On Tue, 21 Dec 2004 07:26:34 +0700, Tangkalalo, Darwin
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Wah jadi bias nih..saya pikir nggak ada hubungannya antara harga elpiji 
> dengan pembuatan ktp atau sim ataupun surat2 lainnya..
> 

Ini yang ngga bias...
Buat temen-temen mungkin ada bisa klarifikasi berita ini. Ini aku
dapet sebelum keputusan kenaikan LPG kemaren ini ?
Yg bikin kaget ... kita mengimpor LPG ????

RDP
==================
KURANGI KERUGIAN : PERTAMINA SESUAIKAN HARGA ELPIJI 

 Pertamina akan menyesuaikan harga jual Elpiji dalam waktu dekat
secara bertahap. Disamping untuk mempercepat masuknya investor baru di
bisnis Elpiji dalam negeri, kenaikan harga tersebut dimaksudkan untuk
mengurangi kerugian Pertamina.

Demikian dikatakan GM Gas Domestik Pertamina A. Faisal kepada wartawan
di Jakarta, Senin (22/11). Dalam kesempatan tersebut GM menjelaskan
bahwa biaya impor elpiji mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Pada bulan Juli Pertamina mengimpor Elpji dengan biaya sebesar 371
dollar AS per metrik ton. Pada September naik menjadi 425 dollar AS
per metrik ton, Oktober 443,50 dollar AS per metrik ton dan terakhir
512 dollar AS per metrik ton. Lebih lanjut A. Faisal menjelaskan bahwa
sampai dengan bulan November biaya impor elpiji sampai di pelabuhan
sudah mencapai Rp 5000 per kilogram. "Ini belum termasuk biaya
distribusi dan penimbunan. Barangkali apabila dijual pada harga Rp
7000 pun belum untung karena ada PPN dan lain sebagainya," ujarnya.
GM Gas Domestik menjelaskan bahwa menurut PP Hilir, Elpiji mengacu
pada harga pasar apabila sudah terjadi persaingan di pasar. "Saat ini
ada dua pemain lain di dalam negeri tapi masih dalam volume kecil dan
harganya tidak jauh beda dengan Pertamina," ungkapnya.

A. Faisal juga menegaskan bahwa Elpiji bukan barang yang disubsidi
oleh pemerintah. "Elpiji merupakan barang yang diperdagangkan bebas.
Tetapi karena harga belum menarik belum ada pemain asing yang masuk,"
ungkapnya.

KONDISI HARGA 
A. Faisal menjelaskan bahwa untuk memenuhi konsumsi Elpiiji dalam
negeri dari kilang Pertamina sebesar 73%, dari KPS 16,9% dan impor
10%. Dengan asumsi harga minyak 36 dollar AS per barelnya, lanjut
Faisal, maka harga Elpiji eks kilang Pertamina mencapai 297,66 dollar
AS per metrik ton. Sedangkan harga Elpiji eks KPS mencapai rata-rata
332,86 dollar AS per metrik ton dan harga Elpiji impor rata-rata
383,14 dollar AS per metrik ton.

Harga jual Elpiji di negara-negara tetangga berada di atas harga
Elpiji di Indonesia. Sebagai contoh Pakistan Rp 6.141/kg, Filipina Rp
5.073/kg, Malaysia Rp 3.293/kg (harga ini dengan subsidi pemerintah Rp
1.000/kg. Dengan demikian harga riilnya sebesar Rp 4.293/kg, red),
Vietnam Rp 5.000/kg. "Ini pun pada saat harga crude masih di bawah 30
dollar AS per barel. Sedangkan harga crude saat ini sudah di atas 50
dollar AS," imbuh Faisal.

PENINGKATAN PELAYANAN 
Dalam hal pelayanan, A.Faisal menegaskan bahwa Pertamina tetap akan
terus melakukan upaya-upaya peningkatan kualitas pelayanan penjualan
Elpiji. Beberapa waktu lalu Pertamina bekerjasama dengan Indomaret.
Sistem distribusi outlet ini dimaksudkan supaya Elpiji yang sampai ke
masyarakat dapat dijamin ketepatan isi dan penyeragaman harga jual
retail sesuai harga jual Pertamina. Intervensi Pertamina pada saluran
distribusi outlet ini juga memberikan alternatif lain kepada
masyarakat untuk memperoleh Elpiji secara mudah, murah, aman dengan
jaminan ketepatan isi. Hal ini juga mendorong para agen dan pengecer
untuk perbaikan pelayanan dengan menciptakan kompetisi retail yang
lebih sehat. "Penjualan via Indomaret dimaksudkan agar elpiji yang
dijual di toko tersebut sesuai dengan timbangan yang tertera dan
sesuai dengan harga yang telah ditentukan. Jika ditentukan oleh
Pertamina harganya Rp 36.000 per tabung maka harga itulah yang
digunakan," tegas A. Faisal. Ia menambahkan apabila terjadi
penyimpangan harga kualitas dan ketepatan isi maka dapat dilaporkan
kepada Pertamina.
Ke depan, Pertamina juga merencanakan untuk menyeragamkan berat
tabung. A. Faisal menegaskan bahwa nantinya berat tabung diseragamkan
menjadi 15,2 kilogram. "Mulai akhir 2004 berat tabung Elpiji akan kita
standarkan. Selain itu kita juga telah menempelkan stiker penggunaan
elpiji dan ada nomor pelayanan Elpiji di setiap tabung," ujarnya.

Upaya peningkatan pelayanan dan harga Elpiji didalam negeri sudah
dilakukan sejak tahun 2000, tetapi karena tingginya harga minyak dunia
memaksa Pertamina kembali menyesuaikan ke nilai keekonomiannya.
Beberapa tahapan peningkatan pelayanan yang telah dilakukan berupa
jaminan ketepatan isi, kelengkapan tabung, pemasangan plastik wrap dan
tampilan yang lebih baik serta penambahan petugas pengawas di
lapangan. Upaya efisiensi juga terus dilakukan dengan penghapusan
supply point untuk memotong jalur distribusi, pengalihan transportasi
laut menjadi transportasi darat yang lebih murah, standarisasi sistem
pengecetan dan perawatan tabung hingga pengadaan tabung sesuai
permintaan pasar.

Dari sisi pengawasan khusus untuk wilayah I DKI Jakarta, Jawa Barat
dan Banten, Pertamina telah memberikan sanksi berupa pemotongan
alokasi terhadap 1 Agen dan 1 Stasiun Pengisian & Pengangkutan Bulk
Elpiji (SPPBE), surat peringatan kepada 19 Agen dan 2 SPPBE, surat
teguran kepada 5 Agen dan 1 SPPBE. Pertamina juga membuka hotline
khusus untuk Elpiji dengan nomor: 0 800 1 ELPIJI (357454).

KONSUMSI ELPIJI 
Potensi pasar LPG di Indonesia cukup menjanjikan dengan kecenderungan
konsumsi yang terus meningkat. Konsumsi LPG telah mengalami
peningkatan dari 83 ribu Metrik ton per bulan pada 2003 menjadi 100
ribu Metrik ton pada 2004. Angka konsumsi tersebut masih didominasi
oleh konsumsi di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten yang
menyerap 48% konsumsi nasional.
Konsumsi LPG di Indonesia saat ini baru sekitar 0.5 % dari jumlah
penduduk. Penggunaan LPG terbesar masih di dominasi oleh sektor rumah
tangga 69%, sektor komersial, hotel dan restauran 13%, dan industri
18%. Apabila iklim bisnis LPG cukup kondusif dengan struktur harga
yang memadai, potensi pemakaian LPG dapat ditingkatkan hingga 3 juta
Metrik ton per tahun.

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke