Title: e-JEMMi -- Edisi 01/Januari/2018
e-JEMMi -- Edisi 01/Januari/2018
 
Menjangkau Dunia dengan Firman Tuhan
e-JEMMi -- Edisi 01/Januari/2018
 

e-JEMMi

DARI REDAKSI:

Semangat untuk Menjadi Pelaku Firman

Salam hangat untuk semua Pembaca e-JEMMi,

Apa yang menjadi harapan dan impian Anda pada 2018 ini? Apakah menjangkau orang-orang bagi Kristus juga menjadi agenda Anda pada tahun ini? Memberitakan Kabar Baik tentang keselamatan yang dari Tuhan bukanlah pilihan. Apa pun peran dan pekerjaan yang kita jalani saat ini, kita masing-masing dipanggil untuk memberitakan Kabar Baik tentang Injil dan keselamatan kepada mereka yang belum mengenal-Nya. Dunia ini membutuhkan orang-orang percaya untuk menyatakan kebaikan dan janji-janji Allah kepada umat-Nya. Terang yang sudah kita terima dari Dia hendaknya tidak tersembunyi karena ada begitu banyak orang yang membutuhkan Terang itu untuk menuntun mereka ke jalan yang benar. Oleh karena itu, sepanjang tahun ini, mari kita bertekad untuk memancarkan Kristus dalam kehidupan kita dengan menjadi pelaku firman. Dalam terang firman Tuhan yang menerangi setiap langkah hidup kita, kiranya semakin banyak orang rindu untuk mengenal dan mengikut Kristus.

Seluruh redaksi publikasi e-JEMMi mengucapkan, "Selamat Tahun Baru 2018! Kasih dan terang firman Allah kiranya menjadi penuntun hidup kita sepanjang 2018 ini. Soli Deo Gloria!"

N. Risanti

Pemimpin Redaksi e-JEMMi,
N. Risanti

 

RENUNGAN
Hikmat Firman Allah

Kita menggali Kitab Suci. Kitab Suci diilhamkan oleh Allah dan mengajarkan kepada kita jalan menuju hidup yang berkelimpahan di dunia ini serta hidup kekal di dunia yang akan datang.

Memang benar, Kitab Suci merupakan sumber hikmat yang melebihi hikmat para filsuf yang paling bijaksana sekalipun (1 Korintus 1:20). Akan tetapi, fakta ini jarang diakui dalam kebudayaan kita.

Karena itu, saya pun bergembira ketika membaca artikel yang ditulis oleh kolumnis The New York Times, David Brooks, yang memuji hikmat alkitabiah. Ia memuji Martin Luther King Jr. karena wawasan tentang sifat manusia diperolehnya dari Kitab Suci. Ia merasa bahwa King "memiliki pandangan yang lebih akurat tentang realitas politik dibandingkan sekutu-sekutu liberalnya yang lebih sekuler karena ia dapat memanfaatkan hikmat alkitabiah mengenai sifat manusia. Agama tidak hanya membuat para pemimpin yang merumuskan hak asasi manusia lebih kuat -- agama membuat mereka lebih pintar". Dan, Brooks berkata lebih lanjut, "Hikmat alkitabiah lebih dalam dan lebih akurat daripada hikmat yang ditawarkan ilmu-ilmu sosial sekuler."

Apakah kita memanfaatkan sumber hikmat itu dalam kehidupan kita? Kita membutuhkan hikmat Kitab Suci untuk mengatasi masalah-masalah pribadi kita dan persoalan politik. Jika kita mempelajari dan menaati Alkitab, kita akan dapat bersaksi dengan rendah hati bersama sang pemazmur, "Aku lebih berakal budi daripada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan" (Mazmur 119:99). -- VCG

Satu kebenaran dari Alkitab lebih bernilai daripada semua hikmat manusia.
Diambil dari:
Nama situs : SABDA.org
Alamat situs : http://sabda.org/publikasi/e-rh/2005/04/04/
Penulis Renungan : VCG
Tanggal akses : 12 Oktober 2017
 

ARTIKEL
Menjangkau Dunia yang Berubah dengan Firman Tuhan yang Tidak Berubah

Dalam pelayanan, beberapa hal tidak boleh berubah, tetapi hal-hal lain harus terus berubah. Jelas sekali, lima tujuan Allah untuk gereja-Nya tidak dapat ditawar. Jika suatu gereja gagal menyeimbangkan kelima tujuan ini: penyembahan, persekutuan, pemuridan, pelayanan, dan penginjilan, ia bukan lagi gereja yang sehat, dan ia sedang berada dalam bahaya menjadi sekadar klub sosial.

Di sisi lain, cara atau gaya kita memenuhi tujuan-tujuan abadi ini harus terus disesuaikan dan dimodifikasi karena budaya manusia terus berubah. Pesan kita tidak boleh berubah, tetapi cara kita menyampaikan pesan tersebut harus terus diperbarui untuk menjangkau setiap generasi baru. Dengan perkataan lain, pesan transformasi kita tidak boleh berubah, sementara transformasi penyajian kita harus bersifat terus-menerus, beradaptasi dengan bahasa-bahasa budaya baru kita.

Pertimbangkanlah hal ini: Kata "kontemporer" secara harfiah berarti dengan kesementaraan. Pada dasarnya, tidak ada satu hal pun yang bersifat kontemporer yang dimaksudkan untuk bertahan selamanya! Hal itu hanya akan efektif untuk sementara waktu dan hanya relevan dalam momen tertentu -- itulah yang membuatnya bersifat kontemporer.

Apa yang dianggap kontemporer dan relevan dalam 10 tahun ke depan pasti akan terlihat ketinggalan dan kuno dalam waktu 20 tahun. Sebagai seorang pendeta, saya melihat gereja-gereja mengadopsi gaya-gaya kontemporer dalam ibadah, penyusunan program, arsitektur, musik, dan penginjilan. Hal itu oke, selama pesan alkitabiahnya tidak berubah.

Namun, apa pun yang sedang menjadi gaya saat ini pasti akan segera menjadi tidak gaya lagi, dan siklus perubahannya akan menjadi semakin pendek, ditolong oleh teknologi dan media. Gaya dan pilihan-pilihan baru, seperti mode, selalu muncul.

Izinkan saya memberi Anda nasihat. Jangan pernah melekatkan gereja Anda dengan satu gaya -- Anda akan segera menjadi masa lalu dan ketinggalan zaman. Salah satu kekuatan rahasia Saddleback Church adalah bahwa kami terus beradaptasi; kami mengubah gaya ibadah, penyusunan program, dan penjangkauan sebanyak berkali-kali dalam 24 tahun terakhir, dan kami akan terus melakukannya karena dunia terus berubah. Satu-satunya cara untuk tetap relevan adalah dengan menjangkarkan pelayanan Anda pada kebenaran-kebenaran yang tidak berubah dan tujuan-tujuan abadi, tetapi tetap mau terus menyesuaikan cara Anda mengomunikasikan kebenaran-kebenaran dan tujuan-tujuan tersebut.

Anggota-anggota kami terus bermisi untuk membawa teman-teman dan tetangga-tetangga mereka ke pelayanan ibadah akhir pekan kami, tempat kami menjangkau orang-orang belum percaya -- khususnya mereka yang benar-benar tidak memiliki latar belakang gereja -- dengan menyanyikan lagu-lagu yang bisa mereka nyanyikan, dengan menyuarakan doa-doa yang membantu mereka berelasi, dan dengan mengkhotbahkan pesan-pesan yang mereka pahami. Kami membuat kekristenan tersedia pada tingkat pengenalan kepada siapa pun pengunjung Saddleback.

Anda mungkin bertanya-tanya apabila kami menarik para pengunjung ini dengan melunakkan Injil, tetapi kami tidak melakukannya; kami hanya mengomunikasikannya dengan cara yang dipahami oleh orang-orang belum percaya! Yesus menarik kerumunan orang yang sangat besar tanpa mengompromikan pesan-Nya. Dia sangat jelas, praktis, penuh kasih, dan Dia menyajikan pesan abadi-Nya dengan cara kontemporer.

Orang-orang terhilang memiliki kebutuhan akan makna, kebutuhan akan tujuan, kebutuhan akan pengampunan, dan kebutuhan akan kasih. Mereka ingin tahu bagaimana membuat keputusan-keputusan yang benar, bagaimana melindungi keluarga mereka, bagaimana menangani penderitaan, dan bagaimana memiliki harapan dalam dunia kita. Semuanya ini adalah persoalan-persoalan yang kita punya jawabannya, tetapi jutaan orang tidak menghiraukan pesan Kristus karena kita bersikeras mengomunikasikannya dengan cara-cara yang kurang masuk akal.

Dalam pengertian tertentu, kita membuat Injil menjadi terlalu sulit untuk dipahami oleh budaya yang berubah. Izinkan saya memberikan Anda analogi ini: Bayangkan seorang misionaris pergi ke luar negeri dan berkata, "Saya ada di sini untuk membagikan Kabar Baik, tetapi pertama-tama Anda harus belajar berbicara dengan bahasa saya, belajar kebiasaan-kebiasaan saya, dan menyanyikan jenis musik saya." Anda bisa segera melihat mengapa strategi ini akan gagal.

Namun, kita selalu melakukannya dalam budaya yang berada dalam perubahan radikal. Apabila kita ingin menjangkau orang-orang abad ini, kita harus mulai berpikir dengan cara yang berbeda. Paulus berkata, "Aku sudah menjadi segala sesuatu bagi semua orang supaya dengan segala cara aku dapat menyelamatkan beberapa orang." Dan, saya kira itu berarti bahwa apabila Anda berada di California, Anda harus memiliki gereja berbudaya California. Apabila Anda berada di Ohio, Anda harus memiliki gereja berbudaya Ohio. Apabila Anda berada di Mississippi, Anda harus memiliki gereja berbudaya Mississippi.

Namun, saya juga berpikir bahwa hal itu berarti Anda harus memiliki gereja Abad ke-21, apabila Anda berada pada abad ke-21. Saya percaya bahwa tuntutan yang paling banyak diabaikan dalam gereja adalah memiliki anggota-anggota yang matang rohani -- anggota-anggota yang dengan tidak egois membatasi pilihan-pilihan mereka sendiri tentang seperti apa gereja seharusnya demi menjangkau orang-orang yang terhilang bagi Kristus. Hal ini sebagaimana dengan Yesus katakan dalam Lukas 5:38, "Anggur yang baru harus disimpan di dalam kantong kulit yang baru".

Berikut ini adalah tradisi sederhana yang harus didobrak pada abad ke-21: Berhentilah berpikir tentang gereja sebagai suatu institusi. Terlepas dari bahasa yang kita gunakan, kita, generasi Boomer (generasi yang lahir pada masa ledakan kelahiran bayi setelah berakhirnya Perang Dunia II, khususnya di Eropa, Asia, Amerika Utara, dan Australia - Red.), punya kecenderungan untuk memandang gereja sebagai suatu organisasi, tetapi generasi-generasi yang sedang muncul -- dan banyak dari kita, generasi Boomer era Beatles -- dengan putus asa mencari komunitas.

Kita harus menyajikan gereja sebagai suatu tempat Anda diterima, suatu keluarga tempat -- sebagaimana yang mereka nyanyikan di sitkom Cheers (serial televisi komedi Amerika tahun 1980-an - Red.) -- semua orang tahu nama Anda. Nah, Anda dan saya mungkin tahu bahwa gereja adalah komunitas, tetapi generasi-generasi baru tidak pernah melihatnya demikian. Mereka melihat daftar peraturan, bukan komunitas yang penuh kasih. Hal ini merupakan contoh utama tentang kesempatan untuk mengemukakan kembali kebenaran-kebenaran Alkitab dengan cara yang kontemporer dan segar.

Generasi-generasi baru juga berfokus pada hal yang bersifat memberi pengalaman, dan hal itu berarti kita harus menyesuaikan cara kita mengajar dan berkhotbah karena sebagian besar gereja tradisional berfokus hampir secara ekslusif pada hal-hal intelektual. Di gereja abad ke-21, kita tidak hanya menginginkan supaya orang-orang mengetahui tentang Allah, kita juga ingin supaya mereka benar-benar bertemu dengan Allah.

Tentu saja, hal ini berarti, ketimbang berkhotbah hanya demi informasi, kita seharusnya berkhotbah demi tindakan. Pesan kita tidak dimaksudkan untuk sekadar memberi informasi, melainkan untuk mengubah kehidupan orang-orang dalam jemaat kita. Dalam hampir setiap khotbah yang saya sampaikan, setiap poin memiliki kata kerja di dalamnya -- sesuatu yang harus dilakukan. Apa yang akan Anda lakukan sekarang setelah Anda mengetahui kebenaran saleh ini?

Mengapa saya melakukannya dengan cara demikian? Karena Allah berkata, "Jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar," dan seluruh proses Purpose Driven (Digerakkan oleh Tujuan - Red.) di Saddleback dirancang untuk menggerakkan orang, bukan hanya ke dalam keintiman dengan Allah, melainkan juga ke dalam pelayanan bagi Dia, tempat mereka akan mengalami iman yang lebih dalam dan luas di tengah-tengah komunitas dan pelayanan.

Sejak merintis Saddleback, para pencari rohani telah banyak berubah. Pada awalnya, ada banyak sekali dari mereka. Ada pencari di mana-mana! Karena para pencari terus berubah, kita harus peka terhadap mereka seperti Yesus, mau menemui mereka di wilayah mereka sendiri, dan berbicara kepada mereka dengan cara yang mereka pahami.

Ingat: Dunia berubah, tetapi Firman Allah tidak. Untuk menjadi efektif dalam pelayanan, kita harus belajar untuk hidup dengan ketegangan di antara keduanya.

Doa saya adalah supaya Allah akan memakai Anda seperti Dia memakai Daud, sebagaimana dijelaskan dalam Kisah Para Rasul 13:36, untuk melayani tujuan Allah dalam generasi Anda. Kita memerlukan gereja-gereja yang "timeless" (abadi) dan "timely" (tepat pada waktunya) pada waktu yang bersamaan. Kiranya Allah memakai Anda secara luar biasa, dan kiranya Anda memenuhi tujuan-Nya bagi kehidupan Anda. (t/Odysius)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Church Leaders
Alamat situs : http://churchleaders.com/outreach-missions/outreach-missions-articles/304675-reaching-changing-world-gods-unchanging-word-rick-warren.html
Judul asli artikel : Reaching a Changing World With God’s Unchanging Word
Penulis renungan : Rick Warren
Tanggal akses : 7 Juni 2017
 
Anda terdaftar dengan alamat: arch...@mail-archive.com.
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-JEMMi.
m...@sabda.org
e-JEMMi
@sabdamisi
Redaksi: N. Risanti, Davida, Rostika, dan Yulia Oeniyati
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
© 2018 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

Kirim email ke