Pembangunan Terowongan Selat Sunda Berisiko Tinggi

Serang, Sinar Harapan
Kadis Perhubungan Banten Turmudzi mengemukakan, pilihan membangun 
terowongan di Selat Sunda berisiko tinggi. Pasalnya, selat di antara 
Provinsi Lampung dan Banten ini memiliki lempengan tanah yang labil dan 
banyak pusat gempa.

�Pergeseran lapisan tanah di bawah laut paling sering terjadi di sini. 
Lihatlah peta pusat gempa ini,� katanya menunjukan peta yang ditandai 
dengan titik pusat gempa yang jumlahnya lebih dari 50 titik mulai dari 
daerah Ujungkulon (Banten) hingga Lampung.

Sebelumnya, Dr Ir Kuntoro Mangkusubroto, Ketua Tim Pengkajian Terowongan 
Nusantara mengemukakan, rencana pembangunan terowong-an yang menghubungkan 
Pulau Jawa dan Sumatra mulai digagas. 

Tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) terus melakukan pengkajian. 
Beberapa hari terakhir, tim ini mempresentasikan kemungkinan pembangunan 
terowongan yang diberi nama Terowongan Nusantara (The Nusantara Tunnel) 
(SH, 25/3).

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Banten, Turmudzi, gagasan pembangunan 
jembatan yang pernah dilontarkan di zaman Presiden BJ Habibie adalah 
alternatif paling memungkinkan, dibandingkan pembangunan terowongan yang 
biayanya jauh lebih besar. �Di atas jembatan itu juga direncanakan melintas 
rel KA,� katanya. Sekarang tim yang sama dari ITB dan JICA, konsultan 
Jepang juga mengkaji soal gagasan pembangunan jembatan yang panjangnya 
sekitar 22-30 Km mulai dari Pulau Sanghiang, Banten hingga Bakauheni, 
Lampung.

Mengutip hasil Seminar Transportasi Nasional Sumatera-Jawa di Jambi belum 
lama ini, Turmudzi mengemukakan, Departemen Perhubungan memusatkan 
perhatian penggabungan transportasi Sumatera-Jawa itu dengan sarana kereta 
api. Sedangkan pembangunan jalan dilakukan Kimpraswil dan sudah dimulai 
tahun ini dari Jawa Timur hingga ke Banten. Lebar jalan di luar jalan tol 
itu direncanakan 40 meter yang digunakan 4-6 jalur jalan.

Penggabungan KA
Moda angkutan kereta api (KA) sebenarnya pilihan ideal dalam konsep 
penggabungan transportasi Sumatra-Jawa untuk menyongsong diterapkannya era 
perdagangan terbuka yang diperkirakan akan menyebabkan terjadinya lonjakan 
arus barang maupun orang. Keunggulan KA antara lain angkutan massal 
penumpang maupun barang, efisien, tingkat kecelakaan rendah dan memiliki 
jalur sendiri. 

Tetapi moda angkutan ini kini tidak menyambung antara jaringan rel KA di 
Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. �Di Banten, misalnya, KA dari 
Merak harus berhenti di Kota atau Tanah Abang (Jakarta). Tidak ada KA yang 
terintergrasi hingga ke Surabaya,� ujar Turmudzi, Kadis Perhubungan Banten.
Kondisi sarana dan prasarana KA di Banten juga menyedihkan. Dari 359 Km rel 
KA yang ada, hanya 129,3 Km berfungsi. Rel KA juga dipenuhi perlintasan 
yang tercatat 230 titik lintasan KA dan jalan umum. Akibatnya, kecepatan KA 
hanya bisa dipacu di bawah 60 Km per jam. Padahal dengan sarana yang ada, 
kecepatan KA bisa mencapai 90 Km/jam, yang pada akhirnya mengakibatkan 
keterlambatan pengangkutan barang maupun orang.

�Sekarang, yang lebih riil adalah mengoptimalkan sarana dan prasarana yang 
ada. Misalnya rel KA di Banten yang masih single track dibangun menjadi 
double track, menggantikan rel-rel tua bekas peninggalan zaman Belanda dan 
tindakan-tindakan yang lebih riil. Tapi ini juga menelan biaya yang cukup 
besar. Sedangkan keuangan negara kita sedang morat-marit,� ujarnya.



---

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke