Adakah rekan-rekan dari Yogja atau Surabaya yang pernah terlibat atau
bersinggungan dengan project ini yang tahu tentang perhitungan
keekonomian-nya? (Pak Heru Hendrayana, Pak Widya, Bu Sari, Pak Gendoet???)

Beberapa informasi yang membuat saya bertanya-tanya:

Diesel bisa menaikkan air ke permukaan: 80liter/detik
Integrated Mikrohidro bisa menaikkan air ke permukaan: 2000liter/detik

Investasi diesel: Rp.150jt (?) ==> asumsi saya (termasuk pipa, bangunan,
dsbnya)
Investasi integrated mikrohidro: Rp.70milyar ==> konversi dari pak ismail

Operational cost diesel: Rp.250.000,-/hari (asumsi) =  Rp. 2,89/detik =
Rp.0,04/liter
Operational cost integrated mikrohidro: Rp.100.000,-/hari (asumsi) =  Rp.
1,16/detik = Rp. 0,0006/liter

Bagaimana menghitung revenue projek tsb? Apakah airnya dibagikan gratis ke
masyarakat ataukah ada sejumlah ongkos yang harus dibayar masyarakat
per-liter airnya?

Bagi yang mengetahui, mohon pencerahannya.

adb



----- Original Message -----
From: "Fajar" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, August 04, 2004 10:25 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di
Dunia, Bendungan di dalam Tanah


> Sepertinya yang dimaksud pak menteri itu adalah studi isotop, bisa untuk
> penjejak (tracer) atau kalibrasi umur. Perkembangan studi Bribin ini
sangat
> menarik dan investasinya besar, memang kalau hanya untuk PLTA sepertinya
> secara ekonomi tidak "reasonable".
>
> Salam,
> R. Fajar (2448)
> NB : mengenai bendungan bawah tanah..mungkin bukan yang pertama di dunia.
> Indonesia bekerjasama dengan Jepang telah mengembangkan bendungan karet
> untuk membendung airtanah di pelosok negeri ini. Saya pernah terlibat
dalam
> pekerjaan bendungan karet ini di Karang Asem, Bali untuk membendung sungai
> yang hilang (loosing stream) akibat patahan yang sangat intensif..hasilnya
> sangat memuaskan.
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "ismail" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Tuesday, August 03, 2004 10:18 PM
> Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di
> Dunia, Bendungan di dalam Tanah
>
>
> > Dari studi yang pernah dilakukan pada tahun 70 -80 an ( Progo basin
study
> /
> > Yogyakarta Ground water resources study ) diketahui bahwa potensi sungai
> > bawah tanah daerah in cukup banyak al di Gua Bribin dg debit 700l/dt (
> yang
> > sekarang lagi mau dikembangkan itu ) , Gua Ngobaran 220 l/dt , Gua
Seropan
> > 800 l/dt.Daerah yang merupakan dataran tinggi dr sistem Peg selatan ini
> juga
> > banyak ditemui sumber - sumber air ( tealaga/luweng) yang tersebar dan
> > sangat potensial dikembangkan, mengingat sedikitnya curah hujan didaerah
> ini
> > ( kurang lebih 1700 MM dg pereode kemarau 5-7 bulan) Kalau diamati pola
> > penyebaran desa desa di daerah ini mengikuti pola keberadaan dari luweng
> > luweng ini.Sebetulnya pada pereode tsb di daerah ini telah banyak
> dilakukan
> > pemboran pemboran air tanah ( lebih 50 an sumur )dengan kedalaman kurang
> > lebih 100 an meter dan dimanfaatkan untuk air minum dan pengairan .
> > Mengingat curah hujan yang relatif kecil, maka kemungkinan besar sistem
> air
> > tanah didaerah ini disuplai dari sungai oyo yang melintasi daerah ini,
> yang
> > membentuk sungai sungai bawah tanah yang berpola sangat komplek.dan
> mengalir
> > kerah samodra hindia mengingat kemiringan tpografi yang mengarah ke
> selantan
> > dg kemiringan 10 an derajat.
> >
> > Dari rencana akan dibangunnya PLTA bawah tanah yang akan menghasilkan
> > listrik 440 KVA ( 220 KVA akan dipakai untuk mengopersikan pompa),
rasanya
> > ini suatu proyek yang sangat besar dari segi investasinya, bayangkan
> > bagaimana bikin bendungan dibawah tanah dan bangunan lainnya untuk
> > menggerakan turbin. Kalau dilihat dari biayanya yang akan diberikan oleh
> > Pemerintah Jerman ( saya tidak tahu yang dimaksud bantuan itu apakah ini
> > dalam bentuk grant,softloan, atau kredit export ) sebesar Rp.70 M ( 7,7
> Juta
> > dollar dg 1 $ = 9000,- ) ini sangat besar sekali, karena untuk investasi
> > pembangkit listrik itu biasanya biayanya antara 1 - 2 juta dollar/MW ,
> jadi
> > kalau kapasitas yang dihasilkan "cuma" 440 KVA atau 0,44 MW berarti I MW
> nya
> > bisa 14 juta dollar.
> > Jadi kalau secara ekonomi ( mungkin ada pertimbangan lain) kalau cuma
> untuk
> > mendapatkan daya listrik untuk menaikan air / memompa yang hanya 220 KVA
> tsb
> > , lebih praktis pakai disel saja.
> > Mungkin ada yang tahu apa hubungannya PLTA ini dengan Nuklir tsb, kalau
> > tidak salah ilmu nuklir ( radio aktif) ini dapat dipakai untuk untuk
> > mengetahui aliran aliran bawah tanah arahnya kemana, mengathui kebcoran
> > kebocoran bendungan, aliran aliran fluida dalam suatu reservoar  , (
> > prisipnya untuk membantu mengetahui arah aliran fluida) disamping untuk
> > mengetahui umur batuan.atau ada yang lain mungkin.
> > ISM
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Sent: Tuesday, August 03, 2004 5:53 PM
> > Subject: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di
> Dunia,
> > Bendungan di dalam Tanah
> >
> >
> > > Pertama di Dunia,  Bendungan di dalam Tanah
> > >
> > > Dengarkan Menristek Hatta Kertarajasa dan Gubernur DIY Sri Sultan
> Hamengku
> > > Buwono X mendengarkan Pimpinan Proyek "Pembangunan Pembangkit Listrik
> > dengan
> > > Memanfaatkan dan untuk Eksploitasi Air Sungai Bawah Tanah Bribin,
> > > Gunungkidul" Prof Dr Ing Franz Nestnjann saat menjelaskan pembangunan
> > proyek
> > > tersebut. (Foto : SM CyberNews/Sugiarto)
> > > Gunung Kidul, CyberNews. Menristek Hatta Kartarajasa mengatakan, masih
> > > banyak masyarakat kita yang belum tahu manfaat teknologi nuklir.
Selama
> > ini
> > > yang mereka tahu, bahwa kata nuklir disamakan dengan 'Bom' yang
meletus
> di
> > > Hirosima dan Nagasaki, Jepang.
> > > Padahal apabila teknologi nuklir ini dikembangkan secara damai, justru
> > dapat
> > > mensejahterakan rakyat banyak. Seperti pembuatan dam di bawah tanah
pada
> > > kedalaman 100 meter lebih di bawah tanah.
> > >
> > > ''Apabila teknologi nuklir ini dikembangkan secara damai, justru
sangat
> > > bermanfaat bagi kelangsungan hidup umat manusia,'' kata Menristek
Hatta
> > > Kartarajasa pada peresmian pengeboran Proyek Pembangunan Pembangkit
> > Listrik
> > > Dengan Memanfaatkan dan untuk Eksploitasi Air Sungai Bawah Tanah di
> > Bribin,
> > > Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Senin (2/8).
> > >
> > > Lebih lanjut Menristek mengatakan, salah satu contoh pengembangan
> > teknologi
> > > nuklir yang dilakukan secara damai adalah proyek pengeboran dan
> > pembangunan
> > > dam di dalam sungai bawah tanah. Dengan demikian, apabila teknologi
> nuklir
> > > itu dilakukan secara damai dan benar bisa menjadi tumbuhan hidup umat
> > > manusia.
> > >
> > > Apalagi, tambah Kartarajasa, air merupakan salah satu sumber
> kelangsungan
> > > hidup manusia yang harus kita lestarikan. Hal ini perlu disampaikan,
> > karena
> > > sumber air di dunia tidak lebih dari 3 persen. Untuk itu, kita
bersyukur
> > > bisa mengembangkan sumber air yang ada di sungai dalam tanah.
> > >
> > > Semua itu bisa terjadi, karena kemajuan teknologi dan sumber daya
> manusia
> > > yang mumpuni. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan kelangsungan
> > hidup
> > > manusia akan datang menggantungkan pada teknologi. Proyek yang
> > dikembangkan
> > > di Bribin ini, tambah Menristek, merupakan salah satu contoh kemajuan
> > > teknologi dengan memanfaatkan sumber alam.
> > >
> > > Sementara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam kesempatan
itu
> > > mengatakan, proyek pengeboran dan pembangunan dam di bawah tanah serta
> > > pembuatan listrik tenaga air ini sepenuhnya dibiaya Pemerintah Jerman
> > > melalui Universtas Karlsruhe Jerman sebesar Rp 70 miliar. Proyek kali
> > > pertama di dunia ini, dikerjakan langsung oleh para ahli dari Jerman
dan
> > > Badan Tenaga Atom Nasional (Batan).
> > >
> > > Peresmian pengeboran tanah ke dalam dasar sungai bawah tanah dengan
> > > disaksikan Menristek Hatta Kartarajasa, Gubernur DIY Sri Sultan
Hamengku
> > > Buwono X dan pejabat DIY sudah berhasil mengebor sedalam 19 meter
> dibawah
> > > tanah. Pengeboran ke dinding sungai bawah tanah diperkirakan akan
> mencapai
> > > 104 meter dengan diameter 2,4 meter.  Untuk menyelesaikannya
dibutuhkan
> > > waktu sekitar 4 bulan
> > >
> > > Pembangunan tahap awal hanya khusus pengeboran tanah ke dalam sungai
> bawah
> > > tanah. Sedangkan pembangunan tahap kedua, para ahli dari Jerman dan
> > > Indonesia segera membuat dam sekaligus membangun listrik tenaga air di
> > > sungai bawah tanah. Nantinya air di sungai bawah tanah itu disedot ke
> atas
> > > lalu didistribusikan ke masyarakat melalui jaringan pipa.
> > >
> > > Dalam sungai bawah tanah itu, menurut Sultan, akan dibangun bendungan
> air
> > > dengan tinggi 4 meter dan panjang 10 meter. Bendungan ini diperkirakan
> > mampu
> > > menampung air sungai Bribin 400 ribu meter kubik. Sedangkan turbin
yang
> > > digerakkan melalui aliran sungai Bribin mampu menghasilkan 440 KVA.
> > > Sementara untuk mengoperasikan pompa air hanya membutuhkan 220 KVA,
> > sehingga
> > > kelebihanyya bisa dipergunakan penerangan jalan yang ada di daerah
> > tersebut.
> > >
> > > Sebelumnya untuk menaikkan air sungai bawah tanah Bribin menggunakan
> mesin
> > > diesel. Namun biaya yang dikeluarkan terlalu besar tidak seimbang
dengan
> > air
> > > yang dialirkan yang hanya sebesar 80 liter per detik. Sedangkan dengan
> > > teknologi modern ini, debit minimum yang tersedia sebesar 2000 liter
per
> > > detik pada musim kemarau. Sementara pada musim hujan debit air
mencapai
> > 4000
> > > liter per detik. Apabila proyek ini nanti berhasil, maka akan
> dikembangkan
> > > ke daerah lain.( sugiarto/CN07 )
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan
Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> ---------------------------------------------------------------------
>
>



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke