System 5 or 7 thn masa explorasi yang diterapkan di Malaysia cukup bagus 
untuk disimak yang berwenang di Migas, tapi yang juga harus diingat 
sebenarnya pada system PSC kita, dalam masa explorasi 6 + 4 thn ada 
kewajiban relinquishment 25% diakhir thn ke tiga, 25% lagi diakhir thn ke 
6 dan diakhir thn ke 10, daerah yang di hold tidak lebih dari 20% (can be 
more if + producing field). Jadi tidak sepenuhnya benar seluruh wilayah 
kerja PSC di "kangkangi" selama 20-30thn. Tapi saya sependapat bahwa 
system 5 thn MY lebih baik buat pemerintah ("turn -over" nya lebih cepat 
kan).

D.Rusdianto




"Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
29/06/2004 04:32 PM
Please respond to iagi-net

 
        To:     [EMAIL PROTECTED]
        cc: 
        Subject:        RE: [iagi-net-l] Fwd: Sejumlah Investor Incar Tiga Blok Migas



>
 (hapus)

Di Malaysia sini daerah yg dieksplorasi hanya diberi waktu selama 5 tahun 
dengan kemungkinan perpanjangan 2 tahun saja. Kalau engga mau eksplorasi 
lagi maka daerah yg produktif (diatas producing field saja) yg boleh 
dipelihara, namun sisa daerah lainnya itu dikembalikan semuanya pada tahun 

ke 5 atau tahun ke 7. Jadi tidak ada kumpeni yg "hold" lisensi dan 
memegang 
erat sebuah daerah yg luas untuk masa 20 tahun. Coba bayangkan berapa 
ribuan 
KMsq daerah non productive yg (maaf) "ditelantarakan" sama sbuah producing 

PSC, padahal daerah itu bukan diatas producing Field. Disini hampir semua 
daerah terpotong-potong menjadi "producing field area" yg kecil-kecil 
saja. 
Namun daerah opennya cukup luas utk "bermain-main".
Jadi kalau anda tengok petanya IHS Energy yg ada lisence expired di daerah 

itu tertulis angka yg sebentar lagi (less than 5 years) akan berubah.

Kalau aku tengok di peta lisensi Indonesia, maka yg operasi di NW jawa ya 
cuman ARCO(BP) itu sudah sejak jaman rekiplik. Di Central deep Sumatra ya 
cuman Caltex. Di Mahakam delta ya cuman itu-itu saja operator 
perusahaannya 
...Semua operator ini "ngangkangi" daerah suangat luass .... Padahal kalau 

ada kumpeni lain yg mau masuk daerah "setengah mati" ini tentunya akan 
dengan senang hati mengobok2 daerah ini dengan "fresh mind".

Jadi mnurut aku split boleh-boleh saja "disesuaikan". tetapi exploration 
activity mesti di"push and push". Lah wong sakjane producing operator di 
Indonesia ini ya ndak mau kok mengekplorasi lagi, wong dari producing 
field 
ini saja sudah bisa hidup. Sebenernya operator ini ngga rugi kalau 
mengembalikan ke Pertamina (eh skrg Migas ya :), yang rugi ya host 
countrynya Indonesia karena kehiilangan potensi (waktu) utk menunggu agar 
dieksplorasi lagi hingga lisensinya habis 20 tahun lagi. Tentunya mereka 
(operator2 ini) ngga mau mengembalikan daerah terakhirnya hingga akhir 
hayat 
... :(

Kalau lihat di scout check .... aku masih gemes kalo inget daerah2 yg 
sahohah itu jadi "lahan tidur" aja ... :(

RDP

_________________________________________________________________
Watch the online reality show Mixed Messages with a friend and enter to 
win 
a trip to NY 
http://www.msnmessenger-download.click-url.com/go/onm00200497ave/direct/01/


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan 
Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau 
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------



Kirim email ke