Tsunami memang dapat diakibatkan oleh pergerakan vertikal masa batuan
akibat tersesarkan pada saat gempa (bisa thrust ataupun dislokasi
sesar normal), namun tsunami dibeberapa tempat termasuk yg di selat
Makassar, serta di Pantai Utara Irian beberapa tahun lalu diikuti pula
oleh longsoran bawah laut..

Spekulasi lain kenapa tidak muncul tsunami sebesar Aceh, menurut saya
karena tidak adanya "mega slump" (longsoran bawah laut) yg terjadi
atau terpicu oleh gempa Nias. Ini diasumsikan bahwa mega slump menjadi
penyebab tsunami. Sedangkan mega slumpnya sendiri dipicu oleh gempa.

Pada saat terjadi gempa Aceh kemarin dengan kekuatan 9 SR (kedalaman
30Km) hampir semua lereng yg sedang dalam kondisi kritis (bahkan yg
hampir kritis) terlongsorkan bersama-sama. Ada pergerakan massa batuan
yg cukup besar yg tentunya, juga ditambah dengan pergeseran akibat
thrust, memperkuat terjadinya tsunami. Gambar serta pertanda adanya
"new escarpment" yg terbentuk akibat longsoran ini dapat dilihat di
websitenya UK Navy juga di blog saya, gambar sea floor ini sebagian
juga ada di webnya IAGI. Nah karena getaran 9 SR ini sangat kuat maka
lereng-lereng pinggir yg masih setengah matangpun bisa ikut-ikutan
longsor pada tanggal 26 Desember 04 kemarin. Artinya pasca gempa Aceh,
kondisi ekuilibrium di pinggiran ini menjadi "relatip" stabil,
dibandingkan sebelum gempa Aceh. Kondisi yg "relatip" stabil inilah yg
saat digetarkan dengan kekuatan 8 SR (30Km) kemarin oleh gempa Nias
tidak mampu menyebabkan tsunami sebesar sebelumnya.

Apakah yg nanti juga tidak akan longsor lagi ?

Prediksi saya, seandainya getarannya lebih kecil dari getaran
sebelumnya, maka tidak akan muncul tsunami pada saat Segmen Mentawai
yg diramalkan Danny ini bergetar. Kecuali getaran gempanya memiliki
kekuatan sama atau lebih dari 9 SR.

Penjelasan atau simulasi mudahnya :
Cobalam ambil beras dan buatlah gunung2-an dari beras diatas sebuah
karton. Caranya dengan menabur kan beras dipuncaknya hingga
ketinggiannya maksimum. Kondisi ini merupakan refleksi dari kondisi
kritis.
Getarkan atau goyangkan beras itu dengan kekuatan tertentu, katakanlah
getarkan dengan amplitudo 2 cm, selama beberapa detik. Akan terlihat
ketinggian gunung berkurang, beberapa butiran akan longsor kebawah.
Kejadian ini mensimulasikan longsoran penyebab tsunami pana tanggal 26
Des 05.

Nah kemudian getarkan dengan goyangan lebih kecil, misalnya amplitudo
1 cm saja. Maka tidak akan banyak longsoran butiran beras yg terlihat.
Ini menunjukkan bahwa kondisi kekritisan lereng berubah akibat getaran
besar.

Simulasi mudah ini dapat dipakai untuk menjelaskan dengan mudah kenapa
Gempa Nias tidak menyebabkan tsunami.

Nah pertanyan selanjutnya, apakah nantinya sudah tidak akan ada tsunami lagi ?
Seperti yg ditulis di atas, bahwa tsunami tidak akan terjadi
seandainya lokasi getarannya sama dan juga kekuatan gempanya kurang
dari getaran sebelumnya. Sehingga kalau getaran selanjutnya di
Mentawai melebihi 9 SR atau kedalamannya lebih dangkal, maka tsunami
masih sangat mungkin terbentuk. Perkiraan besarnya utk segmen mentawai
yg diperkirakan Pak Danny ini menjadi sangat krusial dengan hipotesa
ini.

RDP
"Rovicky Dukun Pergempaan"
On Thu, 31 Mar 2005 12:35:37 +0700, D.H. Natawidjaja
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Mohon maaf,
> Halo rekan-rekan IAGI sekalian,
> Kemarin-kemarin entah kenapa saya emang terhapus dari daftar
> mailing-list IAGI-Net sehingga tidak pernah terima e-mail ini.  Untung
> Mba Dyah menolong saya untuk mendaftarkan kembali di mailing list ini.
> 
> Menurut saya begini,
> Gempa Nias kemarin itu adalah gempa "megathrust" (i.e. sama seperti
> gempa Aceh) pada subduction interface yang letak "rupture zone" (bidang
> patahan yang bergeser ketika terjadi gempabumi)-nya persis di sebelahnya
> rupture zone dari Gempa Aceh.
> 
> Jadi memang Gempa Aceh ini ternyata betul-betul memicu sumber gempa di
> sebelah selatannya.  Sekarang satu-satunya sumber gempa yang sudah
> matang yang sedang menunggu giliran adalah yang di bawah Kep. Mentawai
> itu.
> Kapan kira-kira waktunya?  Tentu kita engga tahu.  Tapi saya pikir dalam
> kurun waktu 10 tahun ke depan kemungkinan terjadi gempabesar di sini
> tinggi.  Belajar dari zona subduksi di Pacifik (Kamtchaka - Chile),
> pernah terjadi 7 gempa besar hanya dalam kurun waktu 10 tahun, dari 1955
> - 1965.
> 
> Yang jadi harapan saya bahwa gempa di Mentawai mungkin tidak terjadi
> dalam waktu dekat adalah adanya segmen zona subduksi diantara Nias dan
> Siberut (di bawah Kep. Batu) yang kondisinya tidak matang dan
> karakteristiknya dominan "ASEISMIC" artinya banyak meloloskan strain
> energy. Mudah-mudahan Zona subduksi yang pas berada di khatulistiwa ini
> bisa menjadi "buffer zone" agar perambatan energi gempa dari utara itu
> bisa tertahan untuk sementara waktu sebelum dia menyebrang ke Siberut.
> 
> Kontroversi tentang mekanisme gempa di Nias kelihatannya bersumber ke
> Focal Mechanism (CMT) USGS yang kurang tepat (mungkin sekarang sudah di
> ralat).  CMT USGS ini memperlihatkan bahwa Gempa Nias sepertinya suatu
> "Up-Thrust" pada bidang patahan yang hampir tegak lurus.  Waktu malam
> terjadinya gempa, saya agak heran-heran melihat solusi USGS ini.  Apakah
> benar bukan megathrust earthquake melainkan gempa pada Sesar Mentawai?
> Mungkin CMT USGS ini yang dilihat oleh Pak Surono.
> Untung paginya Harvard juga mengeluarkan CMT yang lebih baik.  Pada
> Harvard CMT terlihat jelas bahwa gempa Nias ini merupakan gempa
> megathrust - pure dip-slip.
> 
> Sekarang masalahnya kalau ini megathrust earthquake dengan magnitudo
> 8.7, kenapa Tsunami-nya kecil?
> Saya kemarin berdiskusi dengan Wahyu Triyoso, terus Wahyu kebetulan
> mendapatkan analisa data seismik yang sudah dilakukan oleh ERI Univ.
> Tokyo, tempat sekolahnya dulu.  Dari analisa seismogram ini terlihat
> bahwa "fault displacement" pada rupture zone-nya memang besar di bagian
> bawahnya, yaitu di kedalaman ~15 - 40 km, tapi displacement ini menjadi
> mengecil ke arah atas.  Kata Wahyu pada subduction interface di sebelah
> baratnya Nias, displacementnya hanya 1 meteran!  Artinya walaupun gempa
> ini besar, deformasi yang terjadi pada bawah permukaan laut di barat P.
> Nias sampai ke palung tidak besar.  Menurut kami, itulah penyebab kenapa
> tsunaminya kecil.  Tentu perlu analisa dan data yang lebih lanjut untuk
> memastikan hal ini.
> 
> Sekian dulu.
> 
> Wassalam,
> 
> Danny
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Thursday, March 31, 2005 4:19 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Coming Next : Gempa Mentawai :
> Siberut-Sipora-Pagai (???!!!) (was : Re. FW (iagi-net -Increased
> Strain...)
> 
> Pak Awang,
> Mungkinkah satu faktor lagi yang menyebabkan gempa Nias tidak terbentuk
> terban yang berujung pada tdk terjadinya tsunami adalah kedalaman laut
> dan
> posisi dasar laut saat ini ?
> Kalau kita lihat bahwa epicenter gempa Nias berada di kedalaman laut
> kurang
> dari 200 m dan masih di "shelf area" yang relatif stabil. Sedangkan
> epicenter gempa Simelue berada di kedalaman laut 1200 m  dan sudah
> berada
> di "Upper slope area" yang relatif rentan kestabilan lerengnya.
> 
> salam,
> Ferry
> 
>                    Awang Satyana
> 
>                    <awangsatyana@       To:     [email protected],
> [EMAIL PROTECTED]
>                    yahoo.com>           cc:
> 
>                                         Subject:     [iagi-net-l]
> Coming Next : Gempa Mentawai :
>                    03/30/2005            Siberut-Sipora-Pagai (???!!!)
> (was : Re. FW (iagi-net -Increased
>                    01:50 PM              Strain...)
> 
>                    Please respond
> 
>                    to iagi-net
> 
> Ya Ar, rupanya itu penyebab Nias rusak sebab di tengah Pulau Nias itu
> memanjang splay Sesar Mentawai yang cukup besar sejajar dengan poros
> panjang pulau itu. Kalau episentrumnya di laut di sekitar Kep Banyak
> memang
> gampang saja buat energi gempa terdisipasi ke tenggara lewat fracture
> sesar
> Mentawai dan masuk ke Nias. Dampak di seabed (terbentuknya terban)
> mungkin
> tak ada atau sangat minimal mengingat fokus gempa 30 km sehingga relatif
> tak ada gerak kejut massa air laut terjadi. Tapi siapa yang bisa
> mencegah
> kalau gaya gempa daripada merusak seabed malah merambat ke tenggara via
> sesar Neogen Mentawai lalu merusak Nias...
> 
> Memang kalau Danny Hilman masih anggota milis ini dan sempat menengok
> inbox-nya di tengah kesibukan derang-dering tilpon meminta penjelasan
> gempa, sebaiknya memberikan klarifikasi soal gempa Nias dan
> pernyataannya
> di media massa bahwa masih ada satu lagi gempa yang besar yang akan
> datang
> yaitu di sekitar Mentawai (!). Sebab Danny punya premis bahwa gempa Nias
> dipicu oleh gempa Simeulue (gempa Aceh 26/12/05) dan katanya kedua gempa
> besar ini akan melahirkan gempa Mentawai yang besar lengkap dengan
> tsunami
> tapi entah kapan (hitungannya menurut Danny bisa menit, minggu, bulan,
> tahun). Nah...
> 
> Kenapa klarifikasi butuh dikeluarkan ? Sebab, telah terjadi perbedaan
> pendapat dengan Pak Surono (KaSubdit Mitigasi Bencana Geologi Direktorat
> Geologi Bandung) bahwa gempa Nias benar2 baru dan tak punya urusan
> dengan
> gempa Simeulue. Pendapat yang sama dengan Pak Surono dikeluarkan juga
> oleh
> Hodo Suteshon Asahi TV di Jepang.
> 
> Nah, kebenaran premis tentu akan sangat menentukan apakah benar akan ada
> gempa Mentawai atau tidak.
> 
> Di luar itu, semua masyarakat di pulau2 barat Sumatra dan kota2 di
> pesisir
> barat Sumatra memang sebaiknya latihan evakuasi terus menjauhi daerah
> bahaya gempa dan tsunami. Sebab, Padang bisa jadi sasaran utama tsunami
> kalau gempa Mentawai-Sipora benar terjadi. Letaknya begitu frontal ke
> wilayah ini. Uh..
> 
> Tapi masyarakat Mentawai katanya sudah siap menghadapi kemungkinan
> evakuasi
> itu sejak  Danny Hilman, Prof. Kerry Sieh dkk membagikan poster gempa
> dan
> tsunami ke penduduk Mentawai.
> 
> Sebuah catatan : tidak mudah buat kita para geologist menyampaikan info
> ke
> masyarakat atau Pemda tentang kemungkinan bahaya2 kebencanaan geologi.
> Satu
> yang tidak pernah bisa kita jawab : kapan gempanya akan datang Pak,
> tanggal
> berapa, jam berapa... (lebih gampang mengungsikan penduduk di puncak dan
> lereng gunungapi yang mau meletus dibandingkan dengan gempa yang selalu
> "ujug-ujug" datang...)
> 
> Salam,
> awang
> 
> Ariadi Subandrio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kang Awang,
> Dari kumpulan data yang dikolek oleh pak Wahyu
> Trijoso, seismologist yang intens melakukan penelitian
> di sepanjang pantai Barat Sumatera bersama Pak Danny
> Hilman, menggambarkan bahwa kontur dari distribution
> record seismograph yang diperoleh menunjukkan bahwa
> maksimum displacement berada di sepanjang pulau Nias,
> maka walau episentrumnya berada di laut namun seolah
> gempa kemaren adalah earthland quake dan hanya
> menimbulkan tsunami kecil saja. Namun cukup
> menghancurkan Nias. Ini yang membedakan dengan gempa
> pada segmen Aceh dimana praktis displacementnya pada
> open area.
> 
> Kalau salah kata, salah kutip -walau sampeyan suibuk
> ditilpun kiri kanan- tolong kang Danny muncul sebentar
> ke warga milis untuk memberikan penjelasan.
> 
> Kewaspadaan terhadap potensi gempa akibat subduksi di
> barat sumatera yang diiringi dengan tsunami tetap
> ancaman yang berbahaya. Melalui rekan-rekan yang
> berada di sepanjang pantai barat sumatera, baik rekan2
> IAGI di Padang, Bengkulu dll, kita bolak balik tetap
> mengingatkan kewaspadaan dan meminta agar mereka dapat
> mengusulkan kepada pejabat otoritas setempat sering2
> melakukan latihan untuk evakuasi. berbagai macem pola
> evakuasi selayaknya dapat menjadi kreativitas lokal.
> Hingga saat ini, untuk kota Padang kita minta agar
> dapat mencapai target 10 menit rakyat/masyarakat sudah
> bisa mencapai zona "aman". Bahwa akan ada kepanikan,
> itu adalah bagian dari latihan, bagian dari persiapan,
> bagian dari kewaspadaan. Laporan rekan2 dari Padang
> dari kejadian panik tgl 31 Des 04, praktis mereka
> baru dapat mencapai zona "aman" dalam jangka waktu 30
> menit, itu pun diperkirakan hanya sekitar 60% dari
> warga.
> 
> Nah, Jika rekan2 semua juga ikut terlibat dalam
> mendesak pada pejabat otoritas "daerah rawan bencana"
> untuk sering2 melakukan latihan bahaya, sesuatu yang
> sangat dinanti-nantikan oleh rekan2 IAGI setempat.
> latihan panik, latihan nuntun orang tua, latihan
> memberitahu anak2, dsb jauh lebih penting daripada
> terus menerus mempertanyakan kapan datangnya gempa.
> 
> lam-salam,
> ar-.
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
> Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> ---------------------------------------------------------------------
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
> PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
> Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> ---------------------------------------------------------------------
> 
> 


-- 
my blog :
http://putrohari.tripod.com/Putrohari/

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke