Title: Ahliaku dan Purdahnya

Ahliaku dan Purdahnya

---------------------------------

Bismillahir rahmanir rahiem

Dulu, ahlia [1] saya termasuk seorang busines woman. Sebagaimana pebisnis lainnya, segala sesuatu dapat dipertimbangkan untuk menjadi asbab memperoleh uang. Dalam menghitung uang, terus terang, dia sering kali lebih cepat daripada saya. Bahkan saya lebih bergantung kepada alat hitung seumpama calculator. 

Alhamdulillah, Allah (swt) telah mengubah keadaan sesuai dengan kehendak-Nya. Hari ini, ahlia saya lebih banyak tinggal di rumah dan lebih menikmati tugas2-nya di rumah. Kalau saja dia tidak lebih dulu dibujuk dan diberi targhib tentang keutamaan2 silaturrahmi, maka dia lebih memilih untuk tinggal di rumah saja. 

Kata purdah barangkali masih relatif baru bagi kita, orang2 awam. Padahal esensinya sudah ada sejak Islam disempurnkan Allah (swt). Ahlia saya sendiri baru rela memakai purdah setelah 5 tahun saya memperoleh pencerahan di IPB. Purdah yang dimaksud di sini, tidak sekedar cadar, tetapi semacam jilbab dengan tambahan kain yang dapat menutupi seluruh mukanya.

Awalnya memang ahli saya coba2 memakai purdah, yakni ketika saya dan kawan2-nya membujuknya untuk hadir di talim halaqah. Alhamdulillah, sejak dia memutuskan untuk istiqomah mengenakannya, dengan izin dan kehendak-Nya jua, dia tidak lagi merasa berat menggunakannya pada hari ini.

Saat2 para tetangga melemahkan semangatnya, dia bahkan mengatakan bahwa tidak seorangpun yang dipaksa untuk mengenakannya. Dan ketika hari ini orang2 'modern' (khususnya di Pattaya, Thailand) terkesiap memandang dirinya yang terselubung kain hitam dari atas kepada hingga ke bawah kakinya, maka ahlia saya tersenyum saja di balik purdahnya.

Dan apabila orang2 memandang dirinya berterusan saat kami berjalan (baik untuk khususi atau untuk keperluan lainnya) hingga mereka terbentur atau tersandung, dan saya kabarkan hal itu, maka ahlia saya tertawa (kecil). Tidak ada masalah baginya untuk hadir di tengah keramaian dengan tampilan seperti itu. Bukankah orangtua kita sudah bilang, "Alah bisa karena biasa..." 

Semua itu, tentu saja bukan kerena saya telah hebat atau ahlia saya telah benar2 memahami agama ini. Semua itu se-mata2 karena Allah (swt) telah memberi kami taufik dan hidayah-Nya untuk mengamalkan sebagian perkara hak yang bagi banyak orang masih terasa sulit dan tidak menyenangkan.

Maka, tidak ada kata yang lebih indah sebagai ungkapan syukur selain dengan ucapan alhamdulillah wasy syukruh. Segala puji dan syukur bagi Allah (swt) Rabb seluruh alam.

Afwan, kalau saja bukan karena kita telah diperintahkan untuk me-nyebut2 nikmat yang Allah berikan [2], barangkali hal itu sangat tidak layak untuk disampaikan di sini. Subhanallah.

Subhan ibn Abdullah

Pattaya, 24/03/2005

Catatan kaki:

[1] Ahlia maksudnya adalah istri.

[2] QS Adh Dhuha 93:11, Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu me-nyebut2-nya (dengan bersyukur dan menceritakannya kembali).

*

http://imanyakin.modblog.com/core.mod?show=blogview&blog_id=524651




--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke