Bagaimana menyiasati gempa(tektonik dan gunung api)serta tsunami, untuk
menurunkan atau meniadakan jumlah korban?

Usulan:
1. Pergunakan pemotretan dengan satelit untuk pantau pergerakan tsunami.
Alat pemotretan awan guna prediksi cuaca serta pergerakan tornado, tentu
akan bisa digunkan untuk meliat pergerakan gelombang tsunami ini,
setidaknya ada beberapa waktu untuk menjauhi daerah rawan tsunami.
Sekitar 28 satelit bumi beroperasi setiap saat, sudah bisa memberi
bahaya yang akan diterjang siklun, tornado diseluruh muka bumi.
Kecepatan tsunami yang bisa 500 km/jam, masih lumayan memberi waktu pada
penduduk di daerah bahaya. Bila ada tsunami, ditunjukkan adanya
gelombang dengan pergerakan cepat, maka data mentriger alat " warning
alert system", misal sirine dipantai-pantai.

2. Dipasang seismograf pada seluruh jalur potensial gempa : sirkum
Pasifik-Medeteran. Diharapkan akan ada gempa kecil (tremor) yang sering
mendahului gempa besar, akan memberi waktu "warning alert". Gempa besar,
yang direkam oleh seismograf tersebut, akan mentriger langsung sirine
daerah gempa, dan tak mentriger daerah aman gempa. Berapa lama gempa
tremor sering mendahului gempa besar? Sejam, sehari, seminggu, setahun
sebelumnya?

3. Study intensif guna prediksi gempa kedepan, untuk kurangi korban.
3.1. Menggunakan Kalender SALAM (Grafik berpereode 7, 70, .., 70 Giga
tahun), untuk lebih bisa memprediksi lokasi dan kapan akan gempa. Saat
ini Kalender ini berkorelasi 90% dengan jumlah gempa di bumi pertahun
selama 120 th terakhir, serta 90 % dengan jumlah tsunami di Indonesia
200 th terakhir. Dengan ini diprediksi akan ada gempa besar rata-rata 10
kejadian pertahun untuk 100 th kedepan, atau sejumalh 1000 gempa besar
pada seratus tahun kedepan. 

Plot kejadian gempa yang lalu beserta lokasi (x,y, kedalaman di bumi),
serta waktu gempa dalam hitungan detiknya selama waktu yang ada, lalu
dikorelasikan dengan Kalender SALAM. Dicari buat grafik stres-strain
lempeng dan sub lempeng seluruh lempeng bumi, dihitung dengan kecepatan
gerak lempeng. Mungkin akan ada korelasi yang baik. Dibuat model bumi
untuk setiap waktu, dari seratusan tahun lalu hingga kini, dan seratus
tahun akan datang, untuk memperlihatkan eveolusi pergerakan lempeng,
berkorelasi dengan lokasi gempa dibumi. Sumber data bisa dari USGS, BMG,
dll, pada ploting tersebut. Pemetaan bisa hingga pada skala gempa besar
(9 M), hingga sekecil-kecilnya, misalnya 1 M, atau lebih kecil lagi,
guna melihat populasi, karakter lempeng per detik, dari data lebih
seratus tahun terakhir. 

Pergunakan data gempa Gunung Merapi (Yogyakarta), atas pencatatan
perdetik dari th 1980'an hingga kini, serta data prediksi kejadin gempa
dari umur lahar yang 40.000 th yang lalu hingga kini, untuk melihat
pereodisasi gempa gunung api. Ini mungkin akan bisa mendapatkan pakem
(aturan dasar alami sunatuloh) gempa masing-masing gunung api lain di
bumi.

3.2. Dipergunakan grafik hingga siklus Minor (definisi minor dalam teori
SALAM) yakni misal tahun, bulan, hari dan jam, serta detik. Ini bisa
dengan grafik John T. Norberg, yang menghitung pola percepatan bumi per
hari terhadap hari-perharui yang telah ada dari th 1999 hingga 2004. Ini
akan bisa dibuat untuk tahun-tahun yang akan datang hingga misalnya 100
th kedepan, atau lebih. 

Klaim oleh John ( http://www.grandunification.com/) adalah 90 % korban
gempa ada di daerah prediksi hari-hari purnama dan bulan mati dengan
kisaran 4 hari, dan sedikit gempa diluar hari-hari tersebut selama 1999-
2004 ini.

3.3. Dicari cara-cara prediksi lain, "the state or art" prediksi gempa
saat ini, dan membuka peluang bagi setiap instansi yang berkaitan,
terhadap ide-ide prediksi gempa, diramu untuk prediksi gempa akan
datang.

Salam,
Maryanto.
([EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED])

Ikut belasungkawa sedalam-dalamnya atas sekitar 70.000 orang meninggal
akibat tsunami Aceh. Semoga kita akan lebih selamat dan sejahtera pada
masa kedepan. 

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, December 29, 2004 1:34 PM
To: Widyarto Adi Ps.; [email protected]; Himpunan Ahli Geofisika
Indonesia (HAGI); [EMAIL PROTECTED]; Milis Mimbar List;
[EMAIL PROTECTED]; AhliKeuangan-Indonesia Moderator;
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] PRESS RELEASE IAGI -- BENCANA NASIONAL GEMPA -
TSUNAMI ACEH:


PRESS RELEASE
IKATAN AHLI GEOLOGI INDONESIA (IAGI)

BENCANA NASIONAL GEMPA - TSUNAMI ACEH:
"Tuntutan untuk lebih serius dalam mitigasi bencana"

Jakarta, 29 Desember 2004

Gempa di Aceh yang diikuti tsunami dengan puluhan ribu korban jiwa dan
kerugian materi yang tak terhitung, untuk kesekian kalinya menghenyakkan
kesadaran dan mengguncang jiwa kita. Gempa yang mulai terjadi hari
Minggu 26 Desember 2004 tersebut sampai saat ini masih terus
berkelanjutan dengan gempa-gempa susulannya. Hingga hari ini - tanggal
29 Desember 2004 - sudah tercatat getaran-getaran dengan kekuatan 5-9
Skala Richter sebanyak 40 kali, dan belum jelas terlihat tanda-tanda
kapan akan berhenti.

Kita semua menundukkan kepala, kita semua berduka, kita semua menangis.
Tapi tangisan dan keprihatinan saja tidak cukup dalam menyikapi sebuah
bencana. Diperlukan langkah nyata berbasis alasan ilmiah yang cukup agar
didapat gerak yang efektif dalam menanggulangi dan sekaligus bersiap
mengantisipasinya lagi di masa depan. Sudah saatnya kita menangani
bencana tidak hanya dengan mengandalkan naluri charitas belaka.

Kondisi geologi Indonesia yg merupakan pertemuan lempeng-lempeng
tektonik menjadikan kawasan Indonesia ini memiliki kondisi geologi yang
sangat kompleks. Selain menjadikan wilayah indonesia ini kaya akan
sumberdaya alam, salah satu konsekuensi logis kekompleksan kondisi
geologi ini menjadikan banyak daerah-daerah di Indonesia memiliki
tingkat kerawanan yg tinggi terhadap bencana alam. Beberapa diantaranya
adalah rawan gempa bumi, tsunami serta rawan letusan gunung api
disepanjang "ring of fire" dari Sumatra - Jawa - Bali - Nusatenggara -
Banda - Maluku. Pemahaman akan resiko tinggal didaerah dengan kerawanan
bencana tinggi ini semoga tidak menjebak kita pada pemikiran sempit
bahwa kita sedang memang menjalani "takdir  hitam". Alam selalu
bertindak jujur, adil, berjalan dengan aturan, rambu-rambu dan petunjuk,
tanda-tanda yang amat jelas bagi yang bersedia memahaminya dengan
tawadlu' dan kerendahan hati.

Daerah rawan bencana gempa dan tsunami Indonesia hampir semuanya berada
pada daerah yg tingkat populasinya sangat padat. Daerah-daerah ini
sering merupakan pusat aktifitas serta sumber pendapatan masyarakat
serta negara, dan menjadi pusat pencurahan dana pembangunan. Namun
ketika bencana gempa dan tsunami itu terjadi maka usaha-usaha
pembangunan yg sudah dilakukan akan hilang dan lenyap dalam waktu yang
sangat singkat dan bersifat katastropik.

IAGI sebagai organisasi profesi dan masyarakat ilmiah perlu memberikan
pendapat ilmiah dari sisi ilmu kegeologian dan cabang ilmu geologi yang
terkait.

1.      Kejadian serupa dengan gempa Aceh sangat mungkin  terjadi di
sebelah selatan dari rangkaian zona penunjaman yang sekarang menjadi
pusat gempa dalam hitungan seminggu, sebulan, setahun, atau 10 tahun
kedepan; artinya dapat sewaktu-waktu terjadi dalam skala waktu geologi.
Untuk itu kita tidak boleh hanya menunggu, kita semua harus proaktif
melakukan mitigasi, pemantauan, pembangunan sistim peringatan dini, dan
sosialisasi-sosialisasi SEKARANG JUGA.

2.      Bencana gempa bumi Aceh ini merupakan salah satu gejala alam yg
"wajar" terjadi untuk daerah yg memiliki kondisi geologi yg kompleks
ini. Namun perlu diketahui bahwa peramalan gempa bumi dan tsunami dari
segi sains adalah yang paling sulit dilakukan dibanding dengan gunung
meletus, longsoran tanah, dan banjir. Dengan kajian geologi, bencana ini
bukanlah hal yg tidak dapat diramalkan, namun rentang waktu ketidak
tentuan terjadiannya mempunyai derajat ketidak pastian cukup besar.
Akurasi peramalan terjadinyapun berkisar dari 10-50 (?) tahun, sehingga
yang perlu dilakukan adalah selalu bersiap diri untuk mengalaminya (keep
on alert!!).

3.      HARUS disadari penuh oleh masyarakat serta pemerintah Indonesia
bahwa kita hidup didaerah yg rawan bencana alam. Juga perlu disadari
bahwa bencana alam itu hampir selalu datang tiba-tiba. Dengan demikian
bangsa Indonesia HARUS pandai menyiasati cara-cara hidup berdampingan
dengan kondisi alam yg rawan bencana tersebut. Contohnya: Jepang dan
California, mereka dapat hidup maju di daerah rawan bencana, tetapi
mereka bisa menyiasati bencana tersebut sehingga meminimalkan jumlah
korban dan kerugian setiap kali bencana datang. Dalam hal ini
kewaspadaan ("keep on alerted") lebih berguna daripada prediksi.

4.      Kesadaran serta kesiapan menghadapi bencana alam ini seharusnya
dapat dimiliki oleh masyarakat melalui sosialisasi pengenalan kondisi
lingkungan geologi serta kesiapan dalam menghadapi bencana alam di
lingkungannya. Hampir semua bencana ini di awali dengan gejala-gejala yg
perlu diketahui oleh masyarakat sehingga ada kesempatan untuk dapat
menghindarinya. Misalnya: surutnya muka air-laut yg tidak wajar (secara
tiba-tiba) setelah terasa gempa merupakan tanda-tanda akan datangnya
tsunami.

5.      Gempa bumi dan tsunami, seperti halnya gunung meletus, longsoran
tanah, dan banjir adalah peristiwa geologi yang dari waktu kewaktu
terjadi di seluruh muka bumi sebagai keniscayaan tanpa ada manusia yang
dapat mencegahnya. Karena ada aktifitas manusia di daerah yang mengalami
peristiwa geologi tersebut, maka timbulah BENCANA. Mitigasi bencana dan
tindakan-tindakan antisipasinya adalah syarat mutlak untuk dapat hidup
berdampingan dengan bencana alam geologi.

6.      Selain kondisi kritis sesar-sesar atau patahan sumatra ini,
gempa
ini sering juga menjadi pemicu atau "trigger" aktifitas gunung api
(ingat "ring of fire" dr Sumatra - Jawa - Nusa Tenggara) yang tentu saja
memicu dan memacu gejala-gelaja katastropik yang lain2nya (domino
effect). Efeknya mungkin memang tidak akan "instant" (tidak dalam orde
harian) tetapi sangat mungkin mengakselerasi dan mengubah status-status
gunung api, kelongsoran dsb. Artinya harus ada evaluasi ulang tentang
status kerawanan bencana di daerah-daerah ini.

7.      Perlu "political will" pemerintah untuk segera memprioritaskan
program mitigasi bencana alam geologi khususnya gempa dan tsunami,
pembangunan sistim peringatan dini, dan sosialisasi - latihan-latihan 
tindakan penyelamatan manusia dalam bencana tersebut.

8.      Implikasi dari "political will" pemerintah adalah alokasi
biaya/anggaran untuk melaksanakan program-program mitigasi, pemantauan,
sistim peringatan dini, dan sosialisasi2. Apabila pemerintah tidak mampu
secara materi, jangan ragu-ragu atau malu-malu untuk meminta bantuan
luarnegeri; demi keselamatan ribuan dan bahkan puluhan ribu nyawa bangsa
Indonesia yang beresiko mengalami bencana. Bantuan ini dapat berupa
kerja sama peneltian ilmiah, peralatan peringatan dini ataupun dana
untuk sosialisasi ke masyarakat yg rawan terhadap bencana ini.

9.      RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) HARUS BENAR-BENAR disesuaikan
dengan kondisi daya dukung alam termasuk potensi kebencanaan daerah.
Pemda-pemda, DPRD-DPRD, LSM, dan masyarakat luas HARUS mengontrol
benar-benar penerapan prinsip-prinsip pembangunan dan pengembangan
wilayah daerah rawan bencana. Saat ini masih sering dijumpai RTRW di
daerah-daerah yang sama sekali tidak memperhitungkan hal tersebut.
Tsunami sebagian besar memakan korban bukan karena gempa yang memang
belum terpantau secara seksama melainkan karena ketidak pedulian kita
akan konsep tataruang pantai/teluk, pemetaan bathymetric wilayah dan
tidak adanya pemasangan alat pantau dini alun panjang yang terintegrasi.

10.     Pemerintah sampai saat ini belum mampu mengeluarkan building
codes
dan peraturan keselamatan bangunan berdasar zonasi kegempaan. Hal ini
akibat dari kurangnya kesadaran/pemahaman sehingga riset kearah ini
tidak pernah mendapat kesempatan yang proporsional untuk dilakukan. Di
kalangan para pakar (selain konsep diskusi partial/ tidak melibatkan
tenaga ahli secara komprehensif) sampai saat ini belum ada kesepakatan
mengenai zonasi yang bisa diterima semua fihak.

Demikian pendapat ilmiah IAGI berdasarkan kajian data-data hasil
penelitian pada bencana gempa bumi Aceh ini.

Jakarta, 29 Desember 2004
Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Ketua Umum
Dr. Ir. Andang Bachtiar MSc.

Sekretariat IAGI:
Gedung Mineral & BAtubara Lt.6
Jl. Prof. Dr. Soepomo SH No. 10
Jakarta Selatan, 12870
Ph//Fax: (62-21) 83702848 - 83702577
Email: [EMAIL PROTECTED]


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke