Pak Awang, Terimaksih atas informasi berharga ini, saya mendapat teman berdiskusi, memang hanya segelintir geologist Indonesia seperti Pak Awang yang memahami makna penting dari dinamika lapisan-lapisan di bawah kerak bumi. Kalau di LN mempelajari superplume/plume tectonic atau deep interior bumi adalah merupakan profesi yang dapat menghasilkan materi, sedangkan di Indonesia hanya sekedar hobi.
Saya pikir sudah saatnya pendidikan geologi Indonesia tidak seharusnya seluruhnya dikonsentrasikan untuk eksploratif sumber daya mineral/migas, lingkungan atau keteknikan, tetapi diarahkan sedikit untuk pengembangan iptek kebumian (dalam bentuk kuliah elektif atau yang lainnya), jadi lulusan yang dihasilkan akan menjadi geoscientist terbaik Indonesia yang bekerja di pusat riset-riset atau universitas/institute di Luar Negri. Jadi kita tidak hanya mengekspor geologist terbaik kita ke LN (yah kerja di Petronas, Middle east, misalnya), juga mengekspor geoscientist kita ke Amerika, Europa dan Australia, Jepang (ingat polemik Malaysia menculik doktor-doktor terbaik kita). Jangan kalah dgn India, China ataupun Pakistan. Seperti conto, saya pikir sudah saatnya materi kuliah Earth Science di PT tidak hanya berkutat dgn dinamika permuaan kerak bumi, juga dinamika dari lapisan-lapisan bumi lainnya atau malah lapisan atas bumi (biosphere atau atmosphere), jadi pembelajaran ilmu kebumian akan menjadi suatu "Whole Earth System". Kembali ke tulisan Pak Awang, teori demikian memang sudah dikenal lama, termasuk yang paling dipercaya adanya Afar plume di Great African Rift system yang dipercaya menfasilitasi teori "out of africa". juga asal mula kehidupan di yang ditemukan di daerah Archean MOR (3.8 Byr), juga di berhubungan dgn superplume, kenapa di Mars plate tectonic tidak berkembang atau tidak ada kehidupan kisalnya selalu dihubungkan dgn dinamika dari mantle dan core-nya. Salam Ade Kadarusman > Kembali ke mantel Bumi. Katanya, kita tahu lebih banyak tentang extraterrestrial dibanding dengan sedikit saja beberapa km di bawah kerak Bumi. Kita punya peta bintang yang jauhnya jutaan tahun cahaya yang sangat akurat . Sedikit saja ke bawah kerak Bumi, wah, kita masih meraba-raba, apalagi jauh masuk ke astenosfer, upper mantle, lower mantle, outer core dan inner core. Ternyata kita belum mengerti banyak isi Bumi ya...Dan rasanya kondisi seperti ini akan berlangsung lama sebab ahlinya pun sedikit saja di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Padahal, dinamika core dan mantel-lah yang membuat dinamika di permukaan. Apa boleh buat, yang namanya di balik layar memang selalu sepi dari perhatian. > > Sebuah majalah bagus yang terkenal "National Geography" edisi Januari 1996 baru saya peroleh dari pedagang buku bekas di sekitar Kwitang. Dibuka2, wah ada keterangan tentang "superplume", lumayan, lengkap dengan gambar2 khas National Geography yang "breath-taking". Sebuah pernyataan di artikel itu menggelitik pikiran saya. Pemetaan/modelling plume dynamics menyimpulkan bahwa 65 juta tahun yang sebuah hot plume naik dari mantel dan mencapai permukaan. 65 Ma adalah K-T boundary yang terkenal buat punahnya dinosaurus. Ada hubungan dengan gerak superplume ? Mungkin saja. Upwelling plume itu bikin celah2 di kerak dan di situ gnapi2 muncul dalam jumlah besar. Erupsi serentak dalam skala besar menghalangi sinar matahari dan mendinginkan iklim, lalu punahlah dinosaurus yang poikilotermis itu (walau sebagian orang bilang dinosaurus berdarah panas sebab ia bukan reptil tapi burung). > > One more connection. Saya jadi ingat evolusi hominid yang tulang-belulangnya banyak ditemukan di lembah2 sepanjang East African Rift System. Di situ kontinen retak karena ada upwelling plume. Apa hubungannya dengan konsentrasi hominid ada di situ. Apakah suasana panas membuat prolific condition for the emergence of man saat zaman glasiasi Plio-Pleistosen ? > > Lalu saya ingat juga ke sebuah buku berjudul "Life on the Edge" yang bilang bahwa bakteri pembawa kehidupan pertama kali ditemukan di air panas di sepanjang MOR seperti di tengah Atlantic Ocean berupa thermophil organisms, nah, di sini pun ada hot upwelling superplume. > > Masih benang ruwet koneksinya, tetapi siapa tahu memang ada hubungan antara awal dan akhir kehidupan dengan dinamika mantel dan core. Sungguh masih tugas panjang buat para ahli mantel dan core. > > Salam, > Awang - BP Migas > (sekedar cerita dibuang sayang, lebih baik dibagikan) > > > --------------------------------- > Do you Yahoo!? > The New Yahoo! Shopping - with improved product search --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

