Beliau ialah Sultan Salahuddin Al Ayubi pembebas Kota Jurusalem.

Sultan Salahuddin Al Ayubi mengobarkan semangat perjuangan Islam dengan cara 
memerintahkan kepada umat Islam supaya tiap tahun diadakan perayaan Maulid 
Nabi. Sultan Salahuddin Al Ayubi adalah yang menghidupkan Maulid Nabi Muhammad 
saw, hingga Islam terus berjaya membebaskan Kota Jurusalem.

Sultan Salahuddin Al Ayubi akan pergi ke seluruh pelosok tanah air dengan mata 
yang berlinang mengajak manusia supaya bangkit membela Islam.

Sultan Salahuddin Al Ayubi tidak pernah membayar zakat kerana ia tidak 
mempunyai harta yang cukup nisab.

Sultan Salahuddin Al Ayubi teringin sangat menunaikan haji ke Mekah tetapi ia 
tidak pernah berkesempatan.

Pada hari Jumaat, 27 Rajab, 583H, iaitu pada hari Isra' Mi'raj, Sultan 
Salahuddin Al Ayubi telah memasuki bandar suci tempat Rasulullah saw. naik ke 
langit.

Lane-Poole mengesahkan bahawa kebaikan hati Sultan Salahuddin Al Ayubi telah 
mencegahnya daripada membalas dendam.

Lane-Poole juga menuliskan Sultan Salahuddin Al Ayubi seorang penakluk yang 
paling penyantun dan baik hati di zamannya bahkan mungkin di sepanjang zaman.

Pada hari Rabu, 27 Safar, 589H, pulanglah Sultan Salahuddin Al Ayubi ke 
rahmatullah selepas berhempas pulas mengembalikan tanah air Islam pada usia 57 
tahun.

Sultan Salahuddin Al Ayubi tidak meninggalkan harta kecuali satu dinar dan 47 
dirham ketika ia wafat. Tiada rumah-rumah, barang-barang, tanah, kebun dan 
harta-harta lain yang ditinggalkannya. Bahkan harta yang ditinggalkannya tidak 
cukup untuk pengkebumiannya. Keluarganya terpaksa meminjam wang untuk 
menanggung belanja pengkebumian ini. Bahkan kain kafan pun diberikan oleh 
seorang menterinya.

Sultan Salahuddin Al Ayubi suka sembahyang berjemaah, bahkan ketika sakitnya ia 
akan memaksa dirinya berdiri di belakang imam.

Sultan Salahuddin Al Ayubi sentiasa mengerjakan sembahyang sunnat malam.

Sultan Salahuddin Al Ayubi sangat murah hati dan akan menyedekahkah apa yang 
ada padanya kepada fakir miskin.

Sultan Salahuddin Al Ayubi tidak meninggalkan harta.

Sultan Salahuddin Al Ayubi adalah seorang Islam yang taat kepada Allah, sangat 
peka kepada keadilan, pemurah, lembut hati, sabar dan tekun.

Sultan Salahuddin Al Ayubi telah memberikan masa untuk rakyat dua kali 
seminggu, iaitu pada hari Isnin dan Selasa.

Sultan Salahuddin Al Ayubi sendiri akan membacakan aduan yang diterimanya dan 
mengucapkannya untuk dituliskan oleh jurutulis tindakan yang perlu diambil dan 
terus ditandatanganinya pada masa itu juga.

Jika ada orang membuat aduan, ia akan mendegarkan dengan teliti dan kemudian 
memberikan keputusannya.

Suatu hari seorang lelaki telah membuat aduan berkenaan Taqiuddin, anak 
saudaranya sendiri. Dengan segera ia memanggil anak saudaranya itu dan meminta 
penjelasan. Dalam ketika yang lain ada orang yang membuat tuduhan kepada Sultan 
Salahuddin Al Ayubi sendiri. Yang memerlukan penyiasatan. Walaupun tuduhan 
orang itu didapati tidak berasas, ia telah menghadiahkan orang itu sehelai 
jubah dan beberapa pemberian yang lain.

Sultan Salahuddin Al Ayubi adalah seorang yang mulia dan baik hati, lemah 
lembut, penyabar dan sangat benci kepada ketidakadilan.

Sultan Salahuddin Al Ayubi sentiasa mengabaikan kesilapan-kesilapan 
pembantu-pembantu dan khadam-khadamnya. Jika mereka melakukan kesilapan yang 
memanaskan hatinya, ia tidak pernah menyebabkan kemarahannya menjatuhkan air 
muka mereka.

Hatinya memang sangat lembut hingga ia sangat mudah terkesan apabila melihat 
orang dalam kesusahan dan kesedihan.

http://ustaznaim.blogspot.com/2009/11/mengenali-tokoh-islam-yang-ulung.html
http://ms.wikipedia.org/wiki/Salahuddin_al-Ayyubi

Renungan Maulid Nabi
RENUNGAN MAULID NABI

Oleh Drs. H. Irfan Anshory

SEBAGAI pembuka wacana, ada baiknya kita kutip amanat Presiden Sukarno pada 
peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, 
tanggal 6 Agustus 1963 (Penerbitan Sekretariat Negara No.618/1963):

Sore-sore saya dibawa oleh Presiden Suriah Sukri al-Kuwatly ke makam 
Salahuddin. Lantas Presiden Kuwatly bertanya kepada saya, apakah Presiden 
Sukarno mengetahui siapa yang dimakamkan di sini? Saya berkata, saya tahu, of 
course I know. This is Salahuddin, the great warrior, kataku. Presiden Kuwatly 
berkata, tetapi ada satu jasa Salahuddin yang barangkali Presiden Sukarno belum 
mengetahui. What is that, saya bertanya. Jawab Presiden Kuwatly, Salahuddin 
inilah yang mengobarkan Api Semangat Islam, Api Perjuangan Islam dengan cara 
memerintahkan kepada umat Islam supaya tiap tahun diadakan perayaan Maulid Nabi.

Jadi Salahuddin, saudara-saudara, sejak Salahuddin tiap-tiap tahun umat Islam 
memperingati lahirnya, dan dikatakan oleh Pak Mulyadi tadi, juga wafatnya Nabi 
Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi ini oleh Salahuddin dipergunakan untuk 
membangkitkan Semangat Islam, sebab pada waktu itu umat Islam sedang berjuang 
mempertahankan diri terhadap serangan-serangan dari luar pada Perang Salib. 
Sebagai strateeg besar, saudara-saudara, bahkan sebagai massapsycholoog besar, 
artinya orang yang mengetahui ilmu jiwa dari rakyat jelata, Salahuddin 
memerintahkan tiap tahun peringatilah Maulid Nabi.

Sebagaimana dijelaskan dalam amanat Bung Karno di atas, peringatan Maulid Nabi 
untuk pertama kalinya dilaksanakan atas prakarsa Sultan Salahuddin Yusuf 
al-Ayyubi (memerintah tahun 1174-1193 Masehi atau 570-590 Hijriyah) dari 
Dinasti Bani Ayyub, yang dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama 
“Saladin”. Meskipun Salahuddin bukan orang Arab melainkan berasal dari suku 
Kurdi, pusat kesultanannya berada di Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah 
kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.

Pada masa itu Dunia Islam sedang mendapat serangan-serangan gelombang demi 
gelombang dari berbagai bangsa Eropa (Perancis, Jerman, Inggris). Inilah yang 
dikenal dengan Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 laskar Eropa 
merebut Jerusalem dan mengubah Masjid al-Aqsa menjadi gereja! Umat Islam saat 
itu kehilangan semangat perjuangan (jihad) dan persaudaraan (ukhuwah), sebab 
secara politis terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun 
Khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di Baghdad, sebagai lambang persatuan 
spiritual.

Menurut Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan 
cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Dia menghimbau umat Islam 
di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabi`ul-Awwal, yang 
setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara 
massal. Sebenarnya hal itu bukan gagasan murni Salahuddin, melainkan usul dari 
iparnya, Muzaffaruddin Gekburi, yang menjadi atabeg (semacam bupati) di Irbil, 
Suriah. Untuk mengimbangi maraknya peringatan Natal oleh umat Nasrani, 
Muzaffaruddin di istananya sering menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi, cuma 
perayaannya bersifat lokal dan tidak setiap tahun. Adapun Salahuddin ingin agar 
perayaan Maulid Nabi menjadi tradisi yang permanen bagi umat Islam di seluruh 
dunia dengan tujuan meningkatkan semangat juang, bukan sekadar perayaan ulang 
tahun biasa.

Pada mulanya gagasan Salahuddin ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman 
Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut 
ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi 
Salahuddin menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang 
menyemarakkan syi`ar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak 
dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. Ketika Salahuddin meminta 
persetujuan dari Khalifah An-Nashir di Baghdad, ternyata Khalifah setuju. Maka 
pada ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 Hijriyah (1183 Masehi), Sultan Salahuddin 
al-Ayyubi sebagai penguasa haramain (dua tanah suci Makkah dan Madinah) 
mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung 
halaman masing-masing segera mensosialisasikan kepada masyarakat Islam di mana 
saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriyah (1184 Masehi) tanggal 12 
Rabi`ul-Awwal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan
 berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu 
membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib 
bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 
1187 (583 Hijriyah) Jerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, 
dan Masjid al-Aqsa menjadi mesjid kembali sampai hari ini.

Jika kita membuka lembaran sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa, perayaan 
Maulid Nabi dimanfaatkan oleh para Wali Songo untuk sarana dakwah dengan 
berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain (dua 
kalimat syahadat) sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan 
Maulid Nabi disebut Perayaan Syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan 
Sekaten.

Dua kalimat syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan 
Kalijaga, Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid 
Demak pada waktu perayaan Maulid Nabi. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, 
orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat 
terlebih dulu memasuki pintu gerbang ‘pengampunan’ yang disebut gapura (dari 
bahasa Arab ghafura, “Dia mengampuni”).

Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Gerebeg Mulud. Kata 
gerebeg artinya ‘mengikuti’, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar 
dari keraton menuju mesjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan 
sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di samping Gerebeg Mulud, 
ada juga perayaan Gerebeg Poso (menyambut Idul Fitri) dan Gerebeg Besar 
(menyambut Idul Adha).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

http://irfananshory.blogspot.com/2009/03/renungan-maulid-nabi.html




Kirim email ke