Mereka Adalah Tanggung Jawab Kita

 

Bismillahir rahmanir rahiem

 

Sesungguhnya melakukan kerja2 dakwah di lapangan seringkali tidak semudah menyelesaikan hitungan diatas kertas. Hanya orang2 yang rela terjun ke lapangan (dengan cara menjumpai manusia) saja yang tahu hingga detil kesulitan2 dan kendala2 yang ada di dalamnya. Namun demikian, meskipun berat, tetap saja mereka menikmatinya. Yang demikian adalah karena orang yang sungguh2 dalam kerja dakwah sering medapatkan kepuasan2 yang tidak akan diperoleh pada pekerjaan selainnya.

 

Dari berbagai laporan (termasuk dari pengamatan sendiri), kita tahu bahwa ada orang2 non muslim (dalam hal ini orang2 keturunan Tionghoa di Indonesia) yang datang kepada kita (baca: muslim). Mereka minta agar kita buat doa selamat (cara Islam) atau acara yang seumpama itu di rumahnya dimana pada kesempatan2 seperti itu seringkali tidak satu pun dari muslim yang hadir yang mau mengajak mereka kepada Islam.

 

Tidak itu saja, ada banyak keadaan dimana kita duduk di tempat mereka (non muslim) duduk, tidur di tempat mereka tidur, bertemu dengan mereka hampir setiap hari, berbincang dengan mereka sebagaimana layaknya saudara dekat, marah kepada orang yang marah kepada mereka, sedemikian rupa keadaannya tanpa ada upaya2 kita untuk mentransfer kepahaman tentang nilai2 agama kita kepada mereka. [1]

 

Pertanyaannya adalah, "Kalau mereka wafat sebelum mereka masuk Islam (bersyahadat), kira2 siapa nanti yang mau bertanggung jawab di akhirat kelak?"

 

Ya… siapa yang mau bertanggung jawab atas keselamatan mereka? Adakah muslim yang sudah tahu bahwa dakwah adalah amanah Tuhannya ataukah muslim yang belum tahu (belum sadar) bahwa dakwah adalah kewajibannya sebagaimana layaknya kewajiban ibadah yang sudah dipahaminya? Ataukah kita semua? Jika kita semua memang bertanggung jawab akan hal ini, lalu apa 'action' kita yang dapat kita jadikan bukti di depan pengadilan ilahi kelak?

 

Dari sirah nabawiyah kita tahu bahwa dakwah adalah sarana tarbiyah untuk memperbaiki kualitas ummat ini secara ber-tahap2. Ini artinya bahwa kita mesti sabar, karena setiap tahapan tersebut memerlukan proses yang tertentu dan waktu yang tertentu pula. Dan jika kita tetap bersabar dalam menempuh tahapan2-nya (aktif dan istiqomah dalam urusan dakwah), kelak kita akan memahami bahwa tanggung jawab atas keselamatan seluruh manusia ada pada pundak2 kita, kaum muslimin.

 

Keadaan hari ini dimana kaum muslimin seperti 'macan ompong' [2] dapat dimengerti jika kita sadar bahwa kualitas kita dalam berdakwah masih rendah sekali. Bayangkan, kalau saja hari ini Allah (swt) memutuskan untuk memberi hidayah kepada banyak orang musyrik atas usaha dakwah, sementara kita masih belum memiliki kualitas (setidaknya) seperti sahabat2 Anshar, lalu akan kita kemanakan orang2 tersebut pada saat mereka datang kepada kita untuk memperdalam keimanan dan keyakinannya yang baru?

 

Barangkali kita perlu terus belajar sabar sambil terus mengishlah diri kita dan saudara2 kita hingga tiba masanya dimana kualitas kita cukup memadai untuk menghandel dan mendudukan para mu'allaf pada posisi yang bijaksana. Jika tidak, maka jangankan orang2 muslim baru (mu'allaf) yang belum memahami Islam dengan semestinya, bahkan orang2 Islam sendiri (yang sejak kecil sudah Islam) akan lari dari agama ini. Na'udzubillahi min dzalik.

 

Kalau boleh diumpamakan, (sebagian) orang2 non muslim saat ini adalah seumpama kabilah2 di luar Madinah (pada masa hayat Rasulullah) yang me-nunggu2 masa dimana para kafir Mekah rela memeluk Islam. Sebagaimana kabilah2 itu ber-bondong2 masuk Islam setelah orang2 kafir Mekah memeluknya, barangkali seperti itulah kelak mereka akan ber-bondong2 kepada agama Allah, segera setelah semua orang Islam dapat mengamalkan syariat agama ini sesuai dengan kehendak Allah dan rasul-Nya, insya Allah.

 

Tentu saja kita perlu memahami jauh2 sebelumnya bahwa jika hal itu terjadi, maka ber-bondong2-nya manusia kepada agama Allah bukanlah karena dakwah kita yang hebat. Hal itu terjadi semata2 merupakan pertolongan Allah (swt) atas usaha dakwah yang kita lakukan. Sungguh, Allah maha kuasa sedangkan kita tidak berkuasa sedikitpun kecuali sekedar pada batas2 yang ditentukan-Nya saja. Subhanallah.

 

Subhan ibn Abdullah

Pattaya, 16/06/2005

 

Catatan kaki:

[1] Sebenarnya, keadaan tersebut (dimana mereka dekat dengan kita) dapat merupakan sarana yang bagus untuk mendakwah mereka. Kedekatan kita dapat menjadi semacam jembatan agar mereka dapat sampai kepada aqidah yang benar. Berbeda keadaannya jika kita bersikap kaku dan kasar kepada mereka. Keadaan tersebut tidak saja akan menjadikan mereka menjauhi kita, bahkan kita tidak dapat menyampaikan hal2 yang seharusnya disampaikan kepada orang2 yang belum tersentuh dakwah.

[2] Maksudnya seperti harimau yang tidak bergigi yang tinggal bersama kambing2 tanpa pernah dapat menerkam dan memakan seekor kambingpun.

*

http://imanyakin.modblog.com/core.mod?show=blogview&blog_id=644206

 




--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke