pak awang -
menarik sekali, boleh bagi paper/mapnya?
sebagai layman, rasanya kok lebih mudah dianggap bahwa jawatengah adalah
graben yang diapit oleh jabar dan jatim sebagai tinggiannya. major normal
fault yang mengapitnya, kalau saya lebih cenderung kurang slanted, tetapi
lebih N-S. ini secara global morfologi. graben jateng yang besar itu
ternyata dipecah2 lagi jadi beberapa graben/low, notably yogyakarta.
struktur sesar N-S ini dikombinasi dengan majority E-W anticline system.
yang membentuk pegunungan memanjang arah E-W, seperti di banyumas.
tambahan lagi, petroleum system di west of central java sudah proven dengan
cipari seepage dan beberapa hc indication dari survey pertamina tahun
1970s. cuman risk terbesar masih di reservoirnya. nah, kalau berminat
lundin rasanya mau berbagi resiko.
regards -
Awang Satyana
<[EMAIL PROTECTED] To: [EMAIL PROTECTED]
hoo.com> cc:
Subject: [iagi-net-l] Indentasi
Struktural Jawa Tengah
21/07/2004 05:15 (?!)
PM
Please respond
to iagi-net
Kalau kita melihat Pulau Jawa, khususnya di sebagian Jawa Tengah, maka kita
akan menemukan bahwa garis pantai utara dan selatan wilayah ini lebih
sempit masuk dibanding garis pantai utara dan selatan Jawa Barat dan Jawa
Timur. Saya menyebut ini sebagai "indentasi". Apakah ini gejala biasa-biasa
saja atau punya arti secara geologi ? Dari pemelajaran data gayaberat
regional, SLAR, seismik, geologi permukaan, dan publikasi terdahulu yang
diharapkan berhubungan; kelihatannya ini berhubungan dengan
tektonik/struktur regional, sehingga saya menyebutnya : "structural
indentation".
Jalur Pegunungan Selatan di selatan Jawa Tengah, dari sekitar Cilacap-Peg.
Kidul (Nusa Kambangan - muara S. Opak), lenyap dari jalur fisiografis van
Bemmelen (1949). Di bukunya, diterangkan bahwa di sektor ini Pegunungan
Kidul ada, tapi tenggelam. Dari peta Bouguer anomaly Jawa, SLAR dan peta
geologi regional Jawa, kita bisa tarik dua kelurusan, yang saya tafsirkan
sebagai dua strike-slip besar, dengan arah dan gaya yang sangat berlawanan,
yang saya sebut : (1) sesar Muria-Kebumen (sinistral, BD-TL, arah Meratus),
dan (2) sesar Pamanukan-Cilacap (dekstral, BL-Tenggara, arah Sumatra).
Keduanya saling mendekat ke arah selatan dan akhirnya berpotongan di
sekitar Cilacap.
Sesar Muria-Kebumen diperkirakan menerus ke Meratus dan mungkin kejadiannya
berhubungan dengan subduksi miring di tepi tenggara Sundaland. Sesar
Pamanukan-Cilacap dibangun dari segmen2 Tinggian Gantar-Randegan
(restraining bend sifatnya), Sesar Baribis, Sesar Citanduy, sesar2 dekstral
Majenang, dan Sesar Kroya. Bahkan, mungkin Sesar Pamanukan-Cilacap ini
berhubungan dengan NST (North Seribu Fault) antara Sunda-Asri Basin dan
juga bahkan ke Lematang Fault di Sumatra Selatan. Jadi, dua sesar
strike-slip besar yang berpotongan di Cilacap ini mungkin dua megashear di
Indonesia Barat.
Saya memikirkan kedua perpotongan sesar besar ini banyak bertanggung jawab
kepada geologi Jawa Tengah yang rasanya aneh. Kedua sesar besar ini bisa
jadi menenggelamkan bagian utara Jawa Tengah (sehingga garis pantainya
indent) akibat kompensasi isostatik gayaberat oleh pembubungan (uplift)
isostatik maksimum di bagian selatan oleh dua sesar dextral vs. sinistral
yang berlawanan arahnya. Bahwa kerak Jawa Tengah Selatan lebih terangkat
daripada yang utaranya dibuktikan oleh nilai anomali Bouguer yang +110 mgal
di selatan dan makin menurun ke -5 mgal di utara. Bahwa Jawa Tengah
tenggelam dibuktikan juga oleh keberadaan Brebes Flexure, Semarang Flexure,
dan diapir Tegal.
Ke arah selatan keadaan terbalik sebab dua strike slip dengan gaya dan arah
berlawanan akan menimbulkan kompresi luar biasa di titik perpotongannya
yang membentuk lateral triangle zone tempat kompresi maksimum tercapai dan
"terkunci" secara tektonik. Berdasarakan data gayaberat, uplift di sini
sampai 2000 meter. Bisa dicurigai bahwa kompresi-uplift maksimum ini
berhubungan dengan pembentukan Tinggian Bumiayu-Luk Ulo, Tinggian
Karangbolong dan penyingkapan batuan dasar di Karang Sambung.
Sebelah selatan titik perpotongan sesar tadi yang dicirikan maximum uplift,
terjadi maximum release tension sebagai kompensasinya. Dan, saya melihat
bahwa banyak depresi terjadi di sini : Citanduy-Kroya-Kebumen Low,
Cekungan Western Deep dan Eastern Deep di offshore southern central Java,
dan tenggelamnya sektor Pegunungan Selatan dari sekitar Nusa Kambangan-
muara Sungai Opak di Parang Tritis.
Entahlah, apakah evolusi geologi bagian barat Jawa Tengah, dikendalikan
oleh dua sesar besar itu. Keberadaan dua sesar besar ini pun patut diuji
dengan detail. Saya hanya menangkap keduanya yang muncul di peta2 regional
gayaberat, SLAR, dan geologi (walaupun di beberapa tempat hanya segmennya),
dan mencoba mengaitkannya ke beberapa fenomena geologi di Jawa Tengah.
Sementara ini kelihatannya sesuai, tetapi, entahlah. "Pikiran liar" ini
saya tulis di buku publikasi khusus IAGI Pengda Yogya-Jateng tentang
geologi Jawa Tengah (2002) dengan judul : "Lekukan Struktur Jawa Tengah :
Suatu Segmentasi Sesar Mendatar". Saya sedang mengelaborasinya, walau
mungkin hanya pikiran liar..
Salam,
awang
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------