Mari Berhijrah KH Didin Hafidhuddin Beberapa hari lagi kita akan meninggalkan tahun 1425 H, untuk kemudian memasuki tahun 1426 H. Meskipun pergantian tahun adalah peristiwa yang biasa dan akan terus berlangsung sepanjang berlangsungnya kehidupan manusia di muka bumi ini, orang-orang yang beriman diperintahkan untuk senantiasa memperhatikan berbagai peristiwa dan kejadian yang sudah terjadi pada masa yang lalu, untuk kemudian dijadikan ibroh (pelajaran) bagi perbaikan dan peningkatan kualitas kehidupan pada tahun dan masa yang akan datang. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyatakan: "Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka itulah orang yang beruntung, Dan barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka itulah orang-orang yang merugi". Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW pun menyatakan: "Tidaklah patut seorang mukmin dipatuk ular dua kali berturut-turut dalam lubang yang sama". Artinya, orang mukmin yang arif terhadap berbagai kesalahan yang terjadi pada masa yang lalu, tidak mungkin akan melakukan kesalahan yang sama terhadap peristiwa dan kejadian yang sama pula. Sesungguhnya jika diperhatikan secara teliti, peristiwa dan kejadian yang menimpa pada kehidupan umat manusia, pada hakikatnya merupakan pengulangan-pengulangan. Substansinya sama, demikian pula sebab dan akibatnya, yang berbeda hanyalah para pelakunya dan waktu terjadinya. Tantangan-tantangan dakwah yang dihadapi oleh Rasululah SAW, sebagai contoh, pada dasarnya sama dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para rasul sebelumnya, dalam QS Ali Imron ayat 184, Allah SWT berfirman: "Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna". Ketika Rasulullah SAW dan Siti Khadijah datang kepada Waroqoh bin Naufal, untuk menyampaikan peristiwa yang terjadi di Gua Hira (turunnya wahyu yang pertama), Waroqoh menyatakan: "Aku ingin sekali dalam keadaan masih hidup ketika engkau Muhammad diusir oleh kaummu". Rasulullah SAW bertanya: "Apakah mereka akan mengusirku?". Waroqoh menjawab: "Betul, tidaklah seseorang didatangi Jibril untuk menerima wahyu, kecuali dia pasti akan diusir oleh kaumnya." Hal yang sama terjadi pada kehidupan masyarakat dan bangsa. Jika mereka menjadi bangsa yang bersyukur dengan memanfaatkan semua potensi dan anugerah yang diberikan Allah SWT, maka pasti akan menjadi bangsa yang makmur, yang mampu mengatasi dan memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Sebaliknya jika mereka kufur nikmat maka semua potensi yang dimilikinya akan berubah menjadi azab dan laknat, yang akan menghancurkan kehidupan mereka sendiri. Dalam QS An Nahl ayat 112, Allah SWT berfirman: "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah SWT, karena itulah Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka telah perbuat." Esensi Hijrah Mereka berhijrah dari syirik kepada tauhid, dari pelecehan dan merendahkan kaum wanita kepada penghormatan dan pengangkatan derajatnya, dari egoisme kelompok dan kesukuan kepada pluralitas dan universalitas nilai-nilai kemanusiaan yang saling mencintai dan menghormati. Allah SWT berfirman dalam QS Al Hujurat ayat 13: "Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah SWT ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". Mereka juga berhijrah dari perbuatan zalim kepada perbuatan adil dan dari khianat kepada amanah. Perhatikan firman-Nya dalam QS An Nisa ayat 58, yang berbunyi: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Melihat urgensi hijrah yang sedemikian tinggi nilainya dan keberadaannya bersifat mutlak absolut, maka hijrah di dalam Alquran selalu terkait dengan iman dan jihad. Artinya hijrah itu merupakan perwujudan keimanan dan pelaksanaannya hanya mungkin dilakukan secara optimal, manakala disertai dengan semangat jihad memerangi hawa nafsu dan segala sifat-sifat yang buruk yang merusak kehidupan pribadi maupun masyarakat. Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqoroh ayat 218 yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Dalam sebuah hadits riwayat Imam Thabrani Rasulullah SAW menyatakan: "Seutama-utamanya orang yang beriman adalah yang paling baik akhlaknya. Seutama-utamanya orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala yang dilarang Allah SWT. Dan seutama-utamanya orang yang berjihad adalah orang yang berjihad memerangi hawa nafsu di jalan Allah." Hijrah Kolektif Melihat kondisi bangsa dan negara kita yang semakin terjerembab pada berbagai problem yang sangat berat dan komplek yang pemecahannya semakin tidak menentu dan jika pun ada tidak jelas arah dan tujuannya maka terlebih dahulu diperlukan semangat berhijrah secara kolektif dan bersama-sama semua komponen bangsa, untuk meninggalkan perilaku-perilaku yang buruk, dan tidak sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Berhijrah dari kondisi dzulumat (kehidupan yang penuh kegelapan dan kenistaan) kepada annur (kehidupan yang berdasarkan cahaya iman). Adz-zdulumat menurut Fathi Yakhan dalam bukunya "Islam Minhaj at Taghyr" paling tidak ada tiga hal. Pertama, kebodohan pada aturan Allah SWT (al jahlu an assyari'ah), yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang berbuat dan berperilaku tanpa bimbingan wahyu dan aturan yang jelas. Sehingga berkecenderungan asal-asalan, menghalalkan segala macam cara dengan sasaran jangka pendek yang sifatnya sesaat dan sekarang saja. Kebodohan kepada syariat ini menyebabkan orang merasa pintar dan lebih mampu dari Zat uang menciptakannya. Mereka sering mengatakan hukum Allah SWT sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman, tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kemaslahatan hidup bersama. Sikap ini harus segera ditinggalkan dan diganti dengan upaya untuk memahami ajaran Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Harus disadari bersama bahwa semua aturan yang dibuat manusia yang bertentangan secara diametral dengan ketentuan-Nya ternyata tidak mampu memberikan solusi bagi persoalan manusia. Kedua, pelanggaran kepada syariat (maksiat) yaitu secara sadar dan sengaja menentang aturan-Nya yang dimanifestasikan dalam peilaku arogan, tidak mau beribadah, tidak mau menerima nasihat dari sesama, berperilaku korup dan khianat terhadap amanah yang diembannya. Hijrah dalam hal ini dilakukan menuju sikap taat dan kesungguhan (mujahadah) dalam mengaplikasikan aturan-aturan Allah SWT yang terdapat di dalam Alquran dan Sunnah Rasul. Ketaatan ini akan melahirkan kebahagiaan yang hakiki, dunia, dan akhirat, sebagaimana dinyatakan dalam QS An Nur ayat 51 dan 52. Ketiga, perbuatan dzalim terhadap sesama manusia terutama kedzaliman para pemimpin kepada rakyatnya, yang kalau terus menerus dilakukan akan menyebabkan kehancuran bangsa secara menyeluruh, sebagaimana dinyatakan dalam QS Al Israa ayat 16. Sikap ini harus segera diganti dengan sikap adil dan tawazzun (seimbang), yang akan mengundang rahmat dan keberkahan dari langit (dari Allah SWT). Sebab hanya dengan keberkahan inilah, bangsa kita akan mampu keluar dari keterpurukan untuk kemudian tegak berjalan menuju masa depan yang lebih baik. Karena itu mari kita berhijrah bersama, memperbaiki diri, meninggalkan perilaku yang buruk yang tidak sesuai dengan ketentuan-Nya. Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=186633&kat_id=49 Terima Kasih, anda telah mengunjungi Group Hidup Muslim Wassalamu'alaikum Wr Wb Moderator, Hidup Muslim
Yahoo! Groups Links
Reply via email to |
Title: Republika Online : http://www.republika.co.id
