Anda terdaftar dengan alamat: arch...@mail-archive.com

e-JEMMi -- Pelayanan Holistik (II)
No. 10, Vol. 17, Oktober 2014

DARI REDAKSI: KASIH SEJATI ADALAH DASAR PELAYANAN YANG MURNI

Shalom,

Pelayanan holistik kristiani seharusnya tidak berdasar pada belas kasihan 
manusiawi semata, melainkan berdasarkan kasih yang digerakkan oleh Roh Kudus. 
Dengan kasih yang berasal dari Roh Kudus, sebuah pelayanan holistik tidak hanya 
akan memenuhi kebutuhan jasmani seseorang, tetapi akan membawa mereka bertemu 
dengan Allah yang sejati. Itulah bentuk pelayanan yang dilakukan Yesus ketika 
Ia berkarya di tengah-tengah umat manusia; dan itulah bentuk pelayanan yang 
murni, yang diinginkan Allah untuk kita lakukan.

Harapan kami, biarlah apa yang kami sajikan dalam edisi ini dapat terus 
mengobarkan kasih Ilahi yang ada dalam hati kita sekalian. Tuhan beserta kita!

Pemimpin Redaksi e-JEMMi,
Yudo
< yudo(at)in-christ.net >
< http://misi.sabda.org/ >


TOKOH MISI: ELIZABETH GURNEY FRY (1780 -- 1845): REFORMIS PENJARA DARI KAUM 
QUAKER

"Engkau terlahir untuk menjadi terang bagi yang buta, lidah bagi yang bisu, dan 
kaki bagi yang lumpuh."
~ Nubuatan yang diucapkan Deborah Darby kepada Elizabeth Gurney saat ia masih 
berumur 18 tahun.

"Roh Kudus tidak akan pernah kekurangan kuasa untuk melakukan segala sesuatu 
yang menopang segala perbuatan baik di muka bumi."
~ Elizabeth Gurney Fry

Hanya sedikit orang dari kaum Quaker yang telah menginspirasi masyarakat luas 
seperti halnya Elizabeth Gurney Fry. Namun demikian, dari orang-orang yang 
mengenal namanya pun, mereka hanya mengetahui satu sisi dari aspek 
kehidupannya. Melalui artikel ini, saya akan menceritakan dengan singkat 
kehidupan perempuan yang telah memberikan dampak yang sedemikian besar kepada 
kehidupan masyarakat luas, bahkan ketika budaya pada zaman itu belum dapat 
menerima karyanya.

Tahun-Tahun Awal

Elizabeth Gurney adalah anak ketiga dari dua belas bersaudara yang lahir dari 
pasangan John dan Catherine Gurney. Keluarga ini berasal dari Norwich, Inggris. 
Ayahnya, John Gurney, adalah seorang bankir dan pengusaha yang sukses, 
sedangkan Catherine adalah anggota keluarga Barclay yang menguasai dunia 
perbankan. Kedua keluarga besar mereka adalah anggota aktif di Jemaat Sahabat 
(Society of Friends/Quakers).

Catherine percaya bahwa baik anak laki-laki maupun perempuan harus mendapat 
pendidikan yang baik. Jadi, Elizabeth mendapatkan semua mata pelajaran dasar 
dari ibunya. Catherine juga sering menceritakan cerita-cerita Alkitab dan 
membacakan Mazmur kepada mereka. Ia juga sering mengunjungi dan menolong 
orang-orang yang sakit dan miskin; dan, anak-anaknya pun juga senang sekali 
pergi mengunjungi orang-orang itu bersama Elizabeth. Karena itu, Elizabeth 
pasti mengalami duka yang amat dalam ketika berusia 12 tahun, saat ibunya 
meninggal tak lama setelah melahirkan anak yang kedua belas.

Keluarga Gurney bukanlah keluarga Quaker biasa. Mereka tampak mencolok dengan 
pakaian mereka yang indah dan berwarna terang saat ada di tengah-tengah Sahabat 
yang lain, yang berpakaian sederhana ketika mengikuti pertemuan-pertemuan 
ibadah. Elizabeth sendiri juga bukan pemudi yang serius dan sering kali 
memberikan banyak alasan untuk menghindari pertemuan-pertemuan ibadah.

Pertumbuhan Rohani dan Tahun-Tahun Awal Pernikahan

Pada 4 Februari 1798, pemudi ini menghadiri pertemuan ibadah dengan mengenakan 
sepatu boot ungu dengan renda berwarna merah. Pertemuan itu juga dihadiri oleh 
seorang pendeta Quaker dari Amerika bernama Qilliam Savery dan pelayanan 
pendeta itu menyentuh hati gadis ini. Tentang reaksinya hari itu, Elizabeth 
menulis: "Saya mulai merasa bahwa Allah benar-benar ada." Di kemudian hari, 
ketika ia berkunjung ke London, Elizabeth berkesempatan sekali lagi untuk 
mendengar khotbah dari Savery.

Setelah disentuh oleh Allah melalui Sahabat Quaker yang lain, Elizabeth mulai 
berbalik dari cara hidupnya yang lama. Kesukaannya kepada kesenangan mulai 
luntur. Meskipun keluarganya tidak begitu menyukai perubahan penampilan dan 
sikap keagamaannya, Elizabeth tetap memutuskan untuk menggunakan bahasa 
sederhana yang biasa digunakan oleh para Quaker yang lain dan juga mulai 
mengenakan pakaian yang sederhana. Tak hanya itu, ia mulai membuka sekolah 
minggu di rumah keluarganya, Earlham Hall.

Pada musim panas tahun 1799, Joseph Fry, seorang Sahabat yang pemalu dari 
sebuah keluarga Quaker yang kaya raya, datang untuk mengunjungi keluarga Gurney 
dan meminta Elizabeth menikah dengannya. Awalnya, Elizabeth menolak, tetapi 
lama kelamaan ia pun jatuh hati kepadanya dan menikah dengan Joseph pada tahun 
berikutnya. Dari pasangan ini lahir 11 orang anak.

Mengikuti jejak langkah ibunya, Elizabeth mulai mengunjungi rumah sosial yang 
digunakan untuk menampung orang-orang miskin dan mengajar anak-anak di sana. Ia 
juga mulai mendapat kepercayaan karena pelayanannya dalam pertemuan-pertemuan 
ibadah, dan diakui sebagai pendeta pada tahun 1811 oleh jemaat tempat ia 
beribadah. Namun, tugasnya sebagai seorang ibu sangat menyita waktunya. Hal itu 
tampak dalam buku hariannya yang ditulis pada tahun 1812, "Aku takut jika 
hidupku tergelincir pada hal-hal yang kurang terlalu penting."

Sang Malaikat dari Penjara Newgate

Sekali lagi di momen penting dalam hidupnya, seorang pendeta Quaker dari 
Amerika memainkan peranan penting dalam hidupnya. Pada tahun 1813, Stephen 
Grellet datang kepadanya dan meminta tolong. Stephen yang telah mengunjungi 
beberapa penjara di Inggris menyaksikan kengerian ketika ia melihat 
penjara-penjara perempuan di Newgate. Ratusan perempuan dan anak-anak mereka 
berdesak-desakan di dalam penjara itu. Banyak dari mereka yang tidur di lantai 
tanpa alas. Maka, Elizabeth pun segera mengirim selimut dan pakaian hangat dan 
meminta Sahabat-Sahabat perempuan lainnya untuk membuatkan baju bayi.

Keesokan harinya, Elizabeth dan saudara iparnya pergi ke Penjara Newgate. Para 
sipir penjara yang ada di situ mengatakan kepada mereka berdua bahwa 
perempuan-perempuan yang dipenjara itu bersikap liar dan keduanya bisa saja 
berada dalam bahaya. Akan tetapi, Elizabeth dan saudara iparnya itu tetap masuk 
ke sana. Pada hari itu dan dua kunjungan lagi, keduanya telah membawakan baju 
hangat dan jerami kering agar mereka yang sakit dapat berbaring dengan nyaman. 
Elizabeth juga berdoa bagi para tahanan itu.

Setelah kunjungan-kunjungan awal itu, kesulitan-kesulitan dalam keluarganya, 
termasuk meninggalnya salah satu anak perempuannya, membuat Elizabeth 
menjauhkan diri dari pelayanan selama bertahun-tahun. Akan tetapi, pada Hari 
Natal 1816, Elizabeth mulai kembali kepada pelayanannya itu dan bertahan hingga 
bertahun-tahun lamanya. Ia bertanya kepada para tahanan perempuan di penjara 
itu tentang apa yang mereka butuhkan berkaitan dengan anak-anak mereka, dan 
mereka semua setuju bahwa anak-anak itu sangat membutuhkan sekolah.

Pada tahun 1817, Elizabeth mengorganisasi sekelompok perempuan ke dalam sebuah 
perkumpulan bernama "The Association for the Improvement of the Female 
Prisoners in Newgate" (Asosiasi demi Peningkatan Kesejahteraan Tahanan 
Perempuan di Penjara Newgate). Kelompok ini mengorganisasi pengadaan sekolah 
dan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan supaya para tahanan dapat menjahit, 
merajut, dan membuat benda-benda untuk dijual. Sekelompok perempuan ini 
bergantian mengunjungi dan membacakan Alkitab kepada tahanan.

Menyebarkan Pengaruh dan Menghadapi Kesesakan

Karya pelayanan Elizabeth akhirnya terdengar sampai ke luar tembok Penjara 
Newgate. Pada 1818, dewan rakyat dari House of Commons memintanya untuk 
bersaksi tentang keadaan penjara Newgate. Hal ini menjadikannya sebagai 
perempuan pertama yang dipanggil untuk memberi kesaksian. 
Perkumpulan-perkumpulan seperti Newgate Association pun bermunculan di seluruh 
penjuru Inggris dan Eropa.

Perhatian Elizabeth pun akhirnya tak hanya pada penjara saja. Ia mendirikan 
District Visiting Societies untuk menolong orang-orang miskin, mendirikan 
perpustakaan bagi para penjaga pantai, dan sekolah pelatihan bagi para perawat. 
Elizabethlah yang memengaruhi program pelatihan perawat yang dilakukan oleh 
Florence Nightingale, dan para perawat yang dilatih di sekolahnya pun diutus 
untuk menemani Nightingale pergi ke Crimea.

Pada tahun 1827, Elizabeth menerbitkan sebuah buku berjudul "Observations, on 
the Visiting Superintendence and Government of Female Prisoners". Dalam buku 
itu, Elizabeth tak hanya meletakkan dasar dari reformasi penjara, tetapi juga 
mengangkat hal-hal yang lebih luas. Ia mengajukan kesempatan-kesempatan yang 
lebih luas bagi para perempuan dan dengan keras menentang hukuman mati.

Elizabeth Fry sangat terkenal dan dihormati sampai-sampai pelayanannya menerima 
dukungan dari Ratu Victoria, bahkan Raja Prussia pun mengunjunginya. Akan 
tetapi, hal itu tidak dapat menolongnya ketika bank yang dikelola suaminya 
mengalami kebangkrutan pada tahun 1828. Peristiwa itu tidak hanya mengakibatkan 
keluarganya terpuruk dalam kemiskinan, tetapi juga membuat suaminya dikucilkan 
oleh pertemuan Quaker karena suaminya dianggap membahayakan uang milik orang 
lain.

Pada saat itulah, kakak laki-lakinya, Joseph John Gurney, masuk ke dalam 
kehidupan mereka dan mengambil alih perjanjian bisnis suaminya untuk mengatur 
agar utang-utangnya dapat terselesaikan. Joseph juga mengatur agar Elizabeth 
mendapat gaji tahunan supaya ia dapat melanjutkan pelayanannya. Elizabeth Fry 
terus mengerjakan pelayanannya sampai akhir hayatnya pada tahun 1845. Lebih 
dari seribu orang mengantarnya dalam keheningan sampai ke peristirahatan 
terakhirnya di makam khusus anggota Quaker. (t/Yudo)

Diterjemahkan dari:
Nama situs: Quaker Info
Alamat URL: http://www.quakerinfo.com/fry.shtml
Judul asli artikel: Elizabeth Gurney Fry (1780-1845): Quaker Prison Reformer
Penulis artikel: Bill Samuel
Tanggal akses: 12 Juni 2014


PROFIL BANGSA: PROFIL BANGSA: SUKU TAY DI VIETNAM

Pendahuluan/Sejarah

Terletak di Laut China, Asia Tenggara, Vietnam adalah tempat tinggal bagi 
sekitar 120 suku bangsa yang berbeda. Namun, mayoritas populasinya berasal dari 
etnis Vietnam. Pergolakan yang terjadi di sepanjang sejarah Vietnam telah 
memaksa suku bangsa mayoritas bercampur dengan suku bangsa lainnya, yang 
kemudian terpisah-pisah, dan akhirnya hidup tersebar dalam kelompok-kelompok 
kecil. Akibatnya, budaya, bahasa, dan gaya hidup mereka ikut terpengaruh dan 
menghasilkan karakter nasional yang samar-samar.

Di akhir tahun 1700-an, ketika Vietnam mengalami kekacauan, beberapa kelompok 
etnis bersatu dengan sekelompok suku berbahasa Thai. Di kemudian hari, kelompok 
ini dikenal sebagai orang Tho. Kini, mereka adalah suku bangsa minoritas di 
Vietnam. Suku ini lebih suka disebut "Tay" karena sebutan "Tho" kini dianggap 
sebagai sebutan yang merendahkan.

Seperti apa kehidupan mereka?

Kebanyakan suku Tay adalah rakyat jelata yang hidup di pegunungan landai, di 
antara gunung-gunung yang tinggi dan padang rumput di Asia Tenggara. Mereka 
menanam padi sawah (padi yang memerlukan media tanam yang basah dan 
penggenangan -- Red.), tetapi juga menggunakan teknik "tebas dan bakar" untuk 
menanam padi gogo (padi yang tidak terlalu membutuhkan lahan tanam yang basah 
-- Red.), jagung, gandum hitam, seledri air, tebu, dan berbagai macam sayuran 
lainnya. Mereka juga menanam tanaman rami untuk membuat tas dan jala. Orang Tay 
menjual atau membarter hasil bercocok tanam itu dengan perabot rumah tangga 
yang mereka butuhkan dan makan dari hasil hutan.

Mayoritas suku Tay hidup di rumah-rumah yang mereka bangun di atas tanah. 
Rumah-rumah ini, dan taman yang mengelilinginya, adalah milik pribadi mereka. 
Namun, masih ada suku Tay yang hidup di rumah-rumah panggung. Arsitektur rumah 
ini sederhana, tanpa bubungan rumah yang indah dan tidak dihias seperti 
layaknya rumah-rumah pada zaman modern ini. Kini, hampir seluruh orang Tay 
menjadi bagian dari sebuah "program agrikultural kolektif" dalam bentuk 
persawahan kolektif. Sawah dianggap sebagai milik komunitas yang dapat dipakai 
oleh semua orang, tetapi tidak boleh menjadi milik pribadi.

Keluarga orang Tay biasanya kecil dan garis keturunan mereka dicatat 
berdasarkan keluarga ayah (patrilineal). Anak-anak mereka mulai bersekolah pada 
umur enam tahun, dan di sekolah, mereka belajar bahasa Vietnam. Orang-orang 
muda suku Tay dapat memilih pasangan mereka sendiri, dan setelah pertunangan, 
ada banyak ritual pernikahan yang dilakukan. Sesuai tradisi, mempelai pria 
harus bekerja bagi keluarga mempelai perempuan sebagai mas kawin mereka.

Apa kepercayaan mereka?

Orang Tay menyembah banyak dewa. Mereka juga biasa melakukan penyembahan kepada 
nenek moyang dan menganut animisme.

Secara tradisi, kebanyakan desa-desa orang Tay memiliki kuil-kuil tempat mereka 
menyembah dewa-dewi yang berkaitan dengan tanah, air, api, dan juga nenek 
moyang mereka yang penting. Selain itu, mereka juga menyembah roh dan 
hantu-hantu. Ritual terbesar yang dilakukan setiap tahun adalah pada awal musim 
tanam. Ketika itu, orang Tay meminta izin kepada berbagai macam dewa untuk 
mempersiapkan sawah dan menanam benih tanaman. Literatur dan seni tradisional 
juga berperan penting dalam kehidupan keagamaan mereka.

Apa kebutuhan mereka?

Selama lebih dari 44 tahun, peperangan telah memorakporandakan ekonomi Vietnam, 
hal ini menyebabkan pertumbuhan yang lambat. Lebih dari itu, Vietnam adalah 
salah satu dari sedikit negara di dunia yang menganut paham komunisme.

Doa adalah langkah awal untuk menjangkau suku ini dengan Injil. (t/ Yudo)

POKOK DOA:

1. Berdoalah agar Tuhan berkenan memanggil orang-orang yang mau pergi ke 
Vietnam dan membagikan Kristus kepada mereka.
2. Mintalah Allah untuk menguatkan, memberi semangat, dan melindungi sekelompok 
kecil orang Tay yang sudah menjadi Kristen.
3. Mintalah agar Roh Kudus untuk melembutkan hati orang-orang Tay kepada 
orang-orang Kristen supaya mereka dapat menerima Injil.

Sumber: Bethany World Prayer Center

Diterjemahkan dari:
Nama situs: Joshua Project
Alamat URL: http://www.joshuaproject.net/people-profile.php?rog3=VM&peo3=15309
Judul asli artikel: Tay of Vietnam
Penulis artikel: Tidak dicantumkan
Tanggal akses: 13 Juni 2014


Kontak: jemmi(at)sabda.org
Redaksi: Yudo, Amidya, dan Yulia
Berlangganan: subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/misi/arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2014 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

Kirim email ke