|
Memperkukuh Bangunan Integrasi Umat
Oleh Azyumardi Azra, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
|
|
AYAT Alquran ini merupakan salah satu landasan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara menurut Islam. Ayat ini sering dikutip para pemikir muslim untuk menjelaskan tujuan pembentukan dan pemeliharaan eksistensi negara. Dalam konteks ayat itu, tujuan negara dalam Islam adalah untuk memberi sebuah kerangka politik bagi kesatuan, kerja sama dan saling menolong (ta'awun) di antara kaum muslimin sendiri dan umat beragama lainnya. Lebih lanjut, sambungan ayat tersebut bisa disimak bahwa "...dan ingatkan akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran; merekalah orang-orang yang beruntung." Ayat yang panjang di atas mengisyaratkan, tujuan negara dalam Islam adalah untuk pembentukan dan pertumbuhan sebuah masyarakat yang berdiri guna menegakkan persamaan atau kesetaraan (al-musawah) dan keadilan (al-'adalah); dan al-amar bi al-ma'rf wa al-nahy 'an al-munkar, menyeru kepada kebajikan, dan mencegah kemungkaran. Lebih penting lagi, tujuan negara dalam Islam adalah untuk mengembangkan sistem keadilan yang berimbang sesuai ajaran Islam. Seperti dikemukakan Muhammad Iqbal, filsuf muslim anak benua India, "Tujuan negara dalam Islam adalah untuk menegakkan prinsip-prinsip Islam dalam pengorganisasian umat manusia secara berkeadilan." Penting dicatat, mutlaknya eksistensi negara, dalam pandangan para pemikir Islam, memerlukan prasyarat instrumental; salah satunya yang terpenting adalah kesatuan umat (ummah). Istilah yang sudah populer dalam bahasa Indonesia ini, pada umumnya dipahami sebagai 'masyarakat' atau 'komunitas' agama, tidak terbatas pada kaum muslimin, tetapi juga sering dipakai untuk menyebut umat-umat lain, nonmuslim. Tetapi dalam pemikiran politik Islam, istilah ummah, lebih daripada sekadar 'umat beragama', tetapi persisnya adalah 'komunitas religio-politik'. Dalam Alquran, istilah ummah digunakan dalam pengertian-pengertian yang berbeda. Yang terpenting dalam konteks politik adalah pengertian yang dikemukakan dalam Alquran, QS. Al-Baqarah/2: 143 dan QS. Ali 'Imran/3:110, yang mengemukakan tentang ummah wasath, dan khayr ummah, yang merupakan ummah wahidah (QS. Al-Ma'idah/5: 48, Al-Nahl/16: 93, Al-Anbiya/21: 92, Al-Mu'minun/23: 52, dan QS. Al-Syura/42: 8). Dengan demikian, umat Islam adalah umat yang tunggal, yang bersatu, dan umat yang moderat (wasath). Mereka terikat keimanan-keislaman, yang secara historis bersatu di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad. Dan, dalam negara Madinah, Nabi Saw mempersaudarakan umat muslimin ini dengan umat nonmuslim melalui Konstitusi Madinah. Kesatuan umat (ummah wahidah) atau integrasi nasional (umat) dalam konteks di Indonesia sedang dalam pembentukan dan pengembangan. Kesatuan umat pada akhirnya harus berhadapan dengan realitas sosiobudaya dan politik yang menimbulkan perbedaan-perbedaan, dan bahkan konflik di antara masyarakat. Terbentuknya integrasi nasional yang kukuh akan banyak tergantung pada wawasan kebangsaan; dan bisa dipastikan, bahwa semakin kuat wawasan kebangsaan, akan semakin mantap pulalah integrasi nasional. Sebaliknya, wawasan nasional yang tidak kuat bisa mengganggu dan bahkan mengancam integrasi nasional. Subjek tentang wawasan kebangsaan atau integrasi nasional merupakan masalah yang penting, bukan hanya sebagai sebuah wacana ilmiah dan akademis, tetapi juga dalam hubungannya dengan kepentingan negara dan bangsa. Masalah pembentukan dan pengembangan wawasan kebangsaan dan integrasi nasional merupakan salah satu agenda pokok, karena sebagai negara yang baru merdeka, kesatuan dan integritas negara belum lagi terbina dengan kukuh. Dalam perkembangan politik Indonesia dapat dilihat beberapa faktor yang dapat membahayakan atau menghambat pembentukan wawasan kebangsaan yang mantap sehingga menghasilkan integrasi nasional yang padu. Di antara faktor-faktor tersebut, misalnya, adalah masalah perbedaan suku dan adat istiadat, ideologi dan aliran politik, kesenjangan sosial ekonomi dan pemerataan hasil-hasil pembangunan, hubungan antara pemerintah pusat dan daerah, hubungan antara elite politik dengan massa, masalah perbedaan agama, dan lain-lain yang lebih internal sifatnya. Juga terdapat faktor-faktor luar yang dapat mempengaruhi wawasan kebangsaan dan integrasi nasional; termasuk di antaranya adalah penyebaran ideologi asing, dominasi ekonomi asing (kapitalisme internasional), dan yang paling akhir adalah penyebaran globalisasi dalam berbagai aspeknya, termasuk globalisasi kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Tetapi sebaliknya, juga terdapat beberapa faktor yang dapat memperkuat wawasan kebangsaan dan integrasi nasional; yang terpenting, misalnya, nation-state Indonesia itu sendiri dengan birokrasi pemerintahannya, ideologi nasional (Pancasila), Undang-Undang Dasar 1945, bahasa Indonesia, pendidikan, kebudayaan nasional, dan sebagainya. Semua faktor penguat dan pemersatu (integrating factor) dalam perkembangannya juga menghadapi sejumlah tantangan dan persoalan yang dapat mempengaruhi efektivitas perannya. Ibadah puasa Ramadan menjadi momentum penting memperkuat wawasan kesatuan umat, integrasi nasional, dan wawasan kebangsaan. Puasa, seperti juga pernah diwajibkan kepada "orang-orang beragama terdahulu", memberikan kesempatan kepada kita untuk membangun kesatuan umat yang semakin kuat dan kokoh. Puasa adalah bulan pengendalian diri, agar kita tidak tergoda untuk melakukan sesuatu yang dapat mengakibatkan runtuhnya bangunan berbangsa dan bernegara. Mari kita ingat kembali, bahwa "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh." Wallahu a`lam Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...." (QS. Ali 'Imran/3:103). |
http://groups.yahoo.com/group/hidupmuslim
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.
Terima Kasih, anda telah mengunjungi Group Hidup Muslim
Wassalamu'alaikum Wr Wb
Moderator, Hidup Muslim
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/hidupmuslim/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
