PII-MICA tingkatkan kualitas ahli tambang

Badan Kejuruan Tambang-Persatuan Insinyur Indonesia (BKT-PII) menggandeng 
Mineral Industry Consultants Association Inc (MICA), Australia untuk 
meningkatkan akreditasi tenaga ahli tambang nasional agar mampu bersaing 
dalam industri tambang internasional. 

Ketua Bidang Hubungan Industri Energi dan Tambang BKT-PII, Herman Afif 
Kusomo, seperti dikutip dari harian Bisnis Indonesia, mengatakan kerja sama 
dengan asosiasi asal Australia itu akan mampu mendorong tingkat kompetensi 
dan keahlian para insinyur Indonesia dalam profesi ahli tambang. 

"Kerja sama ini untuk mengembangkan sebuah sistem registrasi transnasional 
di antara kedua negara untuk insinyur profesional pertambangan agar 
mobilitas insinyur kedua negara dapat ditingkatkan," katanya di dampingi 
Antony H. Osman, (Direktur MICA), dan Carlos Sorentino, Chairperson MICA. 

Hal itu dikemukakannya sebelum acara penandatanganan naskah kerja sama 
(memorandum of understanding/ MoU) oleh kedua organisasi itu di Jakarta 
14/4. 

MICA, adalah asosiasi konsultan industri tambang terkemuka dari Australia 
yang reputasinya sudah diakui di industri tambang dunia. Sementara selama 
ini akreditasi dan kompetensi insinyur tambang nasional masih belum 
sepenuhnya diakui oleh industri tambang dunia. 

Hal itu, lanjutnya, menyebabkan para ahli tambang Indonesia belum bisa 
terlalu banyak terlibat dalam tambang-tambang besar dunia. Bahkan, dalam 
kegiatan tambang nasional pun ahli tambang Indonesia belum bisa mendapatkan 
setiap posisi yang layak untuk didudukinya. Untuk itu, dengan menggandeng 
MICA diharapkan ada skala peningkatan dari akreditasi dan keahlian para 
insinyur tambang nasional. 

Tujuan akhir dari kerja sama yang dilakukan BKT-PII, jelasnya, adalah 
memberikan peluang kepada ahli tambang nasional untuk mendapatkan posisi 
lebih baik dalam industri tambang nasional dan internasional. 

Insinyur tambang nasional diharapkan bisa mendapatkan manfaat besar dari 
industri tambang yang beraktivitas di Indonesia. "Bayangkan untuk migas 
saja kita memiliki nilai kegiatan operasi itu mencapai US$5 miliar per 
tahun," katanya. Belum lagi, peluang keprofesian tambang di Timur Tengah 
yang sangat banyak seharusnya memberikan kesempatan besar bagi sumber daya 
manusia nasional. 

Sementara itu, Carlos mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menciptakan 
kesetaraan antara akreditasi dan keahlian profesi tambang insinyur 
Indonesia dan Australia. 

Indonesia punya peluang cukup besar untuk menjadikan industri tambang 
sebagai bagian terpenting dalam pengembangan ekonominya seperti negara 
lainnya yang telah melakukan hal yang sama.*




---

---------------------------------------------------------------------

To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/

IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi



Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id

Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])

Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])

Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])

Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])

Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])

---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke