*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
{ Sila lawat Laman Hizbi-Net - http://www.hizbi.net }
{ Hantarkan mesej anda ke: [EMAIL PROTECTED] }
{ Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED] }
*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Assalamualaikum wbt,
Setelah mengikuti 2 bhgn dari tajuk di atas, di sini
saya sertakan bhgn akhir dari tulisan si penulis
tersebut. Semuga beroleh kefahaman dlm menggerakkan
langkah-langkah perjuangan. Apa jua kaedah yg
dijalankan, jgnlah sampai melupakan matlamat demi
menegakkan sesuatu alat. Selamat membaca ... maaf
zahir batin.
Politik Dakwah dan Dakwah Politik (akhir)
Ibarat Ayat dalam Saku
Da'i bukanlah jurkam. Fatwa da'i tak kenal musim
kepentingan.
Jika seorang da'i tidak punya kepentingan politik
dalam dakwahnya, maka apa yang disampaikannya, baik
melalui tulisan maupun lisan, akan terkesan lugas dan
tegas. Nampak bahwa ia tidak memiliki interes-interes
tertentu, juga tidak mematok gantungan pada
pihak-pihak tertentu.
Yang demikian akan jauh berbeda dengan da'i yang punya
segudang agenda politik. Setiap segi pembicaraannya
bisa menimbulkan tafsiran-tafsiran dan interpretasi.
Ujung- ujungnya, tentu saja sebuah kepentingan jangka
pendek.
Menurut Imam Maliki, ilmu agama tidak bisa diterima
dari empat golongan, yaitu orang yang rendah
akhlaqnya, orang yang sering berdusta, ahli ibadah
yang tidak mengerti hadits, dan orang yang punya
kepentingan dan mencari pengaruh.
Orang yang sedang punya kepentingan atau sedang
mencari pengaruh dan dukungan tentu akan membuat
kalkulasi dalam setiap tindakannya, lebih-lebih dalam
pembicaraannya. Mereka akan memilih kata-kata yang
paling menguntungkan bagi perjuangan politiknya.
Untuk itu tidak salah bila ada ulama yang berpendapat
bahwa seorang da'i yang sedang melakukan kampanye
politik, tidak bisa diterima ajarannya. Meskipun
mereka mengerahkan ayat dan hadits, tapi semua itu
telah dibungkus dengan kepentingan. Seorang da'i yang
sedang berkampanye bukan lagi da'i. Ia telah
menanggalkan baju da'i-nya.
Seorang da'i pada hakekatnya adalah pendidik dan
pengajar semua orang. Ia tidak pilih-pilih siapa yang
datang meminta pengajaran. Bisa jadi yang datang
golongan lemah, miskin, dan bodoh. Bisa jadi juga
sebaliknya. Semua strata sosial diajar tanpa ada
pembedaan. Jika ada pembedaan metode, itu semata-mata
disesuaikan dengan kadar akal dan pikirannya.
Menghadapi golongan lemah, da'i sejati tetap
bersemangat tinggi dalam menyampaikan dakwahnya.
Bahkan ketika yang mendengar hanya beberapa gelintir
orang saja, tidak berkurang sedikitpun ghirahnya.
Baginya, satu orang yang menerima dakwahnya itu lebih
baik dari pada seribu orang yang sekadar mendengarkan
saja. Semangatnya tidak susut karena sedikitnya orang
yang datang. Tidak juga bertambah karena dibanjiri
pengunjung.
Keikhlasahn adalah modal utama seorang da'i. Lebih
baik mundur sebagai da'i jika belum memiliki
keikhlasan ini. Sebab yang dihadapi da'i itu
bermacam-macam, mulai dari yang paling penurut sampai
yang paling penuntut. Dari yang menerima sampai yang
paling membangkang. Dari yang beriman sampai yang
paling kafir.
Tanpa keikhlasan, jiwa da'i akan terombang-ambing.
Jiwanya kecut manakala melihat kemungkaran dilakukan
oleh orang- orang yang sedang berkuasa atau sedang
memiliki uang. Sebaliknya bakal marah jika ternyata
orang-orang lemah yang justru ingin diangkatnya malah
menentang dakwahnya. Padahal kedua keadaan itu pasti
dihadapinya.
"Dan demikianlah, Kami tidak mengutus seorang pemimpin
dalam suatu negeri sebelum engkau, melainkan ditentang
oleh orang-orang jahat dengan katanya, 'Kami telah
mendapati nenek moyang kami, yang menganut suatu
agama, dan kami mengikuti jejak mereka.' Katakan,
'Apakah juga kalau aku membawa kepadamu pedoman yang
lebih baik dari pada apa yang kamu dapati pada nenek
moyangmu?' Mereka menjawab, 'Kami tetap membangkang
terhadap risalah yang engkau bawa.' Karena itu, Kami
mendendamkan mereka, dan perhatikan saja akibatnya
nanti bagi para pendusta." (QS. Az-Zuhruuf: 22-24)
Menghadapi kaum seperti ini pada da'i tidak boleh
marah, jengkel, apalagi sampai frustrasi. Golongan
seperti ini selalu ada, kapan dan di manapun juga.
Belum pernah ada gerakan dakwah yang mulus tanpa
hambatan. Ini adalah sunnatullah yang berlaku
selamanya.
Seorang da'i harus menyadari bahwa tugasnya hanyalah
menyampaikan kebenaran. Tentang diterima atau
ditolaknya, itu tergantung pada mereka sendiri. Jika
diterima harus disyukuri, jika ditolak tetap bersabar.
Yang paling prinsip gerakan dakwah harus tetap jalan.
Allah telahberfirman, "Orang-orang yang angkuh di muka
bumi tanpa alasan yang benar, akan Aku geser mereka
dari ayat-ayat-Ku. Jika mereka melihat ayat-ayat-Ku,
mereka tidak mau beriman dengannya. Jika melihat jalan
lurus, mereka tidak mau melewatinya. Kalau melihat
jalan kejahatan, mereka berjalan di atasnya.
Demikianlah sesungguhnya mereka mendustakan ayat-ayat
Kami, dan memang mereka lalai dari padanya." (QS.
Al-A'raaf: 146)
Ternyata, golongan yang paling keras dalam
penentangannya adalah mereka yang punya otoritas, baik
kekuasaan maupun kekayaan. Mereka adalah al-mala',
para pembesar dan kaum elite dalam sebuah masyarakat.
Sejarah telah membuktikan, demikian juga ayat-ayat
al-Qur'an.
Inilah ujian keimanan bagi mujahid dakwah, apakah
tetap konsisten atau justru menjadi kelompok penjilat.
Sayang, banyak di antara mereka yang dengan mudah bisa
berdakwah kepada kaum lemah ternyata belum pernah bisa
berdakwah pada golongan kuat tersebut. Jika ada
kesempatan untuk menyampaikan dakwah, maka materi
dakwahnya diatur agar tidak menyingggung, apalagi
sampai menggugat tindakan dan perilaku salah yang
merteka lakukan.
Kepada golongan lemah, amar ma'ruf nahi munkar
dijalankan dengan keras dan tegas. Tapi terhadap kaum
kuat mereka cenderung memilih cara "bijaksana".
Bijaksana di sini patut diberi tanda kutip, sebab bisa
jadi itu merupakan alasan yang dibuat-buat. Pada
hakekatnya mereka takut.
Di kalangan ummat, nama Imam Syafi'i, Maliki, Hambali
dan Hanafi sangat akrab di telinga. Bahkan mereka
mengaku sebagai pengikut madzhab salah satunya.
Sayang, mereka hanya mengikuti ijtihad fiqihnya saja,
sementara ijtihad dakwah dan perjuangannya tidak
pernah diteladani, bahkan tidak pernah dibaca dan
dipahami.
Padahal sejarah kehidupan mereka sebagian besar
dipenuhi dengan kisah pertentangan dengan para
penguasa muslim yang dalam banyak hal telah
menyimpang. Untuk itu para imam ini rela meringkuk
dalam penjara, bahkan di antaranya meninggal dunia di
sana. Yang dihadapi para imam ini bukan penguasa
kafir, tapi justru penguasa muslim yang menyandang
gelar amirul-mu'minin. Suatu ketika mereka sangat
dekat dengan kekuasaan, tapi kedekatannya tidak pernah
menghilangkan sikap kritisnya. Mereka tetap bisa
vokal, karena mereka tidak punya kepentingan politik
sedikitpun juga.
Yang paling berbahaya adalah para penjilat. Meskipun
baju ulama telah disandangnya, tapi mereka tak
segan-segan bertiarap di hadapan penguasa. Mereka
membenarkan apa yang diinginkan oleh kekuasaan, bahkan
selalu siap melegitimasi setiap kemauan kekuasaan.
Ibaratnya, di saku sang kiai terdapat banyak guntingan
ayat. Ayat mana saja yang dibutuhkan, telah siap
dikeluarkan. Tergantung tema apa yang dipesan.
Ghiyat bin Ibrahim adalah ulama yang cakap. Suatu
ketika ia menghadap raja Al-Mahdi. Kebetulan ketika
itu raja sedang menyalurkan hobynya, yaitu mengadu
burung. Melihat kejadian itu, Ghiyat membacakan hadits
Nabi yang membolehkan orang mengadu burung. Karena
senang sang raja memberi hadiah sepuluh ribu dinar
kepada Ghiyat yang telah membacakan hadits palsu
karangannya sendiri.
Itu hanya satu contoh, yang tetap terjadi hingga saat
ini. Sampai sekarang golongan penjilat ini masih
berkeliaran. Adakalanya mereka itu adalah staf dan
bawahan raja atau penguasa itu sendiri, atau mungkin
unsur-unsur lain yang menginginkan sejumput kenikmatan
yang bisa diberikan penguasa.
Jika bawahannya yang melakukan tindakan demikian
mungkin saja wajar, tapi jika yang melakukan tindak
penjilatan itu seorang ulama, tentu sulit bisa
diterima akal sehat. Kita tentu saja tidak meragukan
kredibitas ilmunya para ulama, sebab berbagai alasan
bisa dicarikan. Akan tetapi yang kita ragukan kemudian
adalah kredibiltas moralnya.
Ujian ini sangat berat. Hanya mereka yang mempunyai
keberanian tingkat tinggi saja yang bisa menyampikan
kebenaran sebagai kebenaran di hadapan orang yang
berbuat zhalim. Orang beriman, apalagi pemimpinnya,
tentu harus memiliki sikap berani. Jika tidak, maka
berlakulah sabda Rasulullah:
"Apabila kamu di suatu waktu melihat ummatku takut
mengatakan kepada orang zhalim, 'Wahai engkau yang
zhalim!' dalam keadaan demikian, adanya mereka atau
tidak adanya sama saja." (HR. Ibnu Hanbal dari Ibnu
Umar)
Alangkah banyaknya para pendakwah yang melihat
kebenaran dan sanggup pula menyampaikannya, tetapi
kata-katanya hanya bersarang di leher, tidak terdengar
karena tersumbat oleh kekhawatirannya sendiri. Mereka
takut jika rezekinya tersumbat, khawatir jika
majikannya marah, cemas jika sewaktu-waktu fasilitas
yang dinikmatinya dicabut oleh yang punya.
Sesungguhnya jiwa mereka itu telah tercemar oleh
hubbud- dunya. Mereka yang bersih hatinya, tidak
pernah merasa khawatir tentang masa depannya, sebab
mereka hanya meyakini bahwa Alah Maha Kuasa, dan
Dia-lah yang memerintahkan untuk berdakwah.
"Dan Allah-lah yang berkuasa atas segala
hamba-hamba-Nya, dan Dia pula yang mengirim para
malaikat untuk menjaga kamu, sehingga apabila kematian
mendatangi salah seorang kamu, para malaikat Kami
merenggut nyawanya, di mana mereka tidak pernah lalai
dari tugasnya." (QS. Al-Anfaal: 61)
Dengan keyakinan seperti inilah para nabi dan rasul
menyampaikan wahyu kepada siapa saja, termasuk kepada
penguasa yang zhalim dan menindas rakyatnya. Mereka
telah menyampaikan wahyu Allah tanpa menyembunyikan
sedikitpun juga. Walaupun wahyu itu menyinggung,
menegur, bahkan mengolok-olok kejahatan para pembesar.
Ketika Musa dan Harun harus menghadapi Fir'aun guna
menyampaikan risalah Islam, tidak ada yang disembunyi-
sembunyikan. Mereka katakan apa adanya, karena mereka
tidak takut atau mengharap secuil kekuasaannya.
Tentang peristiwa ini Allah berfirmna,
"Dan Kami berikan kepada keduanya a-Kitab yang jelas
dan tegas. Dan Kami tuntun keduanya ke jalan yang
lurus. Dan Kami abadikan nama keduanya untuk
generasi-generasi mendatang. Salam bahagia untuk Musa
dan Harun. Sungguh, demikianlah caranya Kami membalas
kepada orang-orang yang berbuat ihsan. Memang benar,
keduanya termasuk golongan hamba-hamba Kami yang
beriman." (QS. Ash- Shaaffaat: 117-122)
Perbedaan da'i politik dengan da'i murni terletak pada
konsistensinya. Da'i politik akan selalu
mempertimbangkan siapa yang dihadapi dan dalam situasi
yang bagaimana. Ayat al-Qur'an dan hadits Rasulullah
kini berada dalam sukunya. Jika keadaan menguntungan,
satu ayat dikeluarkan. Jika kurang menguntungkan,
untuk sementara disembunyikan. Diganti dulu dengan
cadangan lain.
Adapun da'i yang murni semata-mata mengharapkan ridha
Ilahi akan tetap menyampaiakn kebenaran tanpa
dikurangi. Mereka sampaikan ajaran Islam secara
lengkap, sempurna, secara lugas dan tegas. Mereka
tidak hirau apakah hal itu menyinggung perasaan,
mengundang reaksi, atau bahkan permusuhan orang-orang
yang dalam hatinya terdapat penyakit.
Allah menggambarkan mereka dalam sebuah ayat-Nya:
"Karena itu mungkin sekali engkau akan meninggalkan
sebagian ayat yang diwahyukan kepadamu, sehingga
karenanya dadamu menjadi sesak, apalagi khawatir
mereka akan mengoceh, 'Akan lebih baik kalau kepadanya
diturunkan gudang kekayaan, atau datang seorang
malaikat membantunya...' Jangann gusar, engkau hanya
seorang pemimpin yang bertugas memberi peringatan, dan
Allah menguasai segala-galanya. Mungkin barangkali
mereka membual lagi, 'Muhammad sendirilah yang
mencipta Al-Qur'an itu.' Katakanlah kepada mereka,
'Kalau demikian bualanmu, coba buat sepuluh surat saja
seumpamanya, dan boleh minta bantuan konco-koncomu
yang sanggup menjawab tantanganmu.' Maka
beritahukanlah mereka bahwa al-Qur'an itu diturunkan
dengan ilmu Allah, dan tidak ada Tuhan selain dari
pada-Nya. Karena itu, bersediakah kalian menganut
Islam?" (QS. Huud: 12-14)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body : SUBSCRIBE HIZB)
( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body: UNSUBSCRIBE HIZB)
( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan )
( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net )
( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED] )
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pengirim: Sani Norku <[EMAIL PROTECTED]>