Terima kasih Pak Zaim atas informasinya. Semoga pembentukan PSPAT dapat lebih 
menggiatkan penelitian kepurbakalaan di Indonesia pada khususnya dan pembubaran serta 
penggantian lembaga Arkenas tidak malah membuat penelitian2 kepurbakalaan di Indonesia 
seperti anak2 ayam kehilangan induknya karena tidak jarang terjadi bahwa penggantian 
lembaga-lembaga di pemerintahan malahan berefek negatif. Dukungan Lembaga Biologi 
Molekuler Eijkman Pak Sangkot Marzuki ke Deputi Arkeologi tentu sangat menggembirakan, 
mari kita lihat kiprahnya. Siapa tahu paleo-gen  fosil2 hominid Indonesia bisa 
diekstraksi dan dipelajari. 
 
Sudah saatnya Indonesia yang terkenal di dunia dengan penemuan2 hominidnya lebih 
serius menggarap bidang ini dan mengumumkan penemuan2nya ke dunia, tidak kalah dengan 
generasi/lembaga Leakey di Kenya sana. Efek publikasi sangat mempengaruhi pendapat 
orang. Kalau konsep "out of Africa" lebih banyak diterima orang, mungkin itu karena 
banyak didukung publikasi yang membanjiri jurnal2 arkeologi dan sains populer. Hampir 
semua paleo-antropologist senior maupun junior pergi ke East African Rift Valley itu, 
sehingga makin kuatlah konsep "out of Africa" (ekspedisinya banyak dilaporkan di 
jurnal Nature atau National Geographic). Padahal, konsep "multi-regional" belum tentu 
salah kan, hanya jelas kalah dalam publikasi. Dari Pacitan-Sangiran-ke-Perning 
barangkali bisa kontribusi ke konsep multi-regional, siapa tahu ?
 
Selamat berpresentasi temuan fosil Stegodon van Sumedang Pak Zaim, ini salah satu juga 
usaha bicara ke dunia tentang sains di Indonesia.
 
Salam,
Awang

zaim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kemarin saya diundang LIPI bersama pakar2 lainnya (30 orang yang diundang)
meresmikan pembentukan Pusat Studi Prasejarah Asia Tenggara - PSPAT(Centre
for Southeast Asian Prehistoric Studies -CSAPS), suatu lembaga pusat
penelitian nirlaba, tidak secara langsung di bawah LIPI namun mendapat
"restu" dari LIPI.
Penggagas PSPAT (CSAPS) tersebut adalah Dr. Hary Truman Simanjuntak dari
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (lembaga ini sebulan yang lalu secara
resmi telah dibubarkan oleh Presiden, diganti dengan nama Asisten Deputi
Bidang Arkeologi, DepBudPar) dengan dukungan Prof.Dr. Sangkot Marzuki
(Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman).
Jadi memang benar apa yang dikatakan Pak Awang, bahwa biologi molekuler
(antara lain DNA) sangat berperan dalam penelitian dan pengembangan
paleoantropologi dan yang terkait, hal ini juga sudah lama menjadi bagian
dari metode penelitian paleoantropologi di Indonesia.


Wassalam,

Yahdi Zaim




---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Finance Tax Center - File online. File on time.

Kirim email ke