Berita // News: Media
Indonesia Nyata Kesal Sikap Gopoh-Gapah dan Merendahkan Jiran oleh BNhold=0>
Wednesday, August 28, 2002 - 11:20 PM GMTPetikan Jawapos
Meradang, Investasi Pun Diancam Malaysia, tampaknya, semakin meradang
akibat ketegangan dengan Indonesia seputar masalah TKI ilegal. Apalagi
sekarang mereka juga mulai panas dengan Filipina terkait persoalan tenaga
kerja ilegal asal negara itu. Negara-negara bagian di negeri jiran tersebut
memberikan respons beragam atas laporan tentang merebaknya sentimen
anti-Malaysia di Indonesia. Ada yang berusaha tetap tidak terpengaruh. Ada
juga ya! ng sedikit emosional dengan mempertimbangkan lagi investasinya di
Indonesia. Menteri Besar (Gubernur) Negara Bagian Perak Datuk Seri Tajol
Rosli Ghazali termasuk yang agak emosional itu. "Pemerintah negara bagian
ini akan me-review (mengkaji lagi) investasinya di Indonesia jika sentimen
anti-Malaysia semakin buruk," ancamnya. Dia menjelaskan, salah satu
perusahaan yang dimiliki Negara Bagian Perak adalah Agricultural Development
Corporation (ADC). Perusahaan ini terlibat dalam sektor perkebunan di
Sumatera. Bahkan, tambahnya, sekarang ini mereka juga sedang membangun
perusahaan pengolahan minyak kelapa sawit. Menyangkut proyek-proyek itu,
jelas Tajol Rosli, hanya pegawai administrasinya yang berasal dari Perak.
"Sedangkan semua pekerja lain adalah warga Indonesia. Tapi, kami masih akan
terus memantau situasi sebelum membuat keputusan." Tajol Rosli kemudian
menggelorakan lagi seruan Menlu Syed Hamid Albar, Senin lalu, yang meminta
wargan! ya tak ke Indonesia bila tidak benar-benar perlu dan penting. Tajol
Rosli juga menginginkan para pejabat dan rakyat di Negara Bagian Perak tidak
pergi dulu ke Indonesia, terutama ke Medan (tempat 19 warga Malaysia sempat
ditahan pekan lalu karena tidak membawa paspor) seperti anjuran pemerintah
federal. Sementara itu, di Malaka, arus wisatawan Indonesia yang
berkungjung ke Malaysia, ternyata, tidak terpengaruh oleh situasi
akhir-akhir ini. "Kedatangan para wisatawan dari Indonesia meningkat 15
persen sejak Juli lalu," kata Menteri Besar Malaka Datuk Seri Mohamed Ali
Rustam kemarin. Dia menegaskan, tidak semua warga Indonesia bersikap
anti-Malaysia. Andai sikap sentimen ada, itu hanya menjadi milik sekelompok
kecil warga. Setiap tahun Malaka memang menjadi sasaran kunjungan warga
Indonesia, khususnya dari Sumatera. Umumnya mereka datang untuk mendapatkan
layanan kesehatan dari rumah sakit swasta yang ada di negara bagian ini.
Toh, sebaga! i bawahan, Mohamed Ali juga mendukung anjuran Menlu Syed Hamid
untuk tidak berkunjung ke Indonesia sampai situasinya kembali normal.
"Pemerintah negara bagian ini sebenarnya juga menerima dua undangan dari
guberrnur Riau dan Sumatera Selatan untuk program budaya bulan depan,"
tambahnya. Menurut Mohamed Ali, meski sudah mendapatkan jaminan keamanan
dari gubernur Riau, dirinya masih akan minta pertimbangan kepada Wisma Putra
(Putrajaya -kantor PM Mahathir Mohamad)," lanjutnya. Tentang ketegangan
hubungan akhir-akhir ini, seorang Jubir Kementerian Luar Negeri Malaysia
mengatakan, Dubes Indonesia di Kuala Lumpur Hadi A. Wayarabi telah dipanggil
guna mendengarkan keluhan keprihatinan atas nasib warga Malaysia yang berada
di Indonesia. Itu dilakukan setelah terjadi pembakaran bendera dan robohnya
gerbang utama kantor Kedubes Malaysia di Jakarta Senin lalu. Dalam
kesempatan ini, Hadi mengatakan bahwa Indonesia menghormati keputusan
repatriasi ! para imigran ilegal dan tidak akan campur tangan terhadap urusan
dalam negeri Malaysia. Artinya, tidak ada sikap tegas soal hukum cambuk yang
dikenakan kepada TKI ilegal yang belum bisa meninggalkan Malaysia. Selain
itu, juru bicara di Kementerian Luar Negeri Malaysia juga mengatakan, saat
ini pertemuan antara Menlu Malaysia Syed Hamid Albar dan Menlu Indonesia
Hassan Wirayuda sedang direncanakan. Semanusiawi Mungkin Sementara itu,
Malaysia mengatakan akan melakukan semanusiawi mungkin proses pemulangan
para TKI ilegal menyusul berlakunya Akta Imigresen (UU Baru Keimigrasian) 1
Agustus lalu. Statemen itu dikeluarkan Menlu Syed Hamid menyusul laporan
adanya kematian beberapa tenaga kerja ilegal Indonesia dan Filipina (baca
juga berita di Halaman Internasional). Sejak pemberlakuan UU itu, lebih
dari 300 ribu imigran ilegal meninggalkan Malaysia. Saat ini ratusan lagi di
antara mereka -sebagian besar dari Filipina- berusaha meninggalkan Malay! sia
dari Sabah. "Kalian harus ingat, saat pendeportasian itu, kadang mereka
memang harus berjubel. Dalam keadaan seperti itu, kami berusaha terus
bersikap manusiawi dan membiarkan mereka pergi," ujar Syed Hamid. Malaysia
menolak laporan kondisi kamp penampungan di negaranya yang membuat para
imigran ilegal merana, sehingga menyebabkan kematian beberapa anak Filipina.
Sabtu lalu, dua anak imigran ilegal Filipina tewas di atas sebuah kapal AL
Filipina yang membawanya pulang dari Malaysia. Senin lalu seorang lagi anak
meninggal. "Mungkin mereka terkena dehidrasi," ujar Sidin Karim, kepala
operasi pemulangan warga Filipina itu. Di Jakarta, sedikitnya 19 TKI
ilegal, termasuk lima anak-anak, meninggal dunia saat berada di kamp
penampungan di Nunukan. Menurut Sahriel, staf kantor ketenagakerjaan di
Nunukan, kepada The Associated Press, kebanyakan mereka meninggal karena
sakit dan sulit bernapas. Mengatasi masalah-masalah ini, Syed Hamid
mem! inta para pejabat Filipina dan Indonesia berdiskusi dengan Malaysia untuk
mencari pemecahannya. Dia juga menegaskan bahwa hubungan kedua negara tetap
kukuh. Cooling Down Di Jakarta, Wapres Hamzah Haz kemarin mengimbau
Indonesia dan Malaysia agar segera menghentikan perang statemen itu. "Kami
berharap tak ada lagi pejabat kita di sini yang mengecam Malaysia. Juga
sebaliknya," kata Hamzah sebelum sidang kabinet terbatas di Istana Negara
kemarin. Hamzah meminta semua pihak agar tidak menanggapi hubungan
Indonesia-Malaysia secara emosional. Dia yakin, semua permasalahan bisa
diselesaikan asal dengan kepala dingin. Menurut Hamzah, permasalahan TKI
dan hukum cambuk yang dijatuhkan Malaysia adalah ketentuan hukum yang
berlaku di sana. Karena itu, semua pihak harus menghormarti. "Jika ada yang
menyebabkan perselisihan, ya harus dijelaskan." Menko Polkam Susilo
Bambang Yudhoyono ketika di Istana Negara kemarin juga menilai, tanggapan
publik terh! adap memanasnya hubungan Indonesia-Malaysia sudah keluar dari
konteks dan proporsi yang sebenarnya. Kejadiannya bermula dari aktivitas
kepolisian Medan yang melakukan langkah penertiban dan pencegahan kejahatan
dengan metode razia di sebuah tempat hiburan. Ketika dilakukan razia, ada
sejumlah warga negara asing, yakni 12 warga Malaysia, 4 warga Singapura dan
1 warga Srilanka, yang tertangkap tidak memiliki identitas. Sebenarnya,
aktivitas kepolisian tersebut biasa. Karena tak jelas identitasnya, harus
diadakan pemeriksaan. Seusai diperiksa dan ternyata memang benar sebagai
warga negara Malaysia, Singapura, dan Sri Lanka, mereka dilepaskan aparat
kepolisian. Tapi, isu yang bergulir, seolah-olah tindakan kepolisian itu
adalah aksi balas dendam. Seolah-olah tindakan tersebut berkaitan dengan
aksi pemerintah Malaysia terhadap TKI. "Itu tidak benar. Tidak ada pikiran
Indonesia untuk melakukan apa yang disebut balas dendam dengan cara-cara
se! perti itu," tegas Yudhoyono kepada pers di Istana Negara kemarin.
Sementara itu, Menkeh dan HAM Yusril Ihza Mahendra berharap semua pihak
melakukan cooling down dan membuat keadaan kondusif. Sebab, pemerintah akan
membuat penyelesaian yang baik antara Indonesia dan Malaysia. "Kita semua
harus melihat persoalan ini dengan jernih, baik dari sisi Malaysia maupun
kita sendiri," tegas Yusril usai sidang kabinet terbatas di Istana Negara
kemarin. Yusril mengingatkan masyarakat bahwa mereka tidak bisa masuk ke
negara lain tanpa paspor. Kenyataannya, masih banyak yang nekat tanpa
menggunakan dokumen yang resmi. "Ini yang penting, supaya tidak menimbulkan
permasalahan yang berkelanjutan," jelas ketua umum PBB itu. Untuk
menuntaskan permasalahan TKI, menurut Yusril, kedua belah pihak akan
melakukan pembicaraan pada September. Indonesia akan diwakili Menlu Hassan
Wirayuda, Menakertrans Jacob Nuwa Wea, serta Menkeh dan HAM Yusril Ihza
Mahendra. "Su! dah saatnya, kita melakukan penyelesaian secara komprehensif."
Hadiah Tar Sementara itu, Kantor Kedubes Malaysia di Jl Rasuna Said,
Kuningan, Jakarta, kemarin kembali didatangi massa. Namun, kedatangan 10
orang yang mengaku dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia
(STIAMI) itu bukan untuk berdemo. Tapi, mereka datang untuk mengucapkan
selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-45 Kemerdekaan Malaysia yang jatuh pada 31
Agustus nanti. Bukan hanya itu. Mereka juga membawa kue tar, buah-buahan,
serta sebuah piagam yang dibingkai dan bertulisan Selamat Ulang Tahun
Kemerdekaan Ke-45 Malaysia. "Dengan kami datang ini, kami berharap
hubungan Malaysia-Indonesia bisa tetap baik," ungkap Pembantu Rektor III
T.S. Reza SE Mm. Namun, aksi simpatik ini hanya disambut oleh Kepala
Sekuriti Kedubes Malaysia Syafri.
> ATTACHMENT part 2 application/x-microsoft-ole-object name=Picture > ATTACHMENT part 3 application/x-microsoft-ole-object name! =Picture
COUNTERBALANCE.ANYWHERE.ANYTIME.ANYBODY.ANYONE.COM
Do You Yahoo!?
Yahoo! Finance - Get real-time stock quotes
