Apakah juga terjadi pada masa lampau ? Tentu terjadi, hanya arah perjalanan arus akan sangat dipengaruhi oleh paleotektonik saat itu. Kita bicara saja masa pra-Tersier, saat belum ada Selat Makassar, saat Sulawesi Barat masih bersitu dengan Kalimantan Selatan-Timur, saat belum ada Nusa Tenggara, saat belum ada Kepulauan Maluku, maka arus dari Samudra Pasifik tidak perlu melalui celah-celah selat sempit di antara pulau-pulau yang terserak sekarang di Indonesia Timur. Semua fluida bergerak termasuk barang cair seperti air laut. Rapat massa air laut di Laut Sulawesi yang dalam mungkin lebih tinggi daripada air laut di perairan Selat Makassar dan Flores, maka mengalirlah dari Laut Sulawesi ke Laut Flores via Selat Makassar. Kalau kejadiannya sekarang, kalau kita anggap bahwa Makassar Strait telah terbentuk sejak Sulawesi Barat drifted ke timur oleh rifting Makassar Strait sepanjang Paleogen, maka arus dari Laut Sulawesi itu justru akan menyerakkan sedimen turbidit yang disuplai oleh Delta Mahakam. Di satu pihak Delta Mahakam mendeposisikan sedimen turbidit yang progradasi ke timur, maka arus dari Laut Sulawesi/Pasifik akan menyerakkannya ke selatan dan dire-deposisi di Lombok Deep, siapa tahu. Hal yang sama terjadi oleh sungai purba Laut Jawa (yang kerap disebut Molengraaf paleo-rivers), yang membawa deposit dari sungai2 di seluruh Jawa, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Selatan, lalu mengarah ke timur dan sungai utama purba membelok di sekitar Kangean, lalu membuang lumpur besar2-an di selatan Kangean dan sekitarnya. Kalau kita bisa memetakan arah sungai purba, arah arus laut purba, mungkin kita bisa mencari di mana sedimen diendapkan. Tentu ini tak akan lepas dari paleotektonik, paleo-provenance, paleo-geography. Riset sedimentasi dan arus Arlindo di perairan Makassar pernah beberapa kali muncul di PIT IAGI beberapa tahun belakangan ini dari teman2 PPGL dan LON. Salam, Awang
[EMAIL PROTECTED] wrote: Apakah arus-arus laut ini membawa sedimen klastik mengisi laut dalam ? Apakah juga terjadi dimasa lampau ? == start quote Di saat kondisi normal, laju Arlindo bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia, dengan volume massa air rata-rata sekitar 10,5 juta meter kubik per detik. Massa air laut tadi bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia melewati selat-selat di perairan Nusantara end quote == RDP http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0402/10/humaniora/840925.htm Selasa, 10 Februari 2004 Arus Lintas Indonesia yang Multipengaruh Indroyono Soesilo Arus laut di perairan Indonesia sangat dinamis. Hasil pantauan satelit, yang diverifikasi lewat pengukuran oseanografis di laut, ternyata memperlihatkan pola arus laut yang bergerak dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia melewati selat-selat di perairan Nusantara kita ini. Pergerakan arus lintas Indonesia, dikenal sebagai Arlindo, mempengaruhi perubahan iklim global, memicu kehadiran variabilitas iklim ekstrem, seperti El Nino dan La Nina, serta berdampak pada kondisi pertanian, perikanan, dan kebakaran hutan. Pada Oktober 2003, ahli-ahli oseanografi dunia berkumpul di Denpasar, Bali, guna membahas Arlindo serta kaitannya terhadap interaksi laut-atmosfer. Para ahli sepakat untuk lebih menggencarkan kegiatan pemantauan laut di perairan Indonesia, sebagai kelanjutan kegiatan pemantauan Laut Pasifik di sepanjang khatulistiwa. Apalagi, bila mengacu pada keputusan KTT-Bumi di Johannesburg, Afrika Selatan, pada September 2002, Sistem Pemantauan Laut Global (Global Ocean Observing System/GOOS) harus dibangun dan dikembangkan. Ini menyangkut kelangsungan Planet Bumi beserta seluruh makhluk hidup di dalamnya. Kemampuan memantau laut secara terus-menerus memungkinkan diprediksinya kehadiran bencana El Nino dan La Nina secara lebih awal. Menurut Kepala Badan Atmosfer dan Kelautan Amerika Serikat (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) Laksamana Conrad Lautenbacher, kemampuan memprediksi kehadiran El Nino dan La Nina bisa menyelamatkan kerugian sampai 500 juta dollar AS untuk wilayah Pasifik saja. Angka itu bukan main-main. Data Bappenas Tahun 1999 memperlihatkan bahwa bencana El Nino yang terjadi di Indonesia pada 1997-1998 mengakibatkan kerugian sebesar Rp 9,5 triliun, termasuk gagal panen, kebakaran hutan, meningkatnya penderita penyakit pernapasan (ISPA), dan terpuruknya industri pariwisata. Bahkan, asap akibat kebakaran hutan sudah menyebar sampai ke negara tetangga sehingga mengganggu operasi transportasi darat, laut, dan udara. Belum lagi keanekaragaman hayati di darat dan di laut, utamanya terumbu karang yang juga hancur. Guna menekan dampak bencana iklim ekstrem sampai seminimal mungkin tadi, pemantauan laut di wilayah perairan Indonesia menjadi sangat penting. Inti dari pergerakan, sirkulasi, dan stratifikasi massa air laut di perairan Indonesia ini ternyata bersumber di wilayah Laut Banda. Laut Banda juga berperan sebagai sumber dan wahana tempat bercampurnya massa air dari Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, serta mengontrol massa air yang masuk dari Samudra Pasifik serta massa air yang keluar ke Samudra Hindia. Kesemuanya ini berdampak pada perubahan iklim global. Di saat kondisi normal, laju Arlindo bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia, dengan volume massa air rata-rata sekitar 10,5 juta meter kubik per detik. Massa air laut tadi bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia melewati selat-selat di perairan Nusantara kita. Alat pantau dipasang di selat-selat Indonesia guna mengetahui kecepatan arus massa air dan besaran volumenya. Hasil pantauan pelampung memperlihatkan bahwa massa Arlindo yang melewati Selat Makassar mencapai 9 juta meter kubik per detiknya (Gambar). Massa air kemudian bergerak ke Selatan, menuju Selat Lombok. Namun, ternyata tidak semua massa air bisa langsung menerobos Selat Lombok yang sempit itu. Hanya 1,7 juta meter kubik per detik massa air dari Selat Makassar yang bisa langsung lewat. Sisanya, sebesar 7,3 juta meter kubik per detik, harus berbelok dahulu ke Timur, ke arah Laut Banda. Di sini massa air laut tadi bercampur lagi dengan massa air Samudra Pasifik yang tiba di Laut Banda lewat Laut Halmahera dan Laut Flores. Seusai berputar putar di Laut Banda, massa air tadi melanjutkan perjalanan melewati Laut Flores dan Laut Timor menuju Samudra Hindia. Total ada 4,5 juta meter kubik per detik massa air yang melewati Laut Flores, sedang 4,3 juta meter kubik per detik sisanya melewati Laut Timor. Itu tadi saat kondisi normal. Kala El Nino terjadi, pergerakan sebagian dari massa air tadi berbalik arah dari wilayah perairan Indonesia menuju Samudra Pasifik. Saat itu, terjadi penurunan volume massa air yang bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia. Kosongnya massa air di wilayah perairan Indonesia tadi kemudian mendorong munculnya up welling, atau naiknya massa air dari bawah permukaan ke atas permukaan, yang juga kaya nutrien. Oleh sebab itu, saat El Nino, justru banyak khlorofil di perairan Indonesia, utamanya di wilayah Barat Sumatera dan Selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Gambar). El Nino memang bisa mengakibatkan gagal panen, kekeringan, serta kebakaran hutan. Namun, El Nino di perairan Indonesia justru meningkatkan jumlah khlorofil dan jumlah wilayah up welling. Ini bisa berarti, saat El Nino Indonesia justru panen ikan. "Sengsara Membawa Nikmat". Program pemantauan laut Indonesia semakin digencarkan agar kita mampu memprediksi kehadiran El Nino dan La Nina untuk 12 bulan sampai 24 bulan ke depan. Ini penting karena menyangkut gagal panen atau panen raya, perlu atau tidak impor beras, kekeringan atau kebanjiran, menyangkut kebakaran hutan dan sebaran asap yang bisa meningkatkan penyakit pernapasan, serta mengganggu negara tetangga. Pada 17 Desember 2003 mendatang, bersamaan dengan Peringatan Hari Nusantara 2003, dua kapal riset Indonesia, yaitu Baruna Jaya III-BPPT dan Baruna Jaya VIII-LIPI, memulai Ekspedisi INSTANT (International Nusantara Stratification and Transport). Ekspedisi yang diikuti oleh ahli-ahli kelautan dari Indonesia, Australia, Perancis, Belanda, dan Amerika Serikat ini akan memantau pergerakan Arlindo di wilayah Selat Makassar, Laut Banda, Laut Flores, dan Laut Timor, sekaligus pula memasang alat-alat pantau di beberapa lokasi perairan Nusantara. Harapannya tentu bahwa kemunculan El Nino dan La Nina sudah bisa diprediksi seawal mungkin. Ekspedisi INSTANT juga akan dimanfaatkan sebagai wahana pengembangan sumber daya manusia ahli-ahli oseanografi Indonesia agar suatu saat bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan ahli-ahli kaliber dunia di bidang ini. Indroyono Soesilo Peneliti di Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP), Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) --------------------------------- Do you Yahoo!? Get better spam protection with Yahoo! Mail

