Nah kalo ini yg dikau maksudkan. Aku lebih suka memanfaatkan pendekatan konsep 
"petroleum system" ... Kedalaman 2000-3000 meter (ultra deep) cukup menantang sebuah 
konsep, karena secara engineering, kedalaman ini memerlukan teknologi konstruksi 
ekstra tuinggi.

Nah beberapa aspek dalam konsep "petroleum system" jangan dilupakan :
- Matured (effective) Source Rock --> HARUS ada
- Reservoir/seal --> could be any kind of rock .... saya jadi inget presentasinya John 
Kaldi ttg "seal-reservoir" ... keduanya bisa terdapat dalam batuan apapun. Yg 
membedakan adalah porositas dan sifat 'porethroat'nya .... bisa saja inter/intra 
granular grain, pore fracture, dsb.
- Trap --> Can be "created" based on conceptual (?)
- etc (?)

Nah asalkan semua faktor itu berinteraksi dalam "waktu" yang pas (critical time) --> 
then you have a play ...
Jadi menurut aku yg perlu dijawab dulu adalah --> apakah memungkinkan ada "Petroleum 
charging" ? Bukan ada tidaknya reservoir rocks.

hef e nais whik en ...

RDP

>Benar, tidak setiap present-day deepwater setting harus memiliki deepwater
>reservoir. Arah diskusi yang saya inginkan sebenarnya adalah adakah
>deepwater reservoir (clastic) yang bagus (secara umum) di dearah yang tidak
>punya feeder delta. 
>
>Jika tidak ada, maka ranking daerah seperti ini akan menjadi kecil, tapi
>jika ada cara lain untuk membawa sedimen dari shelf ke deepwater setting,
>tentu harapan menjadi lebih besar. Pak Jossy sudah bercerita bahwa di lepas
>pantai Afrika barat ada deepwater petroleum province  yang tanpa delta besar
>untuk penyuplai sedimen. Offshore Mauritania sepertinya mewakili daerah
>seperti (tolong koreksi jika keliru). Daerah di sekitar lepas pantai Afrika
>Barat yang secara tektonik dianggap kurang aktif ternyata masih memiliki
>potensi, bagaimana dengan kawasan timur Indonesia yang dikenal aktif?
>
>min
>-----Original Message-----
>
>Harus diperjelas dulu definisi deepwater yg dimaksud.
>
>Apa hanya karena present day seabed-nya ada di deepwater ?
>Atau memang terbukti ada reservoir yang punya depositional environmentnya
>di deepwater ?
>
>Karena belum tentu di deepwater sea yg skrg kita juga akan dealing dg
>deepwater reservoir
>
>smg bermanfaat
>
>Ferry
>
>
> <[EMAIL PROTECTED]
>
>> Tadi ketika sedang memperhatikan peta kedalaman dasar laut di daerah
>> Indonesia bagian timur, saya melihat bahwa di sekitar pulau Halmahera,
>> kedalaman dasar laut ada yang sampai 2000-3000 meter. Seketika terbersit
>> pertanyaan mengapa sampai saat ini belum ada perusahaan besar yang masuk
>> ke sana untuk nyari deepwater petroleum system. Apakah karena tidak ada
>> delta besar yang ditemukan disana sehingga perusahaan tidak berani ambil
>> resiko terlalu besar (apalagi daerahnya sendiri dianggap tergolong
>> unexplored, tidak banyak data bawah permukaan yang bisa diandalkan)?
>> Selama ini deep water petroleum system yang  terkenal kebanyakan
>> berhubungan dengan delta besar seperti Mississippi, Baram, dan Mahakam.
>> Lalu apakah tanpa delta besar seperti itu sebagai penyedia sedimen kita
>> tidak bisa menemukan deepwater play?
>>
>> Minarwan



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke