Abah,
 
Lundin (dahulu Coparex) punya satu blok di Jawa Tengah, yaitu Banyumas, dan 
punya satu blok di perbatasan Jateng-Jatim, yaitu Blora. Yang sedang kita 
bicarakan ini di luar kedua blok itu alias open. Ada Pertamina sedikit ke 
utara. Tahun depan semoga kita akan melihat bagaimana nasib si intra-arc dan 
fore-arc basin Banyumas (dan tak pernah jadi back-arc basin) ini ditentukan 
oleh drilling. Rembesan ada di mana2 kan Abah di Banyumas ini. 
 
Konsep Belanda mengebor di Jawa Tengah utara ini ya tetap seepages (creekology) 
dan surface anticlines, tetapi kurang dalam. Mereka hanya berhasil di Cipluk 
Field yang selama 35 tahun memproduksi minyak. Bukan hanya Cipluk lapangan 
minyak di sini, masih ada yang lain, dan di dalam sana kita belum sama sekali 
sentuh. Saya melihat ada model toe-thrust system ala North Makassar di situ 
(untuk lebih jauh silakan dicek di CD proceedings IPA deepwater symposium 
kemarin).
 
Abah, mungkin sudah saatnya kita melakukan yang lebih serius di Karang Kobar 
dan ke utaranya itu. Kita mulai dengan melakukan ulang traverse geologi, 
pengambilan sampel rembesan itu, analisis geokimia minyak dan analisis contoh 
batuan lapangan, dan kita bangun model petroleum system-nya. Lalu kita lihat 
apakah positif atau negatif, baru kita susun strategi lagi.
 
Salam,
awang
 

[EMAIL PROTECTED] wrote:
>
Pak Awang

Kalau tidak salah Lundin (dulu Coparex) sudah punya calon calon lokasi
untuk dibor , akan tetapi belum ada yang mau (atau sudah ??) .
Apa sudah ada kabar baik mengenai ini ???.
Sewaktu sy di Pertamina pernah membuat pemetaan geologi di Karangkobar
(1976) , memang sangat menantang melihat adanya begitu banyak rembesan ,
dan jaman Belanda sudah berani ngebor.
Apa ya konsep Belanda saat itu(saya tidak tahu company-nya).
Terima kasih.

Si Abah


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Mail - Find what you need with new enhanced search. Learn more.

Kirim email ke