Yang, 

Saya pikir yang namanya profesinal boleh-boleh
saja punya sikap militan. Nggak harus kalau udah jadi
militan terus nggak lagi professional. 

Tulisan sampean di bagian pengantar juga mengatakan bahwa profesionalisme
yang mempunyai visi akan berani mengatakan "yang haq adalah haq".
Disini jelas setidaknya ada dua profesionalisme: (1) yang punya visi dan
(2) yang tidak punya visi. Saya lebih cenderung akan mengelompokkan
profesionalisme yang ke-2 inilah yang nggak militan dan kalau jadi
pengamatpun pasti akan jadi "pengamat ngambang". 

Saya juga nggak sependapat kalau sampean bilang "pemikiran analisa
& proposal tandingan" dari pekerja professional (yang tidak idependen)
dikatagorikan sebagai "pemikiran masturbasi" (maaf, pinjem istilah mu)
karena tidak bisa diimplementasikan. Apakah lantas kalau
ide/pemikiran/proposal yang dating dari "professional independent"
akan dikatagorikan sebagai "pemikiran (apa ya?) nggak masturbasi (beneran
kali)", toh juga belum tentu bisa diimplementasikan. Karena tahap
implementasi jelas akan bersinggungan dengan dunia (professional lain
termasuk para politikus dan bisnis-man). Tapi pemikiran/ide tetap saja
valid selama ditunjang argumen yang jelas.

Orang-orang macem herry maupun pram saya kira juga seorang professional
dalam bidangnya sekarang. Label yang mereka sandang sekarang kita sebut
politikus, tapi mereka juga politikus yang professional (minimal untuk era
sekarang ini). 

Kalau bicara "peran professional yang minim dalam gerak reformasi" ini jelas
masalah yang lebih ruwet lagi. Sampean sendiri tau kalau dinegeri sono para
senator maupun rep.yang berada di parlemen mempunyai staff professional di
komisinya masing-masing. Walaupun yang ngomong itu para kongres-man tapi
ide/analisa/pemikirannya datang dari para professional (tapi yang top tetep
saja yang ngomong)sedangkan "peran professional" dibelakangnya nggak
terekspose besar-besaran dan kesannya juga minim.

Nah kondisi di Negara kita (dimana lapangan seperti Banyu Urip tetap harus
dikerjasamakan lagi) kan belum begitu. So, kasih tau juga ke kawan lama
sampean di kanada untuk nggak terus "prihatin terlalu dalam", tapi
"berbuatlah walaupun sedikit dan sekarang" (kata aa gym); nggak usah pusing
mikirin besar-kecilnya peran professional, "tapi berperanlah"; nggak usah
nunggu jadi militan, independen, banyak duit, "untuk bisa berbuat".

Begitu friend, menurut ane.

Selamat berpuasa dan sebentar lagi lebaran bagi yang merayakan.

Tabik,

alam














-----Original Message-----
From: ANDANG BACHTIAR [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Sunday, November 16, 2003 9:42 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] IAGI: militansi, prioritas, dan logistik

IAGI: militansi, prioritas, dan logistik

Andang Bachtiar (Ketua Umum IAGI)


Kawan lama saya dari Kanada meng-cc-kan ke saya emailnya yang sedang
mendiskusikan tentang kasus Banyu-Urip Cepu TAC Block, dimana terjadi
keprihatinan yang mendalam di beberapa kalangan rekan-rekan Indonesia
professional migas di luar negeri bahwa ternyata -kembali- Cepu Block
di"kerjasamakan" dengan pihak asing, padahal banyak yang merasa bahwa
"Indonesia" pun sebenarnya mampu menanganinya sendiri; apalagi diketahui
bahwa cadangan minyak disitu adalah lebih dari 300 MMBO, sehingga tergolong
sebagai "giant field". Untuk mengkaitkan saya dengan topik pembicaraan,
kawan tersebut mempertanyakan: bagaimana suara (Ketua) IAGI dalam masalah
ini? Selanjutnya dia juga mempertanyakan, mengapa tidak muncul analisa dan
proposal tandingan dari kelompok profesional seperti IAGI, HAGI, IATMI,
Ikatan2 Alumni dan sebagainya? Semua yang dia hubungi selalu bilang: "Kita
(INDONESIA) mampu." Tapi tidak ada proposal tandingan yang bisa diolah oleh
Pertamina, DPR, media, kelompok profesional, dll. Profesionalisme yang
mempunyai visi adalah mengatakan, "apa yang haq adalah haq" dan mencoba
mewujudkannya dalam gelanggang profesional. Kalau kita bicara sebagai
profesional, lalu bikin jumpa pers tandingan, minta ketemu anggota parlemen,
dll, ini dampaknya akan luar biasa. Apalagi kalau data dari Pertamina cukup
lengkap. Kawan tersebut juga menambahkan bahwa: peranan kaum profesional dan
kelompok profesional selama reformasi di Indonesia sangat minim. Di banyak
negara lain kaum profesional dan kelompok profesional itu bagian penting
sekali dalam perumusan kebijakan. Kebijakan enerji alternatif itu tidak bisa
disusun oleh 2 juta orang di lapangan. Hanya kaum profesional di bidang itu
yang bisa. Begitu juga kebijakan pendidikan, lingkungan, industri,
perbankan, hukum, pertambangan, dsb. Di AS, Kanada, Eropa Barat kelompok
profesional itu, selain sebagai perumus dan pemantau kebijakan, punya
beberapa fungsi lain, seperti: pool of talent. Kelompok profesional itu
menjadi semacam gelanggang pertarungan ide-ide. Dari gelanggang itu parpol,
anggota parlemen, dsb, mencari
bakat-bakat untuk mengembangkan ide-ide dalam parpolnya.

Lepas dari masalah pro&kontra soal  Banyu Urip yang dikerjasamakan lagi,
saya menjawab kawan tersebut justru dengan menekankan pada kenapa tidak ada
analisa & proposal tandingan dari kelompok profesional (baca: IAGI) dan
lebih jauh lagi: kenapa peran kelompok profesional (baca: IAGI) dalam gerak
reformasi di Indonesia saat ini sangat minim. Menurut saya, permasalahan
dasarnya ada pada 3 kata kunci: militansi, skala prioritas, dan logistik

1.1. Kaum dan kelompok profesional terlahir untuk tidak jadi militan. Kalau
mereka jadi militan, mereka tidak akan lagi profesional. Padahal militansi
itulah yang diperlukan untuk bisa proaktif membuat analisa & proposal
tandingan dan menyebarkannya dan sekaligus mengimplementasikannya. Dengan
militansi, kaum atau kelompok yang semula profesional akan mencabutkan
dirinya dari akar kesetiaan pada profesionalisme-nya dan mulai berpindah,
melompat atau bergeser pada substrat yang lebih luas bernama a.l.: ideologi,
nasionalisme, agama, dan bahkan bisnis. Dibutuhkan makelar-makelar yang
bernama politisi, aktifis LSM, anggota DPR, konglomerat atau bahkan seorang
menteri untuk menggugah kaum/kelompok profesional memberikan analisa &
proposal tandingan-nya itu. Ketika saya beri muatan bisnis, nasionalisme
atau bahkan ideologi pada Ikatan Ahli Geologi Indonesia, maka saya sudah
tidak berpijak pada tataran profesional lagi. Makanya saya tidak memakai
atribut IAGI ketika saya banyak bergerak diluaran sebagai penasehat ahli
bupati-bupati penghasil MIGAS (FKDPM) atau apalagi ketika mencari nafkah
(bisnis) sebagai penasehat ahli eksplorasi di beberapa perusahaan
perminyakan dan pertambangan. Kaum profesional yang "profesi"nya sebagai
pengamat perminyakan, pengamat ekonomi perminyakan, pengamat eksplorasi,
ataupun pengamat-pengamat yang lain memang tidak harus jadi militan untuk
bisa memberikan analisa dan proposal tandingan. Dengan mudahnya mereka akan
melakukannya, karena memang pekerjaannya adalah mengamati, mengajarkan,
berteori, tapi tidak mengerjakan. Tetapi sayangnya, sebagian besar dari
anggota kelompok/paguyuban profesional (termasuk juga IAGI) bukanlah
pengamat. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja profesional, yang punya
majikan ataupun bohir, yang membuat mereka menjadi sangat tidak independen.
Kalaupun mereka mempunyai pemikiran analisa & proposal tandingan (seperti
yang kawan saya katakan: semua yang dia kenal bilang: "kita mampu"), itupun
saya kategorikan sebagai "pemikiran (maaf) masturbasi" (meminjam istilah di
kampus dulu), karena mereka tidak akan pernah bisa mengimplementasikannya
selama mereka berpegang teguh pada asas profesionalismenya. Kalau mereka
serius dan mau militan, harusnya mereka keluar dari status pekerjaan resmi
mereka sekarang dan meneriakkan analisa & proposal tandingan tsb dalam
kapasitas profesionalisme pribadi (ataupun kelompok baru yang mereka bentuk)
yang lebih berorientasi pada substrat lebih luas yang sebutkan tadi (bisnis,
partai, kelompok politik, LSM, dsbnya). Terus ada pertanyaan: bukankah
teman-teman yang melontarkan ide-ide analisa & proposal tandingan dalam
diskusi-diskusi kawan tsb bisa juga memakai status pengamat, kemudian
memformal-kan hasil pengamatannya tersebut dalam lembaga kelompok
profesional macam IAGI?? No way, tidak mungkinlah itu terjadi. Karena apa?
Sekali lagi saya tegaskan, bahwa kalaupun mereka jadi pengamat, status
ke-pengamat-annyapun adalah "ngambang" (seperti istilah kawan saya aussie
dulu waktu rapat di GEA untuk mogok: bahwa sebagian besar dari kita adalah
"..... ngambang"). Pengamatan gadungan, alias ngomong gak bayar, alias gak
punya resiko, sehingga mereka bisa ngomong sampai menyundul langit tapi
tidak punya kewajiban untuk mengimplementasikan apa yang diomongkan: sama
saja bohong!! Bagaimana mungkin IAGI menanggung beban "nama", "kesan
politik", "lawan-kawan" dsbnya karena memformulasikan ide analisa & proposal
tandingan tersebut, sementara para anggotanya tidak punya komitmen untuk
melaksanakan apa yang mereka omongkan (karena mereka terikat pada status
pekerjaannya dimasing-masing perusahaan atau lembaga). Lha wong bayar iuran
saja baru maksimum 20% dari keseluruhan anggota yang "mau" membayar.

1.2. Nah, dengan diantar oleh masalah iuran itu pula saya masuk ke masalah
skala prioritas. Untuk organisasi profesi yang disebutkan kawan saya sebagai
"kelompok" profesional semacam IAGI (HAGI, IATMI, PERHAPI, Ikatan ALumni
dsb), skala prioritas & lapangan bermain (playing field) nya sangat beragam,
tergantung dari elan kepemimpinan dan semangat generasinya. Kalau anda mau
tanya: kenapa tidak tergantung AD/ART-nya saja? Wah,.. hampir keseluruhan
organisasi profesi yang didirikan jaman orde lama - orde baru itu punya
AD/ART yang hampir seragam. Tujuannya juga hampir seragam: pokoknya harus
ada pembangunan nasional-nya lah. Jadi, tergantung siapa yang jadi sopir
organisasi itu saja: prioritas apa yang dikerjakan dan lapangan bermain
(playing-field) mana yang disentuh. Ada organisasi yang berkecimpung di
tataran kebijakan, terus menerus memasok input ke pemerintah, selalu bicara
tentang policy nasional, ada juga organisasi yang lebih mementingkan
konsolidasi, partisipasi, peningkatan bargaining profesionalisme lewat
pendidikan keahlian extra-perusahaan, dan sosialisasi profesi. IAGI dibawah
kemudi saya lebih saya arahkan ke yang kedua, karena saya melihat tanpa
partisipasi aktif, keterlibatan aktif, dan dukungan kuat aspirasi dari
bawah, apa yang kita omongkan di atas berupa input policy dsbnya, akan
menjadi tak bergema, sia-sia. Untuk itulah, maka tidak terlalu banyak IAGI
membuat press release yang berhubungan dengan masalah-masalah geo-politics
di Indonesia seperti (mungkin) pada jaman kepengurusan sebelum saya. Tetapi
secara terus menerus, saya arahkan PP-IAGI untuk membuat dan mengirimkan
masukan-masukan tertulis (yang tidak bombastis dan tidak jadi press-release)
ke BP-MIGAS, ke Ditjen Migas, ke DPR, ke Menteri ESDM, dan pihak-pihak
terkait lainnya tentang berbagai macam hal. IAGI 3 tahun kemarin dan masih
akan 2 tahun kedepan,.... lebih banyak bikin sosialisasi geologi ke
masyarakat, penyuluhan ttg bencana geologi, pendidikan untuk lsm-lsm, kursus
& field trip buat anggota, guest lecturing, peningkatan kemampuan penulisan
paper & presentasi, pembenahan sandi stratigrafi, dsb, dsb,... yang jauh
dari kesan populis, bombastis dan layak press-release. Memang prioritasnya
masih disitu dulu. Lha wong ngerjain itu semua aja sudah jungkir balik dan
perlu akrobat, je..... Karena sebenarnya menjalankan organisasi seperti IAGI
di Indonesia ini hampir sama dengan menjalankan himpunan mahasiswa jaman
dulu: tidak dibayar, pengabdian, siap untuk diludahi, siap muka badak, siap
kerja sendiri, siap kesepian. Mungkin ada kelompok profesional lain yang
jauh lebih politis dari IAGI (Perhapi, ISEI, dll), tapi saya yakin dibalik
suara mereka yang keras didunia luar; ikatan didalam, komitmen, aspirasi
anggota, dsbnya sangat lemah. Lama-lama juga anggota akan tahu bahwa
sebenarnya suara yang dibawakan pimpinannya itu adalah suara pimpinannya
sendiri, bukan suara anggota. Karena apa? Karena pimpinannyalah yang
membiayai organisasi, karena memang anggotanya tidak peduli, tidak komit
untuk menghidupkan organisasi. Jadi sang pemimpin merasa berhak untuk
menggunakan kendaraan organisasi melontarkan ide-ide "politis"nya, karena
toch, dia sudah berkorban banyak  untuk organisasinya. Di IAGI, saya tidak
mau terjadi seperti itu.

1.3. Masalah logistik sangat erat hubungannya dengan militansi dan skala
prioritas diatas. Logistik kaum dan kelompok profesional ada ditangan para
pemodal dan pemegang kekuasaan. Selama mereka tidak bergandengan tangan
dengan 2 kelompok tersebut, logistik mereka tidak akan pernah bisa cukup
terpenuhi. Ketika logistik untuk pemenuhan hidup layak kelas menengah tidak
terpenuhi; terlupalah soal militansi, naiklah prioritas perut dan gengsi
menjadi prioritas nomer satu. Apakah ada kaum atau kelompok profesional yang
bisa memenuhi logistiknya sendiri sampai dia berhasil sukses dalam
bisnis/politik? Banyak!! Tetapi ketika mereka sudah bisa memenuhi
logistiknya sendiri, maka dia sudah berubah status menjadi pemodal atau
pemegang kekuasaan. Panigoro, Pramono Anung, Heri Akhmadi adalah contoh
kaum profesional yang tidak lagi profesional karena mereka sudah jadi
bisnisman dan atau politisi.Mereka bisa jadi sangat militan, tapi untuk
kepentingan bisnis dan atau politik. Karena apa? Karena mereka sudah
melewati batas ambang pemenuhan kebutuhan logistiknya; walaupun sebenarnya
tidak ada namanya nilai mutlak batas ambang tersebut (karena semakin mereka
meningkat, semakin tipis beda antara puas-cukup / tidakpuas-kurang).


Bandung, 16 Nopember 2003


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke