Yang dimaksud Sujatmiko itu: seandainya batu itu memang betul berasal dari Mekah (Bukut Marwa dan Syafa), maka umurnya adalah lebih dari 700 th. Jadi ini bentuk logika " ...if .... , then ......." (hypothetical compound syllogism, yaitu mengandai-andai, atau hypothetical statement) Hal ini karena beliau yakin batuan di sekitar Mekah itu berumur Pra-Kambrium. Tetapi jika batu itu ternyata bukan dari Mekah ya umur ini belum tentu benar. Jadi statement beliau itu syah-syah saja. Namun oleh wartawan dapat saja bentuk logika ini kurang difahami, seolah-olah beliau mengatakan bahwa batu ini berumur 700 juta tahun lebih. ----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, August 16, 2002 6:28 AM Subject: [iagi-net-l] Ditemukan Batu Berusia 700 Juta Tahun Lebih
> Ada yg tahu secara ilmiah geologinya ? Soalnya menyangkut seorang ahli > geologi jugak nih ... > menarik dibaca di akhir pekan .. > > rdp > ================ > Pikiran Rakyat > 16/8/2002 > > Ditemukan Batu Berusia 700 Juta Tahun Lebih > > SEPINTAS bentuknya mirip meteor. Bahkan jika diperhatikan dengan lebih > teliti, terkadang mirip sebuah rudal yang sedang meluncur. > Ini bukan meteor yang sedang jatuh atau rudal yang sedang diluncurkan. > Tetapi, ini sebuah batu berbentuk kapak (kampak) lonjong yang usianya > diperkirakan melebihi 700 juta tahun. > Sulit meneliti asal-usul batu ini. Sebab, peneliti batu Indonesia sendiri H. > Sujatmiko, Dipl. Ing (Geologist-Gemologis ITB) yang kini membuka show room > sendiri mengaku belum pernah menemukan jenis batuan seperti itu. > Percaya atau tidak percaya, batu ini sebenarnya datang secara ghaib dan > disebut Batu Virus Persi. Namun, nama asli batu ini masih dirahasiakan. > Jenis batu ini langka sekali dibandingkan dengan Giok dan Jambrut. Batu ini > diyakini memiliki berbagai keistimewaan, terutama menjadi media pengobatan. > Sebenarnya, batu dengan ukuran panjang 19,5 cm, lebar 5,7 cm dan tebal 3,4 > cm (maksimal) ini sudah pernah dan lama berada di Indonesia dan dipegang > seorang guru besar Islam di Tapanuli, Sumatera Utara bernama Sultan Badullah > dan bergelar Syekh Wali Jamiil Muhammad Jamiil (Jamiil berarti Yang Maha > Indah/Cakap). Sultan Badullah meninggal tahun 1825 di suatu desa Tangun > (dulu masuk Tapanuli Selatan), tetapi sekarang masuk Provinsi Riau. Ia > meninggal dalam usia 150 tahun dan sangat gigih melawan penjajah Portugis. > Di Tapanuli, bentuk batu ini (kapak) disebut baliung, sebuah alat yang > terbuat dari besi yang biasa digunakan penduduk setempat menjadi alat > penebang pohon. Karena ilmu yang dimilikinya dalam Islamlah maka ia diberi > gelar Syekh Wali Jamiil Muhammad Jamiil (Jamiil berarti Yang Maha > Indah/Cakap). > Setelah Sutan Badullah meninggal, secara ghaib pula sempat hilang dan > kabarnya sempat kembali ke Ka'bah. Sebenarnya, selain batu ini juga ada satu > benda pusaka lainnya yang sempat tertinggal di Banten. > Tertinggalnya benda ini di Banten terjadi ketika Sultan Badullah beserta > pasukannya ikut membantu Kesultanan Banten melawan Portugis. Kalau pusaka > yang satu jelas tertinggal di Banten, tetapi batu ini tidak tertinggal di > Banten, melainkan itu tadi kembali ke wilayah asalnya, Ka'bah. > Kedua benda pusaka yang sempat "hilang" selama sekitar 177 tahun itu > semuanya kini sudah ditemukan dan berada di tangan H. Mangarahon Dongoran. > Tentu, penemuan kedua benda pusaka ini juga sangat ajaib. Sebab, keduanya > kembali kepada pemegang amanah ketika yang bersangkutan ditimpa musibah, > sakit yang menurut 'orang pintar' bukan sakit medis. > Percaya atau tidak, batu ini datang secara ghaib kepada seorang guru, > K.H.A.M. Lukman Hakim, SH di Bogor. Ia yang masih keturunan kesultanan > Banten menceritakan batu itu datang ketika ia sedang shalat Tahajjud. "Batu > ini jatuh ketika saya sedang sujud shalat Tahajjud. Kalau sempat kena > kepala, bisa bocor," kata Pak Kiai yang akrab dengan panggilan Aa (Abang) > ini ketimbang Kiyai ini. > Namun, kata Aa, batu itu adalah milik Allah Swt yang diamanahkan secara > turun-temurun kepada orang Tapanuli. "Yang mengirimkan menyebut agar benda > ini diberikan kepada pemegang amanah. Pemegang amanah itu sekarang Pak Haji > Mangarahon. Ini suara ghaib yang menyebut dan harus saya sampaikan," > katanya. > Berdasarkan sertifikat batuan yang dikeluarkan GEM-AFIA Bandung Nomor > 002/SER/CGA/VIII/2002 tertanggal 2 Agustus 2002 disebutkan ciri-ciri batu > tersebut, seperti bentuk dan ukurannya. Beratnya 417 gram, warna hijau > kekuningan mengandung urat-urat berwarna hitam, kilap resinous, bisa menarik > magnet (urat hitam), struktur padat, tembus cahaya (trainslusen), berat > jenis 2,69 gram/cm3, goresan putih, kekerasan empat skala mohs. > Sertifikat batuan yang ditandatangani H. Sujatmiko, Dipl. Ing menyimpulkan, > "Walaupun secara sifat petrofisika tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa > batuan yang diperiksa adalah batuan asli alam jenis Serpentin yang > mengandung urat-urat Magnetit." > Dalam sertifikat itu juga disebutkan catatan, "Batuan Serpentin berwarna > hijau kekuningan, tembus cahaya dan mengandung urat-urat magnetit yang > menempel di magnet merupakan jenis batuan yang sangat langka. Di Indonesia, > batuan jenis ini berasosiasi dengan batuan ultrabasa berumur (berusia) > Pra-Tersier) atau lebih tua dari 65 juta tahun." > Namun, ketika diceritakan tentang penemuan batu dan disebut Virus Persi, > Sujatmiko yang sudah 10 tahun belakangan menekuni penelitian batuan di > Indonesia memperkirakan usianya di atas 700 juta tahun. "Usianya bisa di > atas 700 juta tahun. Sebab, di Bukit Sofa dan Marwah (tempat Sa'i bagi yang > Umrah dan Haji, red), umur batuannya di atas 700 juta tahun." > Sujatmiko mengaku belum pernah menemukan batu seperti itu. "Pernah ditemukan > batu warna seperti itu di Banyuwangi. Tetapi lain, tidak bergaris-garis, > tidak mengandung magnit dan tidak tembus cahaya," katanya. > Sebelum diceritakan asal-usul batu ini, Sujatmiko sendiri sempat menyebutkan > nama batu Bahdar Besi (yang berarti penakluk besi). Berdasarkan cerita yang > sempat beredar, Presiden Soekarno sendiri ketika menunaikan Ibadah Haji > sempat melihat batu ini di dalam Ka'bah, tetapi ia tidak bisa menyentuhnya. > Diperkirakan, batu ini bukanlah hasil kerajinan tangan manusia, tetapi > diciptakan Allah seperti itu. > Diperkirakan ada kembaran batu ini. Namun, hingga sekarang belum diketahui > keberadaannya. Diperkirakan masih berada di Timur Tengah, yaitu di Irak atau > Iran dan di Libya (Afrika Utara). > Banyak rahasia dan manfaat batu ini. Manfaatnya antara lain sebagai media > pengobatan. Sedangkan rahasianya, hanya orang tertentu yang boleh > mengetahui. > Dulu, di Timur Tengan batu ini juga sempat menjadi rebutan dinasti. Namun, > yang menerima batu ini adalah sebuah dinasti (kerajaan) yang diridhai Allah > Swt. > Sultan Badullah juga mempunyai kerajaan kecil di Tapanuli yang > prajurit-prajuritnya sangat tangguh dalam melawan penjajah Portugis. Namun, > sayangnya ketangguhan kerajaan kecil ini tidak sempat dan tidak pernah > tertoreh dalam catatan sejarah Indonesia. (HMD)*** > > > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > ===================================================================== > Indonesian Association of Geologists [IAGI] - 31st Annual Convention > September 30 - October2, 2002 - Shangri La Hotel, SURABAYA > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ===================================================================== Indonesian Association of Geologists [IAGI] - 31st Annual Convention September 30 - October2, 2002 - Shangri La Hotel, SURABAYA

