untuk mempertanyakan
informasi bohong itu."
Mendengar kesemrawutan informasi semacam itu Icha Astuti, istri Lukman
tak bisa menahan tangis.
"Ya, mengapa kami dulu begitu mau diiming-imingi akan mendapat permit
(surat-surat keimigrasian) dengan mudah. Mengapa dulu kami mau saja
ketika tauke bilang hendak membereskan segala urusan dengan Malaysia."
Begitulah, tangis Astuti tetap tak mengubah keadaan. Itu berarti, jika
mereka tetap bertahan di bedeng hingga 1 Maret, maka hukuman denda atau
penjara atau cambukan akan mereka terima. Tentu akan sangat
menyakitkan.
Sebab Malaysia juga tak cuma menggertak. Di televisi-televisi peragaan
hukuman cambuk sudah dipublikasikan secara besar-besaran. Dalam
tayangan itu tergambar bagaimana seorang algojo berjubah
-mirip kostum Eropa Abad Pertengahan- mencambuk berkali-kali
orang-orang yang bermasalah, sementara penduduk menonton penyiksaan itu dengan
wajah dingin.
Perupa asal Indonesia Arahmaiani yang kebetulan sedang menginap di
Rimbun Dahan, Selangor, tak habis mengerti mengapa cara-cara jahiliah itu
masih digunakan.
"Bayangkan kalau 800.000 pekerja benar-benar tak meninggalkan Malaysia,
apakah pada hari itu juga mereka akan mencambuk ribuan orang secara
bersamaan? Kalau bersamaan, berapa algojo yang diperlukan? Ini jelas
peristiwa absurd yang tak masuk akal. Karena itu, saya akan mengajak para
aktivis muda Malaysia berdemonstrasi menentang hukuman yang tak masuk
akal ini."
Karena itu, dalam pandangan aktivis semacam Anis Hidayah, perjuangan
orang-orang yang bersimpati pada nasib buruh migran di Malaysia, bukanlah
perlawanan untuk sekadar merebut gaji Rp 1 triliun, tetapi juga
perjuangan melawan absurditas dan keirasionalan hukum.
" Lebih dari itu semua, ini merupakan persoalan yang berkaitan dengan
harga diri bangsa Indonesia di Negeri Jiran. Penghancuran harga diri ini
tak boleh kita diamkan."
Meski demikian, sesungguhnya ada solusi yang bisa dilakukan. Arsitek
terkenal Malaysia Hijjas Kasturi, misalnya, mengusulkan agar Pemerintah
Malaysia melegalkan para pekerja yang dianggap haram atau ilegal itu.
"Tanpa mereka, pembangunan Malaysia juga tak akan berjalan.
Jadi mengapa tak memberikan kepada mereka legalitas saja. Jadi, mereka
tak perlu pulang ke Indonesia dulu. Ini jelas tawaran yang simpatik.
Namun, Hijjas bukan penentu kebijakan. Suaranya belum tentu didengar.
(Triyanto Triwikromo-33m)
Copyright� 1996-2004 SUARA MERDEKA
Migrant CARE
Perhimpunan Indonesia untuk Buruh Migran Berdaulat
Jl. Cipinang Pulo Maja No. 41 F
Kel. Cipinang Besar Utara Jatinegara
Jakarta Timur, Telp/Fax: 62-21-85903950
E-mail: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Website: www.buruhmigranberdaulat.blogspot.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--------------------------------------------------------------------------
All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.
If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".
Yahoo! Groups Links
http://groups.yahoo.com/group/hidayahnet/
[EMAIL PROTECTED]
