Title: Republika Online : http://www.republika.co.id
03 Januari 2005
Musibah Sebagai Nasihat
Cucu Juantika Sari

Allah SWT memberi berita gembira bahwa pada setiap kesulitan itu terdapat dua kemudahan. Dikisahkan, tatkala sedang tawaf, Abul Hasan bertemu dengan seorang wanita yang wajahnya bersinar dan berseri-seri, padahal ia dalam keadaan duka cita yang dalam.

Wanita itu mengisahkan bahwa ketika suaminya tengah menyembelih seekor kambing, anaknya yang masih kecil tiba-tiba berujar kepada adiknya. ''Maukah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing?'' Adiknya menjawab, ''Baiklah''. Maka disuruhlah sang adik berbaring dan disembelihlah leher adiknya itu. Kemudian, dia merasa ketakutan setelah melihat darah keluar. Ia pun lari bersembunyi ke bukit. Di sana, ia bertemu serigala yang kemudian menerkamnya.

Sang ayah kemudian pergi mencari-cari anaknya itu hingga akhirnya ia sendiri mati kehausan. Dan, ketika wanita itu meletakkan anak bayinya untuk pergi mencari suaminya, tiba-tiba sang bayi merangkak menuju periuk yang berisi air panas. Ditariknya periuk tersebut, dan tumpahlah air panas mengenai badannya hingga melepuhkan kulit badannya. Berita ini pun akhirnya terdengar oleh anaknya yang telah menikah dan tinggal di daerah lain, sehingga ia pun jatuh pingsan hingga menemui ajalnya. Kini, sang wanita itu tinggal sebatang kara.

Abul Hasan kemudian bertanya, ''Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu?'' Wanita tadi menjawab, ''Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh, melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Ada pun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Adapun mengeluh, sesungguhnya ia tidak mendapat ganti apapun kecuali sia-sia belaka''.

Demikianlah, sebuah musibah, seringkali ditafsirkan berbeda-beda. Ada yang memandangnya sebagai bencana. Ada yang memandangnya sebagai ujian. Bahkan, ada yang memandangnya sebagai adzab. Namun begitu, awal yang baik adalah menjaga husnudzan, berbaik sangka. Ketika musibah dipersepsi sebagai bencana, maka tidak akan jauh-jauh hasilnya. Orang akan merasakan kesengsaraan justru karena ia mempersulit diri dengan asumsinya tentang musibah tersebut.

Segala sesuatunya dikeluhkesahkan, disesali, diratapi, sehingga membuatnya terus terpuruk. Ketika musibah dipersepsi sebagai adzab, ada nuansa muhasabah yang mungkin terjadi. Ada kekuatan moral untuk bangkit memperbaiki diri. Sama ketika orang mempersepsi musibah sebagai ujian, yang melahirkan kesabaran untuk menjalaninya dan mengupayakan perbaikan dalam hidupnya.

Hikmah dan nasihat
Kisah wanita di atas tadi, adalah teladan kesabaran dalam menghadapi musibah yang datang beruntun. Tak ada kebaikan selain apa yang kemudian dilakukan untuk meneruskan hidup dan mengambil pelajaran dari sisa peristiwa yang telah dilaluinya. Pada setiap kejadian, memang selalu terkandung hikmah. Sayangnya, sulit sekali menemukan orang yang sanggup menangkap hikmah pada setiap kejadian, apalagi mendapat pelajaran darinya.

Kebanyakan, orang-orang takabur menghindar dari nasihat orang lain. Mereka yang merasa lebih baik dari yang lain, akan lebih sukar menerima pendapat orang lain, apalagi jika itu berupa kata 'nasihat'. Padahal, ilmu dan nasihat bisa datang dari siapa pun. Mereka yang bisa menerima dan menangkap hikmah, hanyalah orang yang mengakui keterbatasannya sebagai makhluk. Kesadarannya bahwa alam semesta dan seisinya adalah sumber ilmu dan hikmah, memudahkannya menerima nasihat dari siapa pun, dari apapun makhluk Allah yang bertebaran di muka bumi.

Demikian juga musibah. Dipersepsi apapun, baik sebagai ujian maupun bencana, hakikatnya adalah nasihat. Hanya saja, orang yang persepsi awalnya sudah negatif, akan kesulitan menangkap 'nasihat' dari hadirnya musibah tersebut. Bagaimana tidak? Ia sendiri telah terperangkap oleh pikiran buruknya, hingga ia lebih banyak mengutuk, meratapi, atau mengkambinghitamkan orang lain, bahkan Allah. Na'udzubillah. Maka, hilanglah waktu untuk berpikir tentang pelajaran apa yang bisa ia ambil darinya.

Padahal, tiada satu pun peristiwa di muka bumi ini yang bukan karena kehendak Allah. Orang yang beriman akan mengenali karakter ini, bahwa satu-satunya yang sanggup melindungi dan memberikan pertolongan hanyalah Allah. Hasbunallah wa ni'mal wakiil, cukuplah Allah sebagai penolongku, dan Allah sebaik-baik Pelindung (QS Ali Imran: 173).

Aneka musibah yang datang silih berganti, bagi mereka adalah petunjuk agar mereka mau berpikir dan mengambil pelajaran. Dan, Allah telah menurunkan aneka musibah ini tentu untuk suatu tujuan. Musibah adalah lahan pengujian. Apakah dalam ujian tersebut seseorang menunjukkan pola pikir yang baik atau tidak? Dengan demikian, akan terlihat orang-orang yang memiliki keyakinan yang tinggi pada Tuhannya.

Satu kesulitan dua kemudahan
Musibah adalah bagian dari kesulitan hidup. Ia juga bagian dari nuansa kehidupan yang tidak hanya kaya akan kesulitan, tapi juga kebahagiaan. Kadang-kadang, orang tidak bersyukur dan terlupa dengan kebahagiaan yang diraihnya sebelum datang kesulitan. Mereka terus menyalahkan takdir atau menyalahkan orang lain. Mereka lupa, bahwa pada saat kebahagiaan datang kepada mereka, tak satu hal pun dilakukan untuk mensyukurinya.

Jangankan untuk menghisab diri dengan datangnya musibah tersebut, menyadarinya sebagai bagian dari sunnatullah dan ujian dari Allah pun acapkali jarang terjadi. Demikianlah orang-orang yang tidak memiliki keyakinan yang ajeg kepada Tuhannya. Sementara itu, orang-orang yang beriman, mereka tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Mereka yakin dengan janji Allah bahwa pada setiap kesulitan itu diapit oleh kemudahan (QS Alam Nasyrah: 6). Inilah berita gembira bagi orang-orang yang sabar. Karena Allah tak pernah mengingkari janji-janjiNya.

Namun, adakalanya orang yang sudah beriman pun akhirnya tergelincir karena kurang sabar. Ketika musibah datang bertubi-tubi, kesabaran pun dianggap sudah mencapai batasnya. Mereka kemudian mencari jalan pintas untuk bisa keluar dari kesulitan. Sebuah ikhtiar seharusnya dilakukan dengan cara yang juga sesuai dengan rambu-rambu sunnatullah. Jika Allah menjanjikan akan datangnya dua kemudahan, memang bukan berarti ia datang tiba-tiba dan lantas menyelesaikan permasalahan. Akan tetapi tetap harus diupayakan, dicari dan digali.

Musibah adalah 'buah' dari kehendak Sang Maha Berkehendak. Maka pasti Dia juga yang tahu jalan keluarnya. Maka, tak ada tempat kembali yang utama kecuali kepada Allah dikembalikan segala urusan dengan ikhtiar yang maksimal. Mudah-mudahan musibah yang datang melanda negeri ini sanggup mendatangkan berjuta hikmah kepada kita. Dan mengembalikan kita pada kesadaran bahwa Kehendak Allah di atas segalanya.

Nikmatilah kesulitan hidup seperti kita menikmati kebahagiaan hidup. Karena setelah kesulitan akan datang kemudahan dan kebahagiaan. Lalu, waspadalah dan berbekallah karena setelah kebahagiaan itu akan berganti pula dengan kesulitan atau problematika baru. Karena demikianlah sunnatullah. Semoga saudara-saudara kita yang terkena bencana alam di Aceh dan Sumatra Utara, juga di daerah-daerah lainnya, diberi kesabaran dan ketabahan. Bagi yang wafat, semoga Allah memuliakan mereka di sisi-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab.




Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=182729&kat_id=105

Terima Kasih, anda telah mengunjungi Group Hidup Muslim

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Moderator, Hidup Muslim



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
Children International
Would you give Hope to a Child in need?
 
� Click Here to meet a Girl
And Give Her Hope
� Click Here to meet a Boy
And Change His Life
Learn More


Yahoo! Groups Links

Reply via email to