Abah,
 
Perasaan saya saja ini mungkin. Walaupun umur buku van Bemmelen (1949) "The Geology of 
Indonesia" sudah 55 tahun dan semakin menua saja, rasanya makin ke sini setelah 
mencoba masuk ke sana ke mari di geologi, makin terasa bahwa buku yang satu ini benar2 
"wah hebatnya"... Memang banyak penjelasannya yang didasarkan kepada konsep tektonik 
yang dikembangkan van Bemmelen sendiri (a.l. undasi); tetapi itu bukan sama sekali 
halangan untuk tidak mempelajarinya. Seorang teman saya yang geologist expat malah 
kelihatannya tergila2 dengan semua buku "kuno" geologi termasuk yang dari Junghuhn 
(1854) dan Verbeek dan Fennema (1896) (dua2nya geologi Jawa). Dia meng-scan semua 
peta2nya dan memperindahnya dengan warna2...Dia cari penerjemah belanda ke inggris 
agar bisa memahami buku2 itu.
 
Bisa dibayangkan, minggu kemarin teman ini mengajak saya ke Cianjur untuk melihat 
singkapan batupasir Eosen, dan bekalnya adalah peta Verbeek dan Fennema (1896). 
Walaupun sudah lebih dari 100 tahun umurnya, pasti kita akan terkagum2 melihat begitu 
detail peta2nya dan semua nama geografinya tak ada yang salah, bahkan dalam nama2 
daerah kampung yang kecil pun.
 
Rasanya, selalu ada sesuatu yang baru dari buku van Bemmelen (mungkin karena saya tak 
pernah tamat membaca ke 732 halamannya...hehe)
 
Soal Papua, sebenarnya tak ada yang salah dengan geologi kedua wilayah ini. Central 
Ranges (thrust & fold belt) di punggung Papua sejak dari Lengguru menerus dengan 
geologi yang sama menyeberangi PNG sampai ke ujungnya di Teluk Papua. Lapangan2 migas 
memang telah ditemukan (terutama oleh Chevron) di thrust fold belt PNG seperti Iagifu 
dan Hedinia. Dan, kita pun punya play2 seperti kedua lapangan ini di Conoco Warim 
Block. Hanya beda nama formasi saja. Kalau di PNG mereka sebut Toro sandstone yang 
umurnya Kapur, di Papua kita sebut Woniwogi sandstone. Play strukturnya juga sama. 
Hanya... di Indonesia, Blok Conoco Warim kemudian diduduki Taman Nasional Lorentz, 
nah...tak ada kegiatan eksplorasi sejak saat itu sebab dilarang. Conoco masih 
mempertahankan wilayahnya di sana bersama Santos, berharap akan segera jelas status 
izin eksplorasinya. Sebagai catatan, izin-izinan dan runding-perundingan sudah 5 tahun 
lebih dan tanpa hasil.
 
Di Conoco Warim atau di Central Ranges Papua bukan geologi yang menyebabkan tidak ada 
lapangan2 model Iagifu dan Hedinia, tetapi ekpsplorasi tidak bisa dilakukan dengan 
baik sebab tidak ada izinnya. Maka : belum saja ditemukan. Tak ada perubahan yang 
berarti di sebelah-sebelah longitude 141 deg east itu.
 
Salam,
awang

[EMAIL PROTECTED] wrote:
>
Pak Awang

Menarik sekali memang pembagian fisiografis yang dilakukan oleh van
Bemellen,1949 di Jawa (dari mulai pembagian di Jawa bagian Barat sampai
dengan Jawa Timur).Selalu dapat disesuaikan dengan konsep geologi
dinamis yang dianut saat ini ( walaupun van Bemellen sendiri sering
mengkritik konsep ini , Van Bemellen , 1972).
Kalau bicara thrust belt Papua memang menggelitik , karena diwilayah New
Giunea (Papua NG) kita melihat banyak discoveries. Sedangkan beberapa
sumur Conoco di Warim dry , kira apa yang alasan geologinya ?

Terima kasih.

Si Abah.


Untuk rekan2 netters yang biasa bekerja dengan geologi Jawa, terutama
> bagian tengah-timurnya, atau rekan2 yang masih ingat dengan zone
> fisiografi Jawa dari van Bemmelen (1949), tentu tak aneh lagi dengan
> sebuah zone sempit memanjang sekitar 250 km lebar 10 km dari Semarang
> sampai Surabaya. Van Bemmelen (1949) menyebutnya Zone Randublatung
> (belakangan nama ini populer karena sukses Pertamina menemukan gas dalam
> jumlah besar di dua sumur Randublatung-1 & 2).
>
> Secara struktur, ternyata Zone Randublatung adalah sebuah "triangle zone",
> sebuah zone berbentuk segitiga dengan kedua kakinya merupakan zone2 sesar
> yang saling berlawanan kemiringan dan arahnya dan bertemu di puncak
> segitiga (tetapi kemudian tentu tererosi karena akan sangat terangkat).
> Dan, di Jawa Tengah-Timur ini, Zone Randublatung merupakan wilayah
> pertemuan dua buah zone besar : Zone Rembang vs. Zone Kendeng. Zone
> Rembang merupakan daerah paparan dan slope yang dicirikan dengan dominasi
> sesar naik mengarah (vergency) ke selatan. Zone Kendeng merupakan daerah
> slope dan bathyal dengan dominasi sesar naik mengarah ke utara. Akibatnya,
> di daerah pertemuan ini, terbentuk sebuah zone sangat sempit, memanjang,
> dan sangat dalam, inilah Zone Randublatung - sebuah triangle zone yang
> ideal.
>
> Apa implikasi hidrokarbon sebuah triangle zone ? Secara konseptual, zone
> yang secara isostatik tenggelam untuk mengkompensasi pengangkatan di kedua
> kakinya ini akan menjadi kitchen y
> ang baik, selama ada suplai sedimen kaya organik yang diendapkan di
> dalamnya. Pematangan batuan induk adalah implikasi utama sebuah subsided
> triangle zone. Perangkap ? Semua sub-thrust structures di bawah zone sesar
> naik di kedua kaki segitiga. Reservoirnya tentu akan bergantung kepada
> suplai sedimen berkualitas reservoir dari tempat yang lebih dangkal.
>
> Apakah ada proven oil fields dari suatu triangle zone ? Yang paling dekat,
> ada di thrust and foldbelt belt Papua Nugini. Tetapi banyak terjadi di
> seluruh thrust & foldbelt lain di tepi2 lempeng aktif (Appalachia, Zagros,
> dsb.). Tetapi, kendalanya juga banyak. Kedalamannya lumayan, dan deformasi
> di permukaan kompleks yang bisa mengurangi resolusi data seismik, belum
> lagi ancaman dari overpressured zones. Tetapi kalau teridentifikasi trap
> yang besar, follow up patut dipertimbangkan. Dan, tak mudah mengebor
> sebuah sub-thrust play. Pengalaman menunjukkan bahwa kita sering salah
> terlalu menganggap simpel zone sesar di atasnya, akibatnya, obkjektif di
> subthrust tak pernah tercapai akibat repetitive beds oleh sesar naik yang
> bisa ribuan kaki...
>
> Tetapi, di Randublatung Zone ini, tak jauh dari sekitar Gunung Ungaran ada
> pasir kuarsa Formasi Kerek/Merawu (mid-Miocene) dan ke timur ada debris
> sedimen kuarsaan asal Ngrayong (mid-Miocene juga) yang diendapkan ke Zone
> Randublatung dan Kendeng yang tenggelam. Source-nya, banyak serpih napalan
> dan sedimen calcareous lainnya. Sealing rock berlimpah. Maturation pasti
> terjadi dari oil window sampai overmature pun ada. Tinggal mencari
> subthrust play. Ini yang tidak mudah, sebab tak ada data seismik dengan
> resolusi cukup baik untuk melihat sampai ke subthrust structure di bawah
> Kendeng dan Rembang fault zone.
>
> Randublatung discoveries dan temuan Pertamina lainnya di karbonat Kujung
> di wilayah ini menunjukkan bagaimana prospeknya Zone Randublatung. Tetapi,
> triangle zone-associated traps-nya sama sekali belum tersentuh...
>
> Salam,
> awang
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Take Yahoo! Mail with you! Get it on your mobile phone.

Kirim email ke