Menggugat Sang Cendekiawan (Bagian Kedua) Oleh: M. Abdullah ([EMAIL PROTECTED])
Sebelum melanjutkan ke bagian kedua dari tulisan saya tentang Cak Nur, saya ingin melaporkan respon yang lumayan banyak dari para pembaca. Setelah saya kalkulasi, ternyata 90 persen pembaca menyetujui tulisan saya. 5 persen menentang, dan sisanya memilih diam. Tapi rata-rata para pembaca yang setuju itu, masih memberikan catatan-catatan, supaya saya tidak terlalu "kejam" pada Cak Nur, mengingat beliau adalah lebih tua dari saya, apalagi sudah meninggal dunia. Hal ini saya tolak mentah-mentah. Dalam dunia ilmiah, tidak ada istilah "dia lebih tua, atau "dia sudah meninggal dunia". Kajian tidak akan mati walaupun sang empunya pikiran sudah berpangkat almarhum. Kalau pro-kontra pemikiran disetop, begitu yang punya pemikiran meninggal, lah gimana kelanjutan kehidupan? Ada juga yang mengatakan saya tidak punya etika, tidak berakhlak karimah, karena menyerang Cak Nur yang begitu sopan dan lemah lembut tutur katanya. Sanggahan ini terasa sangat absurd sebab, yang saya "serang", sekali lagi adalah PEMIKIRANNYA, metodologi dakwahnya (kalau beliau punya semangat dakwah) bukan tutur-katanya, bukan tampangnya, bukan pula statusnya. Kalau bicara masalah sopan atau tidak sopan, banyak janda-janda tua di kampung yang lebih sopan daripada beliau. Dalam membaca tulisan saya, terus-terang, anda tidak hanya cukup membacanya satu kali. Anda dianjurkan membacanya 3 kali atau lebih, untuk lebih memahami esensi tulisan saya. Waktu beliau sakit, sebagai orang yang "satu ilmu, satu guru", saya tak ingin menggangu istirahat beliau. Malah mendoakan beliau cepat sembuh, dan semoga keinginan saya "beradu kepala" dengannya segera terlaksana. Tapi Tuhan menghendaki lain. Baik kita kembali ke bagian kedua. Ringkasan Cerita yang lalu: Nurcholis Madjid meninggal, meninggalkan polemik dan perdebatan yang berkepanjangan, karena ciri-ciri pemikiran beliau yang, diantaranya, mempunyai gejala 1. Islamo Phobia, 2. Tak punya sense of Islam, 3. Pemikirannya tidak tersimpul dalam konklusi yang komprehensif, 4. Tidak merakyat, 5. Suka menggunakan hipotesa terbalik, dan keenam, Tidak punya selera humor. Ciri nomor enam ini tidak perlu dibahas panjang lebar, karena sense of humor masing-masing individu berbeda. Boleh jadi anda melihat orang terpeleset adalah sesuatu yang pantas ditertawakan, tapi bagi orang lain, itu bukanlah sesuatu yang pantas untuk ditertawakan. Sekedar pengetahuan, apakah humor itu? Secara singkat humor adalah kata-kata atau tindakan yang menipu logika. Karena logika kita tertipu, maka jadilah itu suatu lelucon. Contohnya dalam hal tindakan, perbuatan adalah, perintah ibu anda menyuruh anda untuk mengangkat jerigen minyak tanah, "Tolong bawa masuk itu jerigen minyak tanah", pinta ibu anda. Maka yang terbersit dari kata-kata ibu anda adalah minyak tanah yang penuh, yang berada di dalam jerigen. Sebagai anak yang berbakti pada orangtua, anda lantas menjalankan perintah ibu, dengan mengangkat jerigen itu. Nalar atau logika normal anda, lantas membaca bahwa di dalam jerigen itu berisi minyak tanah, jadi otak anda menyiapkan tenaga optimal, agar lengan anda mampu mengangkat minyak tanah tsb. Tapi ternyata begitu anda mengangkat jerigen, anda terhenyak dan kehilangan keseimbangan, sehingga membuat anda hampir terjatuh. Kenapa? Karena ternyata jerigen itu kosong. Namanya memang jerigen minyak tanah, dan otak anda membacanya sebagai minyak tanah yang berada dalam jerigen, bukan jerigen itu sendiri. Di sinilah logika ditipu. Cukup satu saja contohnya, karena ini bukan sanggar teater. Unsur humor ini termasuk sangat-sangat penting, sehingga para da'i di Indonesia selalu menyelipkan humor-humor segar tatkala berpidato dan berceramah. Ambil contoh saja, Zainuddin MZ, Aa Gym, dll. Bagi penceramah yang monoton, dijamin para pendengarnya cepat merasa bosan. Jangankan da'i yang pendengarnya dari kalangan berbagai ragam pendidikan, di sekolah saja, kalau guru kita tak pandai membawakan materi pelajaran, kita akan cepat ngantuk. Saya kira bukan suatu kebetulan kalau para Wali Songo dalam mendakwahkan Islam di tanah air, menggunakan media wayang kulit, yang ada tokoh punakawannya. Punakawan ini kalau sekarang mungkin disebut komedian, seperti Bagong, Gareng, Petruk. Di negri asalnya sendiri, India, cerita wayang, Astina dan Pandawa tidak ada komediannya. Dalam cerita wayang golek sunda, tokoh Semar, Cepot (Gareng) dan Astrajingga (Petruk), Dawala, malah sangat-sangat dominan. Sehingga para penonton lebih suka mendengar wejangan si Cepot, yang terbuat dari kayu itu, daripada langsung mendengar suara dalangnya, Asep Sunarya. Kita kembali ke Nurcholis Madjid - Allah yarhamh. Ke enam unsur di atas sebetulnya adalah bekal para da'i, pendakwah agama Islam dalam menjalankan misinya. Nah, pemikiran-pemikiran Cak Nur, terkesan "garing" karena kurang "lucu". 7. Tidak Punya Semangat Berdakwah Karena ciri-ciri yang dimiliki beliau di atas, membawa beliau kepada kesimpulan berikutnya, yaitu, tidak punya selera berdakwah. Dakwah adalah kata bahasa Arab, yang sudah terabsorbsi ke dalam bahasa Indonesia. Secara etimologi (lughatan), dakwah bermakna memanggil atau menyeru. Sedang secara isthilahan (yang baku), dakwah berarti menyeru seseorang ke dalam agama Islam, atau mengajak sesama muslim untuk menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Nah, dalam hal berdakwah ini, Allah dan Rasul-Nya sudah memberi kita gambaran yang jelas, bagaimana melakukannya. Allah sendiri, tak henti-hentinya "berdakwah" kepada umat manusia, melalui kitab Alqur'an, dengan bahasa-bahasa yang sederhana dan mudah difahami pembacanya. Sudah sejak 14 abad yang lampau Allah swt memberikan kita pendidikan komunikasi yang amat-amat sederhana. Allah mewahyukan firman-firmannya dalam Al Qur'an melalui bahasa Arab. (Tentu saja bahasa Arab bukan asal dipilih tanpa alasan-alasan yang jelas). Bagaimana Allah mendidik kita berkomunikasi dalam berdakwah? Sangat simpel. Allah hanya menggunakan ibarat-ibarat, tamsil-tamsil, perumpamaan-perumpamaan, supaya hamba-hambanya tidak salah arti dalam menafsirkan kalam-kalam ilahi tersebut. Dan supaya hamba-hambanya mudah memahami aturan-aturan yang telah dibuat, supaya tidak muncul hipotesa yang terbalik dan salah arti. Sebagai contoh, ketika Allah menganjurkan hamba-hambanya agar mau bersedekah, memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan, Allah mengibaratkan, harta itu seperti sebutir biji buah (benih). Biji ini karena ditanam kemudian tumbuh menjadi pohon yang bercabang tujuh. Setiap cabang tumbuh lagi 100 biji (Albaqarah;261). Jadi dengan mudah kita menafsirkan kalau kita punya uang Rp 100, kita belanjakan di jalan Allah, dengan memberikannya pada orang / organisasi / lembaga yang membtutuhkan, maka Rp 100 itu menjadi modal untuk menumbuhkan lagi 700 biji. So simple. Contoh lainnya, ketika Allah tidak menerima amal seseorang, sebanyak apa pun amal itu, kalau orang yang bersangkutan tidak percaya tentang kekuasan-Nya. Dalam hal ini Allah mengumpamakan perbuatan seseorang itu seperti orang kehausan yang menemukan fatamorgana. Orang yang melakukan perbuatan baik dan bermanfaat, pasti dalam hatinya timbul rasa puas dan bahagia, karena telah menolong sesama. Tapi perbuatan baik itu, baik berupa bantuan sosial, penemuan ilmiah, pemikiran yang berguna bagi umat manusia, tapi kalau sang penolong, penemu, pemikir itu tidak dilandasi akan kepercayaanya kepada Allah, maka orang itu ibarat orang yang kehausan, yang menemukan fatamorgana di padang pasir (Annur ayat 39). "Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun". Ketika Allah menggambarkan dahsyatnya hari kiamat, agar manusia takut akan terjadinya hari itu, Allah tak segan-segan menggambarkan secara dramatis kejadian itu dengan "ayat-ayat kiamat", seperti, "Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan" (Almuzammil;14). "Bumi dan gunung bergoncang", tentu saja maksudnya adalah gempa bumi. Kenapa gempa terjadi? Karena gunung-gunung meletus, dan akibat dari letusan-letusan itu, segala material yang dikandung gunung termuntahkan keluar, seperti batu, lahar, tanah, semuanya terlontar keluar seperti pasir yang berterbangan. Sangat mudah dipahami. Ketika Allah ingin menyampaikan pesan kepada para penghuni planet Bumi di era teknologi yang serba canggih ini, 14 abad yang lalu Alqur'an sudah memberikan gambaran, tentang ledakan bintang-bintang, yang jaraknya trilyunan kilometer (ratusan tahun cahaya) dari bumi. Gambaran atau ilustrasi ledakan bintang-bintang di langit, dilukiskan oleh Allah seperti "mawar yang diolesi minyak". "Maka apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak." (Ar Rahman;37). Dan bukti dari ilustrai Al Qur'an itu, dapat anda saksikan sendiri dalam foto-foto yang berhasil diambil oleh teleskop ruang angkasa, yang menangkap gambar ledakan-ledakan bintang di langit yang jaraknya trilyunan kilometer, yang mana dalam hal ini, dalam istilah kosmis, disebut ledakan Supernova. Dan kalau anda perhatikan benar-benar gambar kejadian ledakan itu, sangat mirip dengan bunga mawar yang berminyak. Bahkan untuk menarik minat hamba-hambanya agar bersemangat menyembah-Nya, dan tidak menyembah syetan, Allah tak segan-segan mengiming-imingi manusia dengan instink primitif lelaki. Instink primitif lelaki, dari jaman dahulu adalah suka pada wanita. "Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya" (As Shafat; 48). "Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya." (Shaad; 52) "demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari" (Ad Dukhan; 54) "mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." (At Thur; 20) "Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya (sopan), tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin." (Ar Rahman; 56) "Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan." (Ar Rahman; 58) Banyak sekali hadits yang menceritakan para sahabat Nabi menangis bila mendengar ayat-ayat sorga dan neraka. Menangis, mengharapkan keindahan sorga yang dijanjikan Allah. Menangis, takut kalau kelak dimasukkan Allah dalam neraka. Begitulah sebagian ayat-ayat Al Qur'an yang menjajikan wanita, bagi mereka yang mau berbakti pada Allah. Dan kenyataanya memang demikian, hasrat tertinggi lelaki adalah hidup berdampingan dengan wanita cantik. Setinggi-tingginya lelaki sekolah, sekaya-kayanya lelaki punya harta, akan tunduk berhadapan dengan wanita. Lihat, betapa "liberal"nya Allah dalam hal ini. Dalam suatu peristiwa perang, Nabi pernah menjanjikan sorga yang di dalamnya bidadari-bidadari, bagi siapa yang terbunuh karena secara frontal menghadapi lawan. Seorang sahabat, yang baru saja masuk Islam, tertarik dengan janji tersebut. Tanpa pikir panjang dia mencampakkan makanan yang sedang dipegangnya dan menyerbu masuk ke dalam kerumunan musuh. Sang sahabat syahid, dan tentu saja mendapatkan janji Nabi tanpa menunggu waktu lama. Ilustrasi tentang keindahan sorga banyak dikupas di dalam Al Qur'an dan Hadits, agar umat Islam lebih bersemangat memegang identitasnya sebagai orang Islam. Kata sorga dan neraka, mungkin, bagi sebagian intelek begitu satir dan murahan. Tapi memang begitulah adanya dunia ini. Dunia begitu simple, sehingga tidak perlu repot-repot menjabarkannya, karena toh pada akhirnya hanya sorga dan neraka yang ada. Strategi pemasaran Al Qur'an ini sekarang secara tidak sadar ditiru oleh para developer perumahan. Mereka menggambarkan perumahan yang mereka bangun sebagai "sorga", di mana tumbuh pohon yang rindang, ada air yang mengalir, dan wanita cantik di depan rumah. Bahkan dalam menamai perumahan yang mereka pasarkan, tak segan-segan secara explisit menamainya dengan kata-kata sorgawi seperti, "Taman Lestari", "Taman Harapan", "Pondok Indah", "Pura Garden", dll. Dilatarbelakangi oleh system dakwah Al Qur'an dan Al Hadits, kalau kita bandingkan dengan system dakwahnya Nurcholis madjid, sangat-sangat jauh berbeda. Bahkan bila dibandingkan dengan para sahabat atau tabi'in, atau metodenya Wali Songo, cara berdakwah Cak Nur tidak menghasilkan apa-apa bagi Islam. Dari bergudang-gudang literaturnya tentang Islam, apakah ada non-muslim yang masuk Islam karena dakwahnya? Jadi jangan samakan Cak Nur dengan para wali yang berhasil mengIslamkan tanah air. Oh, tunggu dulu mas, menantunya itu kan masuk Islam. Siapa bilang? Menantu dan mertua sama-sama malu untuk mendeklarasikan diri sebagai muslim. Padahal sang menantu hidup di negri yang super duper demokratis. Ibarat gambaran Al Qur'an, sang menantu ini dilukiskan sebagai orang musyrik yang kalau ketemu orang Islam bilang, "Aku sudah beriman". Tapi ketika ketemu sesama musyrik, bilang, "Aku masih setia pada kalian. Aku cuma mempermainkan mereka". "Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". (Al Baqarah; 14). Tapi sebagai pluralis, mustinya Cak Nur tidak perlu mati-matian mengatakan bahwa menantunya telah masuk Islam. Toh pernikahan seorang muslimah dengan non-muslim adalah tidak apa-apa bagi pluralis. Keengganan beliau menyerukan kebenaran Islam di atas agama lain terasa kental sekali ketika beliau sibuk mencalonkan diri jadi presiden. Tak ada satu pun partai Islam yang diliriknya. Malah Golkar, yang isinya maling-maling kaliber kelas kakap yang dimasukinnya. Tentu saja, Cak Nur hanya jadi bahan olok-olokan para politisi di kandang musang. Untung beliau segera mundur dari pencalonan, kalau tidak, bisa dimakan mentah-mentah oleh para musang itu. Sekedar info, bahwa dalam pentas politik negri ini adalah negri wayang yang pemimpinnya hanya para pesolek, seperti Sukarno, Suharto, SBY. Para pemikir seperti Cak Nur, ilmuwan seperti Habibie, pembaharu seperti Amien Rais tidak diterima di masyarakat. Sebagai contoh, tidak adanya semangat berdakwah Cak Nur, adalah ketika beliau menguraikan panjang lebar tentang simbol masjid yang berbentuk menggelembung dan di atasnya lancip. Beliau mengatakan bahwa itu adalah bukan budaya Islam, tapi hasil infiltrasi budaya majusi yang menyembah api. Gambaran api yang menyala, oleh Majusi dijadikan simbol pada bangunan menara tempat ibadah mereka. Ketika mereka memeluk Islam, bangunan itu masih tetap seperti itu, dan simbol api (kubah) kemudian menjadi identitas masjid. Gayanya menyampaikan pesan, justru membuat lemah iman seorang mukmin. Seharusnya beliau menekankan, bahwa dalam kasus menara masjid, kubah, yang berbentuk seperti api, kini telah dikuasai muslim. Atau simbol itu sekarang telah dikuasai muslim, dan menjadi identitas muslim. Dan karena semangat keislaman-lah, bukan pluralisme, banyak gereja yang kemudian menjadi masjid. Mungkin kalau diajak dialog mengenai kain sarung, beliau juga akan mengatakan, itu bukan budaya Islam. Sarung adalah budaya hindu, yang dulu mayoritas dipeluk penduduk nusantara. Sekarang budaya pakaian muslim lebih berkembang ke jenis pakaian yang mirip pakaian Cina atau Afganistan. Pasti beliau juga akan mengatakan, bahwa itu bukan budaya Islam. Itu budaya luar. Jadi di sini konotasi dakwah beliau tidak mengajak seseorang untuk mempunyai identitas yang kuat sebagai muslim. Setiap kali umat Islam di suatu tempat sudah kuat mempunyai identitas, beliau secara tegas mementahkannya kembali dengan mengatakan, "itu bukan budaya asli Islam". Mustinya beliau menyeru, "Sekarang kubah masjid menjadi simbol umat Islam Indonesia, jadi jangan malu untuk membangun kubah masjid yang berbentuk seperti api menyala". "Kain sarung telah dikuasai muslim Indonesia, jadi jangan malu untuk mengenakan kain sarung peninggalan nenek moyang kita yang beragama Hindu dan Budha." "Kalau penduduk muslim suatu negri mengenakan pakaian yang mirip pakaian Cina atau Afganistan, atau Pakistan, jangan sungkan untuk berbaur dengan mereka, mengenakan pakaian itu, karena pakaian itu kini dikuasai muslim". "Kalau anda merasa yakin, bahwa berpakaian jubah ala Arab adalah pakaian muslim, kenakanlah, karena jubah peninggalan bangsa Arab lama itu kini juga telah dikuasai muslim." Yang demikian itu lebih dekat menuju dakwah Islam, daripada mengenakan pakaian hitam saat berduka, yang adalah budaya barat. Mungkin Cak Nur, anak dan istrinya ingin "mengIslamkan" pakaian duka berwarna hitam. Tapi sayangnya ide itu nggak pas, sebab, sekali lagi, pakaian hitam itu berlaku di Barat, bukan di Timur. Kalau mereka berdakwah di amerika, mungkin cocok pakai pakaian hitam. Karena mereka di Indonesia, mustinya mereka lebih berpakaian ala Indonesia. Mustinya anak beranak itu memakai kain ulos (adat Batak) dalam rangka berduka, karena lebih dekat ke budaya bangsa atau mengenakan pakean adat Asmat dg muka dicorengmoreng grafiti lengkap dengan kotekanya. Lihat, lebih banyak adat dan budaya bangsa yang lebih patut untuk diislamkan ketimbang mengikuti budaya barat, dengan alasan, "untuk diislamkan". Kalau mereka berdakwah di Suku Asmat, cocoknya, ya mengenakan koteka. Karena kurangnya tekanan berdakwah, itu membuat para pendengar ceramah Cak Nur, yang Kristen menjadi semakin yakin bahwa Kristen adalah agama yang layak dianut. Yang Katolik menjadi semakin betah hidup serumah dengan pasangan lain, sementara istrinya tidak diceraikan. Yang Budha semakin aktif memberikan sesaji makanan kepada para leluhurnya supaya beruntung. Sedang yang Islam? Jadi hilang identitas keislamannya. Pemikiran cak nur membuat Islam pada posisi status quo. Kesimpulannya, wawasan kebangsaan Cak Nur dalam berdakwah sangat kurang. Standar yang dipakai dalam mendakwahkan liberlisme, pluraslisme adalah standar barat. Mustinya beliau memakai standar "Tak kami utus seorang rasulpun melainkan dengan bahasa kaumnya" (Ibrahim; 4). Strategi dakwahnya kalah dengan Romo Mangun, yang mau menampung para gelandangan di pinggir kali Code dan Gajahwong dan menyekolahkan mereka. Kurangnya semangat berdakwah, membawa identitas yang berbau Islam, juga nampak dalam kiprah Cak Nur membangun kampus, yang sama sekali jauh dari nafas agama, Paramadina. Jangan Malu Beridentitas Muslim Perlu digarisbawahi di sini, bahwa sebetulnya tidak semua ajaran Nurcholis Madjid itu bertentangan dengan ajaran Islam. Malah bagi sebagian kalangan yang bisa menangkap sinyalnya, tidak bertentangan sama sekali, selama ide-ide itu tidak dipraktekan atau ditelan mentah-mentah. Sebetulnya beliau hanya tidak mempunyai sinyal yang pas untuk berkomunikasi. Ibarat telepon seluler, beliau adalah generasi seluler yang sudah 3G, bisa mengirim gambar hidup dan bahkan untuk menonton TV. Sementara yang diajak berkomunikasi lewat telepon itu adalah telepon seluler biasa, yang masih 800hz, atau malah, yang diajak komunikasi, tidak punya HP sama sekali. Akibat "sinyal" yang dipancarkan dan daya tangkap masing-masing person berbeda, maka timbullah persepsi yang berbeda-beda. Di sinilah status beliau sebagai pemersatu atau pembaharu seyogyanya ditinjauw kembali. Sebagai ummat yang dituntut untuk harus terus belajar dan belajar, kita dituntut juga untuk bagaimana kita menyaring ajaran-ajaran para pemuka agama yang terkesan liberal, pluralis, inklusif. Kenapa ada sebagaian pemuka agama Islam yang berpikiran "odd" begitu? Mungkin juga karena ada latar belakang yang membawa mereka kurang puas terhadap perilaku sebagian muslim lainnya. Mungkin mereka kecewa, karena merasa ajaran agamanya tidak membawa kepada kedamaian, tidak membawa pada kemakmuran, tidak membawa pada "rahmatan lil alamin". Mungkin mereka kecewa karena melihat ada binatang yang disiksa dan dibantai. Mungkin mereka kecewa karena ada pemeluk agama lain yang dikejar-kejar. Mungkin mereka kecewa karena hutan digunduli. Mustinya mereka tidak perlu lari dari ajaran agama, karena agama sendiri memerintahkan kita menyayangi binatang, menjalin kehidupan yang harmonis dengan pemeluk agama lain, tidak boleh merusak tempat ibadah pemeluk agama lain, menjaga kelestarian lingkungan dan lain-lain. Semuanya sudah secara lengkap diajarkan Islam. Jangan sampai ajaran Islam yang dirusak atau ditinggalkan. Apalagi sampai mengutak-atik hukum yang sudah tertulis, seperti aqidah dan tauhid. Mengutak-atik medan syar'iyah yang sudah pas, hanya membuat kita mundur, karena bagi umat Islam itu semua tinggal kita lakoni, dan di kehidupan sekarang ini, lebih diutamakan terjun di dunia yang lebih real, baik di bidang sosial maupun iptek. Dan tentu saja tidak malu membawa atribut Islam. Sebab tidak ada agama lain, yang menyuruh kita berpikir, seperti agama Islam. Kata "Islam" sendiri adalah nama yang diberikan oleh Allah (Al Maidah ayat 3), bukan hasil asimilasi agama-agama samawi lainnya. Kata Islam yang berarti "penyerahan diri", telah menjadi nama panggilan yang unik untuk membedakannya dari ajaran-ajaran lainnya. Jangan samakan Islam dengan agama lain dalam hal kehidupan berpolitik sekuler. "Islam Yes, Partai Islam Yes!", "Islam Yes, Negara Islam Yes!", "Di mana anda berpijak, di situ anda bertanggungjawab atas keIslamannya". Kalau ada yang menawari minum whisky bilang saja "No, thank, I am muslim". Tak perlu mencari-cari dalil-dalil dalam Alqur'an atau mencari alasan agar bisa meminum minman keras itu atau mencari kesamaan (qiyas) kasus seperti itu. Barangkali seorang liberal akan mengkiyaskan ilustrasi di atas dengan kasus yang menimpa Yasir, yang terpaksa pura-pura murtad karena disiksa. Jadi kalau Yasir saja tidak apa-apa, kenapa pula minum whisky jadi masalah. Tentu saja jadi masalah, sebab secara qaidah ushuliyah (Ushul fiqh), mengkiyaskan sesuatu yang berbeda itu hukumnya batil (tidak sah); "Alqiyaasu ma'al faariq bathil". Jangan samakan Islam dengan agama lain. Kalau ada pemeluk Nasrani yang yang mentato badanya dengan gambar Yesus, dan berzina, jangan menjadi iri dengan mentato lengan anda dengan lafaz "Muhammad", dan pergi ke tempat pelacuran. Karena dalam Islam itu adalah hal yang menghinakan agama. Walaupun dalam agama manapun perzinahan itu haram, tapi agama lain pada kenyataanya sudah menjadi korban sekulerisme. Para pemeluk agama Hindu, Budha, Kristen, Katolik, lebih melihat agama sekedar simbol, bukan sesuatu yang harus diamalkan. Media Massa dan Liberalisme Liberalisme dan Islam adalah dua kata yang bertentangan, baik secara maknawi maupun haqiqi. Seorang muslim tidak mungkin menjadi liberal, dan seorang liberal akan sangat sulit menjalankan syariat Islam. Tapi kenyataanya memang liberalisme di kalangan intelektual muda yang masih setengah-setengah ditelan begitu saja. Peranan media massa dalam mensyiarkan dakwah liberalisme di Indonesia mengambil porsi yang sangat besar. Bukan hanya media massa yang sudah berkelas nasional, bahkan koran-koran daerah yang mengguanakan bahasa murahan pun ikut-ikutan memuat tulisan-tulisan liberal. Sementara para pemikir dan penulis yang masih normal mensyiarkan Islam yang sebenarnya, kurang diakomodasi. Akibat negatif karena tidak tersalurkannya aspirasi para penentang liberalisme, baik dalam media massa ataupun dalam praktek sehari-hari, adalah timbulnya radikalisme yang bersifat anarkis. Ini muncul karena para ulama yang kontra-pluralisme ala Cak Nur dan liberalisme ala JIL sangat-sangat jarang diakomodir oleh media massa dan aparat pemerintah. Pemikiran-pemikiran para ulama dan pemikir yang masih normal, tidak pernah lulus sensor untuk dimuat di koran-koran atau majalah. (Barangkali majalah atau koran yang menolak publikasi itu, menganggap tulisan mereka yang anti liberalisme kurang ilmiah atau penulisnya tidak punya gelar doktor. Padahal koran yang mengaku koran nasional itu dalam penulisan berita sering menggunakan ejaan yang carut-marut dan sering salah ketik. Tapi kalau untuk rubrik "uneg-uneg" musti ilmiah). Akibatnya timbul kejengkelan psikologis pada diri mereka. Hal itu melahirkan gelombang-gelombang ketidakpuasan dari generasi muda yang anti liberalisme, dalam skala yang lebih agresif berupa tindakan anarkis. Lebih parah lagi, pengebirian itu bisa-bisa menimbulkan semangat teror baru. Kasusnya sudah terjadi, seperti penutupan paksa kampus Mubarak yang dimiliki oleh Ahmadiyah, penutupan paksa rumah-rumah yang secara illegal dijadikan tempat ibadah, pengrusakan diskotik dll. Sekali lagi, esensi ajaran Islam adalah kepatuhan dan kepasrahan akan keputusan Tuhan. Dari rasa patuh menjalankan segala perintahnya dan pasrah pada ketentuan-ketentuannya, muncul kharisma dan akhlak yang mulia terhadap sesama, baik sesama muslim maupun sesama manusia. Baik sesama manusia maupun sesama makhluk hidup lainnya seperti, binatang, tumbuhan dan jin. Tapi dengan begitu, bukan lantas menghilangkan simbol Islam itu sendiri. Bukan menghilangkan ajaran-ajarang Islam itu sendiri. Apakah para tokoh Islam terdahulu yang berhasil memajukan umat Islam beraliran liberal, dalam arti liberal seperti sekarang? Tentu saja tidak. Saya ulangi, kalau JIL diibaratkan Nabi Adam, maka Adamlah yang akan mengajak Iblis mendekati pohon larangan dan memakan buahnya. Sedangkan Nurcholis Majid bisa diibaratkan Nabi Ibrahim yang enggan menyembelih anaknya, Ismail, dan lebih suka bernegosiasi, yang kira-kira isinya begini, "Tuhan, aku tahu kamu hanya mengujiku, jadi persembahanku pada-Mu aku ganti dengan kambing, ya? Kan yang penting ikhlash", begitu. Supaya tidak sesat kita semua musti sering-sering berpikir berazaskan AlQur'an dan Assunnah. Juga musti percaya pada lembaga yang mengontrol pemikiran kita. Sebab Allah sendiri berulangkali mengingatkan kita supaya berfikir. Berulangkali ayat Alqur'an menyebut, "apa tidak kamu pikirkan?", "Agar supaya kamu berpikir", " yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang mau berpikir." Dan masih banyak lagi. Tentu tidak harus jadi cendekiawan seperti Cak Nur yang sekuler. Atau berlomba-lomba memanjangkan rambut agar jadi budayawan seperti Emha Ainunnajib. Tidak pula berbondong-bondong mondok di Darut Tauhid suapay menjadi Aa Gym. Masih banyak lowongan untuk mengisi jabatan bagi "Orang yang berfikir". Jadi ilmuwan muslim, misalnya, bagaimana menciptakan pesawat anti grafitasi, agar pesawat terbang tidak terbang secara konvensional mengandalkan angin, tapi menggunakan daya magnet yang bertolak-belakang dengan grafitasi bumi. Saya sendiri sampai sekarang masih "meneliti" bagaimana supaya ion-ion panas sebesar 2000kv bisa dimuat dalam sinar laser, agar bisa saya kirim ke gedung putih. Atau kalau itu terlalu berat, karena unsur kimianya sangat banyak, jadilah sejarawan muslim, arkeolog muslim, sosiolog muslim, politisi muslim, programmer muslim, ekonom muslim, agribisnis muslim atau sineas muslim. Jabatan yang terakhir ini (sineas muslim) sangat-sangat urgent diperlukan sekarang ini. Sebab di televisi tiap hari diputar sinetron-sinetron berbau TBC (takhayul, bid'ah dan khurafat) pada prime time (waktu luang, di mana banyak sekali kesempatan orang menonton). Sinetron-sinetron dan film-film yang menjiplak ayat-ayat Qur'an dan hadits hanya untuk mengusir babi ngepet, nyupang, pelet, macan jadi-jadian, anjing siluman, setan pocong, gendruwo dll, dengan jalan cerita yang tak kalah mengada-ada, seperti, mayat yang ditolak oleh bumi ketika akan dikuburkan, lobang kubur yang tiba-tiba dibanjiri ular ketika jasad akan dimakamkan, orang yang terperosok ke dalam lobang kuburan dan melihat alam kubur, mayat yang bangkit lagi dan jalan-jalan menagih hutang dan cerita-cerita lainnya yang menodai keagungan ajaran Islam. Film-film seperti itulah, salah satu ciri-ciri daripada "action of pendangkalan nilai-nilai Islam". Dan anda-andalah, generasi muda intelek yang bertanggungjawab untuk meluruskan itu semua. Termasuk juga dalam hal ini adalah melurusan ajaran Wali Songo, di mana misi walisongo yang disalah artikan, dibelokkan sejarahnya kepada hal-hal yang berbau mistik. Atau menjadi pendakwah Islam di daerah timur Indonesia, yang jarang terjamah nuansa keislaman. Jangan hanya berlomba-lomba supaya menjadi terkenal dengan ide-ide, yang memecah belah ummat di daerah perkotaan. Jangan pula berlomba-lomba supaya menjadi selebriti dengan menumpang kendaraan "pemikir", "intelektual" dlsb, dengan harapan, kalau sudah terkenal, punya nama besar, tak masalah seandainya punya kesempatan memainkan uang yang bukan haknya, atau kelak terkena kasus korupsi, seperti Anas Urbaningrum. Penutup Akhirnya sebagai sesama muslim saya akhiri perbincangan ini dengan meminjam istilah hukum bahwa hakim penuntut hanya melihat yang dhohir saja. Cuma melihat yg nampak di mata. Dan itulah yang nampak di mata kita, dari pemikiran-pemikiran Cak Nur. Mudah-mudahan saja beliau tidak termasuk golongan orang yang sesat. Apalagi ketika hendak meninggal, beliau minta "dirukyah" dengan surat Al ikhlash oleh anaknya. Meskipun sesungguhnya terasa janggal. Sebab sebagai "Master of Ulama" mustinya minta dibacakan surat yang agak panjangan, gitu, seperti Al Baqarah atau Ali Imran. Al Ikhlash kan surat yang pendek sekali. Biasanya hanya tingkatan anak SD yang membacanya. Sekali lagi saya bukan hendak meremehkan surat Al Ikhlas, tapi secara proporsional, ya, itu, mustinya beliau minta dibacakan surat yang agak panjangan. Dalam ilmu "'Ibrah" (ilmu perumpamaan), saya sebut, setinggi-tingginya wanita sekolah, jatuhnya ke dapur juga. Maka setinggi-tingginya ilmu lelaki, pasti akan kembali ke lembaran kosong juga. Setiap kehidupan ada akhirnya, dan setiap akhiran, ada kehidupan yang lain yang menggantikannya. Sand to sand, dust to dust. Semoga beliau diberi tempat yang layak, dan Tuhan tentu saja tidak merasa bingung untuk menempatkan posisi beliau yang pluralis. Sebab di akhirat hanya ada dua tempat; sorga dan neraka. Tidak ada gradasi atau bias-bias antara keduanya. Wassalam ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/TXWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -------------------------------------------------------------------------- All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise. If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest". Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/hidayahnet/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
