|
AMBALAT DAN NASIONALISME Oleh: Semakin memanasnya konflik blok Ambalat antara
Indonesia-Malaysia, kasus terakhir
bersenggolannya kapal perang kedua Negara, ditengah ketegangan diantara dua negara
serumpun ada saja joke yang disampaikan: ”Ganyang Indonesia
dan Malaysia adalah negara serumpun yang mempunyai banyak persamaan, sama-sama
suku Melayu, sama-sama berbahasa Melayu, sama-sama mayoritas Nasionalisme
adalah ide bathil yang merupakan strategi Barat untuk melemahkan kekuatan DR. Syafiq A. Mughni
dalam “Sejarah kebudayaan Sayyid Quthb dalam ”Fiqih
Dakwah” juga menjelaskan bahwa perjuangan Rasulullah saw tidak
membawa-bawa nasionalisme. Rasulullah saw bisa saja menggunakan rasa Nasionalisme
Arab dalam menyatukan penduduk Makkah, karena adanya ancaman 2 super power
Rumawi dan Persia. Setelah penduduk Makkah bersatu (kaum musyrik Quraisy dan
muslimin) maka Rasulullah saw mempunyai kesempatan luas untuk berda’wah
dikalangan Quraisy, tetapi Rasulullah saw tidak melakukannya. Rasulullah sangat
membenci nasionalisme seperti ini, beliau memarahi sahabat yang menghina
sahabat lain karena kebangsaannya, warna kulitnya atau sukunya. Beliau tidak
membedakan Abu Bakar dan Umar yang Arab, Salman yang Persia, Shuhail yang
Rumawi, Bilal yang negro (Habasyah Afrika), semuanya sama dihadapan Rasulullah
saw. Bukan dari
golongan kami orang-orang yang menyeru kepada 'ashabiyyah
(nasionalisme/sukuisme), orang yang berperang karena 'ashabiyyah, serta orang
yang mati karena 'ashabiyyah (HR Abu Dawud). Walhasil, tidak
selayaknya konflik dua negara mayoritas muslim Indonesia-Malaysia diselesaikan
dengan perang, karena ketika dua orang muslim saling membunuh maka pembunuh dan
yang dibunuh keduanya masuk neraka. Apabila dua muslim
berhadap-hadapan dengan senjata, maka pembunuh dan yang dibunuh keduanya di
neraka. Aku (Abu Bakrah) berkata; ‘Wahai Rasulullah kalau yang membunuh
itu sudah jelas berdosa, tapi bagaimana dengan yang dibunuh’. Beliau bersabda; ‘Iapun berdosa, karena
telah bermaksud membunuh saudaranya’ (HR Muslim). Seharusnya sesama
muslim bersaudara dan menyatu dalam satu aqidah Telah lebih 80 tahun
kaum muslimin tidak mempunyai satu kepemimpinan (Khilafah Jikalau sekiranya penduduk
negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka
berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu,
maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Al-A’raf 96). Wallahua’lam Maraji’: 1. Sejarah kebudayaan 2. Fiqih dakwah, Sayyid
Qutb -------------------------------------------------------------------------- All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise. If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".
Yahoo! Groups Links
| ||||||||||||||||||||||||
