Zaman sekarang ini terlalu ramai para ilmuan yang bodoh/dungu mengeluarkan hujjah menegakkan pendirian masing masing dan bercakaran . Terlalu sedikit ilmuan yang mengeluarkan kata kata nasihat seperti dibawah. Wahai saudara ku semua, sila ambil berat apa yang diperkatakan oleh saudara zamashari ini. Yang sudah tu sudah lah. Jangan dicerita lagi. Kurangkan kata kata, lebihkan amali. Mudah mudah Allah memberi petunjuk kepada kita semua
>>> zamashari 05/04/2007 07:14:43 >>> Para ijtihadi, para ulamak, para sufi, para mufti, bertengkar tentang fatwa bagaimana hukumnya mewarna punggung ayam, maka kalam Allah, sunnah RasuluLlah, hukum ulamak salaf dan khalaf, berdesing-desing dalam gelanggang pertempuran sejagat, Harus pertempuran ini berakhir agar Allah dan RasulNya dijunjung kata yang kanan, Harus peperangan ini berkahir agar Quran dan Sunnah hanya sanya menjadi rujukan kata yang kiri, Maka terus mereka bergodaman dengan senjata quran, hadith dan kata hukamak, dengan apa sahaja yang mampu menjadi senjata digelangang, Sang Dajjal bertempelak gembira, "Aku kira jalan ini lebih sukar ..." Aku hairan ... mereka ini, punya begitu banyak masa untuk menulis dan berseloka, bergurindam dan bersandiwara, dalam kata-kata yang indah atau celaka, sedang ku kira nasib umat terus derita, dan aku bertanya di mana mereka ? adakah kata-kata ini mampu mengelap air mata, adakah hujah-hujah mereka mampu merawat luka, adakah dalil mereka mampu mengangkat derita, ketika ini, Islam masih di kandang teroris oleh Amerika, Palestin, Moro, Selatan Thai terus di mamah derita, Sedang umat kita sedang enak di KFC, McD, bermain golf atau di Astro Ria, Berembang mahupun setinggan Jelutong hanya disebelah kita, namun tiada fatwa, tiada dalil yang mampu menganjak derita, Malik Imtiaz, Zainah Anwar dijulang pejuang hak asasi manusia, Ku kira AlGhazzali kini menangis, ketika dia mendepani filosof Rom, Sedang pemikir-hukamak hidayah net ini hanya berperang sesama mereka, ketika ini, kita sedang cuba dijajah kembali oleh FTA Amerika, sedang ulamak mahupun duat diam seribu bahasa, Subshini, Arayapan, Muhammad Abdullah, Siti Fatimah, Kahar, Lina Joy dan seangkatan .... Menang sorak kampung tergadai, bagi yang menyedari, kita tahu kita masih gagal digelanggang, ini belum lagi kita bicara tentang derita pak tani, nelayan, buruh kasar, atau air mata anak-anak di jalanan, atau nasib pengidap aids, pekerja seks, atau atau mereka yang berada jauh dipendalaman hutan, adakah Allah di hati mereka, adakah Deen ini cahaya kepada derita mereka, mereka tidak perlu retorika, mereka memerlukan tangan kamu memipin tangan mereka, Ayuhlah teman, Hentikan kerja bodoh ini, Langkah ke depan, kerja kita maha banyak, maha berat, kenali prioriti, lakukan amali, hentikan bicara lakukan lebih banyak kerja, Moga Allah memimpin aku dan kamu ... keluar dari kebodohan ini zama'shari Penang On 31 Mar 2007 11:32:22 -0700, sufimaster <sufimaster> wrote: > > *zaman dahulu memang menjadi satu kelaziman apbila seseorang yang > kematian ahli keluarga membuat kenduri arwah dan kemudian bertahlil serta > seterusnya memberi jamuan makan pada hadirin yang hadir....ini telah menjadi > adat kebiasaan dan sudah tentunya bukan sunnah dan amalan yang dibuat > rasulullah s.a.w..persoalannnya apakah hal adat kebiasan ini menjadi usul > tauhid sehinggakan mereka yang bertahlil menyebut tiada tuhan yang disembah > melainkan Allah itu akan dianggap sesat dan menyesatkan..dan apakah mereka > yang memberikan jamuan makan ini juga rosak akidah mereka sehinggakan mereka > ini juga di anggap sesat dan menyesatkan ummat......ditempat ana hal ini > sekadar* > __._/ <http://groups.yahoo.com/group/iperintis/> > > : <[EMAIL PROTECTED]:+Digest> > ... > > [Message clipped] -- Zama'shari Institut Latihan Anak Muda (ILHAM), P.Pinang Tel / Fax : - Email : [EMAIL PROTECTED] DISCLAIMER: This e-mail (including any attachments) may contain confidential information. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any review, distribution, printing, copying or use of this e-mail is strictly prohibited. If you have received this e-mail in error, please notify the sender or Bursa Malaysia immediately and delete the original message. Opinions, conclusions and other information in this e-mail that do not relate to the official business of Bursa Malaysia and/or its group of companies ("Bursa Malaysia Group") shall be understood as neither given nor endorsed by Bursa Malaysia Group and Bursa Malaysia Group accepts no responsibility for the same. All liability arising from or in connection with computer viruses and/or corrupted e-mails is excluded to the fullest extent permitted by law.
