Menggugat Sang Cendekiawan (Bagian Kedua)

Oleh: M. Abdullah ([EMAIL PROTECTED])

Sebelum melanjutkan ke bagian kedua dari tulisan saya tentang Cak Nur, saya 
ingin melaporkan respon yang lumayan banyak dari para pembaca. Setelah saya 
kalkulasi, ternyata 90 persen pembaca menyetujui tulisan saya. 5 persen 
menentang, dan sisanya memilih diam. Tapi rata-rata para pembaca yang setuju 
itu, masih memberikan catatan-catatan, supaya saya tidak terlalu "kejam" pada 
Cak Nur, mengingat beliau adalah lebih tua dari saya, apalagi sudah meninggal 
dunia.

Hal ini saya tolak mentah-mentah. Dalam dunia ilmiah, tidak ada istilah "dia 
lebih tua, atau "dia sudah meninggal dunia". Kajian tidak akan mati walaupun 
sang empunya pikiran sudah berpangkat almarhum. Kalau pro-kontra pemikiran 
disetop, begitu yang punya pemikiran meninggal, lah gimana kelanjutan kehidupan?

Ada juga yang mengatakan saya tidak punya etika, tidak berakhlak karimah, 
karena menyerang Cak Nur yang begitu sopan dan lemah lembut tutur katanya. 
Sanggahan ini terasa sangat absurd sebab, yang saya "serang", sekali lagi 
adalah PEMIKIRANNYA, metodologi dakwahnya (kalau beliau punya semangat dakwah) 
bukan tutur-katanya, bukan tampangnya, bukan pula statusnya. Kalau bicara 
masalah sopan atau tidak sopan, banyak janda-janda tua di kampung yang lebih 
sopan daripada beliau.

Dalam membaca tulisan saya, terus-terang, anda tidak hanya cukup membacanya 
satu kali. Anda dianjurkan membacanya 3 kali atau lebih, untuk lebih memahami 
esensi tulisan saya. Waktu beliau sakit, sebagai orang yang "satu ilmu, satu 
guru", saya tak ingin menggangu istirahat beliau. Malah mendoakan beliau cepat 
sembuh, dan semoga keinginan saya "beradu kepala" dengannya segera terlaksana. 
Tapi Tuhan menghendaki lain. Baik kita kembali ke bagian kedua.


Ringkasan Cerita yang lalu:
Nurcholis Madjid meninggal, meninggalkan polemik dan perdebatan yang 
berkepanjangan, karena ciri-ciri pemikiran beliau yang, diantaranya, mempunyai 
gejala 1. Islamo Phobia, 2. Tak punya sense of Islam, 3. Pemikirannya tidak 
tersimpul dalam konklusi yang komprehensif, 4. Tidak merakyat, 5. Suka 
menggunakan hipotesa terbalik, dan keenam, Tidak punya selera humor.

Ciri nomor enam ini tidak perlu dibahas panjang lebar, karena sense of humor 
masing-masing individu berbeda. Boleh jadi anda melihat orang terpeleset adalah 
sesuatu yang pantas ditertawakan, tapi bagi orang lain, itu bukanlah sesuatu 
yang pantas untuk ditertawakan. Sekedar pengetahuan, apakah humor itu? Secara 
singkat humor adalah kata-kata atau tindakan yang menipu logika. Karena logika 
kita tertipu, maka jadilah itu suatu lelucon. Contohnya dalam hal tindakan, 
perbuatan adalah, perintah ibu anda menyuruh anda untuk mengangkat jerigen 
minyak tanah, "Tolong bawa masuk itu jerigen minyak tanah", pinta ibu anda. 

Maka yang terbersit dari kata-kata ibu anda adalah minyak tanah yang penuh, 
yang berada di dalam jerigen. Sebagai anak yang berbakti pada orangtua, anda 
lantas menjalankan perintah ibu, dengan mengangkat jerigen itu. Nalar atau 
logika normal anda, lantas membaca bahwa di dalam jerigen itu berisi minyak 
tanah, jadi otak anda menyiapkan tenaga optimal, agar lengan anda mampu 
mengangkat minyak tanah tsb.

Tapi ternyata begitu anda mengangkat jerigen, anda terhenyak dan kehilangan 
keseimbangan, sehingga membuat anda hampir terjatuh. Kenapa? Karena ternyata 
jerigen itu kosong. Namanya memang jerigen minyak tanah, dan otak anda 
membacanya sebagai minyak tanah yang berada dalam jerigen, bukan jerigen itu 
sendiri. Di sinilah logika ditipu. Cukup satu saja contohnya, karena ini bukan 
sanggar teater.

Unsur humor ini termasuk sangat-sangat penting, sehingga para da'i di Indonesia 
selalu menyelipkan humor-humor segar tatkala berpidato dan berceramah. Ambil 
contoh saja, Zainuddin MZ, Aa Gym, dll. Bagi penceramah yang monoton, dijamin 
para pendengarnya cepat merasa bosan. Jangankan da'i yang pendengarnya dari 
kalangan berbagai ragam pendidikan, di sekolah saja, kalau guru kita tak pandai 
membawakan materi pelajaran, kita akan cepat ngantuk.

Saya kira bukan suatu kebetulan kalau para Wali Songo dalam mendakwahkan Islam 
di tanah air, menggunakan media wayang kulit, yang ada tokoh punakawannya. 
Punakawan ini kalau sekarang mungkin disebut komedian, seperti Bagong, Gareng, 
Petruk. Di negri asalnya sendiri, India, cerita wayang, Astina dan Pandawa 
tidak ada komediannya. Dalam cerita wayang golek sunda, tokoh Semar, Cepot 
(Gareng) dan Astrajingga (Petruk), Dawala, malah sangat-sangat dominan. 
Sehingga para penonton lebih suka mendengar wejangan si Cepot, yang terbuat 
dari kayu itu, daripada langsung mendengar suara dalangnya, Asep Sunarya.

Kita kembali ke Nurcholis Madjid - Allah yarhamh. Ke enam unsur di atas 
sebetulnya adalah bekal para da'i, pendakwah agama Islam dalam menjalankan 
misinya. Nah, pemikiran-pemikiran Cak Nur, terkesan "garing" karena kurang 
"lucu".

7. Tidak Punya Semangat Berdakwah
Karena ciri-ciri yang dimiliki beliau di atas, membawa beliau kepada kesimpulan 
berikutnya, yaitu, tidak punya selera berdakwah. Dakwah adalah kata bahasa 
Arab, yang sudah terabsorbsi ke dalam bahasa Indonesia. Secara etimologi 
(lughatan), dakwah bermakna memanggil atau menyeru. Sedang secara isthilahan 
(yang baku), dakwah berarti menyeru seseorang ke dalam agama Islam, atau 
mengajak sesama muslim untuk menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan 
menjauhi larangan-Nya.

Nah, dalam hal berdakwah ini, Allah dan Rasul-Nya sudah memberi kita gambaran 
yang jelas, bagaimana melakukannya. Allah sendiri, tak henti-hentinya 
"berdakwah" kepada umat manusia, melalui kitab Alqur'an, dengan bahasa-bahasa 
yang sederhana dan mudah difahami pembacanya.  Sudah sejak 14 abad yang lampau 
Allah swt memberikan kita pendidikan komunikasi yang amat-amat sederhana. Allah 
mewahyukan firman-firmannya dalam Al Qur'an melalui bahasa Arab. (Tentu saja 
bahasa Arab bukan asal dipilih tanpa alasan-alasan yang jelas).

Bagaimana Allah mendidik kita berkomunikasi dalam berdakwah?
Sangat simpel. Allah hanya menggunakan ibarat-ibarat, tamsil-tamsil, 
perumpamaan-perumpamaan, supaya hamba-hambanya tidak salah arti dalam 
menafsirkan kalam-kalam ilahi tersebut. Dan supaya hamba-hambanya mudah 
memahami aturan-aturan yang telah dibuat, supaya tidak muncul hipotesa yang 
terbalik dan salah arti.

Sebagai contoh, ketika Allah menganjurkan hamba-hambanya agar mau bersedekah, 
memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan, Allah 
mengibaratkan, harta itu seperti sebutir biji buah (benih). Biji ini karena 
ditanam kemudian tumbuh menjadi pohon yang bercabang tujuh. Setiap cabang 
tumbuh lagi 100 biji (Albaqarah;261). Jadi dengan mudah kita menafsirkan kalau 
kita punya uang Rp 100, kita belanjakan di jalan Allah, dengan memberikannya 
pada orang / organisasi / lembaga yang membtutuhkan, maka Rp 100 itu menjadi 
modal untuk menumbuhkan lagi 700 biji. So simple.

Contoh lainnya, ketika Allah tidak menerima amal seseorang, sebanyak apa pun 
amal itu, kalau orang yang bersangkutan tidak percaya tentang kekuasan-Nya. 
Dalam hal ini Allah mengumpamakan perbuatan seseorang itu seperti orang 
kehausan yang menemukan fatamorgana. Orang yang melakukan perbuatan baik dan 
bermanfaat, pasti dalam hatinya timbul rasa puas dan bahagia, karena telah 
menolong sesama. Tapi perbuatan baik itu, baik berupa bantuan sosial, penemuan 
ilmiah, pemikiran yang berguna bagi umat manusia, tapi kalau sang penolong, 
penemu, pemikir itu tidak dilandasi akan kepercayaanya kepada Allah, maka orang 
itu ibarat orang yang kehausan, yang menemukan fatamorgana di padang pasir 
(Annur ayat 39). "Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana 
fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang 
dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa 
pun".

Ketika Allah menggambarkan dahsyatnya hari kiamat, agar manusia takut akan 
terjadinya hari itu, Allah tak segan-segan menggambarkan secara dramatis 
kejadian itu dengan "ayat-ayat kiamat", seperti, "Pada hari bumi dan 
gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan 
pasir yang beterbangan" (Almuzammil;14).

"Bumi dan gunung bergoncang", tentu saja maksudnya adalah gempa bumi. Kenapa 
gempa terjadi? Karena gunung-gunung meletus, dan akibat dari letusan-letusan 
itu, segala material yang dikandung gunung termuntahkan keluar, seperti batu, 
lahar, tanah, semuanya terlontar keluar seperti pasir yang berterbangan. Sangat 
mudah dipahami.

Ketika Allah ingin menyampaikan pesan kepada para penghuni planet Bumi di era 
teknologi yang serba canggih ini, 14 abad yang lalu Alqur'an sudah memberikan 
gambaran, tentang ledakan bintang-bintang, yang jaraknya trilyunan kilometer 
(ratusan tahun cahaya) dari bumi. Gambaran atau ilustrasi ledakan 
bintang-bintang di langit, dilukiskan oleh Allah seperti "mawar yang diolesi 
minyak". 
"Maka apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) 
minyak." (Ar Rahman;37). 
Dan bukti dari ilustrai Al Qur'an itu, dapat anda saksikan sendiri dalam 
foto-foto yang berhasil diambil oleh teleskop ruang angkasa, yang menangkap 
gambar ledakan-ledakan bintang di langit yang jaraknya trilyunan kilometer, 
yang mana dalam hal ini, dalam istilah kosmis, disebut ledakan Supernova. Dan 
kalau anda perhatikan benar-benar gambar kejadian ledakan itu, sangat mirip 
dengan bunga mawar yang berminyak.

Bahkan untuk menarik minat hamba-hambanya agar bersemangat menyembah-Nya, dan 
tidak menyembah syetan, Allah tak segan-segan mengiming-imingi manusia dengan 
instink primitif lelaki. Instink primitif lelaki, dari jaman dahulu adalah suka 
pada wanita. 
"Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita 
matanya" (As Shafat; 48). 
"Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan 
sebaya umurnya." (Shaad; 52)
"demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari" (Ad Dukhan; 54)

"mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka 
dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." (At Thur; 20)
"Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya 
(sopan), tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni 
surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin." (Ar Rahman; 56)
"Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan." (Ar Rahman; 58)
Banyak sekali hadits yang menceritakan para sahabat Nabi menangis bila 
mendengar ayat-ayat sorga dan neraka. Menangis, mengharapkan keindahan sorga 
yang dijanjikan Allah. Menangis, takut kalau kelak dimasukkan Allah dalam 
neraka.
Begitulah sebagian ayat-ayat Al Qur'an yang menjajikan wanita, bagi mereka yang 
mau berbakti pada Allah. Dan kenyataanya memang demikian, hasrat tertinggi 
lelaki adalah hidup berdampingan dengan wanita cantik. Setinggi-tingginya 
lelaki sekolah, sekaya-kayanya lelaki punya harta, akan tunduk berhadapan 
dengan wanita. Lihat, betapa "liberal"nya Allah dalam hal ini. 
Dalam suatu peristiwa perang, Nabi pernah menjanjikan sorga yang di dalamnya 
bidadari-bidadari, bagi siapa yang terbunuh karena secara frontal menghadapi 
lawan. Seorang sahabat, yang baru saja masuk Islam, tertarik dengan janji 
tersebut. Tanpa pikir panjang dia mencampakkan makanan yang sedang dipegangnya 
dan menyerbu masuk ke dalam kerumunan musuh. Sang sahabat syahid, dan tentu 
saja mendapatkan janji Nabi tanpa menunggu waktu lama.
Ilustrasi tentang keindahan sorga banyak dikupas di dalam Al Qur'an dan Hadits, 
agar umat Islam lebih bersemangat memegang identitasnya sebagai orang Islam. 
Kata sorga dan neraka, mungkin, bagi sebagian intelek begitu satir dan murahan. 
Tapi memang begitulah adanya dunia ini. Dunia begitu simple, sehingga tidak 
perlu repot-repot menjabarkannya, karena toh pada akhirnya hanya sorga dan 
neraka yang ada.
Strategi pemasaran Al Qur'an ini sekarang secara tidak sadar ditiru oleh para 
developer perumahan. Mereka menggambarkan perumahan yang mereka bangun sebagai 
"sorga", di mana tumbuh pohon yang rindang, ada air yang mengalir, dan wanita 
cantik di depan rumah. Bahkan dalam menamai perumahan yang mereka pasarkan, tak 
segan-segan secara explisit menamainya dengan kata-kata sorgawi seperti, "Taman 
Lestari", "Taman Harapan", "Pondok Indah", "Pura Garden", dll.
Dilatarbelakangi oleh system dakwah Al Qur'an dan Al Hadits, kalau kita 
bandingkan dengan system dakwahnya Nurcholis madjid, sangat-sangat jauh 
berbeda. Bahkan bila dibandingkan dengan para sahabat atau tabi'in, atau 
metodenya Wali Songo, cara berdakwah Cak Nur tidak menghasilkan apa-apa bagi 
Islam. Dari bergudang-gudang literaturnya tentang Islam, apakah ada non-muslim 
yang masuk Islam karena dakwahnya? Jadi jangan samakan Cak Nur dengan para wali 
yang berhasil mengIslamkan tanah air.
Oh, tunggu dulu mas, menantunya itu kan masuk Islam. Siapa bilang? Menantu dan 
mertua sama-sama malu untuk mendeklarasikan diri sebagai muslim. Padahal sang 
menantu hidup di negri yang super duper demokratis. Ibarat gambaran Al Qur'an, 
sang menantu ini dilukiskan sebagai orang musyrik yang kalau ketemu orang Islam 
bilang, "Aku sudah beriman". Tapi ketika ketemu sesama musyrik, bilang, "Aku 
masih setia pada kalian. Aku cuma mempermainkan mereka".
"Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: 
"Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, 
mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah 
berolok-olok". (Al Baqarah; 14).
Tapi sebagai pluralis, mustinya Cak Nur tidak perlu mati-matian mengatakan 
bahwa menantunya telah masuk Islam. Toh pernikahan seorang muslimah dengan 
non-muslim adalah tidak apa-apa bagi pluralis.
Keengganan beliau menyerukan kebenaran Islam di atas agama lain terasa kental 
sekali ketika beliau sibuk mencalonkan diri jadi presiden. Tak ada satu pun 
partai Islam yang diliriknya. Malah Golkar, yang isinya maling-maling kaliber 
kelas kakap yang dimasukinnya. Tentu saja, Cak Nur hanya jadi bahan olok-olokan 
para politisi di kandang musang. Untung beliau segera mundur dari pencalonan, 
kalau tidak, bisa dimakan mentah-mentah oleh para musang itu.
Sekedar info, bahwa dalam pentas politik negri ini adalah negri wayang yang 
pemimpinnya hanya para pesolek, seperti Sukarno, Suharto, SBY. Para pemikir 
seperti Cak Nur, ilmuwan seperti Habibie, pembaharu seperti Amien Rais tidak 
diterima di masyarakat.

Sebagai contoh, tidak adanya semangat berdakwah Cak Nur, adalah ketika beliau 
menguraikan panjang lebar tentang simbol masjid yang berbentuk menggelembung 
dan di atasnya lancip. Beliau mengatakan bahwa itu adalah bukan budaya Islam, 
tapi hasil infiltrasi budaya majusi yang menyembah api. Gambaran api yang 
menyala, oleh Majusi dijadikan simbol pada bangunan menara tempat ibadah 
mereka. Ketika mereka memeluk Islam, bangunan itu masih tetap seperti itu, dan 
simbol api (kubah) kemudian menjadi identitas masjid.

Gayanya menyampaikan pesan, justru membuat lemah iman seorang mukmin. 
Seharusnya beliau menekankan, bahwa dalam kasus menara masjid, kubah, yang 
berbentuk seperti api, kini telah dikuasai muslim. Atau simbol itu sekarang 
telah dikuasai muslim, dan menjadi identitas muslim. Dan karena semangat 
keislaman-lah, bukan pluralisme, banyak gereja yang kemudian menjadi masjid. 

Mungkin kalau diajak dialog mengenai kain sarung, beliau juga akan mengatakan, 
itu bukan budaya Islam. Sarung adalah budaya hindu, yang dulu mayoritas dipeluk 
penduduk nusantara. Sekarang budaya pakaian  muslim lebih berkembang ke jenis 
pakaian yang mirip pakaian Cina atau Afganistan. Pasti beliau juga akan 
mengatakan, bahwa itu bukan budaya Islam. Itu budaya luar. 

Jadi di sini konotasi dakwah beliau tidak mengajak seseorang untuk mempunyai 
identitas yang kuat sebagai muslim. Setiap kali umat Islam di suatu tempat 
sudah kuat mempunyai identitas, beliau secara tegas mementahkannya kembali 
dengan mengatakan, "itu bukan budaya asli Islam".
Mustinya beliau menyeru, "Sekarang kubah masjid menjadi simbol umat Islam 
Indonesia, jadi jangan malu untuk membangun kubah masjid yang berbentuk seperti 
api menyala". 
"Kain sarung telah dikuasai muslim Indonesia, jadi jangan malu untuk mengenakan 
kain sarung peninggalan nenek moyang kita yang beragama Hindu dan Budha."
"Kalau penduduk muslim suatu negri mengenakan pakaian yang mirip pakaian Cina 
atau Afganistan, atau Pakistan, jangan sungkan untuk berbaur dengan mereka, 
mengenakan pakaian itu, karena pakaian itu kini dikuasai muslim".

"Kalau anda merasa yakin, bahwa berpakaian jubah ala Arab adalah pakaian 
muslim, kenakanlah, karena jubah peninggalan bangsa Arab lama itu kini juga 
telah dikuasai muslim."

Yang demikian itu lebih dekat menuju dakwah Islam, daripada mengenakan pakaian 
hitam saat berduka, yang adalah budaya barat. Mungkin Cak Nur, anak dan 
istrinya ingin "mengIslamkan" pakaian duka berwarna hitam. Tapi sayangnya ide 
itu nggak pas, sebab, sekali lagi, pakaian hitam itu berlaku di Barat, bukan di 
Timur.  Kalau mereka berdakwah di amerika, mungkin cocok pakai pakaian hitam. 
Karena mereka di Indonesia, mustinya mereka lebih berpakaian ala Indonesia. 

Mustinya anak beranak itu  memakai kain ulos (adat Batak) dalam rangka berduka, 
karena lebih dekat ke budaya bangsa atau mengenakan pakean adat Asmat dg muka 
dicorengmoreng grafiti lengkap dengan kotekanya. Lihat, lebih banyak adat dan 
budaya bangsa yang lebih patut untuk diislamkan ketimbang mengikuti budaya 
barat, dengan alasan, "untuk diislamkan". Kalau mereka berdakwah di Suku Asmat, 
cocoknya, ya… mengenakan koteka.

Karena kurangnya tekanan berdakwah, itu membuat para pendengar ceramah Cak Nur, 
yang Kristen menjadi semakin yakin bahwa Kristen adalah agama yang layak 
dianut. Yang Katolik menjadi semakin betah hidup serumah dengan pasangan lain, 
sementara istrinya tidak diceraikan. Yang Budha semakin aktif memberikan sesaji 
makanan kepada para leluhurnya supaya beruntung. Sedang yang Islam? Jadi hilang 
identitas keislamannya. Pemikiran cak nur membuat Islam pada posisi status quo.

Kesimpulannya, wawasan kebangsaan Cak Nur dalam berdakwah sangat kurang. 
Standar yang dipakai dalam mendakwahkan liberlisme, pluraslisme adalah standar 
barat. Mustinya beliau memakai standar "Tak kami utus seorang rasulpun  
melainkan dengan bahasa kaumnya" (Ibrahim; 4). Strategi dakwahnya kalah dengan 
Romo Mangun, yang mau menampung para gelandangan di pinggir kali Code dan 
Gajahwong dan menyekolahkan mereka.

Kurangnya semangat berdakwah, membawa identitas yang berbau Islam, juga nampak 
dalam kiprah Cak Nur membangun kampus, yang sama sekali jauh dari nafas agama, 
Paramadina. 

Jangan Malu Beridentitas Muslim
Perlu digarisbawahi di sini, bahwa sebetulnya tidak semua ajaran Nurcholis 
Madjid itu bertentangan dengan ajaran Islam. Malah bagi sebagian kalangan yang 
bisa menangkap sinyalnya, tidak bertentangan sama sekali, selama ide-ide itu 
tidak dipraktekan atau ditelan mentah-mentah. Sebetulnya beliau hanya tidak 
mempunyai sinyal yang pas untuk berkomunikasi. Ibarat telepon seluler, beliau 
adalah generasi seluler yang sudah 3G, bisa mengirim gambar hidup dan bahkan 
untuk menonton TV. Sementara yang diajak berkomunikasi lewat telepon itu adalah 
telepon seluler biasa, yang masih 800hz, atau malah, yang diajak komunikasi, 
tidak punya HP sama sekali. 

Akibat "sinyal" yang dipancarkan dan daya tangkap masing-masing person berbeda, 
maka timbullah persepsi yang berbeda-beda. Di sinilah status beliau sebagai 
pemersatu atau pembaharu seyogyanya ditinjauw kembali.

Sebagai ummat yang dituntut untuk harus terus belajar dan belajar, kita 
dituntut juga untuk bagaimana kita menyaring ajaran-ajaran para pemuka agama 
yang terkesan liberal, pluralis, inklusif.

Kenapa ada sebagaian pemuka agama Islam yang berpikiran "odd" begitu? Mungkin 
juga karena ada latar belakang yang membawa mereka kurang puas terhadap 
perilaku sebagian muslim lainnya. Mungkin mereka kecewa, karena merasa ajaran 
agamanya tidak membawa kepada kedamaian, tidak membawa pada kemakmuran, tidak 
membawa pada "rahmatan lil alamin". Mungkin mereka kecewa karena melihat ada 
binatang yang disiksa dan dibantai. Mungkin mereka kecewa karena ada pemeluk 
agama lain yang dikejar-kejar. Mungkin mereka kecewa karena hutan digunduli.

Mustinya mereka tidak perlu lari dari ajaran agama, karena agama sendiri 
memerintahkan kita menyayangi binatang, menjalin kehidupan yang harmonis dengan 
pemeluk agama lain, tidak boleh merusak tempat ibadah pemeluk agama lain, 
menjaga kelestarian lingkungan dan lain-lain. Semuanya sudah secara lengkap 
diajarkan Islam. Jangan sampai ajaran Islam yang dirusak atau ditinggalkan. 
Apalagi sampai mengutak-atik hukum yang sudah tertulis, seperti aqidah dan 
tauhid.

Mengutak-atik medan syar'iyah yang sudah pas, hanya membuat kita mundur, karena 
bagi umat Islam itu semua tinggal kita lakoni, dan di kehidupan sekarang ini, 
lebih diutamakan terjun di dunia yang lebih real, baik di bidang sosial maupun 
iptek. Dan tentu saja tidak malu membawa atribut Islam.

Sebab tidak ada agama lain, yang menyuruh kita berpikir, seperti agama Islam. 
Kata "Islam" sendiri adalah nama yang diberikan oleh Allah (Al Maidah ayat 3), 
bukan hasil asimilasi agama-agama samawi lainnya. Kata Islam yang berarti 
"penyerahan diri", telah menjadi nama panggilan yang unik untuk membedakannya 
dari ajaran-ajaran lainnya.

Jangan samakan Islam dengan agama lain dalam hal kehidupan berpolitik sekuler. 
"Islam Yes, Partai Islam Yes!", "Islam Yes, Negara Islam Yes!", "Di mana anda 
berpijak, di situ anda bertanggungjawab atas keIslamannya".

Kalau ada yang menawari minum whisky bilang saja "No, thank, I am muslim". Tak 
perlu mencari-cari dalil-dalil dalam Alqur'an atau mencari alasan agar bisa 
meminum minman keras itu atau mencari kesamaan (qiyas) kasus seperti itu. 
Barangkali seorang liberal akan mengkiyaskan ilustrasi di atas dengan kasus 
yang menimpa Yasir, yang terpaksa pura-pura murtad karena disiksa. Jadi kalau 
Yasir saja tidak apa-apa, kenapa pula minum whisky jadi masalah. Tentu saja 
jadi masalah, sebab secara qaidah ushuliyah (Ushul fiqh), mengkiyaskan sesuatu 
yang berbeda itu hukumnya batil (tidak sah); "Alqiyaasu ma'al faariq bathil".

Jangan samakan Islam dengan agama lain. Kalau ada pemeluk Nasrani yang yang 
mentato badanya dengan gambar Yesus, dan berzina, jangan menjadi iri dengan 
mentato lengan anda dengan lafaz "Muhammad", dan pergi ke tempat pelacuran. 
Karena dalam Islam itu adalah hal yang menghinakan agama. Walaupun dalam agama 
manapun perzinahan itu haram, tapi agama lain pada kenyataanya sudah menjadi 
korban sekulerisme. Para pemeluk agama Hindu, Budha, Kristen, Katolik, lebih 
melihat agama sekedar simbol, bukan sesuatu yang harus diamalkan. 

 Media Massa dan Liberalisme
Liberalisme dan Islam adalah dua kata yang bertentangan, baik secara maknawi 
maupun haqiqi. Seorang muslim tidak mungkin menjadi liberal, dan seorang 
liberal akan sangat sulit menjalankan syariat Islam. Tapi kenyataanya memang 
liberalisme di kalangan intelektual muda yang masih setengah-setengah ditelan 
begitu saja.

Peranan media massa dalam mensyiarkan dakwah liberalisme di Indonesia mengambil 
porsi yang sangat besar. Bukan hanya media massa yang sudah berkelas nasional, 
bahkan koran-koran daerah yang mengguanakan bahasa murahan pun ikut-ikutan 
memuat tulisan-tulisan liberal. Sementara para pemikir dan penulis yang masih 
normal mensyiarkan Islam yang sebenarnya, kurang diakomodasi.  

Akibat negatif karena tidak tersalurkannya aspirasi para penentang liberalisme, 
baik dalam media massa ataupun dalam praktek sehari-hari, adalah timbulnya 
radikalisme yang bersifat anarkis. Ini muncul karena para ulama yang 
kontra-pluralisme ala Cak Nur dan liberalisme ala JIL sangat-sangat jarang 
diakomodir oleh media massa dan aparat pemerintah. Pemikiran-pemikiran para 
ulama dan pemikir yang masih normal,  tidak pernah lulus sensor untuk dimuat di 
koran-koran atau majalah. (Barangkali majalah atau koran yang menolak publikasi 
itu, menganggap tulisan mereka yang anti liberalisme kurang ilmiah atau 
penulisnya tidak punya gelar doktor. Padahal koran yang mengaku koran nasional 
itu dalam penulisan berita sering menggunakan ejaan yang carut-marut dan sering 
salah ketik. Tapi kalau untuk rubrik "uneg-uneg" musti ilmiah). 

Akibatnya timbul kejengkelan psikologis pada diri mereka. Hal itu melahirkan 
gelombang-gelombang ketidakpuasan dari generasi muda yang anti liberalisme, 
dalam skala yang lebih agresif berupa tindakan anarkis. Lebih parah lagi, 
pengebirian itu bisa-bisa menimbulkan semangat teror baru.
Kasusnya sudah terjadi, seperti penutupan paksa kampus Mubarak yang dimiliki 
oleh Ahmadiyah,  penutupan paksa rumah-rumah yang secara illegal dijadikan 
tempat ibadah, pengrusakan diskotik dll.

Sekali lagi, esensi ajaran Islam adalah kepatuhan dan kepasrahan akan keputusan 
Tuhan. Dari rasa patuh menjalankan segala perintahnya dan pasrah pada 
ketentuan-ketentuannya, muncul kharisma dan akhlak yang mulia terhadap sesama, 
baik sesama muslim maupun sesama manusia. Baik sesama manusia maupun sesama 
makhluk hidup lainnya seperti, binatang, tumbuhan dan jin. Tapi dengan begitu, 
bukan lantas menghilangkan simbol Islam itu sendiri. Bukan menghilangkan 
ajaran-ajarang Islam itu sendiri. Apakah para tokoh Islam terdahulu yang 
berhasil memajukan umat Islam beraliran liberal, dalam arti liberal seperti 
sekarang? Tentu saja tidak.

Saya ulangi, kalau JIL diibaratkan Nabi Adam, maka Adamlah yang akan mengajak 
Iblis mendekati pohon larangan dan memakan buahnya. Sedangkan Nurcholis Majid 
bisa diibaratkan Nabi Ibrahim yang enggan menyembelih anaknya, Ismail, dan 
lebih suka bernegosiasi, yang kira-kira isinya begini, "Tuhan, aku tahu kamu 
hanya mengujiku, jadi persembahanku pada-Mu aku ganti dengan kambing, ya? Kan 
yang penting ikhlash", begitu.

Supaya tidak sesat kita semua musti sering-sering berpikir berazaskan AlQur'an 
dan Assunnah. Juga musti percaya pada lembaga yang mengontrol pemikiran kita. 
Sebab Allah sendiri berulangkali mengingatkan kita supaya berfikir. 
Berulangkali ayat Alqur'an menyebut, "apa tidak kamu pikirkan?", "Agar supaya 
kamu berpikir", "… yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang mau 
berpikir." Dan masih banyak lagi.

Tentu tidak harus jadi cendekiawan seperti Cak Nur yang sekuler. Atau 
berlomba-lomba memanjangkan rambut agar jadi budayawan seperti Emha Ainunnajib. 
Tidak pula berbondong-bondong mondok di Darut Tauhid suapay menjadi Aa Gym. 
Masih banyak lowongan untuk mengisi jabatan bagi "Orang yang berfikir". 

Jadi ilmuwan muslim, misalnya, bagaimana menciptakan pesawat anti grafitasi, 
agar pesawat terbang tidak terbang secara konvensional mengandalkan angin, tapi 
menggunakan daya magnet yang bertolak-belakang dengan grafitasi bumi. Saya 
sendiri sampai sekarang masih "meneliti" bagaimana supaya ion-ion panas sebesar 
2000kv bisa dimuat dalam sinar laser, agar bisa saya kirim ke gedung putih. 

Atau kalau itu terlalu berat, karena unsur kimianya sangat banyak, jadilah 
sejarawan muslim, arkeolog muslim, sosiolog muslim, politisi muslim, programmer 
muslim, ekonom muslim, agribisnis muslim atau sineas muslim. 

Jabatan yang terakhir ini (sineas muslim) sangat-sangat urgent diperlukan 
sekarang ini. Sebab di televisi tiap hari diputar sinetron-sinetron berbau TBC 
(takhayul, bid'ah dan khurafat) pada prime time (waktu luang, di mana banyak 
sekali kesempatan orang menonton). Sinetron-sinetron dan film-film yang 
menjiplak ayat-ayat Qur'an dan hadits hanya untuk mengusir babi ngepet, 
nyupang, pelet, macan jadi-jadian, anjing siluman, setan pocong, gendruwo dll, 
dengan jalan cerita yang tak kalah mengada-ada, seperti, mayat yang ditolak 
oleh bumi ketika akan dikuburkan, lobang kubur yang tiba-tiba dibanjiri ular 
ketika jasad akan dimakamkan, orang yang  terperosok ke dalam lobang kuburan 
dan melihat alam kubur, mayat yang bangkit lagi dan jalan-jalan menagih hutang 
dan cerita-cerita lainnya yang menodai keagungan ajaran Islam. Film-film 
seperti itulah, salah satu ciri-ciri daripada "action of pendangkalan 
nilai-nilai Islam".  Dan anda-andalah, generasi muda intelek yang 
bertanggungjawab untuk meluruskan itu semua.

Termasuk juga dalam hal ini adalah melurusan ajaran Wali Songo, di mana misi 
walisongo yang disalah artikan, dibelokkan sejarahnya kepada hal-hal yang 
berbau mistik.

Atau menjadi pendakwah Islam di daerah timur Indonesia, yang jarang terjamah 
nuansa keislaman. Jangan hanya berlomba-lomba supaya menjadi terkenal dengan 
ide-ide, yang memecah belah ummat di daerah perkotaan. Jangan pula 
berlomba-lomba supaya menjadi selebriti dengan menumpang kendaraan "pemikir", 
"intelektual" dlsb, dengan harapan, kalau sudah terkenal, punya nama besar, tak 
masalah seandainya punya kesempatan memainkan uang yang bukan haknya, atau 
kelak terkena kasus korupsi, seperti Anas Urbaningrum.


Penutup
Akhirnya sebagai sesama muslim saya akhiri perbincangan ini dengan meminjam 
istilah hukum bahwa hakim penuntut hanya melihat yang dhohir saja. Cuma melihat 
yg nampak di mata. Dan itulah yang nampak di mata kita, dari 
pemikiran-pemikiran Cak Nur. Mudah-mudahan saja beliau tidak termasuk golongan 
orang yang sesat.

Apalagi ketika hendak meninggal, beliau minta "dirukyah" dengan surat Al 
ikhlash oleh anaknya. Meskipun sesungguhnya terasa janggal. Sebab sebagai 
"Master of Ulama" mustinya minta dibacakan surat yang agak panjangan, gitu, 
seperti Al Baqarah atau Ali Imran. Al Ikhlash kan surat yang pendek sekali. 
Biasanya hanya tingkatan anak SD yang membacanya. Sekali lagi saya bukan hendak 
meremehkan surat Al Ikhlas, tapi secara proporsional, ya, itu, mustinya beliau 
minta dibacakan surat yang agak panjangan.

Dalam ilmu "'Ibrah" (ilmu perumpamaan), saya sebut, setinggi-tingginya wanita 
sekolah, jatuhnya ke dapur juga. Maka setinggi-tingginya ilmu lelaki, pasti 
akan kembali ke lembaran kosong juga. Setiap kehidupan ada akhirnya, dan setiap 
akhiran, ada kehidupan yang lain yang menggantikannya. Sand to sand, dust to 
dust. Semoga beliau diberi tempat yang layak, dan Tuhan tentu saja tidak merasa 
bingung untuk menempatkan posisi beliau yang pluralis. Sebab di akhirat hanya 
ada dua tempat; sorga dan neraka. Tidak ada gradasi atau bias-bias antara 
keduanya.

Wassalam




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 


--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in 
any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved 
otherwise. 

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily 
digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your 
mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the 
title "change to daily digest".  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/hidayahnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke