PERANAN
AKIDAH  9
PERANAN
AKIDAH DALAM MEMBINA MANUSIA

b. Merubah
Sistem Hubungan Sosial

Masyarakat Jahiliah memandang hubungan darah dan rahim sebagai dasar hubungan
sosial. Oleh karena itu, ketika terjadi kontradiksi antara kebenaran dan
kepentingan suku, mereka lebih mengutamakan kepentingan suku atas kebenaran
itu. Alquran yang mulia secara tegas mencela fanatisme model Jahiliyah ini.

Allah SWT berfirman:

إِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِي قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ
الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللهُ سَكِيْنَتَهُ عَلَى رَسُوْلِهِ وَعَلَى
الْمُؤْمِنِيْنَ ...

(Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, (yaitu)
kesombongan Jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan
mukminin).[24]

Akidah Islam telah berusaha untuk menghilangkan segala jenis fanatisme dari
sanubari manusia dan tidak mengakui keturunan, ras kulit, harta dan jenis
kelamin sebagai tolok ukur keutamaannya dari manusia lain. Sebagai gantinya,
akidah Islam menganjurkan agar hubungan sosial masyarakat dilandasi oleh
asas-asas spiritual, yaitu takwa dan fadlilah. Atas dasar ini, akidah Islam
ingin membasmi segala bentuk dan corak fanatisme. Karena iman dan fanatisme
tidak akan pernah bertemu.

Abu Abdillah a.s. berkata: Rasulullah saww bersabda: “Barang siapa yang
memiliki sifat fanatik atau rela orang lain bersikap fanatik terhadapnya,
niscaya ia telah melepaskan diri dari tali iman”.[25]

Beliau juga berkata:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا اِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى
عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

(Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak orang lain untuk bersikap
fanatik, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang dengan didorong oleh
semangat fanatisme dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati dalam
keadaan fanatik”.[26]

Amirul Mukminin a.s. dalam sebuah khotbah beliau yang dikenal dengan nama
“Al-Qashi’ah” menawarkan sebuah obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit
fanatisme itu. Beliau berkata: “Sungguh aku telah meneliti, dan aku tidak
menemukan seseorang di dunia ini yang bersikap fanatik terhadap sesuatu kecuali
karena satu alasan yang mungkin disalah pahami oleh orang-orang bodoh atau hujah
yang biasa digunakan oleh orang-orang yang tolol. Kamu jika bersikap fanatik
terhadap sesuatu, (ketahuilah) setiap fanatik itu tidak memiliki sebab dan
landasan (yang tepat);Iblis membanggakan diri kepada Adam as karena asalnya dan
mencelanya karena penciptaannya. Ia berkata (dengan congkaknya):`Saya terbuat
dari api, sedangkan engkau dari tanah`. Orang-orang kaya yang berlagak hidup
mewah di muka bumi ini merasa bangga karena kenikmatan yang dimilikinya. Mereka
berkata (dengan congkaknya): `Kami lebih banyak mempunyai harta dan keturunan
daripada kamu, dan kami tidak akan pernah disiksa`.

Maka, jika kamu harus bersikap fanatik dan bangga diri, berbangga dirilah
karena perangai yang mulia dan perbuatan yang terpuji. Berbangga dirilah karena
kalian mampu menunaikan (hak-hak) tetangga, setia terhadap janji, patuh dalam
kebaikan, menentang kesombongan, memiliki keutamaan, mencegah kezaliman,
berhenti mengucurkan darah orang lain, berbuat bijak terhadap setiap makhluk,
menahan amarah dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi ini”.[27]

Ali bin Husein a.s. ketika beliau ditanya mengenai fanatisme, menjelaskan arti
fanatisme (‘ashabiyah), fanatisme yang terkutuk dan yang terpuji. Beliau
berkata: “Fanatisme yang menyebabkan dosa, jika seseorang menganggap kaumnya
yang jahat lebih utama dari kaum yang shalih. Dan tidak termasuk fanatisme yang
menyebabkan dosa jika seseorang yang mencintai bangsanya. Akan tetapi, termasuk
fanatisme yang menyebabkan dosa ketika seseorang membantu kaumnya berbuat
kezaliman”.[28]

Demikianlah, akidah Islam telah menyirnakan awan fanatisme yang hitam dari
sanubari mukminin, dan membentuk identitas baru bagi manusia yang berlandaskan
keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Di samping itu, akidah Islam telah
menebarkan cinta dan rahmat (di dunia ini) sebagai ganti dari fanatisme dan
kebencian. Karena fanatisme adalah salah satu faktor berbahaya yang dapat
menyebabkan perpecahan dan kelemahan muslimin, baik secara spiritual atau
material. Dan Islam telah memerangi fanatisme berbahaya itu dan selalu
mengingatkan muslimin akan efek-efek negatifnya.[29]

Di antara contoh-contoh perombakan sosial paling menonjol yang pernah dilakukan
oleh Islam adalah naiknya pribadi-pribadi kelas bawah pada periode pra-Islam ke
puncak piramida sosial setelah bersinarnya matahari Islam. Bilal Al-Habasyi
menjadi muazzin Rasulullah saww dan Salman Al-Farisi r.a. menjadi salah seorang
sahabat yang agung pada era Islam dan penguasa negeri-negeri yang luas. Dan
lebih dari itu, ia menjadi anggota Ahlul Bayt a.s.

Seseorang bertanya kepada Imam Ali a.s.: “Wahai Amirul Mukminin, beritahukanlah
kepadaku tentang Salman Al-Farisi”. Beliau menjawab: “Berbahagialah ia. Salman
adalah salah satu dari kami, Ahlul Bayt dan bagaikan Lukman Al-Hakim bagi
kalian ...”.[30]

Zaid bin Haritsah dan putranya, Usamah - menurut pembagian kasta masyarakat
Jahiliyah - harus menjadi budak yang layak diperjual-belikan. Akan tetapi,
berkat Islam, mereka telah ditunjuk untuk memimpin pasukan muslimin dalam dua
peperangan agung dalam sejarah Islam.

Perubahan besar dalam alam pemikiran manusia di era risalah Islam yang sangat
pendek ini, tidak mudah terwujud tanpa peran transformasi hebat yang diperankan
oleh akidah Islam.[24] Al-Fath 48 : 26.

[25] Ushulul Kafi 2 : 308/2, Bab al-’Ashabiyyah.

[26] Sunan Abu Dawud 2 : 332/4, Bab Fil ‘Ashabiyyah.

[27] Syarh Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid 13 : 166, Dar Ihya`it Turats
Al-Arabi, cet. 2.

[28] Ushulul Kafi 2 : 308/7, Bab Al-’Ashabiyyah, Kitab al-Iman wal Kufr.

[29] Akhlaq Ahlil Bayt as, Sayyid Mahdi Shadr : 70.

[30] Al-Ihtijaj, Thabarsi 1 : 260.

Kirim email ke