*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
{ Sila lawat Laman Hizbi-Net - http://www.hizbi.net }
{ Hantarkan mesej anda ke: [EMAIL PROTECTED] }
{ Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED] }
*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Assalamu alaikum,
(sambungan dari DI MANA ALLAH? (II).)
Keempat
Keterangan Para Sahabat Nabi SAW, dan Ulama-Ulama Islam.
Adapun keterangan dari para sahabat Nabi SAW, dan Imam-imam kita serta para
Ulama dalam masalah ini sangat banyak sekali, yang tidak mungkin kami
turunkan satu persatu dalam risalah kecil ini, kecuali beberapa diantaranya.
1. Umar bin Khatab pernah mengatakan : Artinya :
"Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya) dari sini". Sambil
Umar mengisyaratkan tangannya ke langit " [Imam Dzahabi di kitabnya
"Al-Uluw" hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti Matahari (yakni terang
benderang keshahihannya)].
2. Ibnu Mas'ud berkata : Artinya : "'Arsy itu di atas air dan Allah 'Azza wa
Jalla di atas 'Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan".
Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya "Al-Mu'jam
Kabir" No. 8987. dan lain-lain Imam. Imam Dzahabi di kitabnya "Al-Uluw" hal
: 103 berkata : sanadnya shahih,dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani
menyetujuinya (beliau meringkas dan mentakhrij hadits ini di kitab Al-Uluw).
Tentang 'Arsy Allah di atas air ada firman Allah 'Azza wa Jalla. "Dan
adalah 'Arsy-Nya itu di atas air" (Hud : 7)
3. Anas bin Malik menerangkan : Artinya :
"Adalah Zainab memegahkan dirinya atas istri-istri Nabi SAW, ia berkata :
"Yang mengawinkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga kamu, tetapi yang
mengawinkan aku (dengan Nabi) adalah Allah Ta'ala dari ATAS TUJUH LANGIT".
Dalam satu lafadz Zainab binti Jahsyin mengatakan : "Sesungguhnya Allah
telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari atas langit". (Riwayat Bukhari juz 8
hal:176). Yakni perkawinan Nabi SAW dengan Zainab binti Jahsyin langsung
Allah Ta'ala yang menikahinya dari atas 'Arsy-Nya. Firman Allah di dalam
surat Al-Ahzab : 57 "Kami kawinkan engkau dengannya (yakni Zainab)".
4. Imam Abu Hanifah berkata : Artinya :
"Barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit,
maka sesungguhnya ia telah kafir".
Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan "aku tidak
tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi". Berkata Imam Abu Hanifah :
"Sesungguhnya dia telah 'Kafir !".
Karena Allah telah berfirman : "Ar-Rahman di atas 'Arsy Ia istiwaa". Yakni
: Abu Hanifah telah mengkafirkan orang yang mengingkari atau tidak tahu
bahwa Allah istiwaa diatas 'Arsy-Nya.
5. Imam Malik bin Anas telah berkata : Artinya :
"Allah berada di atas langit, sedangkan ilmunya di tiap-tiap tempat, tidak
tersembunyi sesuatupun dari-Nya".
6. Imam Asy-Syafi'iy telah berkata : Artinya
: "Dan sesungguhnya Allah di atas 'Arsy-Nya di atas langit-Nya"
7. Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya : "Allah di atas tujuh langit
diatas 'Arsy-Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap
tempat.? Jawab Imam Ahmad : Artinya :
"Benar ! Allah di atas 'Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari
pengetahuan-nya".
8. Imam Ali bin Madini pernah ditanya : "Apa perkataan Ahlul Jannah ?".
Beliau menjawab : Artinya :
"Mereka beriman dengan ru'yah (yakni melihat Allah pada hari kiamat dan di
sorga khusus bagi kaum mu'minin), dan dengan kalam (yakni bahwa Allah
berkata-kata), dan sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla di atas langit di atas
'Arsy-Nya Ia istiwaa".
9. Imam Tirmidzi telah berkata : Artinya
: "Telah berkata ahli ilmu : "Dan Ia (Allah) di atas 'Arsy sebagaimana Ia
telah sifatkan diri-Nya". (Baca : "Al-Uluw oleh Imam Dzahabi yang
diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal : 137, 140, 179, 188,
189 dan 218. Fatwa Hamawiyyah Kubra oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal:
51, 52, 53, 54 dan 57).
10. Telah berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para imam- : Artinya :
"Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta'ala di atas
'Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan
Tuhannya...". (Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya
Ma'rifah "Ulumul Hadits" hal : 84).
11. Telah berkata Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani -diantara
perkataannya- :
"Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan
(wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas 'Arsy
sebagaimana Ia telah berfirman :"Ar-Rahman di atas 'Arsy Ia istiwaa (Thaha :
5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta'wil sesungguhnya Ia
istiwaa dengan Dzat-Nya di atas 'Arsy. Dan keadaan-Nya di atas 'Arsy telah
tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang
Ia utus tanpa (bertanya):"Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas 'Arsy-Nya
?" (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87).
Yakni : Kita wajib beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala istiwaa di atas
'Arsy-Nya yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas sekalian
mahluk-Nya. Tetapi wajib bagi kita meniadakan pertanyaan : "Bagaimana
caranya Allah istiwaa di atas 'Arsy-Nya ?". Karena yang demikian tidak dapat
kita mengerti sebagaimana telah diterangkan oleh Imam Malik dan lain-lain
Imam. Allah istiwaa sesuai dengan kebesaran-Nya tidak serupa dengan
istiwaanya mahluk sebagaimana kita meniadakan pertanyaan : Bagaimana Dzatnya
Allah ?.
Demikianlah aqidah salaf, salah satunya ialah Imam Abdul Qadir Jailani
yang di Indonesia, di sembah-sembah dijadikan berhala oleh
penyembah-penyembah qubur dan orang-orang bodoh. Kalau sekiranya Imam kita
ini hidup pada zaman kita sekarang ini dan beliau melihat betapa banyaknya
orang-orang yang menyembah dengan meminta-minta kepada beliau dengan
"tawasul", tentu beliau akan mengingkari dengan sangat keras dan berlepas
diri dari qaum musyrikin tersebut. Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji'un
!!.
Kelima
Kesimpulan
Hadits Jariyah (budak perempuan) ini bersama hadits-hadits yang lain yang
sangat banyak dan berpuluh-puluh ayat Al-Qur'an dengan tegas dan terang
menyatakan : "Sesungguhnya Pencipta kita Allah 'Azza wa Jalla di atas langit
yakni di atas 'Arsy-Nya, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya".
Maha Suci Allah dari menyerupai mahluk-Nya.!. Dan Maha Suci Allah dari
ta'wilnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada dimana-mana tempat !??.
Dapatlah kami simpulkan sebagai berikut :
1. Sesungguhnya bertanya dengan pertanyaan : "Dimana Allah ?, disyariatkan
dan penanya telah mengikuti Rasulullah SAW.
2. Wajib menjawab : "Sesungguhnya Allah di atas langit atau di atas
'Arsy". Karena yang dimaksud di atas langit adalah di atas 'Arsy. Jawaban
ini membuktikan keimanannya sebagai mu'min atau mu'minah. Sebagaimana Nabi
SAW, telah menyatakan keimanan budak perempuan, karena jawabannya : Allah di
atas langit !.
3. Wajib mengi'tiqadkan sesungguhnya Allah di atas langit, yakni di atas
'Arsy-Nya.
4. Barangsiapa yang mengingkari wujud Allah di atas langit, maka
sesungguhnya ia telah kafir.
5. Barangsiapa yang tidak membolehkan bertanya : Dimana Allah ? maka
sesungguhnya ia telah menjadikan dirinya lebih pandai dari Rasulullah SAW,
bahkan lebih pandai dari Allah \Subhanahu wa Ta'ala. Na'udzu billah.
6. Barangsiapa yang tidak menjawab : Sesungguhnya Allah di atas langit,
maka bukanlah ia seorang mukmin atau mukminah.
7. Barangsiapa yang mempunyai iti'qad bahwa bertanya :"Dimana Allah ?"
akan menyerupakan Allah dengan mahluk-nya, maka sesunguhnya ia telah menuduh
Rasulullah SAW jahil/bodoh !. Na'udzu billah !
8. Barangsiapa yang mempunyai iti'qad bahwa Allah berada dimana-mana
tempat, maka sesunguhnya ia telah kafir.
9. Barangsiapa yang tidak mengetahui dimana Tuhannya, maka bukankah ia
penyembah Allah 'Azza wa Jalla, tetapi ia menyembah kepada "sesuatu yang
tidak ada".
10. Ketahuilah ! Bahwa sesunguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas
langit, yakni di atas 'Arsy-Nya di atas sekalian mahluk-Nya, telah setuju
dengan dalil naqli dan aqli serta fitrah manusia. Adapun dalil naqli, telah
datang berpuluh ayat Al-Qur'an dan hadits yang mencapai derajat mutawatir.
Demikian juga keterangan Imam-imam dan Ulama-ulama Islam, bahkan telah
terjadi ijma' diantara mereka kecuali kaum ahlul bid'ah. Sedangkan dalil
aqli yang sederhanapun akan menolak jika dikatakan bahwa Allah berada di
segala tempat !. Adapun fitrah manusia, maka lihatlah jika manusia -baik
muslim atau kafir- berdo'a khususnya apabila mereka terkena musibah, mereka
angkat kepala-kepala mereka ke langit sambil mengucapkan 'Ya ... Tuhan..!.
Manusia dengan fitrahnya mengetahui bahwa penciptanya berada di tempat yang
tinggi, di atas sekalian mahluk-Nya yakni di atas 'Arsy-Nya. Bahkan fitrah
ini terdapat juga pada hewan dan tidak ada yang mengingkari fitrah ini
kecuali orang yang telah rusak fitrahnya.
Tambahan
Sebagian ikhwan telah bertanya kepada saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat)
tentang ayat :Artinya :"Dan Dia-lah Allah di langit dan di bumi, Dia
mengetahui rahasia kamu dan yang kamu nyatakan, dan Dia mengetahui apa-apa
yang kamu kerjakan ". (Al-An'am : 3)
Saya jawab : Ahli tafsir telah sepakat sebagaimana dinukil Imam Ibnu
Katsir mengingkari kaum Jahmiyyah yang membawakan ayat ini untuk mengatakan
:
"Innahu Fii Qulli Makaan""Sesungguhnya Ia (Allah) berada di tiap-tiap tempat
!".
Maha Suci Allah dari perkataan kaum Jahmiyyah ini !
Adapun maksud ayat ini ialah :
1. Dialah yang dipanggil (diseru/disebut) Allah di langit dan di bumi.
2. Yakni : Dialah yang disembah dan ditauhidkan (diesakan) dan ditetapkan
bagi-Nya Ilaahiyyah (Ketuhanan) oleh mahluk yang di langit dan mahluk yang
di bumi, kecuali mereka yang kafir dari golongan Jin dan manusia. Ayat
tersebut seperti juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. Artinya :
"Dan Dia-lah yang di langit (sebagai) Tuhan, dan di bumi (sebagai) Tuhan,
dan Dia Maha Bijaksana (dan) Maha mengetahui". (Az-Zukhruf : 84)
Yakni : Dia-lah Allah Tuhan bagi mahluk yang di langit dan bagi mahluk yang
di bumi dan Ia disembah oleh penghuni keduanya. (baca : Tafsir Ibnu Katsir
Juz 2 hal 123 dan Juz 4 hal 136).
Bukanlah dua ayat di atas maksudnya : Allah ada di langit dan di bumi atau
berada di segala tempat!. Sebagaimana ta'wilnya kaum Jahmiyyah dan yang
sepaham dengan mereka. Atau perkataan orang-orang yang "diam" Tidak tahu
Allah ada di mana !.
Mereka selain telah menyalahi ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi serta
keterangan para sahabat dan Imam-imam Islam seluruhnya, juga bodoh terhadap
bahasa Arab yang dengan bahasa Arab yang terang Al-Quran ini diturunkan
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Imam Abu Abdillah Al-Muhasiby dalam keterangan ayat di atas (Az-Zukhruf :
84) menerangkan : "Yakni Tuhan bagi penduduk langit dan Tuhan bagi penduduk
bumi. Dan yang demikian terdapat di dalam bahasa, (umpamanya ) engkau
berkata : "Si Fulan penguasa di (negeri) Khirasan, dan di Balkh, dan di
Samarqand", padahal ia berada di satu tempat". Yakni : Tidak berarti ia
berada di tiga tempat meskipun ia menguasai ketiga negeri tersebut. Kalau
dalam bahasa Indonesia, umpamanya kita berkata "Si Fulan penguasa di
Jakarta, dan penguasa di Bogor, dan penguasa di Bandung". Sedangkan ia
berada di satu tempat.
Bagi Allah ada perumpamaan/misal yang lebih tinggi (baca : Fatwa
Hamawiyyah Kubra hal : 73). Adapun orang yang "diam" (tawaqquf) dengan
mengatakan : "Kami tidak tahu Dzat Allah di atas 'Arsy atau di bumi", mereka
ini adalah orang-orang yang telah memelihara kebodohan !. Allah Rabbul
'Alamin telah sifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat ini, yang salah satunya
bahwa Ia istiwaa (bersemayam) di atas 'Arsy-Nya supaya kita mengetahui dan
menetapkannya. Oleh karena itu "diam" darinya dengan ucapan "kita tidak
tahu" nyata telah berpaling dari maksud Allah. Pantaslah kalau Abu Hanifah
mengkafirkan orang yang berfaham demikian, sama seperti orang yang
menta'wilnya.
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body : SUBSCRIBE HIZB)
( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body: UNSUBSCRIBE HIZB)
( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan )
( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net )
( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED] )
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pengirim: "k b" <[EMAIL PROTECTED]>