Buruk Muka PETI, Cermin Tambang Dibela

Buruk muka cermin dibelah. Itulah peribahasa yang cocok untuk membahasakan 
masalah yang menimpa sector pertambangan di Indonesia saat ini. 
Pertambangan dituding sebagai biang keladi kerusakan hutan. Pelaku 
pertambangan memang manggut-manggut terhadap tuduhan tersebut.  Mereka 
menyadari bahwa pertambangan juga mempunyai andil dalam kerusakan hutan di 
Indonesia. �Kami tidak menutup mata bahwa sector pertambangan juga telah 
turut merusak hutan,� kata Ariadi Soebandrio, Sekretaris General Ikatan 
Ahli geologi Indonesia (IAGI).

Namun, bila dibandingkan dengan laju kerusakan hutan per tahun yang 
mencapai jumlah 360 juta ha, maka jumlah kerusakan hutan yang disebabkan 
oleh sector pertambangan diperkirakan hanya mencapai 10 persen dari laju 
kerusakan hutan per tahun tersebut. Karena itu, siapa sebenarnya kotributor 
kerusakan hutan terbesar?

Tentunya kita tidak mencari kambing hitam di balik kerusakan hutan 
tersebut. Semua pihak diajak untuk melihat persoalan ini secara jernih dan 
holistic.

Salah satu fenomena yang sering disoroti akhir-akhir ini yakni penambangan 
tanpa izin (PETI). Menurut Sukmandaru Prihatmoko, ada beberapa segi 
aktifitas PETI  yang patut diangkat. Pertama, dari segi teknis PETI sangat 
tidak menguntungkan dan sangat berbahaya. Kematian karena tertutup tanah, 
sering menimpa para gurandil (sebutan untuk penambang liar). Kedua, dari 
aspek legalitas, PETI dikategorikan tidak legal. Ketiga, yang mengecap 
keuntungan ekonomis adalah para cukong, bukan para gurandil. Dan Keempat, 
PETI selalu merusak lingkungan. Penggunaan air raksa dalam penambangan 
emas, misalnya, akan menimbulkan pencemaran, kata Vice President Mining 
Division IAGI ini. 

  Selain kerusakan lingkungan, aktifitas PETI juga menyebabkan raibnya 
sejumlah kekayaan di perut bumi. �Kalimantan Selatan sekarang ini hancur 
karena PETI. Ia susah diberantas. Produksinya mencapai jutaan ton. Apa itu 
nggak gila?� kata S. Koesnaryo kepada OZON. 

Memberantas PETI memang membutuhkan keberanian ekstra dan kelengkapan 
armada yang memadai. Betapa tidak, PETI memiliki kekuatan yang besar dengan 
backing yang kuat. �Ia mempunyai raturan armada dump truck yang 
kapasitasnya sampai puluhan ton. Ia bekerja di depan mata petugas, dengan 
menggunakan koperasi Angkutan Laut, Koperasi POLRI, Koperasi AD bahkan 
Koperasi Kejaksaan,� lanjut Asdep SDA Non Hayati (Energi dan Sumber Daya 
Mineral) Kementerian Percepatan pembangunan Kawasan Timur Indonesia ini. 

Bagaimanapun PETI harus diberantas. Memang pemerintah telah berusaha 
memberantas PETI, tapi, kataKoenaryo, usaha tersebut masih bersifat 
sporadic. Pemerintah dan aparat keamanan pada hari-hari tertentu melakukan 
razia tapi setelah itu diam. Maka, setelah beberapa hari PETI muncul 
kembali dengan tambahan personil baru. 

Pemberantasan PETI membutuhkan keikutsertaan berbagai pihak, seperti 
pertambangan, karena merekalah yang pling dekat dengan aktivitas mereka dan 
(mungkin) paling dirugikan. 

Salah satu contoh yakni usaha yang telah dilakukan Unit Bisnis Pertambangan 
Emas Pongkor. Melalui Sosialisasi Peraturan Daerah kepada masyarakat dan 
para penambang liar, jumlah mereka berkurang secara fantastis. �Dengan 
pendekatan yang lebih aspiratif dan manusiawi, kami berhasil mengurangi 
jumlah PETI yang beroperasi di tambang emas Pongkor dari 8000 mnjadi rausan 
bahkan beroperasi puluhan saja,� jelas Poerwono Widodo, Kepala Community 
development Unit Bisnis Pongkor. 

Menuding PETI sebagai satu-satunya biang kerok kerusakan hutan di Indonesia 
tentunya unfair. Para pengusaha hutan (HPH) dan sector pertambangan 
tentunya telah turut menguras kulit bumi dan segala isinya. Namun, 
bagaimanapun juga PETI harus dikuburkan. Jika tidak, wajah sector 
pertambangan akan terus coreng moreng. 

Sumber : Majalah Ozon Vol 5, No 1 September 2003


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke