Bapak bapak yth.
Saya kebetulan sedang bikin kontrak untuk Mudlogging. Kontrak ini 
merupakan joint tender antara beberapa perusahaan minyak di KL, termasuk 
diantaranya adalah Carigali. Yang menarik disini adalah salah satu klausul 
( ada pengarahan dari Petronas/BP Migasnya My) dari kontark tersebut 
adalah sbb: Able to provide 100% national/Malaysian Mud Logging Engineers (MLE) 
by the 
end of the second year of the contract. Padahal kita tahu bahwa mereka (My) 
sangat kekurangan dalam hal "tenaga 
geologist", tapi mereka selalu berusaha untuk mengMalaysianisasi disegala 
bidang, termasuk Mud logger. Mungkin dengan adanya klausul ini otomatis 
akan meningkatkan "tarif" logger lokal dan tidak tertutup kemungkinan 
untuk lebih tinggi dari "tarif" expatriate, dan otomatis "memagar"dari 
awal adanya ekspansi orang asing di bidang ini. Hal semacam ini perlu kita 
lakukan, minimal untuk "menyalurkan" tenaga tenaga "fresh graduate" atau 
geologist lainnya yang sedang tidak mempunyai pekerjaan.
Kembali ke Wellsite geologist expat di Indonesia, seingat saya aturan nya 
sudah ada sejak dulu, bahwa wellsite geologist itu sudah harus "100 % 
local content". 
Saya masih ingat waktu Asamera/Gulf ? akan ngebor sebuah sumur dalam 
Halilintar-1 ( perkiraan waktu itu adalah high pressure, sour gas, Co2 
etc.) sehingga Gulf memerlukan Expatriate wellsite Geologist. Untuk hal 
satu ini saja, tidak mudah perijinannya dari BPPKA, beberapa meeting dan 
lobying dilakukan akhirnya ada komitment boleh dilakukan tapi harus ada 
pendamping Natioanl Geologist dan "hanya untuk satu well saja". Akhirnya 
komitment kita jalankan dan saya masih ingat wellsite nasional 
pendampingnya waktu itu adalah pak Shofiyuddin dan pak Bambang Pujasmadi.
Geologist impornya dari New Zealand dan dari Inggris.
"Tiap hari" saya ditelepon pak Alfred Pelmelay, apa progressnya apa 
perbedaannya antara "wellsite import dan lokal". Begitu juga saya coba 
tanya sama pak Shofi dan pak Bambang kira kira apa kelebihannya. Saya 
tidak akan jawab secara detail apa itu kelebihannya, yang jelas mulai saat 
itu kami tak pernah menggunakan wellsite geologist import lagi, jadi kami 
punya kesimpulan bahwa sebenarnya "strong justification"untuk memakai 
wellsite import itu saya kira tidak ada untuk saat ini, karena kita masih 
mempunyai buanyak wellsite geologist yang lebih rajin, lebih teliti .... 
cuma masalahnya adalah komunikasi yang harus lebih ditingkatka.. Biasanya 
Wellsite londo itu sehabis dari lapangan "cerita"kesana kesini mengenai 
apa yang didapat selama ngebor, termasuk ke VP Exploration jika seandainya 
ada waktu ( mereka akan berusaha menjual apa yang mereka dapat dari 
lapangan, walaupun kadang kadang biasa saja, tidak ada yang special), tapi 
orang kita biasanya, kalau bisa data itu dia titipkan di sekuriti dan akan 
alhamdulillah kalau Operation Geologistnya lagi sibuk atau nggak ada di 
tempat ( hal ini biasanya dilakukan oleh wellsite geologist kontrak, tapi 
Insya Allah hal semacam ini saya kira sudah berkurang sekarang).
Kesimpulannya : Kita bisa proteksi masuknya Wellsite Geologist import 
dengan aturan dan perijinan, untuk kasus spesial bisa dilakukan tapi harus 
cantumkan untuk berapa lama dan apa justifikasinya, make sure ada 
pendamping wellsite lokal untuk "belajar"dan juga "memantau".
Setuju untuk membentuk semacam forum komunikasi antar wellsite geologist, 
dimana forum ini bisa merupakan wadah tempat wellsite/operation gelogist 
untuk tukar/berbagi pengalaman, informasi dan tetunya menjalin 
slaturachmi.. 


Mudah mudahan bermanfaat.


Fariman







"Andang Bachtiar" <[EMAIL PROTECTED]>
02/02/2005 09:52 AM
Please respond to iagi-net

 
        To:     "Wellsite Geologist" <[EMAIL PROTECTED]>, 
<[email protected]>, 
<[EMAIL PROTECTED]>
        cc:     <[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>
        Subject:        [iagi-net-l] Re: Follow up TKA WSG


Pak Rendra Amirin, apakah anda mendapatkan tembusan email awal tentang 
kenapa IAGI bersusah-susah mencoba mengumpulkan informasi tentang para 
wellsite geologist Indonesia yang "tercerai-berai" dan "tidak 
terkoordinasikan" ini?

Justru pencarian informasi tersebut merupakan langkah penting bekal 
"BICARA" dan "BARGAINING" ke pemerintah untuk lebih memperhatikan, 
melindungi, dan mengembangkan potensi tenaga-kerja professional geologist 
nasional kita, terutama karena IAGI ditanya oleh pemerintah tentang 
perlunyanya memberikan perijinan pada WSG/ML asing. Sabar pak,.... begitu 
selesai pendataan ini, IAGI akan bergerak secara formal ke Ditjen Migas 
dan BPMigas untuk memaparkan permasalahan Wellsite Geologist kita dan 
meminta ini semua dijadikan pertimbangan dalam pengaturan kebijakan, 
termasuk kebijakan perijinan untuk WSG/ML asing.

Mengenai wadah komunikasi (info center) mud-logger dan WSG, saya sangat 
mendukung ide anda. Mekanismenya bagaimana dan siapa yang jadi simpulnya 
(anda usulkan Pak Henry ILO), silakan dirembug diantara rekan-rekan 
praktisi sendiri. Sebenarnya usaha kami di IAGI ini bisa juga dilihat 
sebagai "trigger" bagi kawan-kawan ML&WSG untuk mencoba lebih 
berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Paling tidak, anda semua jadi 
punya list nama dan email address lebih lengkap dari kawan-kawan sesama 
ML&WSG professional Indonesia. Kami menyadari bahwa seperti halnya 
rekan-rekan coal-geologist, maupun field mining explorationists, para 
ML&WSG termasuk kedalam golongan pasukan "buru-sergap" di garda depan dari 
eksplorasi sumberdaya kebumian,.. yang karena karakter tempat dan skedul 
kerjanya tidak memungkinkan untuk menikmati kemewahan berkomunikasi tiap 
saat secara kontinyu melalui email atau kopi darat dengan komunitas 
geosains lainnya. Mungkin hanya pada waktu "OFF" saja anda semua bisa 
lebih leluasa melakukannya. Oleh karena itu, dengan adanya info center 
mud-logger dan WSG, diharapkan komunikasi anda semua bisa lebih lancar.

Untuk ide membentuk AAGPPI dipersilakan saja, IAGI dengan bangga akan 
mewadahinya, tentunya apabila memang ada simpul-simpul personel organisasi 
yang mau "berkorban" untuk membentuk dan menjalankannya, seperti halnya 
FOSI yang tumbuh dari inisiative anggota IAGI sendiri, membuat 
kepengurusan dan program kerja sendiri, diman IAGI tinggal memayunginya.

Salam WSG

Andang Bachtiar
Ketua Umum IAGI
  ----- Original Message ----- 
  From: Wellsite Geologist 
  To: [email protected] 
  Cc: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Wednesday, February 02, 2005 8:32 AM
  Subject: Follow up TKA WSG


  bapak2/ibu2 di IAGI,

  Gimana dg follow up antisipasi dari pihak IAGI ? atau hanya sekedar 
gini2 aja...tentang rencana TKA sebagai WSG.
  mohon tanggapan dan didistribusikan ke teman2 lain terutama ke pak Henry 
( ILO ) kita angkat saja sebagai info center untuk Mudlogger dan WSG 
sekalian mungkin ada rencana untuk seminar atau bikin wadah AAGPPI 
(Assosiasi Ahli Geologi Professional Perminyakan Indonesia) bagian dari 
IAGI sendiri

  wassalam
  Rendra Amirin
  alternate email: [EMAIL PROTECTED]






Kirim email ke