Masih buat Abah Yanto ... Ini detilnya LPG saat ini ... nah terbaca bahwa saat ini LPG sudah tidak ada monopoli dan tidak ada tataniaganya .... Abah mau ikutan bisnis membuat dan menjual LPG ? Kan sudah banyak mini plan utk marginal gas field ... :)
RDP =========== Jakarta, 18 December 2004 18:00 :: HARGA LPG, PERTAMAX DAN PERTAMAX PLUS NAIK Jakarta, Terhitung mulai 19 Desember 2004 pukul 00.00, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga jual LPG (Liquified Petroleum Gas), Pertamax dan Pertamax Plus. Harga LPG dari Rp. 3.000/kg menjadi Rp. 4.250/kg, khusus untuk Batam dari Rp. 3.500/kg menjadi Rp. 4.800/kg. Harga Pertamax mengalami kenaikan dari Rp. 2.450/liter menjadi Rp. 4.000/liter, dan Pertamax Plus dari harga Rp. 2.750/liter menjadi Rp. 4.200/liter. Kenaikan harga ini tertuang dalam surat keputusan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) No. Kpts-063/C00000/2004-S3 tentang Harga Jual Elpiji untuk Rumah Tangga dan Industri dan No. Kpts-066/C00000/2004-S3 tentang Harga Jual Pertamax dan Pertamax Plus. LPG, Pertamax dan Pertamax Plus merupakan bisnis Non BBM Pertamina yang sudah tidak lagi diregulasi oleh Pemerintah sehingga diharapkan Pertamina dapat menuai profit dari bisnis ini dan memberikan kontribusi keuntungan yang berupa deviden kepada negara. Tingginya harga minyak dunia menjadi penyebab utama perlunya dilakukan penyesuaian harga jual LPG, Pertamax dan Pertamax Plus. Kenaikan menuju harga keekonomian ini juga diharapkan memberikan peluang kepada investor lain untuk masuk ke bisnis bahan bakar ramah lingkungan ini dengan memberikan keuntungan yang wajar untuk produsen. Elpiji Pertamina Bisnis LPG (Liquified Petroleum Gas) merupakan bisnis yang tidak di tata niagakan, tidak ada monopoli LPG dan siapa saja bisa bermain di bisnis ini. Hal ini perlu diketahui masyarakat luas mengingat LPG bukan merupakan bahan bakar yang tidak disubsidi Pemerintah dan Pertamina menjalankan bisnis LPG bukan karena penugasan Pemerintah atau Public Service Obligation (PSO) tetapi murni berdasarkan pertimbangan bisnis. LPG sebagai bahan bakar alternatif dan ramah lingkungan sudah seharusnya dikembangkan secara luas penggunaannya di Indonesia. Oleh karena itu dengan kenaikan harga ini menghilangkan barrier to entry dari investor untuk memasuki bisnis LPG di Indonesia sehingga masyarakat luas dapat memilih produsen yang memberikan layanan terbaik. Konsumen LPG sebagian besar di dominasi oleh sektor rumah tangga menengah keatas dengan tingkat konsumsi mencapai 69%, hotel berbintang dan restauran mewah mengkonsumsi 13%, dan sektor industri mengkonsumsi 18%. Angka ini juga mengindikasikan bahwa pemakai LPG merupakan konsumen kalangan menengah atas yang sangat tidak adil bila kelompok ini mendapat subsidi dari Pertamina sebagai perusahaan milik bangsa. Pertamina sebagai pelaku utama bisnis LPG di Indonesia tetap akan berkiprah di pasar domestik dengan terus memperbaiki tingkat layanan dan efisiensi. Harga pokok LPG ditentukan berdasarkan komposisi harga sesuai sumber produksi LPG, yakni dari produksi kilang Pertamina sebesar 73% dengan harga USD 298/Metrik ton, 17% dipenuhi dari produksi KPS dengan harga USD 352/Metrik ton dan 10% impor dengan harga USD 383/Metrik ton. Harga pokok produksi tersebut juga menunjukkan bahwa LPG yang diproduksi Pertamina jauh lebih rendah dari harga international berdasarkan Crude Price (CP) Aramco dan juga lebih rendah dari biaya pokok LPG yang dikeluarkan Kontraktor Production Sharing (KPS). Hal ini berarti bahwa tingkat efisiensi Pertamina lebih baik dibanding kedua pemasok tersebut. Upaya efisiensi lainnya yang dilakukan adalah pengurangan biaya dengan penghapusan supply point untuk memotong jalur distribusi, pengalihan transportasi laut menjadi transportasi darat yang lebih murah, standarisasi sistem pengecetan dan perawatan tabung hingga pengadaan tabung sesuai permintaan pasar. Beberapa tahapan peningkatan pelayanan yang telah dilakukan berupa jaminan ketepatan isi, kelengkapan tabung, pemasangan plastik wrap dan tampilan yang lebih baik serta penambahan petugas pengawas di lapangan. Peningkatan pelayanan juga diupayakan dilakukan melalui kerjasama dengan sistem distribusi outlet sehingga LPG yang sampai ke masyarakat dapat dijamin ketepatan isi dan penyeragaman harga jual retail sesuai harga jual Pertamina. Intervensi Pertamina di distribusi outlet ini juga memberikan alternatif lain kepada masyarakat untuk memperoleh LPG secara mudah, murah, aman dengan jaminan ketepatan isi. Hal ini juga mendorong para agen dan pengecer untuk perbaikan pelayanan dengan menciptakan kompetisi retail yang lebih sehat. Potensi pasar LPG di Indonesia cukup menjanjikan dengan kecenderungan konsumsi yang terus meningkat. Konsumsi LPG telah mengalami peningkatan dari 83 ribu Metrik ton per bulan pada 2003 menjadi 100 ribu Metrik ton pada 2004. Meskipun mengalami kenaikan, angka konsumsi per kapita penduduk masih jauh lebih rendah dibanding negara tetangga. Malaysia mengkonsumsi LPG 5 % dari jumlah penduduk, Thailand yang kondisi ekonominya relatif sama dengan Indonesia saat ini telah mengkonsumsi 2 % dari jumlah penduduk. Konsumsi LPG di Indonesia saat ini baru sekitar 0.5 % dari jumlah penduduk. Pertamax & Pertamax Plus Pertamax dengan RON (Random Octane Number) 92 dan Pertamax Plus dengan kandungan RON 95 merupakan produk bensin ramah lingkungan generasi baru yang telah dilengkapi dengan additive detergensi yang berfungsi menyempurnakan pembakaran di mesin. Produk ini juga telah memenuhi rekomendasi dari Worldwide Fuel Charter (WFC) yang juga direkomendasikan oleh fabrikan mobil atau mesin yang tergabung dalam ACEA (Eurepean Automobile Manufacturers Association), AAM (Alliance of Automobile Manufacturers), EMA (Engine Manufacturers Association) dan JAMA (Japan Automobile Manufacturers Association). Kedua produk bensin ini juga tidak mengandung timbal (unleaded) dengan spesifikasi sebagai bahan bakar bensin yang menuju kategori satu WFC. Artinya bahan bakar ini sudah memenuhi kriteria akrab lingkungan. Produk ini juga akan menghasilkan emisi NOx dan COx lebih sedikit dibanding bahan bakar lain, ketika dipakai untuk pembakar mesin. Dengan adanya pemakaian additive pada produk ini, kinerja mesin juga terdongkrak, sebab bahan additive dalam bahan bakar itu mampu membersihkan deposit pada intake valve, port fuel injector dan ruang bakar (Combustion Chamber). Selain itu additive juga melarutkan air dalam tangki penimbun sehingga tidak menimbulkan karat, mencegah korosi pada bagian mesin yang terkait dengan aliran dan pembakaran bahan bakar serta membantu terjadinya pembakaran sempurna karena sebelumnya memecah bahan bakar menjadi molekul-molekul kecil. Pemakaian Pertamax maupun Pertamax Plus secara kontinyu serta stelan mesin yang tepat akan menghemat konsumsi bahan bakar sampai 7%. Keuntungan lain yang diperoleh konsumen dari pemakaian produk ini juga akan bertambah, karena mesin akan menjadi lebih awet, sehingga biaya perawatan juga bisa ditekan (low maintenance) (Hupmas) --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

