Memanusiakan Ramadan
Arif Munandar Riwanto, Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir

SALAH satu isu sentral ajaran agama yang banyak dilupakan oleh umat Islam di zaman sekarang adalah dimensi kemanusiaan (al-insaniyyah). Agama yang sejatinya diturunkan untuk mengabdi kepentingan manusia banyak yang diaplikasikan menjadi ajaran yang mengabdi kepentingan Tuhan an sich. Implikasinya, kita sering mendapatkan umat Islam yang "saleh ritual" tetapi tidak "saleh sosial". Majelis zikir, istigasah, dan peringatan hari suci kerap dilakukan di setiap tempat. Namun, kemiskinan, pengangguran, kriminal, korupsi, kolusi, nepotisme, suap, pencemaran lingkungan, dengki, hasut-menghasut, dan baku hantam lalu lintas menjadi drama sosial yang tidak bisa dihentikan.

Dibandingkan dengan falsafah materialisme yang hidup di Barat, agama ternyata menjadi sebuah ajaran yang "ambigu" untuk berbicara problematika sosial-kemanusiaan. Ini, tentu saja bukan salah agama, tetapi salah kita dalam memahami agama.

Inilah hal yang disesalkan oleh Yusuf Qardhawi (Kairo: 1999). Ketika berbicara fikih misalnya, umat Islam lebih senang untuk membahas ajaran-ajaran sekunder (al-furu`) yang sarat dengan polemik (ikhtilaf) dan berdimensi "langit", tidak berimplikasi pada perubahan sosial. Umat Islam tidak pernah bertanya tentang hukumnya penguasa yang berkhianat, pemimpin otoriter yang menindas rakyatnya, korupsi uang publik, kekayaan dari harta yang haram, tumpukan harta yang dikumpulkan dari darah dan keringat manusia, pemalsuan pemilihan umum yang menjadi realita nyata di negara Arab dan Islam, kezaliman orang kaya terhadap orang miskin, orang kuat terhadap orang miskin, laki-laki terhadap perempuan, pemilik modal terhadap pegawai, dan pemegang kebijakan terhadap orang lemah.

Padahal, jauh sebelum itu, salah satu tujuan luhur diturunkannya Islam ke muka bumi ini adalah untuk menjawab problem-problem kemanusiaan (QS 7: 157). Bahkan, pesan terakhir yang disampaikan oleh Nabi kepada umat manusia di dalam pidato perpisahan (khutbah al-wada) adalah pesan-pesan yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan universal (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi).

Ini menunjukkan bahwa sebuah ajaran agama bisa disebut sempurna jika telah mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan (QS 5: 3). Ayat tersebut pun ditutup dengan pengizinan Islam kepada umatnya untuk memakan makanan yang haram jika ada dalam keadaan terpaksa (dharurah). Sebuah simbolisasi ajaran luhur yang dengan sangat jelas menekankan dimensi kemanusiaan.

Memanusiakan Ramadan

Misi kemanusiaan di dalam agama itulah hal yang harus dilakukan oleh umat Islam pada saat sekarang, terutama di bulan Ramadan yang sarat dengan berkah ini, karena di dalam bulan suci ini, nilai-nilai kemanusiaan tersebut menjadi sebuah ajaran yang sangat jelas terlihat. Inilah hal yang pernah dijelaskan oleh Ibnu `Abbas, bahwa di bulan Ramadan, Nabi menjadi sosok yang sangat dermawan (HR Bukhari). Ini berarti bahwa di bulan suci tersebut, Nabi menjadi manusia yang sangat humanis.

Menahan lapar, syahwat, dan mengeluarkan zakat fitrah tiada lain adalah simbolisasi dari nilai-nilai kemanusiaan. Orang-orang yang tidak pernah kelaparan dituntut untuk merasakan hal yang selama ini sering dirasakan oleh kaum papa, sehingga mereka pun bisa ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi orang lemah. Hal ini merupakan karakteristik umat Islam yang bagaikan satu tubuh (HR Bukhari-Muslim). Jika salah satu anggota tubuh merasakan kesakitan, seluruh tubuh pun akan ikut merasakan hal yang sama.

Inti kemanusiaan tersebut menjadi tolok ukur Allah untuk mengukur kualitas iman seseorang. Karena dibandingkan ibadah-ibadah lainnya, pahala saum hanyalah untuk Allah saja (HR Bukhari). Bagi Allah, bau mulut pun 'sebagai bias dari menahan rasa lapar' menjadi wangi yang sangat harum melebihi kelezatan aroma parfum. Hal ini tiada lain menunjukkan bahwa Allah ingin mengetahui sejauh mana manusia bisa benar-benar menjadi manusiawi. Tidak dengki, hasut, buruk sangka, dermawan, merasakan penderitaan orang lain, dan pemaaf terhadap sesamanya. Bahkan, dengan tegas sekali Islam mengajarkan bahwa orang yang tidak humanis di bulan Ramadan, rasa lapar yang ditahannya hanyalah sia-sia belaka (HR Bukhari).

Namun, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, saum di bulan suci pun sering tampil menjadi ajaran yang "tidak manusiawi". Di bulan ini, umat Islam lebih senang untuk berfoya-foya dan hidup dalam gemilang kemewahan. Bahkan, yang lebih ironisnya, bulan ini menjadi "bulan yang lebih mewah" dari bulan-bulan lainnya. Umat Islam tidak sadar bahwa saudara mereka sendiri masih banyak yang tidur di kolong jembatan, kelaparan, putus sekolah, dan menjadi pengemis jalanan.

Simbolisme-simbolisme agama (asykal al-din) di bulan mulia ini boleh saja semarak. Namun, substansi agama (jauhar al-din) yang menjadi tujuan luhur dalam beragama menjadi pesan yang tidak bisa ditangkap oleh umat Islam. Para artis, pejabat, pegawai, dan rakyat biasa ramai-ramai mengenakan simbol-simbol keislaman. Padahal, sebelas bulan ke belakang, simbol-simbol tersebut tidak tampak dengan sangat meriah. Gejala ini, tiada lain karena bias dari tafsir literal atas agama.

Umat Islam memang berhak mengenakan simbol-simbol agama. Terlebih lagi, jika simbol tersebut merupakan praktik kepatuhan seseorang terhadap agamanya. Namun, simbolisme tanpa substansi adalah sia-sia. Dalam bahasa Qardhawi (Kairo: 2000), praktik agama seperti itu adalah praktik "anak kecil" (al-murahaqah). Jauh-jauh sebelum itu, Alquran telah menerangkan bahwa tujuan dalam beragama adalah substansi, bukan simbol (QS 2: 177).

Selama ini, umat Islam hanya memahami Ramadan sebatas "ritual langit" saja. Padahal, jika dikalkulasikan, ritual tersebut hanya dilakukan selama sepuluh hari saja. Tepatnya, dalam i`tikaf yang hanya dilakukan selama sepuluh hari menjelang akhir Ramadan. Sisanya adalah praktik ibadah yang berdimensi kemanusiaan.

Jika memang selama ini Ramadan tampil dalam wajah yang "tidak manusiawi", sudah saatnya kita "memanusiakan Ramadan". Menampilkan agama bukan hanya dalam bentuk kewajiban 'ritual langit' saja, tetapi juga dalam bentuk hak 'kemanusiaan'.

Hal itu merupakan bias dari sifat rahmatan lil`alamin agama Islam (QS 21: 107). Rahmat tersebut tiada lain adalah ketika agama bisa menjadi kanal perubahan (agent of change) bagi pembebasan praktik-praktik eksploitatif dan destruktif manusia kepada sesamanya. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi ketika membebaskan manusia lemah (al-mustadh`afin) dari belenggu-belenggu penindasan dan penjajahan orang-orang tiran. Ini berarti bahwa jika dimensi kemanusiaan dalam beragama kembali dihidupkan, umat Islam akan tampil menjadi umat yang maju (QS 7: 137).

Islam memandang bahwa orang beragama yang "tidak manusiawi" adalah orang yang mendustakan agama itu sendiri (QS 107: 1-7). "Kedustaan dalam beragama" itulah gejala yang harus dikikis pada bulan Ramadhan. Bulan yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Di bulan suci inilah saat yang tepat untuk menangkap dimensi kemanusiaan. Dimensi yang selama ini telah hilang dalam sikap keberagamaan umat Islam. Dimensi yang berimplikasi pada kemunduran umat Islam di zaman modern ini, karena di bulan agung inilah nilai-nilai kemanusiaan akan tampak dalam jumlah yang masif, sehingga jika ibadah mulia ini dilakukan dengan baik, Allah pun akan mengampuni segala dosa kita yang telah lalu (HR Jamaah). Wallahu a`lam bish-shawab.

 

http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004102200563812

 


http://groups.yahoo.com/group/hidupmuslim


Do you Yahoo!?
vote.yahoo.com - Register online to vote today!

Terima Kasih, anda telah mengunjungi Group Hidup Muslim

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Moderator, Hidup Muslim



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Reply via email to