Ada feed-back dari anggota bahwa IAGI perlu lebih berkonsentrasi untuk "menyejahterakan anggota" daripada terserap mengurusi hal-hal "berat" yang bersifat eksternal seperti UU Migas, COMDEV, OTODA, dunia Pertambangan Indonesia dsbnya. Untuk supaya lebih menarik, fokuskan "menyejahterakan anggota" pada geologist-geologist muda yang baru lulus yang masih banyak butuh "perlindungan" (subsidi???)
Memang betul!!!: "menyejahterakan anggota" adalah salah satu tujuan IAGI yang tertulis dalam anggaran dasarnya Untuk sejahtera materi, kayaknya program-program IAGI masih belum mampu secara langsung melakukannya. Beberapa orang, dan bahkan salah satu ex-calon KETUM IAGI dulu, dalam kampanyenya juga pernah menyinggung untuk menitik beratkan pada kesejahteraan anggota secara riel materiel, yaitu dengan bikin semacam koperasi simpan pinjam, fasilitas kredit motor atau mobil, dsbnya. Sayangnya, saya gak punya potongan (dan pengalaman) untuk bikin orang sejahtera macem kayak gitu,.... makanya saya terbuka saja: gak akan bikin yang macem gituan dalam program-programku, karena memang gak mampu. Meskipun demikian, "kesejahteraan" bisa juga diartikan sebagai peningkatan bekal kemampuan / keahlian untuk bersaing dalam lapangan ketenaga-kerjaan profesi geologi untuk mendapatkan rejeki materi tadi. Ini adalah fokus program-program saya, yang dulu waktu kampanye 2 tahun lalu saya sebut sebagai "membuat iagi dibutuhkan anggotanya" (artinya: iagi harus bisa memberikan manfaat meningkatkan "kesejahteraan" model kedua tsb diatas, supaya anggota merasa butuh). Penerbitan rutin Berita IAGI, Majalah Geologi Indonesia, kumpul-kumpul dan diskusi di Luncheon Talk, kursus-kursus, guest lecturing di perguruan tinggi, field trip, seminar-seminar teknis, sampe ke sertifikasi ahli geologi,... kesemuanya saya coba dorong untuk secara rutin dilakukan. Dan itu semua tidak gampang, rek!!! Susaaaah sekali untuk menjual IAGI ke anggota!! Produk yang kami jual, masih jauuuuuh dari sempurna, karena kapasitas (dan kapabilitas) produsennya (saya dan segenap jajaran PP) memang masih jauh dari sempurna. Komitmen "pengabdian" seringkali tidak laku dijaman sekarang; karena semua harus diukur dg uang dan materi. Dengan demikian, menggulirkan program-program peningkatan "kesejahteraan" tersebut,... butuh extra effort dari pioneer dan supporter yang telah dengan susah-payah ikut dalam barisan saya untuk "mengabdi" ke IAGI. Apakah program peningkatan kesejahteraan tsb bisa dan sudah menjangkau geologist-geologist muda kita?? Saya belum bisa mengukurnya dalam 2 tahun ini. Mungkin untuk mengukurnya secara tidak langsung kita harus melihat secara umum situasi dunia ketenaga-kerjaan geologist kita. Apakah suasana yang terbentuk oleh semaraknya program-program tersebut bisa lebih membuka kesempatan-kesempatan baru, lapangan kerja baru, wawasan kerja baru, paradigma baru,... bagi geologist-geologist muda kita?? Wallahul alam!! Saya juga masih belum punya angka untuk memutakhirkan angka serapan pasar tenaga kerja geologist Indonesia di Indonesia yang terakhir dibuat oleh Pak Ong tahun 1999. Apakah angka serapan 30% dari 500 lulusan geologi tiap tahun sudah meningkat jadi 40%??? perlu sedikit riset untuk itu. Berlawanan dengan persepsi umum.... justru meningkatkan kesejahteraan dengan membuat program-program spt saya sebutkan diatas,... ternyata lebih berat daripada "sekedar" bicara atas nama IAGI soal ComDev, UU Migas, OTODA, dan hal-hal yang sifatnya policy, mengawang-awang, dan gak ada patokan!! Tidak perlu jadi Ketua atau masuk ke PP IAGI, kita semua bisa melakukannya: "ngroweng" soal hal-hal tsb. Untuk melakukan real program eksternal tsb, juga relatif lebih mudah daripada bikin Buletin, Majalah, Seminar, Kursus dsbnya. Yang kita hadapi orang luar / non-geologist; sehingga salah sedikit juga gak akan keliatan. Mudah-mudahan tambahan renungan ini bisa sedikit membuka tentang apa saja yang kita geluti selama ini di IAGI, sehingga bisa menggugah juga roh kepedulian rekan-rekan lainnya untuk bersama-sama berbuat bagi geologi kita. Salam,

