Di tengah laut di sekitar titik episentrum, gelombang tak akan melebihi satu meter, karena kedalaman di situ katakanlah ratusan meter. Kapal2 besar tak akan merasakan kalau ada tsunami. Mendekati pantai, amplitudo gelombang semakin meningkat karena kedalaman laut mendangkal dan di situlah tsunami mulai merusak apapun. Dalam kondisi begini, memang lebih baik tetap di tengah laut. Cut-off depth kapan tsunami mulai merusak dasar laut tentu berbeda2 bergantung kepada topografi dasar laut setempat dan kondisi oseanografik saat itu. Katakanlah di Pulau We 30 meter cut off depth itu. Barang siapa yang pernah seharian di sekitar Mercusuar Anyer itu tentu dapat melakukan rekonstruksi kejadian tsunami Krakatau saat itu. Mercusuar yang sekarang bisa dilihat besar di pinggir jalan Anyer-Carita itu (tepatnya di Anyer Kidul). Coba naik dulu sampai ke puncaknya dan layangkan pandangan ke sekeliling, menghadap ke laut, pandang ke kiri menuju utara-barat-selatan (tak perlu ke timur menuju Anyer). Saya mengunjunginya tahun 2001 karena suka saja dengan yang namanya mercusuar, apalagi Mercusuar Anyer Kidul... Setelah mendapatkan pandangan regional, kita turun dan jalan2 di sekitar mercusuar itu. Di depan mercusuar, di dekat pantai, kadang tertutup kalau pasang naik, kita akan temukan runtuhan bangunan, lalu di sekitarnya fondasi. Apakah ini. Ini adalah runtuhan bagunan Mercusuar Anyer lama yang dibangun tahun 1860an, lalu runtuh dihantam tsunami Krakatau 1883. Lalu, dua tahun kemudian, 1885, dibangun lagi Mercusuar Anyer baru (baru, tapi sudah berumur 120 tahun sekarang), inilah yang bisa kita lihat sekarang. Kemudian, sebrangi jalan Anyer-Carita, tak jauh dari situ, akan ditemukan sebongkah besar terumbu karang (moderen) kira2 setinggi 5-6 meter : sebesar rumah tipe 45 barangkali. Di pantai pun bersebaran bongkah2 terumbu karang yang sama yang berukuran lebih kecil. Nah rekonstruksinya : ini adalah kompleks fringing reef yang sebelum Krakatau meletus 1883 mengelilingi pantai di sekitar Anyer, lalu terjadilah tsunami yang besar itu, yang memukul Anyer setinggi 30 meter, karang pen ghalang pantai (fringing reef) rupanya tak berdaya menahan gempuran itu, ia tercabut dari akarnya, terbawa gelombang, menghantam bagian bawah Mercusuar Anyer (lama), dan runtuhlah mercusuar itu, lalu karang ini didamparkan di tempatnya sekarang, tak jauh setelah menghantam mercusuar. Patch reef yang tenggelam di tempat lebih dalam bisa saja aman dari amukan tsunami, tetapi fringing reef, belum tentu.. Salam, awang
[EMAIL PROTECTED] wrote: Di tayangan Expedisi Metro, ada yang melakukan penyelaman setelah (2 minggu?) tsunami , di daerah P Weh (kalo gak salah), pada kedalaman 0-30 kondisi dasar laut berantakan, bahkan sampah-sampah peradaban manusia tersebar di dasar laut, tetapi di kedalaman >30m, terumbu karang dan ikan-ikan baik-baik saja. Regards, ============================= AMIR AL AMIN - DKS/OPG/WGO TOTAL E&P INDONESIE BALIKPAPAN (62-542)-534283 - (62)-811592277 ============================= "Noor Syarifuddin" 03/02/2005 03:27 AM Please respond to iagi-net To: cc: Subject: Re: [iagi-net-l] Re: Paleo-Tsunami Pak Awang, Beberapa hari setelah kejadian di Aceh, di Tv saya lihat ada kisah 'true story' tentang beberapa orang yang sedang menyelam di lepas pantai Thailand. Mereka sama sekali tidak sadar bahwa telah terjadi tsunami yang begitu dasyat sampai mereka merapat ke pinggir pantai. Pada saat menyelam mereka hanya mengamati bahwa air laut berubah menjadi keruh, sehingga mereka berhenti menyelam dan naik ke permukaan (ini kayaknya cocok dengan air laut yang berwarna gelap keruh pada saat tsunami). Kemudian di permukaan mereka melihat banyak 'sampah' sehingga mereka ngomel orang kok pada buang sampah sembarangan..... Pada saat mendekati pantai mereka barulah sadar ada yang aneh, karena banyak mayat yang terapung dilaut. Begitu melihat ke arah daratan, mereka begitu shok karena bangunannya sudah pada rata dengan tanah...... Nah, dengan cerita ini (dan juga ada seruan bagi kapal-kapal supaya tetap di lepas pantai saja karena lebih aman), apakah kira-kira sejalan dengan "berpindah"nya reef di dekat mercusuar itu..... salam, > Gelombang tsunami tak ada hubungan dengan angin, tak ada hubungan dengan gerak pasang surut. Ia berhubungan dengan gempa bawah laut, ia dibangkitkan gempa. Perbedaan menyolok terjadi dengan windwave. Dari titik episentrum di dasar laut sampai ke permukaan laut, semua materi air bergerak. Di seluruh kolom air yang di atasnya ada tsunami semua bergerak. Jadi bisa dibayangkan betapa merusaknya gelombang ini baik di pantai maupun di lautnya sendiri. Banyak terumbu karang dengan mudah dicabut, dasar laut dikocok-kocok, sedimen dibulak-balikkan dengan gerak turbulen upper dan lower regim-nya. Walhasil : tak mengherankan kalau warna air laut gelombang tsunami keruh kotor menghitam. Pantai rusak oleh tsunami, tapi dasar laut pun rusak oleh tsunami di sepanjang perjalanannya. > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) --------------------------------------------------------------------- --------------------------------- Do you Yahoo!? Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'

