*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
{ Sila lawat Laman Hizbi-Net - http://www.hizbi.net }
{ Hantarkan mesej anda ke: [EMAIL PROTECTED] }
{ Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED] }
*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Assalamu alaikum,
DI MANA ALLAH
oleh :Abdul Hakim bin Amir Abdat
Saya akan menjelaskan salah satu aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, yang
telah hilang dari dada sebagian kaum muslimin, yaitu : tentang istiwaa Allah
di atas Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya. Sehingga
bila kita bertanya kepada saudara kita ; Dimana Allah ? Kita akan mendapat
dua jawaban yang bathil bahkan sebagiannya kufur..! :
1. Allah ada pada diri kita ini ..!
2. Allah dimana-mana di segala tempat !
Jawaban yang pertama berasal dari kaum wihdatul wujud (kesatuan wujud
Allah dengan manusia) yang telah dikafirkan oleh para Ulama kita yang dahulu
dan sekarang. Sedangkan jawaban yang kedua keluar dari kaum Jahmiyyah (faham
yang menghilangkan sifat-sifat Allah) dan Mu'tazilah, serta mereka yang
sefaham dengan keduanya dari ahlul bid'ah.
Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan
milik Mua'wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia
dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu'awiyah : Artinya :"Beliau bertanya
kepadanya : "Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : "Di atas langit.
Beliau bertanya (lagi) : "Siapakah Aku ..?". Jawab budak itu : "Engkau
adalah Rasulullah". Beliau bersabda : "Merdekakan ia ! .. karena
sesungguhnya ia mu'minah (seorang perempuan yang beriman)".
Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama'ah ahli hadits, diantaranya :
1. Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6).
2. Imam Muslim (2/70-71)
3. Imam Abu Dawud (No. 930-931)
4. Imam Nasa'i (3/13-14)
5. Imam Ahmad (5/447, 448-449)
6. Imam Daarimi 91/353-354)
7. Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105)
8. Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya "Al-Muntaqa" (No. 212)
9. Imam Baihaqy di Kitabnya "Sunanul Kubra" (2/249-250)
10. Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya "Tauhid" (hal.
121-122)
11. Imam Ibnu Abi 'Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli
hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
12. Imam Utsman bin Sa'id Ad-Daarimi di Kitabnya "Ar-Raddu 'Alal Jahmiyyah"
(No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah).
13. Imam Al-Laalikai di Kitabnya "As-Sunnah " (No. 652).
PEMBAHASAN
Pertama
Hadist ini merupakan cemeti dan petir yang menyambar di kepala dan telinga
ahlul bid'ah dari kaum Jahmiyyah dan Mu'tazilah dan yang sefaham dengan
mereka, yaitu ; dari kaum yang menyandarkan aqidah mereka kepada Imam Abul
Hasan Ali bin Ismail Al-Asy'ary, yaitu ; mereka mempunyai i'tiqad
(berpendapat) :
"ALLAH BERADA DI TIAP-TIAP TEMPAT ATAU ALLAH BERADA DIMANA-MANA .!?"
Katakanlah kepada mereka : Jika demikian, yakni Allah berada dimana-mana
tempat, maka Allah berada di jalan-jalan, di pasar-pasar, di tempat kotor
dan berada di bawah mahluknya !?.
Jawablah kepada mereka dengan firman Allah 'Azza wa Jalla : Artinya :
"Maha suci Engkau ! ini adalah satu dusta yang sangat besar" (An-Nur : 16)
"Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan " (Al-Mu'minun : 91)
"Maha Suci Dia ! Dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka katakan dengan
ketinggian yang besar". (Al-Isra : 43)
Berkata Imam Adz-Dzahabi setelah membawakan hadits ini, di kitabnya
"Al-Uluw" (hal : 81 diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
Artinya :
"Dan demikian ra'yu kami (setuju dengan hadits) setiap orang yang ditanya :
"Dimana Allah ? "Dia segera dengan fitrahnya menjawab : Di atas langit !.
Didalam hadits ini ada dua masalah : pertama : Disyariatkan pertanyaan
seorang muslim : Dimana Allah ?. Kedua : Jawaban orang yang ditanya :
(Allah) di atas langit ! Maka barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini
berarti ia telah mengingkari Al-Musthafa (Nabi) SAW".
Dan telah berkata Imam Ad-Daarimi setelah membawakan hadits ini di
kitabnya "Ar-Raddu 'Alal Jahmiyah (hal: 39):
"Di dalam hadits Rasulullah SAW ini, ada dalil bahwa seseorang apabila tidak
mengetahui sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berada di atas langit bukan
bumi, tidaklah ia seorang mu'min".
Tidaklah engkau perhatikan bahwa Rasulullah SAW telah menjadikan
tanda/alamat keimanannya (yaitu budak perempuan) tentang pengetahuannya
sesungguhnya Allah di atas langit. Dan pada pertanyaan Rasulullah SAW
(kepada budak perempuan): "Dimana Allah ?". Mendustakan perkataan orang yang
mengatakan : "Dia (Allah) ada di tiap-tiap tempat (dan) tidak boleh
disifatkan dengan (pertanyaan) : Dimana .?
Kedua
Lafadz 'As-Samaa" menurut lughoh/bahasa Arab artinya : Setiap yang tinggi
dan berada di atas. Berkata Az-Zujaaj (seorang Imam ahli bahasa) : Artinya
:
"(Lafadz) As-Samaa/langit di dalam bahasa dikatakan : Bagi tiap-tiap yang
tinggi dan berada di atas. Dikatakan : atap rumah langit-langit rumah".
Dinamakan "Awan" itu langit/As-Samaa, karena ia berada di atas manusia.
Firman Allah 'Azza wa Jalla. Artinya :
"Dan Ia turunkan dari langit Air (hujan)" (Al-Baqarah : 22). Adapun huruf
"Fii" dalam lafadz hadits "Fiis-Samaa" bermakna " 'Alaa" seperti firman
Allah 'Azza wa Jalla:
Artinya :
"Maka berjalanlah kamu di atas/di muka bumi" (At-Taubah : 2) "Mereka
tersesat di muka bumi" (Al-Maa'idah : 26)
Lafadz "Fil Arldhii" dalam dua ayat diatas maknanya " 'Alal Arldhii",
Maksudnya : Allah 'Azza wa Jalla berada di pihak/di arah yang tinggi -di
atas langit- yakni di atas 'Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Ia
tidak serupa dengan satupun mahluk-Nya dan tidak satupun mahluk
menyerupai-Nya.
Firman Allah 'Azza wa Jalla : Artinya :
"Tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan Ia-lah yang Maha Mendengar
(dan) Maha Melihat". (As-Syura : 4)
"Dan tidak ada satupun yang sama/sebanding dengan-Nya" (Al-Ikhlas : 4)
"Ar-Rahman di atas 'Arsy Ia istiwaa (bersemayam)". (Thaha : 5)
"Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi
dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas 'Arsy".(Al-A'raf
:54).
Madzhab Salaf -dan yang mengikuti mereka- seperti Imam yang empat : Abu
Hanifah, Malik, Syafi'iy dan Ahmad bin Hambal dan lain-lain Ulama termasuk
Imam Abul Hasan Al-Asy'ari sendiri, mereka semuanya beriman bahwa ; Allah
'Azza wa Jalla ISTIWAA diatas 'Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran dan
keagungan-Nya.
Mereka tidak menta'wil ISTIWAA/ISTAWAA dengan ISTAWLA yang artinya :
Berkuasa. Seperti halnya kaum Jahmiyyah dan yang sefaham dengan mereka yang
mengatakan "Allah istiwaa di atas 'Arsy" itu maknanya : Allah menguasai
'Arsy !. Bukan Dzat Allah berada di atas langit yakni di atas 'Arsy-Nya,
karena Allah berada dimana-mana tempat !?... Mereka ini telah merubah
perkataan dari tempatnya dan telah mengganti perkataan yang tidak pernah
dikatakan Allah kepada mereka sama seperti kaum Yahudi (baca surat
Al-Baqarah : 58-59).
Katakan kepada mereka : Kalau makna istiwaa itu adalah istawla/berkuasa,
maka Allah 'Azza wa Jalla berkuasa atas segala sesuatu bukan hanya menguasai
'Arsy. Ia menguasai langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya
dan sekalian mahluk (selain Allah dinamakan mahluk). Allah 'Azza wa Jalla
telah mengabarkan tentang istawaa-Nya diatas 'Arsy-Nya dalam tujuh tempat di
dalam kitab-Nya Al-Qur'an. Dan semuanya dengan lafadz "istawaa". Ini menjadi
dalil yang sangat besar bahwa yang dikehendaki dengan istawaa ialah secara
hakekat, bukan "istawla" dengan jalan menta'wilnya. Telah berfirman Allah
'Azza wa Jalla di Muhkam Tanzil-Nya.
Artinya :"Ar-Rahman di atas 'Arsy Ia istawaa" (Thaha : 5)
"Kemudian Ia istawaa (bersemayam) di atas 'Arsy".
Pada enam tempat. Ia berfirman di kitab-Nya yaitu :
1. Surat Al-A'raf ayat 54
2. Surat Yunus ayat 3
3. Surat Ar-Ra'du ayat 2
4. Surat Al-Furqaan ayat 59
5. Surat As-Sajdah ayat 4
6. Surat Al-Hadid ayat 4
Menurut lughoh/bahasa, apabila fi'il istiwaa dimuta'adikan oleh huruf
'Ala, tidak dapat dipahami/diartikan lain kecuali berada diatasnya.
Firman Allah 'Azza wa Jalla : Artinya :
"Dan berhentilah kapal (Nuh) di atas gunung/bukit Judi" (Hud : 44).
Di ayat ini fi'il "istawaa" dimuta'addikan oleh huruf 'Ala yang tidak dapat
dipahami dan diartikan kecuali kapal Nabi Nuh AS secara hakekat betul-betul
berlabuh/berhenti di atas gunung Judi. Dapatkah kita artikan bahwa "Kapal
Nabi Nuh menguasai gunung Judi" yakni menta'wil lafadz "istawat" dengan
lafadz "istawlat" yang berada di tempat yang lain bukan di atas gunung
Judi..? (yang sama dengan ayat di atas, baca surat Az-Zukhruf : 13).
Berkata Mujahid (seorang Tabi'in besar murid Ibnu Abbas).
Artinya : "Ia istawaa (bersemayam) di atas "Arsy" maknanya :"Ia berada
tinggi di atas
"Arsy" (Riwayat Imam Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175)
Berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di kitabnya "At-Tauhid"
(hal: 101):
Artinya :
"Kami beriman dengan khabar dari Allah Jalla wa A'laa (yang Maha Besar dan
Maha tinggi) sesungguhnya pencipta kami (Allah) Ia istiwaa di atas
'Arsy-Nya. Kami tidak akan mengganti/mengubah Kalam (firman) Allah dan kami
tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada
kami sebagaimana (kaum) Jahmiyyah yang menghilangkan sifat-sifat Allah,
dengan mengatakan "Sesungguhnya Ia (Allah) istawla (menguasai) 'Arsy-Nya
tidak istawaa!". Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah
dikatakan (Allah) kepada mereka seperti perbuatan Yahudi tatkala mereka
diperintah mengucapkan : "Hith-thatun (ampunkanlah dosa-dosa kami)" Tetapi
mereka mengucapkan : "Hinthah (gandum).?". Mereka (kaum Yahudi) telah
menyalahi perintah Allah yang Maha Besar dan Maha tinggi, begitu pula dengan
(kaum) Jahmiyyah".
Yakni, Allah telah menegaskan pada tujuh tempat di kitab-Nya yang mulia,
bahwa Ia istiwaa di atas 'Arsy-Nya (Dzat Allah istiwaa/bersemayam di atas
'Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya, sedangkan ilmu-Nya berada
dimana-mana/tiap-tiap tempat tidak satupun tersembunyi dari
pengetahuan-Nya). Kemudian datanglah kaum Jahmiyyah mengubah firman Allah
istawaa dengan istawla yakni menguasai 'Arsy sedangkan Dzat Allah berada
dimana-mana/tiap-tiap tempat !!!. Maha Suci Allah dari apa-apa yang
disifatkan kaum Jahmiyyah !
Adapun madzhab Salaf, mereka telah beriman dengan menetapkan (istbat)
sesungguhnya Allah Azza wa Jalla istiwaa -dan bukan istawla- di atas
'Arsy-Nya tanpa :
1. Tahrif yakni ; Merubah lafadz atau artinya.
2. Ta'wil yakni ; Memalingkan dari arti yang zhahir kepada arti yang lain.
3. Ta'thil yakni ; Meniadakan/menghilangkan sifat-sifat Allah baik sebagian
maupun secara
keseluruhannya.
4. Tasybih yakni ; Menyerupakan Allah dengan mahluk.
5. Takyif yakni ; Bertanya dengan pertanyaan : Bagaimana (caranya) ?
Alangkah bagusnya jawaban Imam Malik ketika beliau ditanya :
"Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas 'Arsy ?. Beliau menjawab :
Artinya :
"Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang tidak dikenal (yakni telah kita ketahui
artinya), tetapi bagaimana caranya (Allah istiwaa) tidaklah dapat
dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah istiwaa) wajib, tetapi
bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bid'ah". (baca : Fatwa
Hamawiyyah Kubra hal : 45-46)
Perhatikan !
1. 'Arsy adalah mahluk Allah yang paling tinggi berada di atas tujuh langit
dan sangat besar sekali sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas :
Artinya :
"Dan 'Arsy tidak seorangpun dapat mengukur berapa besarnya". Berkata Imam
Dzahabi di kitabnya "Al-Uluw" (hal : 102) : rawi-rawinya tsiqaat
(terpercaya). Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan : Sanadnya shahih
semua riwayatnya tsiqaat. (dikeluarkan oleh Imam ibnu Khuzaimah di kitabnya
"At-Tauhid").
2. Bahwa Allah 'Azza wa Jalla -istiwaa-Nya di atas 'Arsy- tidak tergantung
kepada 'Arsy. Bahkan sekalian mahluk termasuk 'Arsy bergantung kepada Allah
Azza wa Jalla. Firman Allah 'Azza wa Jalla.
Artinya :
"Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam" (Al-Ankabut : 6) Yakni :
Allah tidak berkeperluan kepada sekalian mahluk".
(BERSAMBUNG.....)
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body : SUBSCRIBE HIZB)
( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body: UNSUBSCRIBE HIZB)
( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan )
( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net )
( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED] )
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pengirim: "k b" <[EMAIL PROTECTED]>