From: Prasiddha Hestu Narendra sekedar 25 perak jadi 10ribu perak..masalahnya sopo sing arep tuku
alias sapa yg mau beli? paling2 sekedar mahasiswa yg dateng.....dan
=====

Create your market !!

Paradigma menjual sesuai dengan permintaan pasar itu cara tradisionil untuk menjual barang atau jasa. Namun cara moderen sekarang adalah menciptakan pasar ... create your market !!.

Kalo masih inget cerita lama tentang surveynya pabrik sepatu yg survey di Afrika ... Ya critanya bagaimana sebuah survey perusahaan sepatu untuk melihat pasar di Afrika. Yang ditemukan tidak ada orang yg bersepatu di afrika, tetapi rekomendasi bisa dua macam ... Jangan membuat pabrik sepatu wong ngga ada yg bersepatu. Atau membuat sepatu mumpung belum ada yg bersepatu ... Yang pertama - save money not to build factory, yang satunya perlu usaha keras memperkenakan sepatu ke wong Afrika (an oportunity required effort to make them realy need shoes).

Nah gimana menciptakan orang-orang supaya membeli batu "berharga" ini ? .... Teach them !! ....Kalau bahasanya IAGI ya 'sosialisasi geologi' :) Dalam hal jual batu ini ada dua aspek yg mau dijual, satu keindahan batu (batu mulia) yg kedua adalah nilai informasi geologi yg "njlegur" soal batu ini, misalnya umur yg JUTAAN TAHUN, cing!, juga kaitan dengan interest secara umum (Dinosaurus punah, gunung api, gempa dll).

Jadi ada aspek "informasi" yg mesti kita jual juga bersamaan dengan "batu", nah disini yg memerlukan usaha intelektual geology. Kalau nilainya secara ilmiah dapat disertifikasi tentunya harganya jauh lebih mahal. Di toko Kinokuniya (toko buku Jepang) kebetulan ada cabangnya yg segedung sama aku, ada pojok yang menjual batu-batuan fosil, mineral dll yang "berserfikat !", lah kalo yang ini harganya bisa ratusan ribu, terutama fosil2nya. Padahal kalau aku lihat beberapa fosil itu sudah dikenal hampir semua geologist lulusan "jawa" soale cuman "watu duwit" yang berserakan di mBayat sana, tetapi sudah dipotong (diasah tengahnya/ dibelah). Diberi sertifikat trus diberi diskripsi singkat. Jadi yg menjadikan harganya naik nilai sertifikat dan informasi sederhana itu.

Kalau orang jepang emang lain lagi soal seni batu ini atau yg disebut suiseki, ini menjual batu yg mempunyai keindahan alami. Namun yg menarik (ini crita penjualnya), biasanya orang jepang suka isi cerita (dongeng) dibalik batu2an suiseki yg dijual ini. Bahkan critanya bisa lucu-lucu, ada yg bilang begini ... " Nah ini 'sendang' (bilik mandi) sang putri ... nah kalau ini gua kecil yg jadi rumahnya ketika diusir dari kerajaan karena menolak dikawinkan dengan putra mahkota yg jahat ... dst dst.... akhirnya Sang Putri ini bertemu dengan pemuda tampan bernama Ro Vi Cky ... upst !"

Betul, itu perlu tambahan "usaha" untuk menjual nilai intelektual, selain menjual keindahan, serta sifat mistik atau kalo perlu ditambah klenik di batu 'glundungan' itu ... :)

Salam
RDP
"its easy to say, but hard to do"

_________________________________________________________________
The new MSN 8: smart spam protection and 2 months FREE* http://join.msn.com/?page=features/junkmail



---------------------------------------------------------------------

To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/

IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi



Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id

Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])

Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])

Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])

Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])

Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])

---------------------------------------------------------------------



Kirim email ke