Hanya tambahan informasi, bahwa tetangga saya baru kedatangan orang tua
yang datang dari Padang. Mereka menceritakan bahwa masyarakat kota
Padang banyak yang mengungsi ke perbukitan di sekitar kota Padang
(antara lain Bukit Bungus), sehingga kondisi di perbukitan cukup ramai
dan jalanan macet.

Sebagian lagi mengungsi ke Bukittinggi, tetapi di kota tersebut timbul
kekhawatiran baru karena menurut pengelihatan mereka Gunung Merapi di
dekat kota tersebut mengalami peningkatan kegiatan vulkanisme. Jadi
mereka meneruskan ke daerah Riau yang relatif aman menurut perkiraan
mereka.

Apabila membaca tulisan Pak Danny di bawah, terkesan pemerintah belum
memiliki team expert nasional serta program mitigasi bencana nasional.
Sangat disayangkan sekali kalau begitu. Mungkin masih ada harapan,
apabila bagi siapa saja yang mengetahui informasi apabila terdapat
program pemerintah yang ternyata belum tersosialisasikan.

salam

-----Original Message-----
From: D.H. Natawidjaja [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 12 April 2005 9:30
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [iagi-net-l] Khabar dari Padang


Rekan-rekan IAGI yth,
Benar apa yang dikatakan Pak Ketum.
Kelihatannya yang harus DIUTAMAKAN adalah PERSIAPAN PENYELAMATAN DIRI
DAN EVAKUASI apabila Gempa Besar di Mentawai terjadi.  Meskipun saya
berharap gempa besar tersebut tidak terjadi dalam waktu dekat, namun
rentetan gempa-gempa kemarin yang episentrumnya persis ditengah-tengah
antara segmen subduksi sumber gempa  yang di bawah Siberut dan
Sipora-pagai ini cukup membuat kita khawatir.  Gempa di Aceh itupun
didahului oleh gempa M 7.6 November tahun 2002 yang diikuti oleh banyak
gempa-gempa lebih kecil lainnya dengan episentrum2 gempa di antara
segmen subduksi gempa Aceh dan gempa Nias. 

Dalam setiap kesempatan wawancara saya selalu katakan bahwa penelitian
yang sudah dan sedang kita lakukan sebetulnya adalah kegiatan penelitian
murni BUKAN SENGAJA DITUJUKAN UNTUK MITIGASI BENCANA. Jadi program
mitigasi yang kita lakukan sifatnya masih volunteer saja.  Saya bilang
sebenarnya pemerintah Indonesia belum punya program mitigasi bencana
(gempa dan tsunami) nasional.  

Ada satu pertanyaan yang berulang-ulang ditanyakan masyarakat, yaitu
mengenai KAPAN terjadi gempa.  Mungkin bisa juga kita membuat analogi
siklus gempa ini dengan umur manusia.  Seperti sumber gempa di Mentawai
ini, kita bisa bilang bahwa kita tahu memang bahwa siklusnya sudah
dipenghujung, atau kalau orang umurnya sudah tua, katakanlah sudah
sekitar 70-an.  Kita tahu umur manusia rata-rata ya sekitar segitulah.
Umumnya tidak lebih dari 80 tahun.  Gempa Aceh dan Nias ini akan
menambah beban ke gempa Mentawai, analoginya akan memberikan penyakit
pada si "kakek" sehingga kemungkinan cepat matinya menjadi bertambah
tinggi.  Tapi tetap saja susah untuk tahu kapan tepatnya si kakek akan
mati.  Kalau mau berusaha tahu mungkin harus secara terus menerus kita
monitor terus si kakek ini.  Kita periksa terus tekanan darahnya, denyut
jantungnya, dll., sehingga ada harapan kita bisa tahu kapan si kakek
akan mati, meskipun tetap saja tidak gampang.  Demikian juga dengan
memprediksi gempabesar.  Kalau ada satu sistem pemantau dan tim ahli
dibelakangnya yang menganalisa terus menerus mungkin ada harapan kita
bisa memprediksi dengan lebih akurat.  Usaha untuk prediksi hari H gempa
ini memang masih belum punya metoda yang benar-benar reliable, jadi
masih trial and error. Tapi menurut saya apabila dilakukan akan berguna
paling tidak untuk menjadi basis dalam memberikan peringatan siaga 1, 2,
dst ke pada masyarakat.  Sekarang perkiraan2 yang kita lakukan umumnya
hanyalah berdasarkan data seismik dari Global Seismic Network yang
ketelitiannya kurang dan belum "real-time".  Dan ini dilakukan oleh
perorangan secara volunteer saja, tidak ada tim expert (nasional) yang
memang ditugaskan untuk itu.

Jadi dari sisi sains dan teknolog, kalau pemerintah mau serius dalam
prediksi gempabumi dan tsunami sebetulnya tidak ruwet, tinggal bentuk
dan tugaskan satu tim expert untuk segera memasang peralatan pemantau
yang memadai atau melengkapi peralatan yang sudah ada sampai bisa
menjadi "real-time monitoring sistem".  Ini mungkin bisa dilakukan dalam
jangka waktu satu tahun.  Kemudian tim ini (mungkin bekerjasama dengan
expert luar) bisa terus menerus berusaha membuat (model-model) prediksi
gempabumi. Apabila usaha ini dilakukan mungkin juga akan bermanfaat
untuk menunjang program 1 s/d 6 yang diutarakan Pak Ketum.  Karena sudah
pasti masyarakat akan selalu bertanya akan KAPAN gempa tiba? Walaupun
susah,
apakah kita sudah cukup berusaha untuk tahu?   Dan paling tidak sistem
pemantau yang dipasang (Seismograf, GPS, dll) tidak hanya berguna untuk
usaha Prediksi gempa jangka pendek, tapi juga untuk analisa sumber gempa
dan tsunami dan efek bencananya secara umum.


Salam,

Danny


-----Original Message-----
From: Andang Bachtiar [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, April 11, 2005 10:53 AM
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Khabar dari Padang

Kawan-kawan,
Nampaknya segala macam himbauan, usulan, tekanan, dan sejenisnya kepada
penanggung-jawab kehidupan kolektif kita di level negara, provinsi,
kabupaten/kota tentang keharusan untuk segera ACTION dg mitigasi bencana
(khususnya gempa) tidak kunjung bisa MERASUK ke jiwa (bahkan
himbauan/tulisan-tulisan itu sudah dilakukan sejak sebelum Gempa Aceh).
Diperlukan ritual dengan korban besar dari Nabire, Alor, Aceh dan Nias,
ditambah dengan tarian kepanikan dari Palu, Jawa Timur, Medan, Mentawai,
Padang, Bengkulu....... itupun masih belum membuat kita semua
TRANCE,..... Buktinya apa? Kita semua masih sibuk dengan pertanyaan:
KAPAN terjadi Gempa dan Tsunami lagi? Padahal seharusnya pertanyaannya
adalah SEBERAPA SIAP kita semua menghadapinya. Karena Gempa (dan
Tsunami) di seluruh daerah pantai barat Sumatra, selatan Jawa,
Nusatenggara, Banda, Sulawesi, dan Irian tengah dan utara,... adalah
suatu KENISCAYAAN, seperti halnya keniscayaan bahwa kita semua akan
MATI. Seberapa siap kita mengahadapi MATI? "Sholat, beramal, berzakat,
tawakkal, berbuat kebaikan" itu adalah bagian2 dari persiapan menghadapi
mati. Apakah kita sibuk dengan prediksi-prediksi kapan kita akan mati?
Tidak, khan? Kita sudah tahu bahwa umur kita normalnya berakhir dari
70-100 tahunan; and that's it. Yang kita butuhkan
persiapan-persiapannya. Sama juga dengan gempa-gempa dan tsunami-tsunami
besar itu: umur siklusnnya untuk tiap segmen berbeda-beda tapi berkisar
dari 150-300 tahunan. Hanya saja karena saat ini kita sedang berada di
UJUNG dari siklus-siklus itu di segmen-segmen barat Sumatra, maka
menjadi sangat kritislah persiapan-persiapan yg kita lakukan. Sama saja
dengan kalau kita sudah berumur sekitar 60an.... mustinya kita makin
bersiap menghadapi kematian... nah, seharusnya saat ini KITA SEMUA musti
cepat-cepat mengubah paradigma hidup berkegiatan didaerah gemap-gempa
ini. MITIGAS!! MITIGASI!!MITIGASI!! (sama dengan Sholatlah!!
Beramallah!! Berbuatlah Kebajikan!!!).

Boleh saja kita semua berkonsentrasi untuk membangun Aceh, menyelamatkan
Nias, blue-print, proyek-proyek, dsbnya,.... tapi itu bukan berarti
melupakan persiapan HAJARAN dari gempa-gempa dan tsunami-tsunami
berikutnya di daerah-daerah lainnya. Apakah kita mau mengulangi
kesalahan yang sama dengan ketidaksiapan Aceh dan Nias? Tentu semua akan
menjawab TIDAK!!! Oleh karenanya, wahai SBY, Kalla, Alwi, Poernomo,
Agung Laksono, dengarkanlah kami, selamatkan Indonesia, MITIGASIkan
gempa dan tsunami!!!

1. Review dan revisi segera Rencana Tata Ruang Wilayah daerah Potensi
Gempa/Tsunami. 2. Petakan segera secara rinci daerah2 tersebut termasuk
percepatan gerakan tanahnya dari sejarah gempanya 3. Bikin dan terapkan
kode bangunan dengan ENFORCEMENT yang benar. Karena semua korban gempa
meninggal karena infrastruktur yang tidak memperhitungkan soal gempa
tersebut. 4. Bikin jalur-jalur evakuasi, tempat-tempat evakuasi SEGERA
berdasarkan input topografi, jaringan jalan existing, dan sejarah
gempa/tsunaminya. 5. Turun ke masyarakat, sampai ke level RT/RW untuk
membagikan leaflet cara-cara menghadapi gempa,.. bikin
pelatihan-pelatihan / simulasi-simulasi untuk sleuruh masyarakat daerah
gempa spt kita dulu pernah ditatar P4 bertahun-tahun.... 6. Beresi
ORGANISASI BAKORNAS PB untuk bisa bertindak cepat, akurat, dan benar
setiap kali gempa terjadi 7. ..... kalau punya uang lebih,.. boleh,
silakan mulai beli perlatan-peralatan baru untuk deteksi dini
gempa/tsunami... (ini sengaja saya masukkan di prioritas akhir,...
karena lebih penting yang nomer 1 sampai 6 diatas saat-saat ini)


Yang Gemes

Andang Bachtiar
Ketua Umum IAGI

----- Original Message -----
From: "Mulyadi Bur" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; "ITB 78" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, April 11, 2005 10:11 AM
Subject: [ITB_78] Re: [gvtf] Khabar dari Padang


>
> Kolega ysh.,
>
> Terimakasih atas inisiatif yang telah dilakukan Pak Lukman.
Alhamdulillah
> saya dan keluarga baik-baik saja. Sampai saat ini masih terasa
gempa-gempa
> menengah dan kecil, bahkan saya sudah tidak bisa membedakan, mana yang
gempa
> beneran dan mana yang akibat kurang tidur. Kondisi ini akan kami alami

> selama kurang lebih 3 hari, gempa-gempa kecil susulan akan terus
terjadi,
> demikian informasi yang saya peroleh. Kami bersyukur kalau patahan
yang
> mengakibatkan gempa tersebut berarah horizontal, sehingga tidak
menimbulkan
> tsunami. Penduduk dalam jumlah yang sangat besar mengungsi mencari
tempat
> yang lebih tinggi, sehingga jalan menjadi macet. Tetapi saya belum
dengar
> adanya kerusakan bangunan, kecuali gedung di FPBS-UNP (mungkin 5
lantai )
> yang retak-retak. Gedung UNP ini semula direncanakan untuk evakuasi
warga,
> tetapi karena telah retak-retak, warga jadi takut, demikian informasi
dari
> warga yang batal ngungsi ke gedung tersebut.
>
> Selama proses gempa terjadi, banyak isu yang beredar, mulai dari jalan

> sawahan (sebuah jalan di pusat kota) yang telah retak, informasi ini
di
> counter oleh walikota yang menyediakan diri untuk tanya jawab langsung

> dengan warga melalui RRI.
>
> Salam,
> BUR
>
> ----- Original Message -----
> From: "Lukmanul Hakim" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, April 11, 2005 9:38 AM
> Subject: [gvtf] Khabar dari Padang
>
>
> >
> > Assalaamu'alaykum wr wb.,
> > Khabar via sms dari Pak Mulyadi Bur:
> > "Alhamdulillah, kami sekeluarga selamat. Dari jam 6-an sore kami
diguncang
> > gempa yg cukup besar, mungkin di atas 7 skala richter,
berkali-kali."
> >
> > Pak Mul sekeluarga sepertinya menginap di dalam mobil di depan
rumah.
Baru
> > tidur sekitar jam 3 atau 4 dinihari.
> >
> > Kita doakan bersama agar Tuhan YME memberikan keselamatan kepada
semua
> > saudara kita di Padang.
> > Wassalaamu'alaykum wr wb.,
> > ==
> > luq



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To
subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst :
Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M.
Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan
Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi
Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A.
Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To
subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst :
Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M.
Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan
Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi
Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A.
Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke